
"Tidak...aku tidak mau! Kita ini tinggal satu rumah apa yang kau lakukan bersikap seperti ini setelah kau tahu aku gadis kecilmu di masa lalu, kemarin-kemarin saat aku menjelaskan padamu dan sekali berkata padamu bahwa aku gadis itu, kau sama sekali tidak pernah mempercayai aku, jadi ini adalah hukuman untukmu karena tidak mempercayai ucapanku sebelumnya" ucapku sambil menghempaskan tangannya dan langsung berlari masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya dengan cepat.
Saat itu meski aku sudah masuk ke dalam kamarku tuan Lukas masih saja mencoba membujuk aku dan aku terpaksa membuka kembali pintu kamarku untuk mengusirnya pergi karena dia terdengar sangat berisik sekali terus mengetuk pintu kamarku dan terus memanggil aku dengan sangat keras tanpa henti saat itu.
"Tok...tok...tok...Vivian...tolong buka pintunya, Vivian aku tidak akan pergi jika kau tidak membuka pintunya juga, aku akan terus berada di sini seterusnya" teriak tuan Lukas sangat keras di balik pintu kamarku saat itu.
"Ada apa kau malah terus berteriak seperti itu di depan kamarku, sebaiknya kamu pergi saja tuan, tidak ada gunanya terus seperti ini!" Balasku kepadanya dengan mengerutkan kedua alisku saat itu.
Tuan Lukas menatapku dengan tatapan yang cukup menyedihkan saat itu tapi aku benar-benar masih merasa kesal dengannya karena dia sebelumnya selalu mengabaikan aku dan kali ini aku hanya ingin memberikan dia sedikit pelajaran saja kepadanya atas apa yang sudah dia lakukan kepadaku, agar dia tahu juga bagaimana perasaanku selama ini, disaat dia selalu mengabaikan aku dan disaat dia selalu aja tidak menganggap aku ketika di hadapan orang lain.
Maka dari itu aku menghempaskan tangannya itu dengan kuat dan berdiri menjauh untuk menjaga jarak darinya saat itu, tetapi tuan Lukas kembali mencoba untuk menarik tanganku lagi sehingga aku langsung saja segera pergi menuju kamarku secepatnya saat itu.
"Vivian ayolah, aku hanya ingin kita menonton filmnya saja sampai selesai apakah tidak bisa?" Ucap tuan Lukas mencoba membujuk aku saat itu.
Namun aku sama sekali tidak akan jatuh kepada rayuan murahnya seperti itu, aku sudah memutuskan semuanya untuk memberikan dia pelajaran dan aku tidak akan mengubah keputusan tersebut sedikit pun.
"Tidak....sama sekali tidak, sudahlah kau sebaiknya pergi saja ke kamarmu sendiri" ucapku sambil sedikit mendorong tubuhnya ke belakang agar dia menjauh dari pintu kamarku saat itu.
Sampai akhirnya tuan Lukas bisa menjauh dari pintu kamarku dan sebelum aku benar-benar akan menutup kembali pintu kamarku itu, aku memberikan peringatan terlebih dahulu kepadanya.
"Awas saja jika kau mengganggu aku lagi, aku mau tidur sana pergilah dari sini!" Ucapku kepadanya dengan wajah yang sangat serius.
Lalu segera saja aku tutup kembali pintu kamarku dengan keras dan segera menguncinya dengan kuat lalu segera pergi membersihkan diriku untuk bersiap beristirahat malam itu.
Sedangkan disisi lain tuan Lukas sendiri sampai tersentak kaget karena dia melihat aku yang menutup pintu kamar dengan sangat kencang juga penuh emosi menatap ke arahnya saat itu, dia pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu karena gagal untuk menahanku malam itu dan harus pergi ke kamarnya dengan perasaan yang resah dan tidak karuan sendiri saat itu.
"Aahhh..... bagaimana mungkin dia bisa memperlakukan aku seperti ini? Bukankah dia menyukai aku sejak lama, seharusnya dia akan mendengarkan ucapanku jika dia menyukai aku bukan?" Gerutu tuan Lukas merasa heran sendiri.
Dia pun segera pergi dengan perasaan bingung sambil mengacak belakang rambutnya beberapa kali dan pergi menaiki tangga menuju kamar tidurnya saat itu meski begitu sampai tuan Lukas berada di dalam kamarnya dia masih saja merasa sangat heran dan kebingungan karena masih tidak menduga bahwa Vivian wanita yang selama ini dia hindari dan sekali dia abaikan kebaradaannya justru malah dialah yang ternyata gadis kecil yang dia cari selama ini.
Tuan Lukas benar-benar merasa seperti orang yang sangat bodoh karena benar-benar gagal untuk mengenali gadis kecilnya sendiri hanya karena gadis itu mengecat rambutnya menjadi warna lain, padahal Vivian sendiri sudah mengaku kepadanya bahwa dia adalah gadis yang dia cari selama ini namun tuan Lukas sama sekali tidak mempercayainya bahkan dia hanya berpikir bahwa Vivian adalah salah satu wanita penggemar dirinya yang sangat tergila-gila dan terobsesi dengan dirinya.
Kini tuan Lukas benar-benar.erasa kacau dan malu dengan dirinya sendiri di masa lalu yang memperlakukan Vivian dengan cara yang buruk sekali.
"Aishhh...dasar bodoh....bodoh, bagaimana bisa aku malah memgabaikan ucapan dia disaat dia mengaku sebagai gadis kecilku saat itu, seharusnya aku segera mencari tahu kebenaran dari ucapan dia sejak dulu, bukannya malah menyimpulkan semuanya sendiri tanpa ada fakta yang mendasar sebelumnya, aishhh.....aku benar-benar tertipu dengan Cecil sialan itu" gerutu tuan Lukas yang merasa kesal dan emosi terhadap dirinya sendiri termasuk kepada Cecil dan ibunya yang sudah berani mengaku-ngaku bahwa Cecil adalah gadis yang dia cari.
"Gadis itu dengan ibunya benar-benar sudah bekerja sama dalam menipuku sejak lama sehingga aku tidak bisa mempercayai bahwa Vivian adalah gadis kecilku karena aku sudah tahu bahwa Cecil menipuku begitu juga dengan si wanita tua itu" tambah tuan Lukas menggerutu lagi dengan keras tanpa henti.
Dia bahkan terus saja menepuk guling miliknya sendiri untuk menyalurkan emosi dan kekesalan yang ada di dalam hatinya saat itu sebab dia merasa sangat emosi dan harus menyalurkan emosinya segera atau dia benar-benar tidak akan bisa tidur dan beristirahat saat itu.
"Arrgghhhh.....awas saja kau Cecil aku akan memberikanmu sebuah pelajaran karena sudah banyak menyebarkan rumor tentangku dan kau juga kau yang sudah menipu diriku sebelumna, aku tidak akan membiarkan orang yang sudah berani mengelabui aku pergi dan hidup dalam damai begitu mudahnya" ucap tuan Lukas dengan mengepalkan kedua tangannya sangat kuat saat itu.
Dia melayangkan sebuah p*kulan yang cukup kuat kepada guling milik dirinya saat itu, barulah dia benar-benar bisa tertidur walau dalam keadaan yang sangat kesal dan di penuhi dengan dendam di dalam dirinya kepada Cecil saat itu.
Tentu saja tuan Lukas akan melakukan itu karena dia memang bukanlah orang yang baik atau ramah, dia hanya asik dengan orang-orang tertentu saja dan dia juga selalu saja membuat semua orang yang sudah berani berusaha dengannya langsung rata dengan tanah dan tidakmbisa menikmati hidupnya lagi di dunia.
Sampai ke esokan paginya tuan Lukas bahkan memilih untuk bangun lebih awal dan dia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Vivian sedangkan disisi lain aku yang sudah terbiasa bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan bagi tuan Lukas sama seperti biasanya, tidak sengaja kami saling bertemu saat itu dan tentu saja aku merasa sangat kaget ketika melihat tuan Lukas yang berdiri di depan kompor di dapur dengan badan yang memakai celemek.
"Ehhhh...tuan sedang apa kau disini sepagi ini, dan memakai celemek di tubuhmu, memangnya kau mau memasak apa?" Tanyaku kepadanya dengan heran saat itu dengan mengerutkan kedua alisku hampir menyatu keduanya.
"Aahhhh... Kau ternyata sudah bangun ya, ayo duduk...duduk...disana, aku akan menyiapkan sarapan untukmu" ucap tuan Lukas kepadaku begitu saja.
__ADS_1
Hal tersebut membuat aku sangat kaget dan refleks membuat aku membelalakkan mataku dengan sangat lebar sekali saat itu, aku bahkan hampir mengeluarkan kedua bola mataku dari tempatnya, seandainya itu bisa.
"HAH? kau...mau membuatkan sarapan untukku? Tuan apa kau bercanda hah? Memangnya sarapan apa yang bisa kau buatkan untukku apa kau bisa memasak?" Tanyaku dengan kaget kepadanya dan benar-benar tidak habis pikir dengan otaknya tersebut.
Tetapi dia justru sama sekali tidak.terlihat kaget atau gugup sedikipun, ketika aku menanyakan hal seperti itu kepadanya dengan ekspresi wajah yang mungkin akan membuatnya sedikit tersinggung dengan hal itu, namun kali ini dia benar-benar terlihat berbeda, wajahnya sama sekali tidak sedatar sebelumnya dan kini memiliki sedikit ekspresi walaupun memang tidak terlalu jelas.
"Tentu saja aku bisa memasak maka dari itu aku akan membuatkannya untukmu, jadi kau duduk saja dengan santai disitu dan tunggu hingga makanannya selesai aku buat baru kau bisa segera menikmatinya nanti, apa kau mengerti?" Balas tuan Lukas begitu saja kepadaku.
Aku kembali terbelalak dengan lebar dan semakin tidak tidak mengerti dengan dirinya saat itu, dia mang sangat sulit di tebak dan entah karakter apa yang sebenarnya dia miliki dia selalu saja terlihat berbeda dengan yang lain dan misterius, tidak banyak bicara dan sekalinya bicara hanya bisa membentak, memarahiku dan menyakiti perasaanku saja, namun kali ini tiba-tiba saja dia ada di dapur dan mau memasak sarapan untukku.
Bukankah itu terdengar sangat aneh sekali? Tentu saja sangat merasa heran dan penuh pertanyaan terhadap perubahan yang terjadi dengan dirinya yang sangat terlihat jelas juga banyak sekali, perusahaan tersebut.
"Haha....aku sama sekali tidak yakin kau bisa memasak tuan" balasku menyepelekan dia saat itu.
Bagaimana aku tidak menyepelekan dia, aku bahkan tidak pernah melihat dia berdiri di depan kompor dan memasak apapun di rumah ini dia juga selalu sulit di tebak dan jarang ada di rumah sehingga sulit untuk aku mendekati dia sebelumnya saat itu.
Namun dia sama sekali tidak runtuh atau apapun, dia justru malah terlihat sangat percaya diri dengan apa yang tengah dia masak saat itu, tidak ada raut wajah cemas dan yang lainnya, padahal mungkin itu adalah pertama kalinya dia memasak di rumah ini semenjak aku tiba dan tinggal disana dengannya selama ini.
"Kamu lihat saja nanti, kau akan kaget ketika merasakan makanan yang aku buat dengan keahlianku yang sangat hebat ini, kau tidak akan kelaparan jika hidup denganku, selain aku kaya aku juga bisa memasak, menurutmu apa kau membutuhkan pria yang bisa melindungimu dan mengobati kau dengan sangat baik saat kau sakit bukan, jadi itulah jawabannya kau bisa sekali untuk memilih aku, karena aku bisa melakukan semua itu untukmu Vivian" balas tuan Lukas sangat percaya diri sekali dengan keahlian memasaknya itu.
Aku hanya menatapnya sambil mengangguk dan berusaha untuk mempercayai apa yang dia ucapkan saat itu begitu saja karena aku tidak ingin mendengar dia mengoceh lagi tentangku saat itu, dan aku memilih untuk duduk saja di depan meja makan menunggu taun Lukas yang selesai mengerjakan masakannya saat itu.
Hingga beberapa menit kemudian masakannya tiba dan aku sudah sangat penasaran dengan sangat tidak sabar sekali untuk mencicipi makanan dari seorang tuan Lukas yang terkenal sekali dengan sikap dinginnya juga tatapan matanya yang selalu memberikan ancaman juga selalu berhasil membuat dia kesal sepanjang waktu.
"Tada.....masakannya sudah selesai, silahkan kamu cicipi" ucap tuan Lukas bersikap lembut dan cukup masih dengan wajah tampannya itu untuk mempersilahkan aku segera menikmati makanan yang dia masak di rumah itu untuk pertama kalinya.
Tuan Lukas langsung saja menyajikan sebuah masakan buatannya tersebut di hadapanku saat itu dan dia juga bahkan menyajikan minumannya juga untukku.
Aku benar-benar di perlakukan seperti akulah majikannya disana padahal selama ini dia lah yang menganggap aku hanya sebagai pelayan murahan di rumahnya tersebut, sekarang aku rasa aku sudah bisa untuk sedikit menggoda dia dan memberikan dia pembelajaran yang tidak akan bisa dia lupakan dalam hidup dia selamanya.
"Ehhhh....ada apa dengan tuan, kau tiba-tiba saja memperlihatkan senyuman seperti itu, apa kau pikir aku menatapmu karena aku memaafkan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku selama ini? Huh....tentu saja aku tidak akan dengan mudah memaafkanmu" balasku memberitahunya saat itu.
Tidak tahu lagi kenapa dia malah tersenyum kecil seperti itu dan saat aku menegurnya pun dia tetap saja tersenyum seperti itu tanpa mengubah ekspresi di wajahnya, padahal seharusnya dia akan marah atau membentak aku, sama seperti yang biasa dia lakukan kepadaku sebelumnya, melihat dia yang seperti ini sungguh membuatku sedikit senang namun lebih banyak merasa aneh dan herannya sebab dia seperti mengubah sikapnya seratus delapan puluh derajat dari sikap awalnya yang sangat dingin, kaki dan begitu menyebalkan.
Tentu saja kini dia menjadi lebih bersahabat kepadaku dan wajahnya lebih enak di pandang daripada sebelumnya dia terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya namun menyeramkan juga jika melihatnya terus tersenyum-senyum sendiri seperti itu.
"Tidak... apa-apa aku hanya merasa senang saja karena akhirnya aku bisa menemukan gadis kecil yang selama ini aku cari" balasnya kepadaku saat itu.
Aku hanya menatap sinis dengan ujung mataku kepadanya saat itu, dan dia langsung saja kembali mempersilahkan padaku untuk mencicipi masakan buatannya saat itu.
"Aaahhh...sudahlah ayo cepat kamu cicipi dulu makanan buatanku, aku yakin kamu pasti akan menyukai sup itu" ucapnya kepadaku dengan wajahnya yang berseri-seri dan penuh dengan kepercayaan diri.
Melihat dia begitu percaya diri justru aku merasa cemas, aku takut makanannya tidak akan seenak yang aku bayangkan karena dia terlihat begitu percaya diri seperti itu, karena biasanya jika yang memasaknya sangat percaya diri seperti tuan Lukas saat ini, maka makanannya masih perlu pertanyaan masalah enak atau tidaknya.
Sehingga hal tersebut membuat aku merasa sangat ragu ketika hendak mengambil sesendok sup itu dan memasukkannya ke dalam mulutku untuk merasakan rasanya, aku memasukkan sesendok kuah sup tersebut dengan pelan ke dalam mulutku bahkan akubsamlai terpejam karena sakit takutnya merasakan makanan buatan tuan Lukas.
Hingga ketika kuah tersebut menyentuh bibirku aku benar-benar sangat kaget dengan rasanya sebab itu cukup enak dan tidak terlalu buruk dengan apa yang aku bayangkan, disisi lain aku juga merasa sangat tenang karena sup ini memang lumayan bagus dan bisa sekali untuk dimanakan, walaupun tidak seenak buatan bi Ida yang dia ajarkan kepadaku dahulu.
Tuan Lukas yang mihat aku mencicipi supnya dia juga terlihat memeperhatikan aku dengan wajah yang sangat serius dan aku tahu dia juga pasti merasa tidak tenang dengan jantung dan juga hatinya saat itu, sebab wajahnya tidak bisa berbohong bahwa dia memang benar-benar menampakkan raut wajah cemas seperti itu.
Aku bahkan hampir saja ingin tertawa ketika melihat raut wajahnya tersebut karena dia benar-benar terlihat sangat lucu sekali saat itu, apalagi wajahnya yang sangat serius seperti itu membuat aku ingin mencubi pipinya namun aku harus menahan hal tersebut dengan sekuat tenagaku karena aku masih mengujinya dan membuat dia agar bisa mengejarku layaknya aku yang pernah berusaha untuk mengejar dia sebelumnya.
__ADS_1
"Bagaimana....apakah rasanya enak?" Tanya tuan Lukas dengan wajahnya yang sangat penasaran dan tidak sabaran kepadaku saat itu.
"Eummm....lumayan rasanya tidak buruk tapi tidak terlalu enak juga, namun ini layak untuk dimakan jadi aku akan memakannya karena hari ini aku malas untuk memasak" balasku sengaja mengatak itu kepadanya.
Tidak pernah aku bayangkan tuan Lukas akan sesenang itu ketika mendengarkan jawaban dariku yang netral untuknya tetapi dia justru memperlihatkan reaksi yang terkesan seperti berlebihan, seakan dia mengira bahwa aku memuji masakannya dan mengira masakannya itu enak, padahal aku sama sekali tidak menyebutkan pada hal itu, aku hanya bisa makanannya layak untuk di makan saja, tapi dia terlihat begitu bahagia bahkan sampai tersenyum lebar dan berjingkrak-jingkrak riang beberapa saat di samping meja saat itu.
"Apa?...aaahhh...yes...yes...yes...aku berhasil hehe, terimakasih Vivian, kalau begitu ayo kau lanjutkan makanmu aku akan kembali setelah mandi dan berpakaian yang lebih rapih, jangan lupa kau juga ganti pakaianmu aku akan membawamu ke suatu tempat" ucapnya sambil memegangi bahuku saat itu.
Aku hanya menaikkan sebelah alisku merasa heran dengan sikap tuan Lukas yang seperti itu, namun disaat dia sudah pergi aku juga tersenyum sangat senang karena untuk pertama kalinya dia mengajak aku pergi ke luar bersama dengannya di waktu yang masih pagi seperti ini dan di akhirat pelan begini.
"Bolehkan aku menganggapnya sebagai kencan pertama? Aaahhh ini terlalu cepat dan manis untukku juga dia" gerutuku menahan kebahagiaan yang menggebu di dalam diriku saat itu.
Tidak tahu lagi bagaimana lagi aku mengungkapkan rasa senangku saat itu, aku memang benar-benar merasa sangat bahagia sekali, bisa pergi dengan tuan Lukas dan dengan cepat aku langsung menikmati sarapan itu dengan lahap juga mempercepat sarapanku karena aku harus mandi dan berdandan dengan lebih baik agar bisa membuat tuan Lukas terkesan dengan kecantikan aku ini.
Segera aku pergi ke kamarku dan mencari pakaian yang cocok dan bagus untukku bahkan aku sudah mengacak semua isi di dalam lemariku dengan sekuat tenaga, aku mencari semua pakaian yang ada di dalam sana dan sudah menemukan semua gaun berwarna putih yang cukup cantik dengan panjang selutut dimana sejak dulu aku ingin sekali memakai gaun cantik dengan lengan pendek seperti itu.
"Aha...ini dia pakaian yang sangat cocok untukku hehe" ucapku sambila segera mengambil gaun itu dan langsung saja aku menggantinya.
Aku langsung saja menatap tubuhku di depan cermin dengan berputar beberapa kali melihat gaun itu sangat cantik ketika aku mengenakannya, terlihat elegan dan sangat anggun, aku segera menatap rambutku, aku sudah mengikatnya di belakang, sudah mengikatnya di samping dan sudah mencoba memakai bando, namun rasanya semua terlalu berlebihan sehingga aku memutuskan untuk mengurainya saja seperti biasa hanya menambahkan satu jepitan di ujung rambutku saat itu yang membuat aku menjadi semakin cantik rasanya.
"Aahhh ..ini rasanya sudah sangat cocok denganku, sekarang aku sudah siap hehe" ucapku merasa sangat senang sekali saat itu.
Hingga tidak lama terdengar ketukan pintu dari luar dan aku tahu bahwa itu adalah suara dari tuan Lukas yang memanggil namaku.
Aku langsung merasa bergetar saking senangnya dan jujur saja aku sendiri sulit mengendalikan diriku sendiri untuk menghadapi dia saat itu, hingga sebelum membuka pintunya aku bahkan harus menarik nafas dan membuangnya perlahan dan mengulangi hal tersebut selama beberapa kali untuk menenangkan diriku.
"Tok....tok....tok...Vivian apa kau ada di dalam ayo kita pergi sekarang" ucap tuan Lukas dari luar sana.
"Aahh...iya aku akan keluar sebentar lagi" ucapku kepadanya.
Segera saja aku keluar setelah aku rasa sudah merasa lebih tenang dan bisa mengendalikan diriku lebih baik daripada sebelumnya.
Aku membuka pintu kamarku dengan perlahan karena aku kira tuan Lukas mungkin saja masih berdiri di depan pintu menungguku namun rupanya saat aku membuka pintu dia tidak ada disana dan aku tidak tahu dia pergi kemana.
"Ehhhh....kemana dia pergi, bukankah dia bilang kita akan pergi sekarang kenapa dia tidak ada?" Gerutuku merasa sedikit kecewa dan cemberut kesal saat itu.
Aku pun menghembuskan nafas yang kasar lalu berjalan keluar untuk mencarinya hingga tidak lama saat aku baru saja hendak keluar dari rumah tersebut pintu masuk langsung tiba-tiba saja terbuka dan saat itu tuan Lukas hendak masuk ke dalam dan kami langsung saling bertemu dan saling tatap satu sama lain.
"Tuan...kenapa kau mau masuk lagi ke dalam?" Tanyaku kepadanya dengan sedikit heran,
"Mari aku baru saja hendak menjemputmu" ucapnya sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
Aku tersenyum kecil dan menerima uluran tangannya dengan cepat, hingga dia menggandeng tanganku sampai ke depan mobil yang sudah dia siapkan di depan dan aku mengerti sekarang kenapa dia tidak ada di saat aku keluar dari kamar sebelumnya.
"Ohhh...jadi dia menyiapkan mobil dahulu, aaahhh tuan kau sangat romantis bagaimana aku bisa menahan perasaan ini" batinku saat itu.
Bahkan tuan Lukas langsung saja membukakan pintu mobil untukku dan dia menjaga kepalaku agar tidak terhantuk pada mobilnya saat itu, sikapnya benar-benar terasa sangat berubah bertolak belakang dengan dia yang sebelumnya, aku sangat senang sekali saat itu.
Dia segera masuk juga ke dalam mobil dan membantu aku memasangkan sabuk pengaman sambil tersenyum kepadaku saat itu, melihat wajahnya yang full tersenyum sejak tadi hingga sekarang benar-benar sebuah kebahagiaan yang tidak terkira untukku.
Bagaimana aku tidak bahagia, aku tahu dengan jelas bahwa dia sama sekali tidak pernah tersenyum kepada orang lain kecuali dengan rekan bisnisnya yang tertentu, dia sangat sulit sekali diajak bicara apalagi di dekati oleh siapapun entah wanita ataupun pria, dia orang yang sangat tertutup dari siapapun dan selalu melakukannya sendiri namun padaku dia bisa terus tersenyum seperti itu dan aku sangat bersyukur sekali saat itu Cecil mendorongku ke kolam renang, walaupun aku tidak bisa merasakan ulang tahu di masa kecilku karenanya, namun tuhan menganugerahkan aku pria yang sangat luar biasa seperti tuan Lukas ini.
__ADS_1
Kini aku tidak lagi menyesal saat itu Cecil mendorongku, aku bisa bersama dengan tuan Lukas secara tidak langsung karena kejahatan yang dia berikan padaku saat itu, dan pertama kali aku menemukan dia lagi juga di hari ulangtahun Cecil juga dan saat itu Cecil juga yang mendorong aku hingga jatuh, tapi tuan Lukas juga yang membantuku, aku benar-benar merasa baik-baik saja sekarang.
Karena pahlawan kecilku sudah kembali, malaikat pelindungku sudah tiba, dia bisa melindungi aku untuk seterusnya mulai saat ini, dan aku sangat sangat mencintai dia sejak dulu hingga saat ini.