
Karena penasaran, tuan Lukas segera memeriksa daftar pengeluaran dari kartu yang dia berikan kepada Vivian sebelumnya hingga dia menemukan bahwa Vivian mengeluarkan uang dari kartu itu dalam jumlah yang memang tidak sedikit namun tidak terlalu banyak juga menurutnya, uang itu juga di salurkan pada sebuah rumah sakit sehingga dia mulai mencurigainya.
"Apa dia terluka saat di perjalanan pulang, ke apa dia tidak memberitahuku apapun, apa dia sangat bodoh!" Gerutu tuan Lukas memikirkan dan terlihat cukup kesal.
Disisi lain aku tengah membersihkan rumah dan baru saja selesai menyiapkan masakan makan malam untuk tuan Lukas aku pikir dia akan turun dengan sendirinya karena aku tidak berani untuk pergi memanggil dia ke kamarnya, aku hanya mengepel lantai dan mengelapi kaca disana agar bisa segera beristirahat jika aku mulai mengerjakan semuanya sejak awal hingga tiba-tiba saja turun tuan Lukas dari lantai atas dan menuruni tangga sambil meneriaki namaku membuat aku sangat kaget dan sedikit takut mendengar itu.
"Heh gadis idiot, kemari kau....aishhh apa dia tuli, hey... Vivian kemari kau!" Bentak tuan Lukas memanggilku.
Aku segera menghampirinya dengan dengan cepat dan menunduk menghadapi dia tepat di dekat tangga dan dia menatapku dengan tatapan yang aneh dan melihat aku dari bawah hingga atas lalu ke bawah lagi dan bertanya padaku dengan membentak membuat aku selalu kaget dengan bentakannya itu.
"Siapa yang mengijinkanmu memakai uangku tanpa izin hah?" Bentak tuan Lukas kepadaku.
Aku merasa sedikit bingung mendengar hal tersebut karena seingatku aku sudah membahasnya dan sudah meminta maaf kepada dia mengenai uangnya yang aku pakai dan aku akan membayar kembali uang yang aku gunakan itu bagaimana pun caranya.
"Maa..maafkan aku tuan aku hanya terdesak saat itu karena jika aku tidak menggunakannya aku takut pria itu akan meninggalkan aku mohon maafkan aku" ucapku sambil membungkuk meminta maaf kepadanya.
Tuan Lukas semakin mengerutkan kedua alisnya tatkala mendengar seorang pria keluar dari mulut Vivian dia langsung menanyakannya lagi.
"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa semua seragammu penuh dengan darah yang mengering seperti itu" ucap dia sambil menunjuk ke arah seragamku.
Aku langsung melihatnya dan aku langsung mengerti kenapa dia menatapku hingga se detail itu sebelumnya aku pun mengangguk patuh dan segera menceritakan semua kejadian yang aku alami saat hendak menaiki bus siang tadi bahkan aku menceritakan semuanya tanpa ada yang dikurangi atau di ada-adakan sedikitpun aku mengatakan semuanya termasuk hingga aku berlari ke rumah dengan terlambat.
Tuan Lukas nampak mendengarkan ceritaku dengan seksama dan wajahnya yang terlihat sangat serius, dia juga tetap diam saja disaat aku sudah selesai bercerita kepadanya dia seperti tengah berpikir dalam lamunannya.
"Ternyata dia menolong orang lain, untunglah jika bukan dia yang terluka tapi aku tetap tidak boleh bersikap lembut dengan wanita sepertinya" gumam tuan Lukas memikirkan.
"Baiklah karena kau membantu orang lain, kali ini aku membebaskanmu dari hukuman memakai uangku tapi ingat kau masih harus mengembalikan uang yang sudah kau pakai itu dan tetap harus membersihkan rumah ini seperti apa yang seharusnya kau lakukan sejak siang tadi, kau tidak boleh beristirahat sebelum semua pekerjaanmu selesai apa kau mengerti!" Bentak dia kepadaku dengan cukup keras,
"I...iya tuan saya mengerti" balasku sambil mengangguk.
Dia segera pergi ke meja makan dan mulai menikmati makan malam saat itu, dia terlihat begitu lahap menikmati masakanku dan melihat cara dia yang makan begitu lahap aku juga mulai merasakan lapar di perutku namun aku hanya bisa melihatnya makan sendiri, tanpa bisa menyentuh semua makanan diatas meja itu.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan terus saja mengepel lantai hingga bersih dan selesai di lantai bawah bagian dapur, aku masih harus membersihkan ruangan depan dan lantai atas juga beberapa kamar tamu disana, semua ini sangat membuatku lelah dan aku sudah merasa sangat lelah juga cukup mengantuk karena sudah larut malam saat ini.
Bahkan lampu kamar tuan Lukas sudah terlihat dimatikan mungkin dia sudah tertidur saat itu dan aku masih harus mengepel lantai atas, keringat sudah bercucuran tidak terkendali di seluruh tubuhku bahkan rasanya sekujur tubuhku sudah sangat lengket karena keringat sendiri yang begitu banyak.
"Hah...hah...hah....hanya tinggal sedikit lagi aku harus semangat!" Ucapku menyemangati diriku sendiri.
Meski beberapa kali aku mengantuk dan terus menguap aku tetap berusaha menyegarkan diri sendiri dengan menggelengkan kepala dan menampar pipiku sendiri dengan pelan hanya untuk kembali menyadarkan diriku dan untuk membuat aku kembali tersadar.
"Aahhh.... Vivian ayo kamu pasti bisa menyelesaikan ini semua, ayolah mata tolong bekerjasama denganku sebentar saja, aku harus menyelesaikan semua ini dengan tepat waktu atau tuan Lukas akan kembali memarahiku" gerutuku bicara sendiri lagi.
Aku menyelesaikan pekerjaanku tepat jam dua malam lebih sepuluh menit saat itu dan aku segera mandi lalu langsung merebahkan tubuhku di ranjang dan langsung tertidur dengan mengenakan pakaian mandi.
Aku sudah tidak sanggup lagi untuk memakai pakaian saat itu karena aku takut semakin memperlambat waktuku untuk tidur sedangkan ke esokan paginya aku harus kembali sekolah lagi dan masih harus berburu bus dengan banyak orang.
__ADS_1
Aku tertidur sangat lelap hingga ke esokan paginya aku hampir bangun kesiangan karena saat melihat ponsel jam sudah menunjuk pada angka tujuh dini hari sehingga hanya ada waktu setengah jam untuk aku di perjalanan menuju ke sekolah sedangkan aku baru bangun tidur saat itu.
"Aishhh...sial aku malah kesiangan, aaaartghhh bagaimana ini" ucapku panik sendiri dan segera berlari ke kamar mandi dengan tunggang langgang.
Aku berlari sekuat tenaga dan secepat yang aku bisa, segera memakai seragam dan langsung berlari keluar dari rumah tanpa memperdulikan semuanya bahkan aku juga lupa tidak membuatkan sarapan untuk tuan Lukas pagi itu dan aku tidak mengingatnya sama sekali sebab aku langsung berlari menuju halte bus dan langsung naik ke dalam bus menuju sekolah, untungnya saat itu aku masih bisa menyusul dan hampir saja gerbang akan di tutup namun aku dengan cepat masuk ke dalam di detik-detik terakhir itu.
Namun disaat sudah masuk ke dalam kelas aku baru ingat bahwa aku tidak menyiapkan sarapan untuk tuan Lukas pagi ini, dan aku baru mengingat hal sepenting itu disaat aku sudah duduk di dalam kelas.
"Brukkk....." Suaraku yang langsung bangkit berdiri secara tiba-tiba.
Bimo dan Elis yang duduk di sampingku mereka sangat kaget melihat aku yang tiba-tiba saja berdiri dan menatap ke depan dengan tatapan kosong namun terlihat menegangkan.
"Astaga....Vivian ada apa denganmu? Apa kau kesurupan?" Ucap Bimo.merasa aneh,
"Aaaaaaaa..... Aku akan mati nanti, aku baru saja membuat kesalahan semalam dan sudah menebusnya tapi pagi ini aku sudah menyebabkan masalah untuknya" gerutuku memikirkan,
"Hey, Vivian siapa yang kau maksudkan? Kau ini sedang membicarakan apa?" Tanya Bimo kepadaku dengan aneh,
"Ini tentang hidup dan matiku dan sekarang sudah bisa di pastikan bahwa aku akan mati karena tidak membuatkannya sarapan" ucapku menjawab pertanyaan dari Bimo dengan menunduk lesu.
Sedangkan Bimo dan Elisa saling tatap satu sama lain melihat aku yangungkin terlihat aneh Dimata mereka, hingga tidak lama guru datang memasuki kelas dan aku harus duduk dengan terpaksa, selama di sekolah aku sama sekali tidak bisa menikmati apapun atau memahami pelajaran sedikitpun karena perasaanku terus saja tertuju pada nasibku setelah pulang sekolah nanti, bahkan saat ini di jam istirahat disaat Bimo dan Elis pergi ke kantin.
Aku memilih untuk dia di kelas saja dan hanya duduk di kursiku dan menatap ke depan dengan tatapan kosong yang tidak menentu juga hanya bisa menghembuskan nafas yang lesu atas semua nasib yang aku akan dapatkan nanti.
Aku menjatuhkan kepalaku ke meja begitu saja dan terus menunduk dengan lesu, sedangkan di luar sana ada Cecil bersama teman-teman wanitanya yang melewati kelasku dan mereka tidak sengaja melihat aku yang murung, Cecil yang memang dasarnya sudah membenciku dia langsung menyusun rencana jahat dengan kedua temannya itu.
Dia masuk ke dalam kelas dan menyemprotkan saus tomat ke atas kepalaku sehingga membuat rambutku bau dan di penuhi saus tomat yang lengket.
"Ahahaha..... Rasakan itu dasar si bodoh ini, dia terlihat tidak berdaya tanpa kedua temannya itu" ucap salah satu teman Cecil.
"Kalian... Apa lagi yang kalian inginkan dariku, apa hanya cara kampungan seperti ini yang bisa kalian perbuat kepadaku, sangat menyedihkan!" Ucapku sambil mendorong mereka semua satu per satu, termasuk pada Cecil.
Aku langsung keluar dari kelas sambil membersihkan rambut bagian atasku yang masih terdapat saus tomat diatasnya hingga ketika aku mau keluar dari kelas ku lihat ada Kaylo disana dan aku rasa dia melihat semua yang dilakukan oleh Cecil kepadaku dan aku hanya bisa menatapnya dengan sinis dan penuh kebencian.
"CK... Pacar yang sangat serasi" ucapku pelan saat melewatinya.
Aku tidak perduli jika dia marah dan akan mengarahi aku untuk membuat akunbahan bullyan lagi seperti sebelumnya, lagi pula rambutku sudah terkena saus tomat dan aku juga sudah terlanjur pernah di permalukannoleh pasangan kekasih yang tidak memiliki hati itu, sehingga aku seakan telah terbiasa dengan semua penghinaan yang mereka berikan kepadaku.
Aku pergi ke kamar mandi dan segera mencuci rambutku dengan air, aku juga tidak mungkin kembali mengikuti kelas dengan keadaan rambut berantakan dan basah seperti itu di tambah bau sausnya yang tidak juga hilang dari rambutku sehingga aku hampir frustasi di buatnya.
Aku menangis tanpa suara dan hanya berderai air mata di depan cermin kamar mandi sambil terus mencuci rambutku berkali kali dan berusaha menghilangkan baunya itu meski tetap tidak berhasil karena aku hanya mencucinya dengan air biasa saja.
"Hiks...hiks...hiks... Menyebalkan, aku sangat lemah dan kotor, kenapa harus aku yang menerima penghinaan menyedihkan seperti ini, hiks...hiks" ucapku sambil terus mencuci rambutku dengan air.
Aku langsung menuliskan surat untuk memberitahu Bimo dan Elis alasan aku pergi, aku menulisnya di kamar mandi sambil terus mengusap air mata yang terus saja menerobos keluar dari pelupuk mataku meski aku sudah berusaha menahannya dan tidak mengijinkan air mata itu untuk keluar tanpa izin dariku sebagai pemilik matanya.
__ADS_1
Namun tetap saja aku tidak mempunmenahannya lebih lama lagi, semakin aku menahannya aku semakin merasa sakit dan tertekan sehingga aku membiarkan air mata itu terus turun dan mengusapnya dengan kedua tanganku sangat sering.
Aku kembali ke kelas danenempelkan surat itu di atas mejaku, lalu aku segera pergi dari sekolah saat itu juga dan aku sudah meminta izin pada pihak sekolah, untungnya mereka mengijinkan aku untuk pergi karena mereka mempercayai aku bahwa aku sakit saat itu, padahal sebenarnya fisikku baik-baik saja hanya hatiku saja yang terus di banting habis-habisan dengan masalah yang menimpa diriku sejak aku kecil hingga sebesar saat ini.
Aku bahkan belum bisa merasakan apa itu kehidupan yang bebas, tenang dan damai.
Aku tidak mencari kebahagiaan aku hanya mencari ketenangan dan kenyamanan aku hanya ingin hidup dengan damai, di manapun aku berada dan dengan siapapun aku saat itu, karena hanya dengan ketenangan aku bisa berpikir banyak hal dan bisa menikmati semua momen saat itu.
Aku pulang dengan penampilan yang kusam dan basah seperti itu, terlihat semakin menyedihkan dan aku juga sengaja tidak menaiki bus untuk pulang dan memilih untuk berjalan kaki agar bisa sampai di sana lebih lama, aku hanya berjalan dengan lesu dan kepala yang terus tertunduk ke bawah.
Sepertinya aku sudah mulai putus asa dengan hidupku saat itu, kaki yang lecet karena terlalu lama berjalan dan betis yang mulai pegal aku duduk di bahu jalanan untuk mengistirahatkan diriku sendiri sambil memijat kakiku pelan dengan jari jemariku sendiri.
"Apa aku akan selalu hidup sebatang kara selamanya?" Ucapku memikirkan masa depanku nantinya.
Aku selalu sendirian, tidak ada yang menyayangimu atau memperdulikan aku, tidak ada siapapun yang memelukku disaat aku terpuruk atau sedang tidak baik-baik saja, tidak ada yang menafkahiku dan tidak akan yang memperdulikan aku sedikitpun, apakah aku hidup atau mati sepertinya semua orang juga tidak akan perduli dengan hal itu.
Bahkanungkin mereka justru akan senang karena beban sepertiku tidak perlu membuat hidup mereka kesulitan lagi karena adanya aku.
Saat memikirkan semua nasibku selama ini dan bi Ida yang sudah tidak ada di sampingku lagi saat ini, itu membuat aku merasa sangat terpukul dan semakin sedih aku tertunduk dengan rambut yang jatuh ke depan hingga menutupi seluruh wajahku.
Dan aku sengaja melakukan hal itu agar tidak ada satu pun orang yang bisa melihatnya tengah menangis di pinggir jalan seperti itu.
Aku terus menangis sepuasku dan terus saja duduk disana hingga hatiku mulai membaik barulah aku pergi ke halte bus lagi dan menunggu bus disana, sampai ketika kembali ke rumah aku segera membersihkan rumah lagi dan bahkan kali ini aku harus menguras air di kolam dan menggantinya dengan air yang baru, selang yang di pakai untuk menyedot air kolam saja begitu besar dan aku sangat kewalahan untuk menggendong selang besar dan berat seperti itu seorang diri.
Aku bahkan harus merasakan sakit di sikut dan lututku karena beberapa kali terjatuh bahkan sampai tersungkur di samping kolam karena harus membawa selang yang sangat besar dan berat itu. Hingga sesudah menguras dan kembali mengisi air kolam dengan yang baru aku masih harus membersihkan kamar tamu di rumah itu yang semalam masih belum sempat aku bereskan, aku juga membersihkan semua ruangan yang ada disana barulah membersihkan kamarku yang terakhir, aku melakukan semuanya sendiri hingga sangat lelah dan ketika malam tiba aku langsung memasak dan menyiapkan masakan untuk tuan Lukas hingga setelah semuanya selesai aku duduk di sofa menunggunya untuk pulang karena aku harus membukakan pintu untuknya.
Meskipun pintunya tidak di kunci namun tuan Lukas sering menyuruh aku untuk membukakan pintu itu untuknya meski aku tidak tahu apa alasannya aku hanya bisa menuruti ucapannya agar aku tidak mendapatkan bentakkan dan tidak membuat dia semakin membenciku karena aku masih ingin berusaha membuat dia menyukaiku apapun caranya nanti.
Tapi sialnya badanku ini sungguh tidak bisa diajak bekerja sama akualah terus menguap beberapa kali hingga akhirnya malah ketiduran di sofa dan tidur menyamping dengan menghadap ke layar televisi saat itu.
"Hoammm.... Aku tidak tahan lagi semuanya sangat melelahkan membuat aku tidak tahannn" ucapku sambil langsung mencari posisi ternyaman tidur di sofa itu tanpa sadar.
Saat mengantuk aku pikir saat itu aku sudah berada di dalam kamarku sehingga aku langsung tidur tanpa khawatir sedikitpun meski memakai celana pendek saat itu, aku tidur dengan lelap hingga tidak bisa mendengar bel yang beberapa kali di tekan oleh tuan Lukas dan ketukan pintu yang sangat keras hingga membuat tuan Lukas masuk dengan sendirinya dan dia melihat aku yang tertidur di sofa dengan keadaan yang cukup mengkhawatirkan.
"Ternyata dia tertidur, dasar bocah idiot bagaimana bisa dia tidur di sofa dengan begitu nyenyaknya seperti itu" ucap tuan Lukas hanya melewati Vivian saja.
Dia langsung pergi ke ruang makan dan memeriksa pekerjaan Vivian, namun semuanya sudah sangat rapih begitu juga dengan makan malam untuknya, dia segera menikmati makanan yang sudah Vivian sajikan untuk dia sebelumnya.
Tanpa tuan Lukas sadari dia sudah mulai menyukai makanan yang di masak oleh Vivian meski hatinya masih belum terbuka untuk Vivian namun sepertinya masakan Vivian sudah berhasil memanjakan lidahnya dan dia sudah merasakan kasihan kepada Vivian saat melihatnya ketiduran di sofa dalam keadaan seperti itu.
Setelah makan tuan Lukas berniat naik ke kamarnya namun ketika dia melihat Vivian tidur di sofa dengan memakai celana pendek seperti itu, dia tidak tega melihat dia kedinginan sehingga tuan Lukas pergi mengambil selimut dari kamarnya dan dia menyelimuti Vivian dengan lembut dan perlahan pada awalnya.
Tapi ketika dia mengamati wajah Vivian yang tertidur entah apa yang dia pikirkan hingga dia malah menutupi semua tubuh Vivian bahkan hingga kepalanya pun dia tutupi dengan selimut itu.
"Aishh.... Dia masih menyebalkan bahkan saat tidur seperti ini, aaarggghhh aku tidak bisa melihat wajahnya itu, sudah begini lebih baik" ucap tuan Lukas sambil menarik selimutnya itu dan menutupi sampai kepala Vivian saat itu.
__ADS_1