
Malam ini barulah aku bisa tidur dengan nyenyak setelah mengalami banyak peristiwa dalam hidupku seharian ini, dan aku sudah menguras kekuatan di tubuhku hanya untuk menyiapkan makanan bagi tuan Lukas sejak awal tapi hasilnya dia justru malah menepis makanan itu dengan sangat mudah dan wajahnya tidak sedikitpun memperlihatkan penyesalan.
Bahkan jangankan penyesalan rasa bersalah atau meminta maaf pun dia tidak melakukan itu dan justru melah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang jelas-jelas dirinya perbuat.
Jika ditanya apakah aku kesal? Tentu saja aku sangat kesal dan ingin marah kepadanya namun karena kedudukan dia dan aku tahu diri sebab masih tinggal menumpang di kediaman dia sehingga aku berusaha keras untuk menahan semua perasaan itu karena mau bagaimanapun pun disisi lain aku juga masih sangat penasaran dan menduga bahwa dia adalah pria yang aku tunggu selama bertahun tahun ini dan aku tidak ingin kehilangannya jika saja dia sungguh pria tersebut.
Hingga ke esokannya saat tuan Lukas masih di kantor dan aku sudah pulang dari sekolah dengan lebih awal aku langsung mencari tahu tentang dia di masa lalu, mulai dari membongkar semua laci yang ada disana dan memeriksa semuanya dengan cepat, sambil membawa kemoceng dan lap di tanganku karena aku pikir jika sampai aku ketahuan olehnya secara tiba-tiba aku bisa langsung berpura-pura untuk membersihkan tempat itu.
Sampai ketika aku sudah memeriksa semua benda dan tempat di lantai bawah, barulah aku naik ke lantai atas dan memeriksa kamarnya terlebih dahulu, aku sudah memeriksa lemari dan laci yang ada disana, namun tidak ada apapun yang bisa aku temukan bahkan di kamarnya tidak ada secuil kertas apapun yang mencurigakan, semuanya bersih dan kosong hanya ada dasi juga perlengkapan kerjanya saja.
Bahkan setelah selama satu jam lebih aku terus mengubek rumah itu dan mencari tahu ke segala tempat tetap saja hasilnya nihil dan tidak ada petunjuk apapun yang bisa aku temukan di kamarnya juga di tempat lain.
Bahkan rasanya aku malah merasa lelah sebab tidak kunjung menemukan identitas dia yang lengkap, hingga ketika aku tengah menggerutu kesal aku mulai teringat dengan ruang kerja rahasianya yang tidak pernah ada siapapun masuk ke tempat itu kecuali dirinya sendiri bahkan sekretaris dia sendiri tidak pernah di ijinkan masuk ke dalam sana.
"Aishh....sial sekali .. kenapa aku tidak bisa menemukan apapun, ahhhh ini sangat melelahkan sekali" gerutuku uring-uringan sendiri dan merasa sedikit kesal sambil terus mengusap keringat di dahiku,
"Eumm kemana lagi ya aku harus mencari tahu tentang informasi ini, tidak mungkin aku menyerah begitu saja" tambahku bicara sendiri,
"Aaahhh.... Iya ruangan kerjanya, aku belum memeriksa ruangan itu, apa mungkin saja dia menyimpan semua data disana yah? Aaahh iya kenapa aku baru kepikiran yah" ucapku sambil segera bergegas pergi ke ruangan itu.
Saat aku mencoba membuka pintunya ternyata pintu ruangan itu terkunci dan aku sudah mencoba membukanya dengan sekuat tenaga beberapa kali namun hasilnya tetap nihil, aku tetap tidak bisa membukanya karena pintu itu memang di kunci dengan sangat kuat.
"Duk....Duk...dukk..." Suara aku yang berusaha membuka pintu itu dengan paksa, namun tetap tidak berhasil.
"Aishh.... Kenapa sulit sekali, pasti dia menguncinya dengan sangat baik, ini sangat mencurigakan" ucapku sambil berkacak pinggang di depan ruangan itu.
Karena melihat ruangan itu di kunci dan dijaga oleh dia dengan amat sangat sekali, itu membuat aku semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam ruangan itu dan aku semakin mencurigai banyak hal kepadanya.
Hingga suara bel terdengar olehku dan aku segera berlari menuruni tangga lalu berpura-pura mengelap meja di ruang depan hingga dia terlihat masuk ke dalam rumah dan hanya menatapku sekilas dengan sinis membuat aku sangat kaget dan cemas saat itu.
"Ohh ...astaga semoga saja aku tidak meninggalkan jejak apapun" gumamku dalam hati.
Aku sebenarnya sangat cemas dan begitu khawatir, aku takut dia akan mengetahui apa yang aku lakukan di belakang dia ketika dia masih di kantor, namun sebelum aku melakukan itu tentunya aku sudah memeriksa semua tempat dan ruangan di rumah ini, untuk berjaga-jaga karena aku takut ada kamera tersembunyi di rumah tersebut, namun untungnya semua an sehingga aku bisa leluasa dalam menggeledah semua rumah ini.
Namun memang tidak ada gunanya meskipun aku menggeledah seluruh ruangan di rumah itu dan semua laci juga lemari yang ada disana semuanya kosong melompong dan hanya terisi beberapa buku tidak penting menurutku.
Aku bahkan sangat tidak suka membaca buku dan lebih suka untuk melakukan praktek secara langsung.
Saat aku berhenti mengelap meja ku lihat tiba-tiba saja tuan Lukas sudah berdiri di belakangku dengan tatapan mata yang lurus menatap kepadaku dan sangat tajam, kedua tangannya juga dia lipatkan di dada membuat kesan yang sangat mendominasi dan cukup menakutkan membuat aku langsung gugup bahkan kesulitan untuk sekedar menelan salivaku sendiri.
"Oookhhh.... Astaga! Tu...tuan sedang apa kau berdiri di belakangku?" Tanyaku kepadanya sambil mengatur nafasku yang ngos-ngosan karena kaget.
"Hah....hah...hah..." Suara nafasku yang sulit untuk aku kendalikan sambil memegangi dadaku sendiri.
Jantungku rasanya hampir saja jatuh ketika melihat dia yang sudah berdiri tepat di belakangku seperti patung setan seperti itu.
Bahkan aku hampir saja tersentak jatuh ke belakang jika seandainya tidak ada sebuah sofa untuk sandaran dan menahan diriku disana.
Saat aku bertanya kepadanya dia tidak menjawabku dan justru malah semakin menyipitkan matanya dan dia terlihat sangat marah, sehingga aku mulai takut dan cemas.
__ADS_1
"Oh ..astaga...apa jangan-jangan aku meninggalkan jejak hingga membuat dia curiga? A..ataukah dia mengetahui apa yang aku lakukan disaat dia tidak ada tadi, aaahhh bagaimana ini?" Gumamku memikirkan kesana kemari.
Aku sungguh merasa takut saat itu sampai ketika dia mulai membentakku aku langsung merasa terperangah membelalakkan kedua mataku sangat besar.
"Heh... Apa kau lupa dengan tugasmu? Lihat kenapa mejanya masih kosong hah? Apa uang yang aku berikan kepadamu tidak cukup!" Bentak dia marah besar.
Bukannya takut aku justru merasa sangat lega dan plong karena pada awalnya aku pikir dia akan marah kepadaku karena mengetahui apa yang aku lakukan karena menggeledah kamarnya.
"Oo....ohhh...itu, maafkan aku tuan tadi aku lupa karena aku harus membereskan seluruh rumahmu yang luas ini, tentu saja waktuku tidak cukup untuk memasak maafkan aku, tapi tenang saja aku akan segera memasak dan menyiapkan makanan terenak untukmu" ucapku sambil tersenyum kepadanya dan perlahan berjalan mundur menghindarinya.
Aku terus berjalan mundur meski beberapa kali terjatuh dan merasakan sakit di kakiku.
"Ahaha...tenang saja aku cepat kok dalam memasak...oke tenang saja...aduhh" ucapku menenangkan dia dan tersandung sekali,
"....heheh....brukk...aduhhh, aku baik-baik saja" suaraku yang kembali tersandung dan jatuh tersungkur ke bawah meja tempat makan.
Aku segera bangkit dan justru kepalaku terantuk ke atas meja.
"Dukk...aduhhh.... Jangan khawatir aku baik-baik saja tuan!" Teriakku karena aku takut dia memarahiku.
Meski rasanya kepalaku sakit dan jidatku sedikit tergores juga pinggang yang terasa retak aku masih tetap berdiri sambil memegangi pinggangku dan tersenyum kepada tuan Lukas yang berjalan pelan hingga duduk di depan meja makan sambil terus menatap ke arahku dengan tatapannya yang dingin dan datar.
"Ehehe....tenang saja tuan aku baik-baik saja kok, aku akan memasak sekarang, hehe...tunggu yah" ucapku kepadanya sambil segera berlari kecil ke dapur.
Segera ku nyalakan kompor dan aku langsung memasak makanan kesukaan tuan Lukas dimana dia selalu meminta aku untuk membuat sup daging dengan sayang ayam di dalamnya juga sebuah steak daging kesukaannya, aku segera membuat hidangan itu secepat yang aku bisa dengan bahan-bahan yang tersedia disana karena aku belum sempat berbelanja lagi.
Namun kali ini terasa ada yang berbeda karena di saat aku tengah berdiri setelah mempersilahkan dia untuk menikmati makanan itu, dia justru menyuruh aku untuk duduk di hadapannya.
"Kenapa kau berdiri saja, duduk dan ikutlah makan malam denganku" ucap dia lebih mirip seperti memerintah.
Aku sedikit kaget dan tidak menduga, mataku langsung terbuka lebar dan sedikit mendekat ke arahnya karena aku pikir mungkin aku salah mendengar.
"E..ehh ..iya apa tuan, apa kau barusan meminta aku untuk duduk di hadapanmu dan makan malam denganmu?" Tanyaku kepada dia untuk memastikan,
"Kau akan duduk atau aku berubah pikiran" ucapnya seperti mengancam.
Karena aku takut dengan tatapannya yang sinis aku pun segera menurutinya dan aku segera duduk dengan perlahan di hadapan nya dan aku masih tidak berani untuk mengambil nasi dan lauk yang ada diatas meja.
"Kenapa kau masih diam saja, apa harus aku yang mengambilkan makanan untukmu hah?" Bentak dia membelalakkan matanya hingga bola mata itu hampir keluar.
Aku bahkan tersentak ke belakang untuk beberapa saat saking kagetnya melihat dia membentakku sedekat dan sekeras itu secara tiba-tiba.
"O..oo...oh ..iya tuan, maaf aku pikir tadi kau hanya asal bicara saja" balasku dengan pelan dan segera mengambil makanan.
Aku segera memakannya dengan cepat karena aku takut dia tiba-tiba membentakku lagi dan yang ada nanti aku akan tersedak karena kaget bahkan aku sengaja mengambil naso sedikit agar bisa makan dengan cepat dan segera membersihkan meja itu lagi.
Sedangkan disisi lain sebenarnya tuan Lukas sudah diam-diam tersenyum melihat kelakuan Vivian yang beberapa kali terjatuh saat hendak memasak dan bahkan dia terpentok ke meja, sehingga hal itu membuat tuan Lukas tertawa melihat kelakuannya.
Namun karena merasa gengsi dia menahan diri dengan sekuat tenaga dan menyembunyikan senyumannya itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Vivian.
__ADS_1
"Dasar gadis idiot ini, apa dia bodoh atau memang konyol sejak kecil?" Gumam tuan Lukas memikirkan.
Tanpa dia sadari dia kini justru mulai bisa tersenyum walau hanya sekilas dan sedikit secara diam-diam karena masih mementingkan gengsi dan egonya sendiri yang sangat besar.
Setelah selesai makan aku segera berdiri lagi dan tuan Lukas tiba-tiba saja membentak aku lagi dan dia menyuruh aku untuk mengobati jidatku.
"Heh, kau dasar bocah bodoh, obati keningmu itu! Aishh....aku sangat terganggu melihatnya dasar ceroboh!" Bentak dia seperti sangat membenciku.
"I...iya tuan saya akan pastikan anda tidak akan melihat ini lagi besok" balasku kepadanya sambil membungkuk.
Dan setelah dia mengatakan itu aku dengan sengaja terus menunduk karena takut dia akan terganggu dengan keningku yang tergores ini, aku benar-benar kesal dan jengkel tapi aku menyukai wajah tampannya itu, sungguh sangat menjengkelkan untukku terbelenggu antara kesal dan cinta namun tetap saja rasa cinta itu lebih banyak dan lebih besar.
Apalagi aku masih saja mengira bahwa dia salah pria yang akan menikahiku dan mengikat janji denganku dua belas tahu silam, aku sangat yakin dengan hal itu hingga aku bahkan tidak merasa sakit hati dengannya meski aku terus merasa kesal.
Hingga tuan Lukas pergi dan sudah tidak terlihat lagi, barulah aku segera mengangkat kepalaku dan aku langsung membereskan semua piring juga sisa makanan yang tersedia, aku juga langsung mencuci piring kotor juga semua barang-barang kotor yang ada disana.
"Huft....kapan aku bisa bahagia jika terus menderita seperti ini, aishh ...menyebalkan sekali harus menjalani hidup seperti babu begini, aaahhh....tapi dia sangat tampan jantungku terus bergetar ketika dia menatapku, bahkan meski dia marah dan melotot, oohhh astaga apa aku ini sudah gila" gerutuku sendiri sambil segera menggelengkan kepalaku dengan cepat.
Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri dengan menggelengkan kepalaku dan beberapa kali menepuk pipiku bahkan mencuci wajahku sendiri dengan air untuk menyadarkan diriku bahwa aku tidak boleh terlalu tergila-gila dengan tuan Lukas sebab aku masih belum mengetahui dengan pasti apakah dia pria yang menolongku saat kecil atau bukan.
"Sudah Vivian kamu tidak boleh terlalu menyukai dia, itu akan melukai hati pria masa kecilmu jika dia tahu bahwa aku pernah menyukai pria lain selain dirinya, Kya aku harus memastikannya dahulu" ucapku meyakinkan diriku sendiri.
Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku sampai selesai dan aku segera pergi beristirahat ke dalam kamar sebelumnya aku mengobati jidatku dulu yang tergores aku menempelkan plester yang aku temukan di tasku, entah sudah berapa lama plester itu ada di tasku, hingga ketika aku berusaha untuk menempelkannya plester itu justru malah kembali terbuka dan membuat aku jengkel karena tidak kunjung merekat pada keningku juga.
"Eughhh....sial...sial...sial...ini kenapa sih, dasar plester sialan, sangat menyebalkan!" Gerutuku dengan kesal sambil membiarkan saja plester itu terbuka.
Aku sudah sangat kesal dan emosi sehingga aku membiarkannya saja dan langsung tertidur karena sudah sangat mengantuk dan sudah menguap berkali-kali malam ini.
"Hoaammm...bodoh amat lah aku mau tidur sekarang" ucapku mengabaikannya.
Aku segera tidur dan menarik selimutku dengan cepat, aku langsung tertidur dengan lelap dan rasanya sangat nyaman sambil mengistirahatkan tubuhku di ranjang yang empuk dan sangat nyaman sehingga bisa membuat aku jauh lebih nyaman dan bisa tertidur dengan lelap dan cepat.
Sampai ke esokan paginya aku bangun lebih awal bahkan sebelum matahari terbit karena aku masih harus memasak lagi dan menyiapkan sarapan, sebenarnya sangat kesal dan malas jika harus bangun sepagi ini, tapi aku harus tetap memaksakan diriku sendiri karena jika tidak mungkin tuan Lukas akan kembali membentakku.
Dan aku tidak ingin membuat dia membenciku karena dia selalu membentak aku dan memarahi aku.
"Aaahhh...aku harus semangat, ayolah mata bangun kita harus memasak dan menyapa dapur lagi" ujarku bicara sendiri.
Aku segera bangkit dari kasur meski dengan mata yang setengah terbuka dan aku segera pergi memasak dengan cepat.
Ketika wajahku sudah terkena air, rasanya sudah segar dan bisa langsung memasak, untungnya aku memang sudah terbiasa memasak sejak kecil sehingga memasak sudah menjadi kebiasaan dan juga hobi yang sangat aku sukai sehingga aku tidak terlalu keberatan jika tuan Lukas selalu menyuruhku memasak hanya saja yang membuat aku kesal.
Rumah ini terlalu besar untuk di bereskan seorang diri sehingga membuat aku kelelahan setiap hari bahkan terkadang kaki dan tanganku terasa lebar atau bergetar hebat saking lelahnya membersihkan rumah sebesar ini dan terus bergelut dengan alat-alat kebersihan setiap hari.
Masakanku sudah selesai dan aku sudah mencicipinya setelah aku rasa semua sudah sempurna, barulah aku pergi ke kamarku lagi dan langsung mandi juga segera bersiap siap untuk pergi ke kampus, aku tahu tuan Lukas tidak pernah ingin menemuiku sehingga aku meninggalkan pesan lewat secarik kertas yang aku sisipkan di bawah piringnya sehingga dia bisa membacanya nanti ketika dia hendak sarapan.
"Oke...semuanya sudah sempurna, tuan Lukas aku pergi dulu ya...bye gantengnya aku hehe" ucapku sambil segera bergegas pergi keluar dari rumah itu.
Aku sengaja pergi lebih awal hari ini karena aku dengan ada ujian harian, sehingga aku harus sampai di sekolah tepat waktu dan masih harus mengulas pelajaran disana karena jika di rumah aku selalu tidak memiliki waktu untuk belajar apalagi membuka buku, sebab pekerjaan di rumah sangatlah banyak dan tiasa hentinya.
__ADS_1