Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Tuan Lukas Yang Aneh


__ADS_3

Tuan Lukas yang merasa pelukanku terhadapnya semakin erat dia pun mulai merasa sedikit tidak nyaman walau sebenarnya itu sangat lucu dan begitu menghibur bagi dirinya selain itu di sisi lain dia juga merasa senang bisa di peluk oleh Vivian seperti itu, dan entah kenapa dia seperti mengenali pelukan tersebut.


"Hey.....hey...hey...lepaskan aku, kau mau membunuh aku dengan memelukku se erat itu yah?" Ucap tuan Lukas menepuk pelan tanganku dan menyuruh aku untuk melepaskan pelukan darinya.


Namun sayangnya aku tidak ingin melepaskan pelukan itu karena aku benar-benar sangat takut bahkan tidak berani lagi bergerak sedikitpun dari tempat tersebut saking merasa takutnya.


Aku ini adalah tipe orang yang sangat penakut terlebih dengan makhluk astral seperti itu, aku sungguh sangat tidak berani untuk mihatnya walau sedikit saja, tetapi di sini tuan Lukas justru malah menyuruh aku untuk menonton film horor dengannya tentu saja aku merasa sangat takut dan tidak berani sama sekali untuk membuka mataku yang terpejam saat itu, aku hanya bisa terus memeluknya dengan erat dan terus menggelengkan kepala mengatakan kepadanya bahwa aku sangat takut saat itu dan tidak akan melepaskan pelukan kepadanya.


"Tida...tidak...tidak...aku tidak ingin melepaskan pelukan ini, aku sangat takut tuan aku tidak bisa ini sangat menyeramkan sekali huhu" ucapku sambil terus saja memeluknya dengan sangat erat.


Di sisi lain tuan Lukas sendiri sebenarnya merasa cukup baper dan dia tersenyum sendiri melihat Vivian yang memeluk dia dengan begitu erat seperti itu di tambah dia bisa merasakan sebuah pelukan hangat dari wanita yang merupakan tunangannya sendiri saat itu, walau pun dia memang belum benar-benar menyukai Vivian sepenuhnya saat itu.


Tetapi tetap saja tuan Lukas tetap merasa cukup senang ketika dia bisa di peluk oleh Vivian terlebih ketika melihat wajah Vivian yang benar-benar sangat lucu baginya ketika dia terlihat sangat ketakutan dengan wajah hantu yang muncul di dalam film yang mereka tonton saat itu.


"Haha...dia sangat lucu juga jika seperti ini, kenapa aku baru melihatnya seperti ini" batin tuan Lukas dalam hatinya saat itu.


Sedangkan disisi lain aku sungguh sudah sangat tidak tahan apalagi lampu di tempat itu sudah di matikan dan hanya cahaya dari televisi saja yang menerangi sekitar kami, membuat aku merasa sangat merinding dan takut sekali saat itu.


Tuan Lukas sendiri justru malah dengan sengaja memperbesar volume dari televisinya saat itu, agar menimbulkan bunyi suara yang sangat keras dan bisa membuat Vivian semakin ketakutan dan merinding dengan suara jeritan yang keluar dari sana juga suara-suara yang sangat menakutkan kaliannya yang datang dari film yang tengah mereka tonton saat itu.


Dia sama sekali tidak merasa iba atau kasihan pada Vivian yang terus saja terlihat menyedihkan karena dia benar-benar sangat takut saat itu.


Tapi disaat tuan Lukas menikmati pelukan dari Vivian dia justru tidak sengaja melihat sebuah tanda di atas pundak Vivian saat itu dia berusaha untuk melihatnya dengan lebih dekat lagi dan terus saja memperhatikan tanda di salah satu pundak kanannya Vivian yang terlihat sedikit oleh matanya.


Tanda itu mengingatkan dia kepada sesosok gadis kecil yang dia cari selama ini, iya gadis kecil cinta pertama sekaligus cinta masa kecilnya yang selalu dia cari dan dia tunggu kemunculannya sejak dulu hingga saat ini.


Dan dia tahu dengan jelas bahwa saat itu dia juga pernah mendengar gadis kecilnya tersebut pernah mengatakan kepadanya bahwa jika dia tidak bisa mengenali dirinya saat sudah bisa melihat nanti, dia bisa melihat sebuah tanda lahir di atas pundak kanannya dan membiarkan tuan Lukas kecil untuk memegangi tanda itu agar bisa merasakan teksturnya dan dia tidak akan kehilangan gadis kecil tersebut.


Kebetulan sekali saat itu disaat Vivian memeluknya dengan sangat erat, pakaian yang dia kenakan terlihat sedikit turun sebab dia yang terus menjerit ketakutan tidak karuan dan terus memeluk tuan Lukas dengan se erat yang dia bisa saat itu sehingga dia melupakan bahwa pakaiannya sedikit turun saat itu sampai memperlihatkan sedikit pundaknya tersebut.


"Tanda itu, apakah itu benar-benar sebuah tanda lahir miliknya, ini terlihat tidak asing, apa aku bisa menyentuhnya atau tidak ya" batin tuan Lukas memikirkan saat itu.


Dia terus saja memperhatikan sebuah tanda berwarna coklat tersebut dan dia ingin sekali menyentuhnya sebab hanya dengan menyentuhnya saja baru dia bisa memastikan apakah tanda itu sungguh tanda yang pernah dia raba bertahun-tahun yang lalu dan milik dari gadis kecil dengan rambut panjang yang hitam dan mengkilap tersebut atau bukan.


"Aku harus menyentuhnya, iya aku harus menyentuh tanda itu agar aku bisa memastikan dia gadis yang aku cari atau bukan, terlebih dia selalu mengaku kepadaku bahwa dia adalah gadis yang aku selamatkan di kolam kala itu, ini akan membuktikannya" batin tuan Lukas sudah memutuskan.


Meski merasa sedikit gugup dan takut tetapi tuan Lukas terus saja menguatkan dirinya juga memberanikan tekad dalam hatinya, meski dia tahu mungkina saja Vivian akan langsung salah paham terhadap dirinya atau mungkin dia akan menampar dia dan memberikan dia hal yang bisa saja lebih dari itu nantinya.


Tetapi walaupun sudah tahu dampaknya akan seperti apa, tuan Lukas tetap saja melakukannya dia langsung memegangi kedua pundak Vivian dengan erat saat itu hingga membuat Vivian menatapnya dengan heran sebab wajah tuan Lukas berubah menjadi sangat serius kepadanya, hingga tidak lama tiba-tiba saja tuan Lukas langsung menarik kerah pakaiannya dan memasukkan tangannya untuk menyentuh bagian atas pundak kanan milik Vivian lalu tangannya langsung menyentuh tanda lagi milik Vivian tersebut.


Saat itu juga tuan Lukas merabanya dengan begitu perlahan dan mengusapnya lembut berusaha Merakan teksturnya tersebut hingga dia sudah benar-benar sangat yakin bahwa itu adalah tanda lahir yang sama persis dengan gadis kecil yang dia cari selama ini.


Sedangkan aku yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari tuan Lukas tentu saja aku sangat kaget dan langsung terperangah sambil membelalakkan mataku menatapnya dengan lebar saat itu, aku juga langsung mendorong tubuhnya menjauh dariku dan langsung membentak dia dengan sangat keras karena dia sudah dengan beraninya menarik pakaianku bahkan memasukkan tangannya begitu saja menyentuh pundakku juga mengelus nya seperti itu.


Tentu saja aku sangat salah paham saat itu dan aku merasa sangat tidak terima dengan apa yang dia lakukan kepadaku dan aku langsung membentak dan memarahi dia dengan sangat keras sepuas yang aku lakukan hingga emosiku mulai mereda terhadap dirinya.


"Aaarrkkkk.....tuan apa yang kau lakukan, aaahhh" ucapku sangat kaget saat itu.

__ADS_1


Aku sungguh merasa tidak menduga dia bisa berbuat tidak sopan seperti itu kepadaku dan aku langsung saja menggeser dudukku menjauh darinya aku terus menjaga jarak yang aman darinya, dan terus menatapnya dengan wajah yang penuh dengan kekesalan juga emosi yang sangat menggebu di dalam diriku saat itu.


"Kau....beraninya kau melakukan hal tercela seperti itu, dasar pria tidak sopan!" Bentakku kepadanya sekali lagi.


Tetapi dia tidak terlihat membalas ucapanku sedikit pun dia justru malah terus saja menatap aku dengan wajahnya yang terperangah sama kagetnya denganku bahkan wajahnya itu terlihat lebih kaget dan terperangah lebih dari pada aku.


Dia diam mematung menatap aku dengan sangat lekat, dan dia terus saja seperti itu untuk beberapa saat yang tidak terhitung olehku.


"Dia....dan tanda itu...apakah semua yang dia ucapankan kepadaku selama ini adalah benar? Dia....adalah..." Batin tuan Lukas sambil langsung menelan salivanya dengan susah payah saat itu.


Dia sendiri masih belum bisa menerima dengan sepenuhnya apakah Vivian seorang gadis kecil juga yang ada dihadapan dirinya saat itu, dan tengah memeluk dirinya sendiri karena merasa takut dengan apa yang sudah dia perbuat kepadanya, gadis yang selalu dia abaikan dan gadis yang selalu tidak dia anggap keberadaannya.


Ternyata dia justru adalah gadis yang sudah dia cari selama ini dan itu membuat seorang tuan Lukas merasa sangat kaget, dia tidak bisa menerima semua ini dengan secepat itu, sampai dia kembali memastikannya dengan bertanya lagi kepada Vivian untuk terakhir kali saat itu.


"Vivian...jawab aku dengan jujur, apakah tanda lahir di atas bahu kananmu itu adalah bawaan lahir?" Tanya tuan Lukas kepadaku tiba-tiba.


Aku pun refleks langsung melirik ke arah bahu sebelah kanan, dan memegangi tempat dimana tanda lahirku berada, jujur saja saat itu aku sendiri merasa sangat heran dan tidak mengerti mengapa tuan Lukas tiba-tiba saja menanyakan mengenai tanda lahirku seperti itu secara tiba-tiba dengan alasan yang tidak jelas sama sekali.


"HAH? Tuan untuk apa kau menanyakan mengenai tanda lahir di bahuku?" Balasku kepadanya karena aku sama sekali tidak mengerti apapun dengan maksud dirinya saat itu.


"Sudah jawab saja apakah itu sungguh tanda lahirmu, dan apakah tanda lahir itu adalah tanda lahir yang langka?" Tanya tuan Lukas kepadaku lagi.


Bahkan saat dia menanyakan hal itu untuk ke dua kalinya kepadaku, dia langsung mendekatkan dirinya kepadaku, aku juga langsung mundur menjauh dan berusaha untuk tetap menjaga jarak aman darinya, karena aku merasa dia terlihat agak aneh dan mencurigakan saat itu, sehingga aku pikir aku juga harus sedikit berhati-hati denganya karena aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dia maksud di dalam kepalanya tersebut, dan apa niat dia menanyakan semua itu kepadaku.


Karena dia terus menanyakannya dan mendesak aku untuk menjawab pertanyaan mengenai tanda lahir diatas bahun sebelah kananku tersebut, akhirnya aku pun mengatakannya kepada dia dengan jujur dan apa adanya saat itu, tanpa di lebih-lebih kan ataupun menguranginya sedikit pun.


Mendengar ucapan dari Vivian seperti itu dia merasa sangat kaget lagi bahkan saat ini menjadi lebih kaget dan terperangah lebih lebar daripada yang sebelumnya.


Karena ucapan yang diutarakan oleh Vivian hampir sama dengan ucapan yang di katakan oleh gadis kecilnya beberapa tahun yang lalu saat itu, sehingga hal tersebut sangat membuat syok seorang tuan Lukas.


Sehingga dia pun langsung kembali memberikan pertanyaan lain lagi kepada Vivian untuk memastikan dan meyakinkan dirinya lagi saat itu, padahal seharusnya jika dia memang menerima semua itu, semua bukti tadi sudah harus membuatnya yakin tetapi tuan Lukas terus saja menanyakannya hal lain lagi seperti tengah menguji Vivian apakah dia benar gadis yang dia cari atau tidak.


"Tunggu....tunggu....kau...aku akan menanyakan beberapa pertanyaan kepadamu ayo kemari dan mendekatlah aku janji tidak akan melakukan apapun kepadamu kau tidak perlu menatapku dengan rasa takut seperti itu" ucap tuan Lukas sambil langsung mematikan film yang tengah dia tonton saat itu.


Aku benar-benar merasa sedikit takut meskindia sudah mengatakan seperti itu, tetapi rasanya aku masih tetap saja tidak berani untuk mendekat lagi dengannya apalagi setelah terjadinya kejadian yang sebelumnya dimana dia malah memasukkan tangannya ke dalam pakaianku dan menyentuh pundakku begitu saja.


"Ayo...kemari aku benar-benar tidak akan melakukan apapun kepadamu" tambah dia lagi meyakinkan aku saat itu.


Karena dia terus menyuruh aku untuk mendekati dirinya akhirnya aku pun meminta izin untuk menyalakan lampunya dahulu agar suasana bisa lebih terbuka dan aku bisa melihat sekeliling dengan lebih jelas sehingga jika dia berani melakukan sesuatu kepadaku aku bisa langsung berlari ke kamar atau ke luar dengan cepat tanpa harus takut terjatuh ataupun tanpa harus takut dengan gelap lagi.


"Ba...baiklah aku akan mendekat padamu tuan tetapi bolehkan aku menyalakan lampunya lagi, aku merasa sedikit tidak nyaman jika lampunya padam seperti ini" ucapku berbicara kepadanya saat itu.


Dia langsung mengangguk menyetujuinya sehingga aku juga langsung saja bangkit berdiri dan segera mencari saklar lampu disana sambil segera saja aku nyalakan lagi lampunya dan aku segera berjalan kembali ke depan sofa dimana tuan Lukas yang terlihat masih duduk disana saat itu.


"Ayo duduk di sampingku aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan yang sangat penting dan mendesak kepadamu" ujarnya lagi untuk ke sekian kalinya kepadaku saat itu.


Aku langsung mengangguk kepadanya dan segera duduk di sofa tersebut tetapi aku juga tetap mencoba menjaga jarak aman dan memutuskan untuk duduk di ujung sofa agar bisa menjaga jarak dengan tuan Lukas dan ketika aku duduk di sana aku memiliki kesempatan lebih banyak ketika aku kabur dan meloloskan dirinya seandainya dia melakukan sesuatu yang aneh dan di luar nalar kepadaku secara tiba-tiba seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa kau duduk disana, ayo mendekat kemari, bukannya kauenyukai aku kenapa sekarang kau malah terlihat takut duduk di dekatku?" Tanya dia kepadaku saat itu.


"Maafkan aku tuan, aku memang menyukaimu bahkan aku sangat menyukai dirimu melebihi apa yang kamu pikirkan selama ini tetapi aku juga tidak bisa membiarkan kau berlaku tidak sopan lagi seperti sebelumnya, aku hanya menjaga jarak saja" balasku kepadanya saat itu.


Seketika tuan Lukas langsung saja terlihat frustasi mendengar jawaban dariku dia langsung mengacak rambut belakang kepalanya dan menghembuskan nafas yang sangat besar juga kasar saat itu.


"Fyuuuuhhh...kau ini sangat konyol aku melakukan hal itu sebelumnya karena ingin menyentuh tanda lahir di pundakmu itu, aku hanya ingin memastikan sesuatu pada dirimu, kenapa kau salah paham sampai sejauh ini, apa kau pikir aku pria yang kurang ajar seperti itu?" Bentak tuan Lukas kepadaku.


"Tentu kenapa tidak? Semua pria bisa menjadi kurang ajar disaat ada kesempatan dan aku tidak akan memberikan kesempatan itu kepadamu!" Balasku dengan tegas kepadanya.


Aku tidak bisa mempercayai pria manapun di dunia ini apalagi ini seorang tuan Lukas yang sudah menghancurkan hatiku berkali-kali dan dia selalu melakukannya dengan sengaja tanpa rasa bersalah sedikitpun kepadaku selama ini, tentu aku tidak akan memberikan kesempatan tersebut terjadi kepada aku dan orang sepertinya.


Meski aku sangat mencintainya tapi semuanya percuma jika dia sendiri tidak balik menyukai aku dan dia hanya menganggap aku sebagai pengganti Cecil dan hanya pelayan biasa yang harus menyiapkan makan malam juga sarapan untuknya.


Jadi tentu saja saat ini aku sangat berjaga-jaga dengan begitu teliti dan penuh kehati-hatian terhadapnya sebab aku adalah seorang wanita yang sangat menjaga sekali kehormatan dirinya juga menjungkung tinggi harga diriku sebagai seorang wanita yang baik dan terhormat sepanjang masa ini.


Tuan Lukas semakin terlihat geram dan dia bahkan berteriak sangat keras ketika mendengar jawaban seperti itu lagi dariku, terlihat sekali wajah kesal dan frustasi di wajahnya kepadaku saat itu dan aku tahu dia memang sangat kesal melebihi apapun kepadaku, dan aku tidak perduli lagi dengan hal tersebut saat ini sebab yang terpenting bagiku adalah menjaga diriku darinya, itu sudah yang paling utama dan sebuah prioritas utama untukku saat ini.


"Aishh...aaakkkhhh..kenapa kau sangat menyebalkan sekali Vivian!" Bentak tuan Lukas setelah uring-uringan tidak jelas dan berteriak menjerit sangat kencang sambil menjambak kuat rambutnya sendiri saat itu.


"Tuan kalau kau mau menanyakan sesuatu kepadaku maka bicaralah sekarang aku akan pergi jika kau tidak mengatakan apapun juga kepadaku" ujarku kepadanya saat itu.


Akhirnya setelah aku bicara seperti itu dengan tegas kepadanya, dia pun langsung saja memperbaiki rambutnya juga posisi duduk dia di sofa saat itu sehingga dia langsung menatap ke arah aku dengan tatapan yang sangat tajam dan terlihat begitu serius berbicara kepadaku saat itu.


"Huuuh...baiklah dengarkan pertanyaan ini dengan baik dan ingat, aturan utamanya kau harus menjawabnya dengan jujur aku hanya ingin mendengarkan jawaban jujur darimu, jika kau tidak jujur aku bisa melihat kejujuran itu dari matamu jadi kau harus terus menatap aku dengan lekat dan lurus ketika aku memberikan pertanyaan dan ketika aku menjawab pertanyaan dariku kau juga harus menjawabnya dengan cepat dan spontan apa kau mengerti hah?" Ucapnya kepadaku.


Entah kenapa saat itu aku justru merasa dia seperti tengah mengajak aku untuk bermain sebuah permainan kejujuran padahal ini sudah larut malah bermain permainan konyol dan sangat kekanak-kanakan seperti itu, sehingga aku langsung mengerutkan kedua alisku menatapnya dengan heran saat itu.


"Ehhh...tuan apa kau baik-baik saja kenapa kau menjadi sangat aneh seperti ini?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang sangat keheranan sendiri.


"Sudah diam! Jangan banyak bicara atau protes aku hanya perlu mengikuti apa yang aku katakan padamu barusan kenapa kau sangat keras kepala sekali" balas tuan Lukas menatapku semakin tajam.


Karena takut dengan tatapannya yang sangat menyeramkan seperti itu, aku pun langsung saja menganggukkan kepala menyetujui apa yang dia inginkan sebelumnya karena aku pikir hanya itu yang bisa aku lakukan agar dia bisa tutup mulut dan cepat menyelesaikan apa yang sebenarnya ingin dia lakukan kepadaku saat itu.


"Eumm baik tuan aku akan menuruti aturanmu tadi, ayo cepat kau katakan pertanyaannya aku sudah sangat siap sekarang, ayo katakan saja" ucapku kepadanya dengan menatap tajam dan lekat.


Akhirnya tuan Lukas terlihat menarik nafas cukup panjang dan dia mulai mengutarakan satu pertanyaan kepadaku.


"Baiklah....pertama aku ingin tahu berapa usiamu sekarang?" Tanya tuan Lukas kepadaku.


Tanpa pikir panjang aku langsung menjawabnya dengan sangat cepat dan spontan saat itu, tanpa memalingkan pandangan sedikit pun darinya yang menandakan bahwa aku menjawab pertanyaan darinya dengan jujur apa adanya.


"17 tahun" balasku dengan lantang padanya.


Aku justru merasa sangat aneh dan sedikit bingung, mengapa dia tiba-tiba saja menanyakan usiaku seperti itu apalagi dengan Anada bicara yang sangat formal dan serius seperti itu juga suasana yang terasa sangat tegang juga menyelam saat itu, ini terlalu membuat aku merasa sangat canggung dan sedikit tidak nyaman.


"Baiklah pertanyaan yang kedua.... Kenapa rambutmu berwarna pirang, apakah kau memiliki rambut pirang itu sejak kau lahir, ataunkau mewarnainya" ucap tuan Lukas kembali melontarkan pertanyaan yang kedua kepadaku.

__ADS_1


Kini mendengar pertanyaan tersebut jujur saja aku merasa sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut darinya sebab masalah rambut ini aku sama sekali tidak pernah membahasnya dan mengatakan yang sebenarnya kepadaku siapapun selama ini dan hanya ayah, ibu angkat juga Cecil yang mengetahui mengenai rambutku juga bi Ida yang pernah bersama denganku dulu, selain dari mereka tidak ada seorang pun yang mengetahui mengenai rambut pirang ku ini juga asal usulnya yang sebenarnya.


__ADS_2