
Wanita yang manifulatip dan selalu saja memakai topeng dimanapun dia berada, dia selalu saja bisa memikat semua orang untuk menatap ke arahnya entah wanita ataupun pria, dan dia seakan selalu mendapatkan perhatian juga kasih sayang dari banyak orang, dia mendapatkan banyak cinta yang tidak aku dapatkan, padahal aku hanya ingin cinta tuan Lukas saja, aku tidak perduli dengan hal yang lainnya, selama ada tuan Lukas yang menyayangi aku, bagiku itu sudah cukup namun sayangnya bahkan sampai sekarangpun tuan Lukas masih tidak menganggap aku, sedangkan Cecil dia bahagia dengan kak Kaylo, aku memang sangat menyedihkan tidak heran kak Defi berbicara seperti tadi kepadaku.
Aku pun kembali ke kelas dengan perasaan yang lesu dan segera mengambil tas milikku hari ini aku memilih untuk bolos sekolah karena rasanya percuma saja jika aku sekolah sekalipun rasanya tidak memiliki semangat dan tidak ada energi dalam diriku.
Tapi disaat aku hendak mengambil tas milikku, Elis dan Bimo menghentikan aku dan mereka mulai menanyai aku saat itu.
"Ehhh....Vivian kamu mau kemana?" Tanya Bimo menahan tanganku saat itu,
"Iya pelajaran akan segera di mulai sebaiknya kau diam di kelas sebelum nanti keduluan oleh guru" balas Elis kepadaku,
"Aku tidak jadi sekolah, tolong buat surat izin untukku yah, aku benar-benar tidak bisa sekolah hari ini" ucapku kepada mereka sambil membereskan buku milikku yang ada diatas meja.
Seketika Bimo dan Elis menatap dengan tatapan yang terbelalak kaget kepadaku saat itu, aku tahu mungkin mereka akan merasa heran terhadapku karena aku sudah ada di sekolah tetapi justru malah memilih untuk membolos dan kembali pulang.
"Ehhh ...Vivian apa kamu ini gila, pelajaran akan segera di mulai kenapa kamu malah ingin pergi, jika kau merasa tidak enak hati harusnya itu tidak membuat sekolahmu kacau bukan" ujar Bimo kepadaku.
Aku mengerti apa yang dikatakan oleh Bimo memang sangat benar tetapi permasalahan antara aku dan tuan Lukas sama sekali tidak sesederhana yang di pikirkan olehnya, dia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan dan apa saja yang sudah aku lalui sejauh ini, sehingga mungkin wajar saja baginya jika dia merasa bahwa aku seperti itu, tetapi pada nyatanya aku jauh lebih sakit.
"Maafkan aku Bimo tetapi ini bukan hanya tentang tuan Lukas saja, aku sungguh tidak bisa, diam disini pun aku tetap tidak akan fokus jadi tolong jangan menahanku lagi aku akan segera pergi, terimakasih sudah membuat izin untukku" ucapku pada mereka berdua dan segera keluar dari kelas secepatnya.
Aku pergi dari sekolah hingga keluar dari gerbang sekolah itu dan aku melihat gedung sekolah yang menjulang tinggi dari sana, melihat gedung sekolah yang pada awalnya sangat aku kagumi, aku merasa sangat nyaman dan bahagia saat pertama kali masuk ke dalam sekolah ini, tetapi tidak pernah aku bayangkan bahwa di dalam sekolah yang mewah dan sebesar ini terdapat perbandingan sosial yang sangat tinggi, dimana orang yang berasal dari keluarga terpandang lebih di utamakan oleh mereka di bandingkan dengan siswa yang memang hanya bisa masuk ke dalam sekolah tersebut menggunakan otak dan semua usaha mereka sendiri, aku menghembuskan nafasku dengan lesu melihatnya dan saat itu aku mulai merasa bahwa aku sungguh tidak bisa untuk lanjut sekolah di tempat itu dengan biaya yang di berikan oleh tuan Lukas lagi.
Meski aku pintar tapi aku juga tidak bisa memperlihatkan ke pandaian diriku karena Cecil yang memperingati aku, dia terus mengancam aku dan mendesakku, sehingga aku tidak bisa menjadi lebih unggul darinya tetapi di sisi lain karena hal itu aku sendiri kehilangan beasiswa yang seharusnya aku dapatkan, tuan Lukas juga menjadi harus membayar semua tanggungan belajarku, padahal aku tidak ingin bergantung pada siapapun.
Aku pergi dari sekolah dan berniat mencari pekerjaan agar aku bisa mendapatkan uang dengan tenaga diriku sendiri, aku pikir ini sudah saatnya dimana aku harus terlepas dari semua orang yang menyakitkan bagi diriku, bukankah aku juga pantas menerima rasa kebahagiaan dalam hidupku, sehingga aku harus terlepas dari semua orang yang selalu mengatur hidupku sesuai dengan apa yang mereka tentukan hanya karena mereka bertanggung jawab atas biaya hidupku.
"Aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa aku bisa hidup sendiri, tanpa bergantung kepada mereka semua mulai saat ini" gerutuku saat itu.
Aku segera pergi dengan semua keyakinan yang aku miliki dan semangat baru yang berusaha aku pupuk dalam diriku sendiri, aku berjalan menelusuri jalanan yang tidak jauh dari sekolah, mencari toko mana yang bisa aku masuki agar aku bisa bekerja disana.
Satu dua toko sudah aku masukkan dan aku menanyakan kepada mereka apakah mereka membutuhkan karyawan paruh waktu, tetapi sayangnya semua tempat yang aku datangi tidak ada satu pun yang menerima aku untuk bekerja di tempat tersebut.
Yang lebih membuat aku kesal mereka menolak aku untuk bekerja disana hanya karena seragam sekolah yang aku pakai, mereka mengira bahwa aku dari keluarga kaya raya sehingga tidak bisa menerima aku bekerja di tempat mereka, dan ada juga sebagian yang mengira bahwa aku hanya akan bermain-main saja.
"Tuan....saya mohon saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, saya tidak papa jika hanya mencuci piring saja, tolong tuan terima saya bekerja disini" ucapku terus memohon kepada seorang bos di salah satu restoran makanan siap saji yang cukup besar.
"Tidak bisa, kau pasti anak orang kaya, mana mungkin anak orang kaya sepertimu yang sekolah di tempat mewah seperti itu bisa mencuci piring dengan benar, aishh...yang benar saja kau ini, sudah sana pergi dari tempatku mengganggu waktuku saja" ujar sang bos tersebut malah mengusir aku.
Aku tidak bisa menerima penolakkan lagi karena sudah banyak sekali tempat yang aku masuki dan semuanya hanya mendapatkan penolakkan sehingga dengan yang satu ini, aku akan memperjuangkannya dengan sekuat tenagaku dan aku tidak akan melepaskannya dengan mudah.
"Bos ..ayolah, aku bukan anak orang kaya bahkan aku tidak memiliki uang, aku bisa sekolah di tempat itu hanya karena keberuntungan, kau bisa menguji aku dulu jika kau tidak mempercayai kerjaku" ucapku kepadanya.
Hingga tidak lama bos itu akhirnya menatap ke arahku dengan tatapan yang seperti menyelidik dan aku terus memasang senyum cerah kepadanya berusaha untuk meyakinkan bos tersebut agar bisa menerima aku bekerja disana.
"Baiklah.... baiklah, ayo cepat ikut aku ke dapur" ujar bos tersebut.
Aku merebahkan sangat senang dan segera mengikuti bos tersebut, sampai ketika sampai di dapur banyak sekali piring kotor disana yang terlihat begitu berminyak dan memiliki noda yang sangat membandal, bos itu langsung menyuruh aku untuk segera mempraktekkan kerjaku.
__ADS_1
"Apa lagi yang kau tunggu ayo cuci piring dengan noda minyak disana" ucap sang bos menyuruhku.
Aku mengangguk dengan cepat, segera ku ambil piring itu dan mencucinya dengan secepat yang aku bisa, untungnya aku sudah terbiasa membersihkan piring kotor seperti ini karena sudah sejak kecil menggeluti pekerjaan seperti ini sampai terkadang kulit jari tanganku mengelupas akibat sabun yang selalu aku gunakan untuk menggosok piringnya setiap hari.
Sehingga pekerjaan seperti ini tidak berat sama sekali untuk orang sepertiku aku terus mencuci semua piring disana meskipun bos tersebut pada awalnya hanya menyuruh aku untuk mencuci satu piring saja disana.
Aku sengaja mencuci semuanya agar aku bisa langsung di terima olehnya dengan cepat dan ternyata usaha yang aku lakukan itu benar-benar membuahkan hasil yang cukup bagus, bos tersebut langsung saja menyuruh aku untuk segera berhenti mencucinya.
"Ehh..eh...eh ..sudah...hentikan aishh kenapa kau malah mencuci semuanya, berikan aku salah satu piring akan aku periksa dahulu hasil kerjamu itu" ucap bos tersebut padaku,
"Ehehe....iya bos ini, silahkan kau beri nilai" ucapku sambil memberikan salah satu piring yang sudah aku cuci.
Bos tersebut terlihat memeriksanya dan mencium piring piring itu hingga wajahnya terlihat sedikit tersenyum dan mengangguk ke arahku, aku merasa sangat senang sekali karena pekerjaanku benar-benar bisa di terima oleh sang bos tersebut.
"Ya ... cukup bagus, baiklah mulai sekarang kau bisa bekerja disini, ayo lanjutkan pekerjaanmu" ucap bos tersebut kepadaku.
Aku benar-benar merasa sangat senang sekali ketika mendengar perkataan dari bos tersebut, langsung saja aku segera mengangguk dan membalasnya dengan cepat.
"Baik bos" ucapki kepadanya sambil segera melanjutkan kembali pekerjaan mencuci piringku.
Karena aku memang sudah terbiasa melakukannya, membersihkan banyak piring yang menumpuk seperti itu adalah hal yang mudah bagiku, aku bisa menyelesaikannya dengan cepat dan mendapatkan piring baru yang kotor lagi dari pelayan yang membawakannya, aku merasa sangat senang dan semangat dalam diriku rasanya sudah terpupuk sangat banyak saat itu.
Sampai ketika semuanya sudah selesai juga harus yang sudah semakin sore, sampai restoran tutup, akhirnya aku selesai mencuci piring, bos menghampiriku dan dia memberikan gaji padaku, aku langsung menatap heran dan bingung karena ini hari pertama aku bekerja di restoran tersebut tetapi bos sudah memberikan aku uang gajinya.
"Kau sini, ambil gajimu ini" ucap bos tersebut kepadaku saat itu,
"Tentu saja sekarang, kau ini kan pekerja lepas, jadi aku akan menggajimu setiap hari saja, ingat kau harus datang setelah sekolahmu selesai lalu pulang sampai restoran tutup, biasanya restoran tutup malam hari tapi untuk hari ini ada beberapa hal kendala jadi aku menutupnya sampai sore, sudah sana kau pergi jangan banyak bertanya lagi" ujar bos tersebut kepadaku.
Aku mengangguk mengerti dengan perkataan darinya dan segera pergi dari sana secepatnya karena tidak ingin membuat sang bos terlihat semakin marah kepadaku, wajahnya juga terlihat kusut mungkin masalahnya memang agak serius.
Tapi hari ini aku merasa sangat senang, untuk pertama kalinya bisa memegang uang dari hasil kerja keras dan keringat diriku sendiri uangnya begitu hangat saat aku pegang dan aku merasa sangat berbeda ketika memiliki uang itu.
"Aahhh...ternyata begini ya rasanya jika kita memiliki uang hasil dari kerja keras diri sendiri, ini sangat luar biasa aku akan terus bekerja lebih giat lagi" ucapku begitu semangat.
Karena sudah tidak ada tujuan lain aku memutuskan untuk pulang ke kediaman tuan Lukas sampai ketika aku sudah masuk ke dalam rumah dan tengah menyiapkan makan malam untuknya terlihat tuan Lukas baru saja pulang dari kantornya saat itu, aku sama sekali tidak ingin menyambut dia atau berperilaku baik lagi kepadanya.
Aku benar-benar akan bersikap seperti pelayan biasa terhadap dia mulai sekarang, lagi pula memang itu yang dia inginkan dariku sepertinya sehingga aku akan melakukannya aku juga tidak ingin membuat dia semakin membenci aku atau risih dan tidak nyaman dengan keberadaan aku di dalam rumahnya.
Saat dia sampai di depan meja makan aku yang berusaha menghargai dirinya langsung saja segera pergi dari sana dengan cepat, aku pergi masuk ke dalam kamar tidurku dan membanting pintu itu cukup keras.
"Brak..." Suara pintu kamar yang aku banting dengan sekuat tenagaku.
Sedangkan disisi lain tuan Lukas yang melihat tingkah Vivian begitu aneh, dia mengerutkan kedua alisnya merasa sangat heran juga sedikit penasaran dengan perubahan sikap Vivian kepadanya hari ini.
"Ada apa dengannya, kenapa dia seperti menghindariku, apa yang salah dengan aku?" Batin tuan Lukas yang sama sekali tidak mengerti apapun bahwa sebenarnya dia telah banyak melukai hati Vivian selama ini.
Padahal Vivian selalu memberikan apapun yang dia bisa dan sebaik apapun semua miliknya hanya demi tuan Lukas dan mengingatkan tuan Lukas akan dirinya, tetapi seakan tuan Lukas terus menolak keberadaan itu dan tidak pernah mengakui status mereka saat ini.
__ADS_1
Hingga selesai makan tuan Lukas duduk di ruang tengah membaca buku miliknya dan aku saat itu sudah bisa berdiam diri di kamar begitu saja aku pergi keluar berniat untuk menonton film tetapi sayangnya ada tuan Lukas disana disaat aku sudah keluar dari kamar aku berniat kembali masuk lagi tetapi tuan Lukas lebih dulu memanggil aku.
"Heh...mau kemana kau sudah keluar kembali masuk lagi, apa kau menghindariku?" Ucap tuan Lukas padaku saat itu.
Aku sama sekali tidak ingin membahas mengenai hal itu, karena dia sangat menjengkelkan bagiku sekarang, sudah tahu aku menghindari dirinya tapi dia masih sempat bertanya seperti itu kepadaku, bukannya membujuk aku atau melakukan sesuatu kepadaku dia justru malah terlihat santai saja padaku.
"CK....malas sekali harus membalas ucapannya aku lebih baik mengabaikan dia saja" batinku saat itu.
Segera aku berjalan melewatinya namun lagi dan lagi tuan Lukas memanggil namaku dan membuat aku sangat jengkel dengannya.
"Heh ..Vivian apa kau tuli aku bicara kepadamu kenapa kau tidak menjawab ucapanku?" Tambah tuan Lukas lagi saat itu.
Aku menarik nafas pelan dan membuangnya dengan kasar lalu berbalik menatap ke samping telat berdiri lurus dengan tempat dimana tuan Lukas duduk di sofa saat itu.
"Ada apa kau bicara denganku, ohhh...tentang hal tadi ya? Kau memang benar aku menghindar darimu, aku tidak lagi menyukaimu, kau sangat menjengkelkan" ucapku kepadanya dengan jantung yang berdetak kencang dan aku sudah membohongi diriku sendiri tanpa sadar saat itu.
Sebenarnya saat itu aku masih sangat menyukainya karena tidak mungkin kita melupakan seseorang yang kita cintai sejak kecil sampai sebesar sekarang tapi melupakannya dengan sekejap saja, tetapi aku harus mengatakan itu kepadanya, dan memang aku harus berhenti mengejarnya jika dia terus tidak mempercayai diriku dan menolak dengan keberadaan aku.
Mendengar jawaban tersebut dari Vivian tentu saja tuan Lukas mengeratkan kedua alisnya dan dia langsung menaruh bukunya diatas meja, dan tiba-tiba saja malah menyuruhku untuk membuatkannya teh saat itu.
"Heh...pergi buatkan aku teh" ucapnya memerintah secara tiba-tiba.
Awalnya aku pikir dia akan marah atau bertanya kepadaku mengapa aku menjadi tidak menyukainya lagi, atau dia mengatakan hal yang lainnya, tetapi dia justru malah menyuruh aku untuk membuat teh saja, dan itu sangat membuat aku kesal, aku menyesal sudah menjawab ucapannya.
"Aishh.....kenapa dia sangat menyebalkan sekali" gerutuku pelan saat itu sambil menatap wajah tuan Lukas yang kembali mengambil bukunya dan membacanya dengan serius.
"Heh ..kenapa kau masih berdiri disana aku sudah haus cepat ambil teh nya" tambah tuan Lukas memerintah aku lagi.
Aku menghentakkan kaki ke lantai dengan kesal dan geram, sambil menggerutu aku pergi ke dapur membuatkan dua teh, satu untuknya dan satu lagi untukku, teh ini adalah teh wangi yang sangat enak ketika di minum, wanginya yang harus dan tidak terlalu mengubah warna dasar air membuat semua orang pasti akan senang ketika menikmatinya di malam hari sambil bersantai seperti yang dilakukan oleh tuan Lukas saat itu.
Aku juga membuatnya untuk diriku sendiri karena aku membutuhkan ketenangan pada pikiranku dan bisa tidur lebih cepat malam ini agar bisa melupakan semua kejadian yang menjengkelkan dengan tuan Lukas.
Pergi memberikan teh itu pada tuan Lukas dan aku menaruh ya tepat di meja yang berada di hadapannya.
"Ini tuan saya sudah membuatkannya untukmu" ucapku menyajikan teh itu untuknya.
Aku menghembuskan nafas kesal lagi dan segera bangkit untuk pergi ke kamarku lagi tetapi tuan Lukas justru menyuruh aku untuk duduk di sampingnya saat itu.
"Duduk disini" ucapnya tiba-tiba saja padaku.
Aku langsung menaikkan kedua alisku merasa kebingungan sendiri dan mulai menatap ke arahnya dengan tatapan penuh keheranan.
"Tuan untuk apa kau menyuruh aku duduk di sampingmu, memangnya kau menyukai aku hah?" Balasku kepadanya saat itu.
"Duduk atau aku akan menarikmu sampai kau mau duduk!" Ancam tuan Lukas yang menatapku cukup sinis.
Aku pun segera duduk di sampingnya dan dia mulai menyalakan televisi saat itu lalu menaruh bukunya di meja, dia langsung berbalik menatap ke arahku dan menaruh tangannya ke belakang tubuhku begitu saja, aku tentu merasa sangat heran dan aneh, apalagi kini jarak antara dia dan aku sangatlah dekat aku hampir tidak bisa mengendalikan diriku sendiri padanya.
__ADS_1