
Disaat Bimo dan Elis menikmati makanan di kantin aku justru hanya bis terduduk dengan lesu dan di suapi makanan oleh Bimo dengan paksa karena dia bilang.
"Vivian meski sesedih dan seburuk apapun hidupmu, kau tetap harus makan, aaaa" ucap Bimo menyuapiku.
Aku pun menerima suapan itu hingga semua makanan milikku habis dan Elis hanya tertawa kecil melihat Bimo yang sibuk sendiri menyuapi aku sedangkan dia menjadi tidak makan dengan kenyang sedangkan jam masuk sudah hampir di mulai.
"Aaahh.... Vivian karenamu aku lupa dengan makananku sendiri, aahhh aku akan kelaparan nanti" ucap Bimo terlihat lesu,
"Maaf Bimo aku akan memberikan semua uangku padamu, ini beli saja semua makanan yang kau inginkan" ucapku sambil memberikan semua uang yang tersisa di kantung tok ku,
Uang itu hanya ada beberapa koin saja dan jelas itu tidak akan cukup untuk membeli makanan beras, Bimo hanya merengek sedih melihat beberapa koin da telapak tangannya yang aku beri kepada dia sebelumnya.
"Huaa... Apa apaan ini, kau pikir aku ini pengemis huhu... Aku akan kelaparan hingga pulang sekolah" ucap Bimo masih saja merengek dan aku hanya bisa memeluk dia untuk menenangkannya.
"Ahaha... Sudahlah kau itu sudah berisi tidak ada salahnya tidak makan sekali saja, anggap itu diet, ayo Vivian kita pergi saja" ucap Elis sambil menarik tanganku.
Bimo langsung menyusul dan dia terus merajuk padamu bahkan ketika kami pulang sekolah, aku sudah meminta maaf kepada dia dan terus memegangi tangannya namun dia terus saja menghempaskan tanganku dan menjaga jarak dariku, aku tahu dia pasti kesal padaku karena tadi.
"Bimo ayolah jangan marah seperti itu kepadaku, kamu adalah sahabat pertama dan yang terbaik bagiku aku tidak tahu lagi jika kau seperti ini padaku, aku akan sedih seharian" ucapku sambil memasang wajah yang sedih dan mata yang berlinang padanya.
Hingga akhirnya Bimo mau memaafkanku meski nada bicaranya sedikit terdengar agak kesal.
"Huh... Baiklah aku memaafkanmu tapi lain kali kau tidak boleh seperti itu lagi, nanti aku akan benar-benar lurus kering sepertimu karena tidak makan" ucap dia padaku.
Aku langsung memeluknya dengan senang dan kami pergi menuju rumah Elis karena dia hanya tinggal seorang diri di rumahnya, aku sengaja tidak ingin pulang dan memilih untuk ikut dengan mereka saja, masalahnya jika aku pulang pun aku hanya akan diam seorang diri dan tidak melakukan apapun sehingga aku lebih senang pergi bermain di rumah Elis dengan Bimo.
Aku baru tahu ketika berkunjung ke rumah Elis dan ternyata dia juga tinggal seorang diri, di rumah yang sederhana, namun dari pakaian yang dia kenakan aku mengira dia anak orang kaya sebelumnya namun di saat aku menanyakannya ternyata dia kabur dari rumah.
"Elis apa kamu hanya tinggal sendirian disini?" Tanyaku padanya dengan penasaran,
"Iya aku sudah beberapa bulan tinggal sendiri karena kabur dari rumah" balasnya dengan santai,
Aku kaget dan terperangah mendengar itu, ku pikir dia sama sepertiku namun ternyata dia memiliki rumah sebenarnya berbeda denganku yang memang benar-benar tidak memiliki rumah untuk berteduh atau beristirahat.
"Oh.... Begitu, tapi kenapa kau kabur dari rumah? Orang ada sesuatu yang terjadi denganmu?" Tanyaku penasaran,
"Tidak ada aku hanya ingin hidup mandiri saja, aku benci dengan orang-orang yang manja dan lemah, aku juga awalnya benci denganmu karena kau terlihat rapih dan lesu saat awal masuk ke sekolah, itulah kenapa aku menjauhimu" balas Elis sambil menyajikan minuman untukku dan Bimo,
"Tapi Elis aku tidak selemah itu, mungkin fisikku terlihat lemas tapi aku kuat kok" ucapku penuh percaya diri,
"Kau memang harus menjadi kuat karena kau adalah sahabatku sekarang, semua orang yang berteman denganku haruslah orang-orang yang kuat agar kita tidak di rendahkan dan di injak-injak oleh orang lain, termasuk oleh orang-orang yang mementingkan standar kekayaan orangtua, itu cukup menjengkelkan bukan?" Balas Elis yang terdengar sangat membenci para orang kaya.
Aku hanya mengangguk saja karena aku juga memiliki pemikiran dan perasaan yang sama dengan Elis, semua orang kaya memang hanya mementingkan kedudukan bahkan dalam berteman mereka harus mencari tahu asal usul anak itu terlebih dahulu, mulai dari siapa kedua orangtuanya, perusahaan apa yang mereka kelola dan sehebat apa pengaruhnya.
Itu memang cukup merepotkan untuk orang-orang yang bernasib tidak beruntung sepertiku dan Bimo, aku tahu Bimo bisa masuk ke sekolah itu hanya karena dia pandai dan mendapatkan beasiswa makanya dia selalu belajar dengan giat meskipun dia sangat suka makan, tapi otaknya cukup bagus.
Setelah mengobrol bersama kami memutuskan untuk menonton film di rumah Elis dan kami menonton fil horor kesukaan Elis dan Bimo sedangkan aku adalah satu-satunya orang yang penakut dengan hal-hal seperti ini.
Aku tidak bisa menolak karena mereka terus memaksaku dan sepanjang fil itu berlangsung aku terus menutupi mataku tiap kali adegan hantunya muncul dan suara dari televisi itu membuat aku sangat tegang dan cukup ketakutan di buatnya, ini adalah pengalaman pertamaku menonton film dan sekaligus adalah film yang paling tidak ingin aku tonton.
__ADS_1
"Aaarrkkkhhh...aku takut aku tidak ingin menontonnya lagi" teriakku sambil memeluk Elis sangat erat.
Bimo pun segera mematikannya karena memang filmnya sudah selesai dan mereka berdua malah menertawakan aku yang masih merasa ketakutan padahal film nya sudah berakhir.
"HHa...hahaha.... Vivian kau lucu sekali, apa kau sangat takut dengan makhluk yang tidak nampak, semua itu hanya fil Vivian itu tidak nyata" ucap Bimo kepadaku,
"Aish... Tetap saja itu menyeramkan, kau lihat bukan wajahnya itu sangat menakutkan, iiihhh aku kapok tidak ingin menonton film seperti itu lagi!" Balasku dengan tegas kepadanya.
Elis juga sama menertawakan aku dan mereka terus saja mengagetkan aku dan menakut nakuti aku hingga aku kesal dan berlari mengejar mereka serta melepakari melera dengan bantal duduk yang ada disana.
Sampai akhirnya kami merasa lelah dan berbaring di lantai bersama hingga tidak sadar lama kelamaan menjadi ketiduran.
"Hoaammm...aku lelah sekali" ucapku sambil berbaring di lantai yang terasa dingin dan menyejukkan tubuhku,
"Hah.. hah.. hah.... Iya aku juga sama, karena kau aku harus kehilangan banyak energi" balas Bimo sambil tidur terlentang di sampingku.
Dan Elis yang juga merebahkan tubuhnya di sebelah Bimo, kami bertiga tidur bersamaan dan langsung terlelap dengan cepat hingga waktu terus berlalu dan jam terus berganti hingga aku mulai terbangun dan melihat hari sudah gelap.
"Hah? Sudah berapa lama kita tertidur?, Elis Bimo bangun ini sudah gelap" ucapku panik dan segera mengambil tas sekolahku,
Mereka baru saja terbangun dan mengucek matanya, sedangkan Bimo terlihat santai saja ketika aku mengajaknya untuk pulang bersama.
"Bimo ayo cepat bangun apa kau tidak akan pulang?" Ucapku sambil menarik tangannya,
"Aaahh... Aku malas aku ingin tidur di rumah Elis saja, ibuku juga tidak akan mencemaskanku" ucapnya sambil bangkit berpindah ke sofa dan melanjutkan lagi tidurnya.
Dia sangat menjengkelkan dan sekarang hanya aku yang akan ulang seorang diri.
"Iya cepat pulang nanti ibu angkatmu akan memarahiku" ucap Elis sambil mendorong tubuhku keluar dari rumahnya,
"A..ah... Elis aku...aku" ucapku terbata bata dan dia sudah menutup pintunya.
Aku lihat ke luar hari benar-benar sudah gelap dan aku memaksakan diriku untuk berjalan perlahan menyusuri jalana raya sambil menunggu taxi yang lewat, tapi di saat taxi itu ada aku lupa karena aku tidak memiliki uang sedikitpun, sehingga aku memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki saja.
Jarak dari rumah Elis ke rumah tuan Lukas sangat jauh sehingga tidak mungkin aku bisa menepuknya dengan berjalan kaki aku sangat lelah dan duduk di pinggir jalan untuk mengistirahatkan diriku sambil memijat kakiku yang terasa sangat ngilu juga pegal sekali.
"Ahhh.. ini masih sangat jauh, bagaimana aku bisa sampai kesana?" Gerutuku sendiri.
Aku merasa menyesal seharunya aku tidak pergi dari rumah Elis seharusnya aku menginap saja di rumahnya, lagi pula tuan Lukas juga tidak akan memperdulikan aku meski aku pulang ke kediamannya atau tidak.
Hingga ketika aku tengah duduk sendiri tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di hadapanku dan mataku silau karena lampunya yang menyoroti wajahku dalam gelap, hingga aku merasakan seseorang menarik tanganku dan menyeret aku dengan kasar hingga aku masuk ke dalam mobil dan rupanya itu adalah tuan Lukas.
"Tu...tuan... Bagaimana kau bisa menemukan aku disini? Apa kau mencariku dan mengkhawatikan aku?" Tanyaku dengan senang dan penuh harap bahwa dia akan menjawab iya,
"Jangan gr kau, aku hanya tidak sengaja lewat karena lembut di kantor dan melihat kau yang duduk seperti pengemis, jika orang yang mengenali kau dan aku melihatnya, bayangkan apa yang akan aku dapatkan, dasar kau hanya bisa membuatku susah!" Ucapnya membuat aku sakit hati.
Meski begitu aku tetap tidak memperlihatkan perasaan sakit hatiku, dan hanya menunjukkan wajah senyum yang ceria di hadapannya.
"Tidak papa meski kau begitu, yang pasti aku yakin takdir yang merencanakannya" ucapku dengan senang meski dia hanya berdecak pelan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah dia langsung keluar dari mobil meninggalkan aku di belakang, dan dia langsung menaiki tangga begitu saja tanpa menyapaku atau mengkhawatirkanku aku sedikitpun, aku juga merasa kesal karena disaat aku hendak menyapanya dia malah terus berjalan mengabaikan aku.
"Selamat mal....." Ucapku tertahan,
"Malam....." Tambahku melanjutkannya dengan lesu.
Aku pun segera masuk ke kamarku dengan kesal dan segera membersihkan diri, untuk sesaat aku menyalahkan diriku sendiri dan sangat menyesal karena aku malah menyapanya seharusnya sesuka apapun aku padanya aku tidak boleh memperlihatkannya dengan jelas seperti tadi.
Padahal dia bersikap kasar padaku tapi aku selalu memberikannya senyuman yang manis yang paling cantik yang aku milikku namun semua itu tetap saja tidak bisa mengubah karakternya yang keras dan dingin, bahkan di hari berikutnya dia memberiku sebuah kartu bis juga kartu ATM yang bisa aku gunakan.
Awalnya aku sangat senang karena aku pikir dia sudah perhatian kepadaku sedikit demi sedikit dan aku mengira akan lebih mudah untuk aku mendekatinya dan membuat dia mengingat bahwa aku adalah wanita yang dia cari selama ini.
Namun ternyata dugaanku lagi-lagi sangat salah besar.
"Ini... Kau tidak boleh masuk ke mobilku lagi dan kau harus pergi tepat ketika aku sudah pergi, jangan lupa bereskan rumah dan selalu menyiapkan makanan untukku setiap pagi dan malam, setelah itu aku tidak perduli apapun yang akan kau lakukan, dan uang di dalam itu hanya bisa kau belikan untuk kebutuhanku bukan kebutuhanmu, kau hanya bisa menggunakannya jika aku memberimu izin apa kau mengerti!" Ucap dia menjelaskan semua aturan yang sangat menjengkelkan,
"Tuan apa aku sungguh Payan saja di matamu itu?" Tanyaku padanya,
"Itu kau tahu, untuk apa menanyakannya lagi" balas dia dengan santai,
"Apakah kau tidak curiga kepadaku, aku ini adalah wanita yang kau cari aku wanita yang kau selamatkan di kolam dua belas tahun lalu, kenapa kau tidak bisa mengenali aku dan malah berpikir jika wanita itu adalah Cecil" ucapku kepadanya.
Dia langsung menggebrak meja dan memperingati aku dengan tatapan tajam dan menunjuk wajahku dengan jarinya yang gemetar menahan emosi.
"Brakk...." Suara meja yang di gebrak kuat olehnya,
"Aku peringatkan padamu, bahkan aku bisa mengenali dengan jelas siapa wanitaku, dan jangan pernah kau mengaku sebagai wanitaku itu, begitu juga dengan kakak sialan mu!" Bentak dia sangat keras.
Dia kemudian langsung pergi dan terdengar suara mobilnya yang pergi dengan cepat meninggalkan kediamannya.
Aku hanya bisa diam terperangah dan kaget melihat dia begitu marah kepadaku hanya karena aku mengatakan yang sebenarnya, entah kenapa aku merasa sangat sakit melihat dia membentakku seperti itu dan ini lebih sakit dari pada sebelumnya.
"Lihat saja nanti tuan Lukas, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dengan atau tidak tahunya kau bahwa aku adalah wanita dua belas tahun itu" ucapku penuh tekad.
Aku segera menghapus air mata yang mengalir membasahi pipiku lalu aku segera membereskan piring bekas makannya juga bekasku, lalu aku juga membereskan rumah sebentar, barulah aku segera pergi ke sekolah dengan membawa kartu bis dan kartu ATM miliknya.
Aku sebenarnya sangat sakit menerima penghinaan ini namun aku tetap tidak akan menyerah untuk membuat dia menerima aku dan memperlakukan aku dengan baik di masa depan, meski aku tahu mungkin semua itu sangat mustahil bagiku dan tidak mungkin untuk aku mewujudkannya sebab dia sudah sangat membenci aku tanpa alasan sejak awal.
Entah dia benci karena tidak bisa bersama Cecil atau dia memang pada dasarnya hanya membutuhkan seorang pelayan bukan pasangan hidup untuknya.
Aku pergi ke sekolah dengan lesu dan langsung duduk di kursiku dan tertidur karena saking lelahnya, aku harus bangun lebih pagi besok pagi untuk menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah, meskinsemua kegiatan itu sudah biasa aku lakukan setiap hari ketika berada di kediaman orangtua angkatku.
Tapi kali ini rasanya jauh lebih melelahkan karena rumahnya lebih luas dua kali lipat daripada rumah yang aku tempati sebelumnya, maka dari itu aku juga mengeluarkan dua kali energiku serta harus menggunakan dua kali waktuku untuk membersihkannya dan itu cukup melelahkan untukku.
"Vivian ada apa denganmu, kau sudah berkeringat pagi-pagi sekali, apa kau lari maraton untuk sampai kemari yah?" Tanya Bimo padaku,
"Haaa... Ini lebih dari sekedar lari maraton, aku sudah pernah berjalan kaki dari rumah keluarga Wheeler sampai ke sekolah selama berhari-hari tapi tidak pernah selesai ini tapi sekarang aku sangat lelah karena harus membersihkan rumah yang sangat mewah sendirian" ucapku mengeluh,
"Wahh mereka benar-benar menyiksamu, aku kasihan padamu Vivian pantas saja kau kecil tanpa daging seperti itu" tambah Bimo kepadaku.
__ADS_1
Dia membantu aku memijat pundakku dan berkata itu untuk melanjutkan peredaran darahku, tapi memang apa yang dilakukan oleh Bimo memberikan dampak yang cukup nyaman untuk tubuhku dan rasanya aku merasa lebih rileks dan tidak terlalu pegal lagi.
"Huaa... Itu sangat nyaman terimakasih Bimo kau memang yang terbaik" ucapku memuji pekerjaannya dan berterima kasih kepadanya.