Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Berbicara Lantang


__ADS_3

"Kenapa mereka terdengar seperti mulai bekerja sama dan membuat tawaran kepadaku? Apa mereka pikir aku bodoh dan akan terjebak dengan kelakuannya huuh dasar satpam dan resepsionis sialan kalian benar-benar harus hid pecat!" Batinku merasa sangat dongkol terhadap kkuan kedua karyawan perusahaan yang menyebalkan tersebut.


Aku sangat benci dan kesal kepada kedua orang yang sangat menjengkelkan tersebut, aku berusaha untuk berontak lagi dan mencari cara bagaimana agar bisa kabur dari dia orang yang sangat menjengkelkan dan sialan tersebut namun disaat aku berniat untuk kabur mereka justru malah berhasil menahan tanganku dan menangkap aku dengan cepat.


"Aku harus kabur, tidak mungkin aku bisa melawan mereka berdua disini, lebih baik tidak jadi bertemu tuan Lukas daripada harus di peras dengan dua orang yang menyebalkan ini" batinku memikirkan.


Aku langsung saja lari tapi satpam itu berhasil menahan tanganku dengan kuat dan aku masih berusaha untuk berontak melepaskan tanganku darinya tapi sayangnya resepsionis itu juga ikut membantunya sehingga aku kesulitan untuk melepaskan diri dari mereka berdua saat itu.


"Heh.... Mau pergi kemana kau, apa kau mau kabur setelah membuat kakiku cedera seperti ini, ayo cepat berikan aku ganti rugi dan kompensasinya!" Bentak satpam itu kepadaku,


"Tidak aku tidak akan memberikan apapun kepadamu, untuk apa aku memberi semua itu kepada orang sepertimu, kau bahkan yang menarik dan menyeret tanganku dengan kuat semua itu setimpal bukan, jadi lepaskan tanganku atau aku akan benar-benar memanggil tunanganku tuan Lukas agar memberikan kalian pelajaran!" Ucapku mengancam mereka.


Tapi hal yang sama terjadi lagi mereka berdua kembali menertawakan aku dan tidak mempercayai sedikitpun ucapanku.


"Ahaha... Sudah berapa kali kau mengatakan bahwa dirimu tunangan tuan Lukas kami tidak akan tertipu dasar bodoh, jika memang kau benar tunangannya tuan Lukas maka hubungi dia sekarang, ayo hubungi dia" ucap sang resepsionis tersebut.


Aku sebenarnya sangat ingin menghubungi tuan Lukas saat itu, juga dan aku sebelumnya hanya menggertak mereka karena aku sama sekali tidak memiliki ponsel yang bisa aku gunakan untuk menghubunginya saat ini, aku juga sama sekali tidak mengetahui nomor ponsel tuan Lukas sehingga aku mulai bergetar ketakutan dan merasa cemas disaat kedua orang tersebut menantang aku seperti itu.


"Kenapa, apa kau takut kebohonganmu terbongkar, ahaha... Sudah aku duga kau hanya menggertak kami dan kau tidak tahu apapun tentang tuan Lukas bukan, beraninya kau mengaku sebagai tunangan CEO kami, aku akan memberimu pelajaran rasakan ini" ucap wanita itu sambil langsung melayangkan tangannya hendak menamparku.


Aku tidak bisa berlari ataupun menghindar karena satpam itu menahan kedua tanganku ke belakang sehingga saat itu aku hanya bisa pasrah menerima apapun yang akan aku terima darinya sekalipun aku akan mendapatkan sebuah tamparan yang menyakitkan.


Aku refleks langsung saja menutup kedua mataku dengan perasaan yang takut, namun untungnya di waktu yang tepat tuan Lukas keluar dari lift dan dia yang melihat wanita tersebut akan menampar Vivian dia langsung saja menahan tangan wanita itu dengan kuat dan matanya yang terbelalak lebar juga gigi yang dia kerat kan menahan emosi dalam dirinya.


Wanita resepsionis itu sama sekali belum menyadari siapa yang menahan tangannya sehingga dia masih menggerutu dengan kasar sedangkan aku yang sudah melihat bahwa itu adalah tuan Lukas hanya bisa terperangah dengan membuka mulutku sedikit merasa kaget melihat dia yang tiba-tiba saja muncul disana dengan cepat.


"Aishh.... Siapa yang berani menahan tangan....." Ucap wanita itu sambil menengok ke belakang dan dia langsung saja tersentak kaget.


Tuan Lukas melemparkan tatapan maut yang sangat tajam menusuk kepada wanita resepsionis tersebut, sambil langsung menghempaskan tangannya dengan kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Aaa...AA..aaahhh.... Tuan sakit tuan" ucap wanita itu meringis kesakitan sambil memegangi tangannya yang terlihat memerah saat itu.


"Tu...tu...tuan Lukas, kebetulan sekali anda datang wanita ini mencari keributan disini dan terus memaksa untuk masuk tanpa izin dan identitas sehingga kami menahannya dan hendak mengusirnyabtetapi wanita ini dengan lancang malah mengaku sebagai tunangan anda" ucap sang satpam sedikit gugup.

__ADS_1


Aku terus berusaha melepaskan tangan satpam itu yang memegangi tanganku karena itu cukup sakit sekali sebab dia sudah beberapa kali menyeret aku dan menarik tanganku dengan kuat.


"Eughhh... Lepaskan aku, tuan Lukas tolong bantu aku, lepaskan tanganku dasar satpam sialan!" Bentakku kepada satpam itu namun dia masih tetap saja tidak melepaskan tanganku bahkan disaat sudah ada tuan Lukas disana.


Dan tuan Lukas juga sama sekali tidak mengeluarkan ucapan atau perkataan apapun untuk membantuku padahal dia sudah tahu aku dalam kesulitan dengan kedua karyawannya yang buta dan tidak tahu apapun itu.


"Tuan kenapa kau tidak bicara ayo katakan kepada mereka bahwa aku benar-benar tunanganmu, dan tolong suruh satpam ini untuk melepaskan tanganku" ucapku memohon kepadanya.


Dia tetap tidak menghiraukan aku dan malah beralih menatap pada wanita resepsionis di sampingnya yang saat itu kesakitan memegangi pergelangan tangannya akibat di genggam dengan kuat oleh tuan Lukas hingga meninggalkan bekas merah.


"Kau... Jangan pernah berani-beraninya melakukan kekerasan di kantorku atau aku akan memecat mu, dan kau usir wanita ini keluar aku tidak ingin melihat ada wanita asing di kantorku, jangan lukai dia usir saja secara normal, dia akan pergi dengan sendirinya" ucap tuan Lukas dengan nada yang datar dan dia menatap aku dengan dingin tanpa ekspresi.


Aku terperangah membelalakkan mataku dengan perasaan tidak menentu, dia pergi begitu saja setelah berkata seperti itu dan hatiku terasa sangat hancur saat itu juga, aku memegangi dadaku yang terasa sangat sesak dan aku remas dengan kuat, aku tidak menduga dia bisa memperlakukan aku layaknya orang asing seperti itu di hadapan semua orang juga kedua orang yang sudah mempermalukan aku dan berbuat kasar kepadaku.


Aku tidak papa dan aku sama sekali tidak masalah jika dia memang membenciku atau tidak menyukai aku sedikitpun tetapi, dia seharusnya tidak memperlakukan aku seperti itu dan membuat aku malu seakan aku sungguh seorang wanita yang mengaku-ngaku sebagai tunangannya padahal apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran namun dia seakan menolak status diantara kami saat itu.


Satpam tersebut langsung melepaskan tanganku dan dia menyuruh aku untuk pergi dengan perkataan kasarnya, tentu saja wanita resepsionis itu tersenyum sinis dan meremehkan aku karena dia pikir aku memang seorang pembual saja.


"Nona silahkan anda pergi sebelum saya akan berubah pikiran kepada anda" ucap satpam itu yang mengusir aku,


Aku tertunduk dengan merasakan rasa sakit yang teramat sangat di dalam hatiku, aku sangat tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh tuan Lukas kepadaku, dan aku tidak bisa menahan kesabaran dalam diriku lagi, bagaimana pun aku juga seorang wanita biasa aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa, aku bukan malaikat yang tidak akan marah dan akan selalu sabar, aku juga bukan bidadari tetapi aku berhak untuk di hargai karena aku juga seorang wanita dan manusia.


Aku mengangkat kepalaku dengan penuh keberanian dan segera berlari mengejar tuan Lukas lalu berteriak memanggil namanya sampai dia berhenti di depan kantornya lalu berbalik ke arahku masih dengan tatapan yang dingin serta sebelah alis yang dia naikkan dan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya.


"Berhenti tuan Lukas!" Teriakku sambil berlari kencang ke arahnya.


Hingga ketika aku sudah benar-benar berada di hadapannya aku langsung memberikan bekal makanan yang sebelumnya memang aku buatkan dan aku sediakan khusus untuknya.


"Ambil ini, aku datang kemari hanya karena aku memperdulikan perutmu, aku cemas dan memikirkan apakah kau makan dengan baik atau tidak selama ini, aku memasak dengan penuh kebahagiaan dan kasih sayang untukmu" ucapku berbicara kepadanya dengan lantang,


"Kau lihat ini, aku bahkan lupa untuk mengobati lututku yang terluka dan lihat ini juga betisku yang lebam karena tidak semudah itu untuk aku sampai ke tempat ini, pergelangan tanganku yang merah dan lecet karena kedua karyawan mu itu menyeret aku dan memperlakukan aku dengan buruk, tapi aku tetap ingin memberikan makan siang sialan ini untuk orang sepertimu, aku memang bodoh dan idiot karena mencintai orang sepertimu, manusia dingin tanpa hati yang sangat menyebalkan, tapi tidak papa, meski begitu makanan itu tetap sampai pada tanganmu, aku tidak sia-sia melewati semuanya, kau mau memakannya atau tidak aku tidak perduli lagi, dan mulai sekarang aku tidak akan pernah memperdulikan dirimu lagi, terimakasih atas rasa sakit yang sudah kau berikan kepadaku, kau seharusnya tidak perlu berpura-pura baik denganku sebelumnya dan kau seharusnya tidak menjadikan aku pengganti Cecil karena aku juga seorang wanita, aku berhak menemukan pasangan sejatiku sendiri yang mencintai aku dengan tulus bukan sepertimu yang hanya memanfaatkan aku saja!" tambahku kepadanya dan aku langsung saja pergi secepat mungkin dari hadapannya.


Saat itu aku langsung pergi dengan nafas yang sudah sulit untuk aku kendalikan karena aku sungguh tidak ingin memperlihatkan titik terlemahku atau memperlihatkan air mataku di hadapannya aku tidak ingin terlihat lemah oleh orang sepertinya sehingga aku berusaha dengan kuat mengigit bibirku untuk menahan air mata agar tidak jatuh saat itu.

__ADS_1


Tapi bodohnya aku justru malah berharap dia akan berlari menghentikan aku dan meminta maaf kepadaku saat itu, sehingga aku mungkin bisa memaafkannya dan memberikan lagi kesempatan kepada dia untuk memulai semuanya dari awal lagi, tetapi sayangnya dia tetap saja tidak datang untuk menghentikan aku atau mengejarku.


"Bodoh .... Aku benar-benar bodoh, apa yang bisa aku harapkan darinya, dia sama sekali tidak pernah mencintaiku dia juga tidak mengingatku aku bodoh karena masih mencintainya dan memperdulikan dia hiks...hiks...hiks...." Gerutuku sambil terus berjalan di tepi jalanan sambil menangis seorang diri.


Aku merasakan kakiku yang terasa semakin sakit tapi aku tidak memperdulikannya karena pikiran dan hatiku tengah kacau saat itu sehingga aku mengabaikan rasa sakit tersebut dan mataku yang di penuhi dengan air mata menggenang di pelupuk mata membuat aku tidak bisa melihat jalanan dengan jelas.


Aku bahkan tersandung dan kembali jatuh tersungkur di bahu jalanan seorang diri dengan cukup keras, aku menangis sekeras-kerasnya dan merasakan rasa sakit yang teramat sangat dalam diriku saat itu.


"Aaaa....brukk....aduhh....hiks...hiks...huaaaa ini sakit sekali, aaahhh ini menyakitkan" ucapku menggerutu sendiri sambil terus menangis terisak dengan keras.


Bukan karena kakiku yang sakit, bukan karena pergelangan tanganku yang lecet, tetapi rasa sakit di hatiku lebih parah dari semua itu dan aku sungguh tidak bisa menahannya, aku mengeluarkan semuanya sambil duduk terjatuh di samping jalan seorang diri.


Hingga tidak lama sebuah mobil berhenti tidak jauh dariku lalu keluarlah Leo seorang pria yang cukup tampan yang pernah aku tolong sebelumnya.


Dia datang menghampiriku dan berjongkok dihadapan ku sambil menatap penuh kecemasan dan kebingungan kepadaku.


"Kau... Aku pikir itu bukan kau untung aku berhenti, ada apa denganmu kenapa kau menangis di jalanan seperti ini?" Tanya Leo dengan kebingungan sendiri.


Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya dan aku sama sekali tidak bisa menjawab dia dengan jelas sehingga aku hanya terus menangis terisak juga semakin keras ketika dia malah menanyakan keadaanku di saat yang tidak tepat seperti itu.


"Hik...hiks...sakit huaaaa....ini sakit sekali...hiks..hiks..." Ucapku terus menangis tersedu-sedu.


Leo yang melihat Vivian menangis semakin keras disaat dia menanyakan keadaannya dan bertanya alasan dia berada di samping jalan seperti itu dia pun langsung melihat ke arah lutut dan betis Vivian juga pergelangan tangannya yang lecet, Leo langsung saja mengerutkan kedua alisnya dengan kuat hingga hampir menyatu.


Dia kaget melihat kondisi wanita yang telah menyelamatkan hidupnya terlihat berantakan seperti itu dan penuh dengan luka, sehingga dia pikir apa yang dikatakan oleh Vivian tentang rasa sakit adalah karena semua luka di tubuhnya yang terbuka seperti itu.


Leo pun berusaha untuk membuatnya berhenti menangis dan mengusap lembut pucuk kepala Vivian hingga aku mulai sedikit memelankan tangisanku dan berusaha untuk berhenti.


"Sudah ...sudah....aku tahu itu sakit dan mungkin sangat menyakitkan untukmu, ayo bangun kau akan di lihat semua orang dan di anggap orang gila jika duduk disini dalam keadaan berantakan seperti ini, masuk ke mobilku dan menangislah sesukamu, ayo aku bantu berdiri" ucap Leo sambil mengulurkan tangannya kepadaku.


Dia berbicara sangat lembut dan membuat aku merasa sedikit lebih baik setiap kali mendengar ucapan darinya, aku mengangguk dan segera menerima uluran tangan dari Leo saat itu.


Dia membukakan pintu mobil untukku dan menjaga kepalaku agar tidak mengenai bagian atas mobilnya, dia benar-benar pria yang lembut dan perhatian aku merasa sangat beruntung karena selalu bertemu dengannya ketika kondisiku tengah kacau seperti sekarang ini, Leo bahkan memakaikan aku sabuk pengaman dan dia menepuk pucuk kepalaku pelan kembali menenangkan aku sambil melemparkan sebuah senyuman hangat untukku.

__ADS_1


"Sudah kau anak yang baik jadi jangan menangis seperti itu, aku akan mengobati lukamu" ucap Leo kepadaku dan aku hanya bisa mengangguk patuh terhadapnya.


Dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dan aku hanya bisa memalingkan pandangan ke arah luar jendela mobil menatap semua jalan yang aku lewati, aku benar-benar tidak menyangka tuan Lukas bisa bersikap sejahat itu kepadaku, dan bisa-bisanya dia melupakan aku dengan semudah itu.


__ADS_2