
Saat itu aku juga merasa sangat tidak enak dan begitu empati terhadap kak Defi yang di perlakukan seperti itu oleh Cecil, aku tahu dulu aku juga lemah sama sepertinya bahkan aku jauh lebih lemah dan tidak berdaya di bandingkan kak Defi dahulu, aku sangat ingin membantunya tapi kak Kaylo seakan sudah benar-benar buta oleh Cecil dan aku tidak bisa terus diam saja melihat Cecil semakin menjadi dengan kejahatan dan kelicikan manipulasi yang dia lakukan kepada semua orang.
Aku sangat kesal saat itu dan hanya bisa menggerutu sangat kesal saat itu sampai tidak lama datang Bimo menghampiri aku dan juga Elis yang saat itu baru saja masuk dari gerbang sekolah.
"Ehh ... Vivian sedang apa kau berdiru di tengah jalan sendirian seperti itu?" Tanya Bimo kepadaku dengan menatap heran.
Elis juga ada di sampingnya dan aku langsung saja menghembuskan nafas dengan lesu dan kesal aku tidak bisa menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada mereka karena aku juga tidak ingin membawa kedua sahabatku yang sangat baik dan perduli terhadap menjadi terbawa-bawa dalam hal yang sangat rumit seperti itu.
"Aahh ... Tidak ada aku hanya merasa sangat kesal saja hari ini, kau tahu seperti apa Cecil bukan, sudahlah tidak ada gunanya memikirkan orang seperti dia ayo kita pergi ke kelas saja" ucapku mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
Dan segera pergi ke kelas bersama dengan mereka berdua secepatnya, hingga sesampainya di kelas aku langsung duduk dengan hati tidak menentu dan sangat kesal aku tidak tahu harus berbuat apa, sepanjang pelajaran aku tidak bisa fokus untuk memahami setiap pelajaran yang di terangkan oleh setiap guru di depan kelas, aku juga makan sangat sedikit karena tidak memiliki nafsu makan setelah kejadian tersebut.
Apalagi saat di kantin aku melihat kak Defi makan sendirian sedangkan Cecil makan berdua dengan kak Kaylo dan mereka terlihat begitu harmonis juga membuat semua orang mengagumi mereka, bukan hanya aku yang kesal dan sangat geram melihatnya tetapi Elis dan Bimo sepertinya juga merasakan hal yang sama saat itu.
"Vivian sudah cepat makan makananmu untuk apa kau terus melihat pasangan me jengkelkan itu, memangnya kau menyukai kak Kaylo apa?" Ucap Bimo kepadaku sambil memberikan jatah lauk miliknya yang sangat aku sukai.
Tapi karena mood di dalam diriku sudah hancur lebih dulu jadi aku tetap saja tidak terlalu memiliki nafsu makan yang besar sehingga meski Bimo memberikan jatah makanannya kepadaku aku tetap hanya menikmati makanan dengan pelan dan tidak terlalu bersemangat seperti biasanya.
"Aahhh.... Mereka sangat menjengkelkan dan mengganggu, aku tidak bisa membiarkan mereka terus seperti itu, teman-teman" balasku kepada kedua temanku.
__ADS_1
Saat itu aku sangat ingin pergi mendampingi dan menemani kak Defi tapi aku tahu masih ada Bimo dan Elis bersama denganku, jika aku pergi menuju meja kak Defi dan meninggalkan kedua sahabatku, aku hanya takut mereka akan kesal dan malah salah paham terhadap aku nantinya, sehingga aku berusaha untuk tetap menahan diri dan menikmati makanan dengan susah payah bersama mereka berdua.
"Sudah....sudah jangan banyak bicara lagi dan jangan melirik ke arah mereka, kau fokus saja dengan makananmu di depan bukankah biasanya juga kau selalu bersemangat saat makan karena kau bilang kau tidak sarapan setiap pagi" ucap Elis sambil mendekatkan makananku ke arahku.
Aku pun mengangguk karena mau semarah apapun aku tetaplah perutku merasa lapar dan aku masih membutuhkan asupan makanan untuk membentu energi dalam tubuhku nantinya, aku makan masih dengan wajah yang aku tekuk dengan kuat dan cemberut kesal sambil menatap sinis ke arah Cecil yang terus menyuapi kak Kaylo saat itu.
Sedangkan kak Defi terlihat langsung saja pergi dari kantin sangat cepat saat itu, aku yang melihatnya benar-benar merasa kasihan terhadap dia dan langsung saja aku menyelesaikan makanku lalu pergi dari kantin dengan cepat untuk mengejarnya.
"Aahhh... Aku sudah kenyang, teman-teman kalian pergi saja ke kelas lebih dulu aku ada sediki urusan dengan kak Defi" ucapku kepada mereka sambil berjalan cepat menaruh sisa makananku dan langsung berlari mengejar kak Defi saat itu.
Sedangkan disisi lain Elis dan Bimo yang melihat tingkah Vivian terlihat begitu aneh hari itu mereka hanya bisa mengerutkan kedua alisnya dengan heran dan saling bertanya-tanya satu sama lain.
"Hah... Ada apa dengan anak itu, apa dia mulai dekat dengan Defi yang pernah menyenggol dia saat pertama masuk sekolah, dasar aneh itu memang aneh dan tidak ada kapoknya" ucap Bimo sbil.menggelengkan kepala.
Dan baginya memang lebih baik menanyakan tentang hal itu secara langsung kepada Vivian nantinya di bandingkan harus mengikuti dia dan mencari tahunya tanpa izin seorang diri, dia hanya sangat menghargai sebuah persahabatan yang real dan memenuhi kesetiaan satu sama lain dengan bisa saling memahami.
Begitupun dengan apa yang membuat dia sedikit terganggu saat ini karena sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara sahabatnya Vivian dan Defi kakak kelasnya yang dia kenal sebagai orang yang selalu memiliki circle kuat hampir sama dengan Cecil yang selalu senang menindas dan merendahkan siswa yang lainnya ketika di sekolah menengah atas tersebut.
"Aku akan menanyakan hal itu langsung kepada Vivian jika dia tidak memberitahu kita juga tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dia dan Defi, itu tadi sangat mencurigakan bukan?" Ujar Elis yang merasa curiga,
__ADS_1
"Ahh .. iya kau benar Elis, kita harus menanyakan dia dan mendengarkan penjelasan darinya dahulu" balas Bimo yang menyetujui ide Elis.
Disisi lain aku berlari dengan cepat mengejar kak Defi dan berteriak untuk menghentikan dia saat itu, karena dia berjalan dengan cukup cepat dan menutupi setengah dari wajahnya saat itu, dia juga terlihat seperti tengah menangis.
"Kak.... Kak Defi bisakah kau berhenti sejenak, kak Defi apa kita bisa mengobrol kak aku bicara padamu, bisakah kau mendengarkan aku sebentar, aku bukan orang jahat dan aku sama sekali tidak akan berlaku apapun kepadamu" ucapku yang akhirnya di dengan setelah di abaikan oleh kak Defi dalam waktu yang lama.
Kak Defi menghentikan langkahnya dan dia langsung mengusap air matanya yang terlihat turun cukup deras membasahi pipinya saat itu, lalu dia menengok ke arahku dengan matanya yang terlihat agak sembab saat itu.
"Apa kau tidak tahu apapun tentang aku dan kakak angkatku si wanita manipulatif itu, kau tidak akan memahami aku apalagi mencoba mengerti keadaanku dan perasaanku selama ini, dan asal kau tahu aku sangat membencinya sejak dulu, aku muak dengannya dan juga denganmu, karena kau... Karena kau datang ke sekolah ini dan menjadi siswi yang pandai dia akhirnya kembali lagi ke sekolah menengah atas padahal dia seharusnya berada di universitas saat ini, apa kenapa kau diam sekarang?... Apa kau baru tahu tentang hal ini hah? Kau memang bodoh wanita yang bodoh dan sok mengerti perasaanku, aku tidak butuh rasa empati darimu, kau lebih baik menjauhiku karena aku juga bukan orang baik seperti kedua temanmu itu!" Bentak kak Defi yang terlihat sangat marah kepadaku.
Dia langsung hendak pergi lagi dari sana secepatnya, namun aku masih berusaha untuk menahan tangannya dengan kuat menggunakan tanganku sendiri.
"Tunggu kak, aku....aku sama sekali tidak bermaksud melakukan semua itu dan aku memang tidak tahu apapun tentang hal itu tetapi niatku untukmu aku...." Ucapku yang terpotong karena kak Defi langsung saja menghempaskan tanganku dengan kuat saat itu dan dia memperingati aku dengan kasar dan tajam.
Bahkan saat itu aku sendiri juga merasa sangat kaget mendengarnya apalagi ketika mihat tatapan matanya yang terlihat sangat membenci aku dengan begitu besarnya.
"Cukup! Jangan berpura-pura apapun lagi kepadaku, ayahmu, ibuku dan kakakmu semuanya sama saja, semua keluarga Wheeler aku membencinya termasuk kau, dan jangan berani lagi menyentuh aku apalagi menahan tanganku seperti ini, lepaskan!" Ucap dia dengan tegas dan menghempaskan tanganku untuk ke dua kalinya dan itu lebih keras daripada sebelumnya.
"Aaahh.... Kak tunggu kak, kak Defi kau salah paham kak...." Teriakku berusaha menghentikan dia lagi namun sayangnya dia sudah terlanjur tidak mempercayai aku sedikitpun.
__ADS_1
Dia begitu besar membenci keluarga Wheeler sampai dia lupa bahwa aku bukanlah anggota keluarga Wheeler lagi, aku sudah lama tidak di anggap oleh mereka dan di buang begitu saja pada tuan Lukas sebagai pengganti Cecil dan aku justru lebih hancur darinya.
Bahkan aku sudah merasakan semua kepedihan dan kesaktian sejak aku berusia sangat kecil, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah maupun ibu, dan selalu mendapatkan perlakuan buruk dari kakak dan ibu angkatku secara terus menerus.