Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Acara Kemah


__ADS_3

Bahkan aku sudah merasakan semua kepedihan dan kesaktian sejak aku berusia sangat kecil, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah maupun ibu, dan selalu mendapatkan perlakuan buruk dari kakak dan ibu angkatku secara terus menerus.


Sehingga sangat jelas sekali bahwa aku mengerti dan memahami dengan jelas apa yang di rasakan oleh kak Defi, saat itu, namun mau bagaimana pun kak Defi sendiri yang justru menghindari aku dan aku tidak bisa berbuat banyak kepadanya jika memang dirinya sendiri yang tidak ingin untuk dibantu olehku.


"Aku harap kau Defi akan baik-baik saja dan kak Kaylo semoga cepat tersadar" gerutuku pelan sambil segera aku kembali ke kelas.


Saat sampai di kelas aku langsung di hadapan dengan kedua sahabatku Bimo dan Elis, mereka menatap aku dengan tatapan yang tajam dan aku tahu kenapa mereka seperti itu kepadaku, aku pun segera duduk di kursiku dengan lesu dan langsung saja bicara kepada mereka.


"Teman-teman jangan memandang aku seperti itu aku akan mengatakan semuanya kepada kali di waktu yang tepat, aku sama sekali tidak bermaksud menyimpan rahasia apapun kepada kalian, hanya saja aku terlalu menyayangi kalian sehingga tidak mau membawa kalian larut dalam masalahku sendiri" ungkapku kepada mereka.


Dan dengan cepat langsung saja Elis menghembuskan nafas dengan sedikit kasar lalu dia mendekatikan kursinya ke mejaku dan mulai menjawab ucapanku barusan.


"Vivian kami sama sekali tidak memaksamu untuk membicarakan semuanya kepada kami, dan aku juga tahu kau butuh privasi sendiri, hanya saja kau sebaiknya mengatakan alasan mengapa kau murung atau kenapa kau tiba-tiba pergi dari kami ketika kita tengah berkumpul, itu saja sehingga jika kau mengatakannya kami tidak akan mencemaskanmu" balas Elis yang sangat baik dan perduli kepadaku.


Mendengar ucapan seperti itu dari Elis aku benar-benar terharu mendengarnya, dia sangat baik sekali bisa mengerti aku dan memahami aku sepenuhnya bahkan awalnya aku kira Elis akan marah denganku namun rupanya dia sama sekali tidak marah padaku dan justru dia malah mengatakan hal sebaik itu.


"Aaahh... Elis kau terlalu baik untuk jadi sahabatku terimakasih banyak Elis aku sangat menyayangimu" ucapku sambil memeluknya dengan erat.


Disisi lain Bimo yang melihat itu dia juga hendak ikut memeluk Elis namun dengan cepat aku menahan tubuhnya dengan sebelah tanganku karena aku tahu dia adalah pria dan tidak bisa mengijinkan dia memeluk Elis ku begitu saja.


"Aaahh... Kalian ini membuat aku ikut terharu aku juga ingin memeluk kalian berdua wahai dua sahabat kesayanganku huhu" ucap Bimo sambil merentangkan kedua tangannya dan dia hampir saja akan memeluk aku dan Elis saat itu.


Untunglah aku bersikap dengan cepat dan menahan dada Bimo menggunakan sebelah tanganku agar dia tidak bisa memeluk kami dengan mudah begitu saja.


"E..ee.ettt.... apa apaan kau ini, meski kita bersahabat kau tetap seorang pria mana mungkin kau bisa memeluk aku dan Elis, iya kan Elis" ucapku menahannya dengan cepat.


Elis hanya langsung mengangguk menanggapi ucapanku sambil tersenyum kecil saat itu sedangkan disisi lain Bimo justru langsung saja menurunkan tangannya dengan lesu, dia merasa sangat kesal dan bosan juga langsung memeluk wajahnya dan kembali duduk ke kursinya dengan memasang wajah yang cemberut juga menggerutu kesal dengan pelan tapi masih bisa terdengar oleh aku dan Elis saat itu.


"Aishh... Kalian berdua ini sangat perhitungan sekali, aku kan juga sahabat kalian hah....ini menyebalkan" gerutu Bimo dengan cemberut kesal.


Melihat Bimo yang cemberut dan menggerutu seperti itu, aku langsung tertawa dengan Elis karena dia sungguh terlihat sangat lucu juga menggemaskan saat itu hingga kami berdua juga tidak bisa menahan tawa saat pertama kali melihatnya dengan wajah yang menggemaskan seperti itu.


"Ahahaha... Bimo... Bimo kau itu sangat lucu, masa dengan masalah sepele seperti ini saja kau merajuk dan cemberut seperti itu, ada-ada saja kau ini, sudahlah guru akan segera tiba sekarang bersikap yang baik" ucap Elis kepadanya sambil menepuk sebelah pundak Bimo dengan pelan.


Dia juga segera kembali duduk ke mejanya dan begitu pula dengan aku yang membenarkan posisi dudukku dengan cepat.


Sampai tidak lama akhirnya guru mata pajaran berikutnya masuk ke dalam kelas dan dia mengumumkan bahwa kami akan mengadakan sebuah kemah sebagai salah satu acara tahunan yang memang selalu di selenggarakan oleh pihak sekolah sekaligus untuk menuntun pembelajaran para siswa mereka agar bisa bertahan hidup di alam meski tanpa siapapun di sisinya, sehingga acara terbuka memang seperti sebuah acara yang wajib di laksanakan dalam setiap tahu oleh semua siswa yang ada di kelas tersebut.

__ADS_1


Semua orang langsung bersorak kegirangan karena mendapatkan pengumuman yang sangat menyenangkan itu, sebab mereka sudah sangat menunggu lama untuk bisa melakukan praktek seperti ini.


Meski saat kelas sepuluh acara seperti ini pernah di adakan namun saat itu tentu saja Vivian belum bersekolah di sekolah tersebut sehingga saat melihat semua teman bersorak dan bahagia aku hanya bisa menatapnya dengan clingukan tidak mengerti apapun, bahkan Bimo yang duduk di belakang kursiku dia juga langsung terlihat bersemangat dan menyuruh aku untuk melihat ke belakang padanya.


"Vivian.... Vivian lihatlah kemari kita akan menjadi satu tim yang menyenangkan dalam acara kemah nanti, kau harus satu tim denganku yah hehe, Elis juga pasti akan satu tim denganku, kita sudah pas tiga orang" ucap Bimo dengan bersemangat.


Namun Elis justru langsung menggelengkan kepala kepadaku, tapi aku hanya bisa tersenyum saja melihatnya, sebab aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat itu, dan acara kemah seperti apakah yang akan di laksanakan disana nantinya.


"Ahaha... Iya iya terserah kau saja aku bahkan tidak tahu acara semacam apa semua itu hehe" balasku kepadanya.


Aku tidak menduga bahwa jawaban dariku justru membuat Elis dan Bimo tercengang kaget ketika mendengarnya, mereka langsung memebalalakkan matanya dengan lebar dan langsung saja Bimo menertawakan aku dengan keras, entah dia menertawakan aku karena aku terlihat cukup bodoh atau hal lainnya aku sendiri tidak benar-benar mengerti dengan semua itu.


"APA? Vivian apa kau bercanda yah? Tidak mungkin kau tidak pernah melakukan kemah Pramuka bukan?" Tanya Bimo lagi kepadaku dan aku langsung menjawabnya dengan menggelengkan kepalaku.


"Tidak... Aku memang tidak pernah melakukan hal seperti itu, bahkan namanya saja aku baru tahu sekarang, aku kan tidak pernah sekolah bagaimana aku tahu semua itu" balasku dengan jujur kepadanya,


"Ahahaha.... Vivian... Kau benar-benar orang yang polos hahaha... Kau lucu sekali membuat aku ingin tertawa lepas mendengarnya, ahaha... Konyol sekali" ucap dia tertawa dengan keras.


Bahkan tawa dari Bimo membuat banyak anak di kelas menatap ke arah kami dan dia sungguh membuat aku cukup malu kali ini, terlebih dia bicara terlalu kelas dan terus tertawakan tanpa henti hingga Elis menepuk kepalanya dengan keras barulah dia mau berhenti tertawa saat itu.


"Aduhh .. Elis apa yang kau lakukan, salahku apa kali ini sampai kau malah menepuk kepalaku, aduhhh.... Ini sangat sakit sekali kau menyiksaku Elis" ujar Bimo meringis kesakitan.


Aku hanya terkekeh menahan tawa sendiri karena wajah Bimo yang meringis kesakitan akibat kepalanya yang di tepuk dengan kuat oleh Elis sangatlah konyol dan terlihat begitu lucu saat itu, sehingga aku sendiri bahkan tidak bisa menahan tawaku lagi.


"Ahahaha.... Bimo kau pantas mendapatkan itu, siapa suruh kau tadi menertawakan aku dengan begitu puasnya, sekarang karmanya langsung di bayar kontan olehmu" balasku balik menertawakannya.


Bukan hanya aku yang menertawakan Bimo tetapi Elis dan teman-teman lainnya yang melihat kejadian itu, mereka semua juga ikut tertawa sangat renyah ketika melihatnya.


"Apa yang dikatakan oleh Vivian benar, makanya kau harus menjadi orang yang baik jika kau tidak ingin mendapatkan tepukan lagi dariku, atau aku akan selalu melakukannya lebih keras lagi dan lagi seterunya sampai kau berhenti mengolok-oloknya Vivian" balas Elis yang cukup menyeramkan dengan menaikkan sebelah tangannya itu.


Membuat Bimo merinding takut dan dia segera meminta maaf kepada aku dengan Elis, walaupun cara meminta maafnya tersebut sangatlah tidak ikhlas dan nada bicaranya juga masih datar juga malas-malasan namun bagiku itu tidak masalah sama sekali karena dia adalah orang baik yang mau menerima aku menjadi sahabatnya dan dia tetap akan selalu menjadi orang baik di hati dan mataku selamanya, meskipun tingkahnya memang agak nyeleneh dan random.


Tapi justru dengan keberadaan Bimo aku dan Elis mendapatkan banyak kebahagiaan bahkan hanya dengan melihatnya meringis atau cemberut kami berdua sudah bisa tertawa dengan lepas dan aku bisa langsung melupakan masalah yang ada di kepalaku dan mengganggu pikiranku selama ini.


Dia cukup berarti dalam persahabatan antara kami bertiga dan bisa dikatakan bahwa Bimo adalah orang yang paling berpengaruh dalam persahabatan antara aku, Elis dan dirinya.


Sebab jika tidak ada dia mungkin bisa aku pastikan bahwa aku juga tidak mungkin bisa berteman dengan Elis dan bisa mengenal sisi lain dari diri Elis sebanyak ini, aku merasa sangat bersyukur atas keberadaan mereka berdua di sampingku.

__ADS_1


Meski pada awalnya aku mengira memiliki teman sangatlah merepotkan dan sangat membuat aku bosan juga tidak nyaman sebab aku takut akan memilik teman yang jahat seperti bagaimana Cecil memperlakukan aku di rumah sehingga sejak saat itu sulit sekali untuk aku mencari teman dan bergaul dengan orang lain, terlebih aku memang selalu di tahan di dalam rumah juga tidak pernah di izinkan untuk pergi kuat seperti kebanyakan orang pada umumnya.


Banyak sekali hal di luar sana yang sama sekali tidak aku ketahui namun semenjak aku bersahabat dengan mereka berdua, aku jadi mengetahui tentang banyak hal, bahkan cara naik bus saja aku tahu dari Bimo karena melihat bagaimana cara dia menaiki bus di halte beberapa hari pertama ketika aku masuk ke sekolah.


Aku mendapatkan banyak pelajaran yang berharga dari mereka dan mereka selalu melindungi aku membela aku dari kak Defi yang saat itu pernah menindas aku, mereka adalah malaikat penolongku dalam hidup ini, disaat aku harus kehilangan satu-satunya orang baik yang selalu menemaniku bi Ida kini tuhan memberikan aku gantinya dia orang yang menyayangi aku dengan tulus sekaligus.


Aku selalu tersenyum dan mengucapkanya banyak syukur ketika melihat kenyataan bahwa saat ini aku benar-benar sudah terbebas dari neraka, terbebas dari rumah yang sangat menyakitkan itu dan aku di gandeng dua tamanku yang sangat baik dan luar biasa.


Hingga ketika pulang sekolah disaat Elis dan Bimo sudah pergi sedangkan aku masih harus menunggu bus jurusanku di halte sendirian, tidak lama ada mobil Cecil yang berhenti di depanku dan keluarlah dia dari dalam mobil itu lalu mau membuat keributan dengan tiba-tiba saja menjambak rambutku sangat kuat dari belakang hingga membuat kepalaku tertarik juga.


"Kau... Aku peringatkan kepadamu jangan pernah berani-beraninya ikut campur dengan urusanku dan Kaylo atau aku akan membuatmu semakin menderita daripada sebelumnya, apa kau mengerti hah?" Bentak Cecil sambil menjambak rambutku saat itu.


Aku langsung memegangi tangan Cecil yang menjambak rambutku dan berusaha melepaskan rambutku dari tangannya.


"AA..AA...ahhh....Cecil lepaskan rambutku, ini sakit Cecil, hey.... Cecil lepaskan aku" ucapku berusaha berontak kepadanya namun Cecil benar-benar memiliki tangan dan cengkram yang kuat sedangkan aku sama sekali tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawannya saat itu.


Bukannya segera melepaskan jambakkan itu dari rambutku Cecil justru malah semakin menariknya dan dia mendorong tubuhku dengan kuat ke depan hingga aku jatuh tersungkur di bahu jalan hingga membuat lututku tergores dan mengeluarkan darah.


"Aku sudah memberikan kau peringatan pertama ini dan rasakan juga hukuman yang kau dapatkan karena sudah pernah mencoba mengacaukan rencanaku tadi pagi....eughhh" ucap Cecil langsung mendorong aku dengan keras.


"Aaaahhh....brukkk..." Suaraku yang langsung saja jatuh dengan keras.


Aku bukan tidak mampu melawannya tetapi karena saat itu rambutku di jambak oleh ya sehingga cukup sulit untuk aku leluasa dalam bergerak dan aku hanya fokus untuk melepaskan jambakanna Cecil dari rambutku sebab itu terasa sangat menyakitkan di kepalaku.


Setelah dia mendorong tubuhku dengan kuat hingga aku jatuh tersungkur ke jalanan dia langsung saja berjongkok padaku dan menatap aku dengan tatapan matanya yang sangat tajam.


"Kau .. ini adalah hukuman dan peringatan terakhir untukku padamu Vivian, jika kau mencoba untuk ikut campur lagi dengan urusanku maka aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan salah satu kakimu!" Ucap Cecil sambil tiba-tiba saja langsung menginjak kakiku dengan sepatunya yang berat.


Aku langsung menjerit dengan keras karena dia menginjak kakiku dengan sangat kuat hingga betisku terlihat langsung menjadi hijau dan lebam dalam seketika.


"Aaaaahhhh....." Ringis ku berteriak dengan keras.


Itu sungguh sangat menyakitkan tapi aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memegangi kakiku yang lebam dan menghijau tersebut.


Di tambah lututku yang tergores dan berdarah juga kepala yang masih sakit sebab di jambak oleh Cecil sebelumnya, sedangkan Cecil sendiri sudah pergi dari tempat itu secepatnya setelah dia melukai aku dengan begitu kejamnya.


Aku bahkan kesulitan untuk berdiri ketika mencoba untuk bangkit sendiri saat itu, sampai seorang ibu-ibu mau membantu aku dan kami masuk ke dalam bus bersama saat itu, aku pergi menggunakan bus kali ini karena aku tahu tuan Lukas sudah memberitahuku sebelumnya bahwa tidak akan ada yang menjemput aku mulai saat ini sebab karena dia terlalu sibuk begitu juga dengan supir dan asistennya.

__ADS_1


__ADS_2