Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Bersama Leo


__ADS_3

Dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu dan aku hanya bisa memalingkan pandangan ke arah luar jendela mobil menatap semua jalan yang aku lewati, aku benar-benar tidak menyangka tuan Lukas bisa bersikap sejahat itu kepadaku, dan bisa-bisanya dia melupakan aku dengan semudah itu.


Padahal aku terus saja merasa sangat yakin terhadapnya dan aku berpikir bahwa dia akan bisa berubah menjadi mengingat aku, bahwa memang akulah wanita yang dia cari sebenarnya tapi sayangnya semua pemikiran itu salah, itu hanya angan-angan diriku saja, bukan kenyataannya dan semua sungguh berbanding terbalik pada kenyataan yang terjadi.


"Bodoh.... kenapa aku pernah berpikir bahwa aku bisa membuat dia menjadi mencintaiku, padahal sudah jelas dia membenciku dan hanya memanfaatkan aku saja untuk kepentingan pribadinya, barusan saja dia bahkan tidak mengakui keberadaanku, lalu dia menganggap aku apa, apa aku se tidak penting itu dimatanya?" Batinku merasa sangat sakit dan hancur saat itu.


Meski aku sudah berhenti menangis dengan meraung tapi air mataku tetap saja tidak bisa berhenti keluar dari pelupuk mata dan membasahi pipiku dengan terus menerus, sakit sekali rasanya harus menerima semua kepahitan ini, aku juga tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini bahkan dirimu sendiri tidak pernah tahu siapa kedua orangtuaku dan dimana kini mereka berada.


Hingga tidak lama kak Leo itu membawaku ke sebuah restoran yang mewah dan cukup besar di pusat kota, aku hanya mengikutinya saja sampai kami duduk di salah satu meja yang tersedia disana.


"Vivian ayo kamu mau pesan apa katakan saja, aku pikir kamu menangis karena lapar bukan?" Ucap kak Leo yang membuat aku langsung tersenyum mendengar ucapannya,


"Tentu saja aku lapar aku akan memesan banyak makanan dan jangan salahkan aku jika kau langsung kehilangan banyak uang" balasku balik menggodanya,


"Silahkan saja aku memiliki lebih banyak dari yang kamu bayangkan" ucapnya kepadaku.


Aku tersenyum senang dan langsung saja memesan beberapa jenis makanan kepada pelayan disana, sedangkan kak Leo nampak pergi entah kemana sampai tidak lama dia kembali lagi setelah pelayan tadi sudah pergi, dia juga datang dengan membawa sebuah kotak berwarna putih di tangannya.


"Kak... Darimana saja kau ini, dan apa yang kamu bawa itu?" Tanyaku kepadanya dengan heran.


"Sudah ayo menghadap kemari aku akan mengobati kakimu" balasnya begitu saja.


Aku segera menggeser kursinya dan menghadap ke arah dia, lalu kak Leo langsung saja berjongkok di lantai sambil membuka kotak berwarna putih itu yang ternyata di dalamnya terdapat obat dan perban, dia langsung membersihkan luka di lututku lalu mulai memberikan obat merah dengan sangat hati-hati hingga selesai menutupnya dengan sebuah perban kecil, tidak lupa dia juga mengoleskan sebuah salep untuk lebam di betisku juga mengobati tanganku yang lecet.


"Sudah selesai... Ini kau bawa kotak milikku dan jangan sampai terluka lagi" ujarnya sambil memberikan kotak obat itu kepadaku.


Aku langsung mengambilnya meski dengan tatapan mata yang bingung dan keheranan, dia benar-benar orang yang baik dan sangat perhatian kepadaku bahkan sebenarnya aku tidak membutuhkan dia untuk mengobati luka di lututku sampai seperti itu, sehingga kini aku malah merasa tidak enak terhadapnya.


"Eumm... Terimakasih banyak yah kak Leo kamu sudah mau mengobati luka ku, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang sepertimu" ucapku kepadanya,


"Kamu salah yang ada akulah yang beruntung karena berkat kau aku selamat dari kematian, jadi apakah sekarang balas Budi kita impas?" Balas kak Leo yang lagi-lagi malah menggodaku.


Aku hanya bisa menjawabnya dengan mengangguk sambil tersenyum lebar kepadanya, sampai makanan tiba dan aku segera menikmati makanannya bersama kak Leo, makanannya sangat lezat dan aku terus menikmati makanan itu dengan lahap.


Tapi disisi lain Leo justu tidak benar-benar fokus dengan makanannya sebab secara tidak sengaja kecila tadi dia mengobati pergelangan tangan Vivian dia tidak sengaja melihat sebuah tanda lahir yang terdapat di lengan Vivian saat itu, dan tanda lahir itu tepat berada di bagian pergelangan tangannya yang lecet, itu sama persis dengan letak tanda lahir yang ada pada seorang gadis kecil yang tengah dia cari keberadaannya.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa Vivian mirip dengan gadis kecil itu yah?" Batin Leo dalam pikirannya.


Sebenarnya Leo adalah seorang CEO ternama di negara lain dengan memimpin perusahaan besar yang bekerja dalam banyak bidang dunia perhotelan juga restoran ternama di salah satu negara yang maju dan berkembang, dia sengaja datang ke negara ini hanya untuk mencari keberadaan sang adik yang dulu pernah hilang di negara itu juga.


Bertahun-tahun yang lalu Leo diangkat menjadi salah satu putra angkat keluarga kaya raya dia, sebab keluarga itu hanya memiliki satu putri dan tentu saja seorang perempuan tidak bisa memimpin perusahaan dalam usianya yang masih sangat kecil, kurang lebih usia gadis itu dulu masih enam bulan, ibunya meninggal saat melahirkan gadis kecil itu sehingga sudah di pastikan bahwa sang pemilik perusahaan besar tersebut tidak bisa memiliki keturunan lagi sebab beliau sudah memutuskan tidak akan pernah menikah lagi seumur hidupnya.


Dia hanya akan fokus membesarkan putri kecilnya yang diberi nama Velicia Alves, sesuatu dengan nama perusahaan cabangnya yakni perusahaan Alves yang merupakan brand ternama di negara tersebut bahkan di seluruh dunia yang sudah di kenal oleh banyak orang, kini tuan Tora Alves dengan sengaja memerintahkan sang putra angkatnya untuk mencari keberadaan putri nya yang dulu sempat hilang, dia bahwa selama ini terus mencari keberadaan putrinya dengan berbagai cara dan segala usaha namun sayangnya masih belum ada petunjuk yang bisa dia dapatkan untuk menemukan keberadaan putrinya tersebut.


Tuan Tora hanya mengetahui bahwa putri kecilnya tersebut memiliki sebuah tanda lahir di pergelangan tangannya yang berbentuk bulat cukup besar tetapi berwarna coklat berbeda dengan tanda lahir orang pada umumnya dan dia hanya memiliki foto masa kecil putrinya saja, sehingga semua itu yang menyulitkan dia untuk mencari keberadaan putrinya sebab sudah pasti sekarang putrinya sudah tumbuh menjadi besar dan kemungkinan usianya sekitar 17 tahun sekarang ini.


Leo yang menjadi urusan khusus dari tuan Tora, dia tentu akan melakukan segalanya sebab dia sangat patuh kepada tuan Tora dan dia memiliki balas Budi yang sangat besar sebab tuan Tora sudah mengangkat dia sebagai putranya sendiri juga memberikan banyak hal yang luar biasa dalam hidupnya, kini Leo melihat Vivian sangat mirip dengan semua ciri-ciri yang dia dapatkan dari informasi tuan Tora sendiri.


Hanya saja Leo pikir Vivian tidak mungkin menjadi adiknya yang dia cari sebab sudah jelas bahwa Vivian memiliki nama panjang Wheeler yang dimana merupakan putri kedua dari keluarga Wheeler sehingga dia tidak bisa memastikan kecurigaannya tersebut.


Dia terus melamun memikirkan hal tersebut sambil terus menatap dengan lekat kepada Vivian saat itu, sampai aku sendiri merasa resah dan kebingungan saat melihatnya.


"Ehhh... Kak Leo kenapa kau menatapku seperti itu, apa kau mau makanan milikku?" Ujarku kepadanya,


"Ahh ... Tidak aku hanya merasa kau begitu cantik hari ini" balas Leo yang langsung memalingkan ucapannya karena dia hampir saja akan ketahuan saat itu.


"Aishh ... Kenapa aku harus mengatakan hal semacam itu, aahhh harusnya aku mengalihkan pada hal lain" batin Leo merasa resah sendiri.


Aku hanya tersenyum saja melihat wajah kak Leo yang langsung berubah salah tingkah sendiri saat itu, dan aku sama sekali tidak terlalu membawa ucapannya pada perasaanku karena aku memang hanya menganggapnya sebagai teman biasa saja.


Setelah makan dengan kenyang dan lahap, aku tidak sengaja melihat jam di tangan kak Leo yang sudah menunjukkan jam sembilan malam dan aku sangat kaget ketika mengetahuinya karena aku takut tuan Lukas akan mengunci aku lagi di luar seperti sebelumnya dan itu sangat menyebalkan untukku.


"Ohhh ... Astaga... Kak apa ini benar-benar sudah jam sembilan malam?" Tanyaku kepadanya memastikan sambil langsung saja aku memegangi tangan kak Leo untuk melihat jam di tangannya dengan lebih jelas,


Leo sendiri justru malah langsung memebalalakkan matanya kaget dan dia merasa sangat gugup ketika Vivian memegangi tangannya dengan cara seperti itu, dia hanya bisa mengangguk saja menanggapi ucapan Vivian yang bertanya waktu kepadanya.


"Astaga ... Aku sudah terlalu lama, aku harus pergi kak, terimakasih atas traktirannya, lain kali aku akan membalas kebaikanmu, dan terimakasih untuk obatnya aku harus pergi, sampai jumpa lagi kak" ucapku kepadanya sambil melambaikan tangan dan berlari keluar dari restoran itu dengan cepat.


Aku juga langsung mengehentikan taxi yang lewat disana secara kebetulan saat itu, karena tidak mungkin jika aku menaiki bus sebab itu membutuhkan waktu yang lebih lama sedangkan aku hanya memiliki waktu satu jam saja sebelum jam sepuluh malah dan pintu akan benar-benar di kunci lagi oleh tuan Lukas.


Disisi lain Leo yang baru sadar dia merasa aneh dengan dirinya sendiri dan apa yang dia rasakan barusan ketika Vivian menyentuh tangannya dan dia tidak bisa berkutik sedikitpun, padahal saat itu dia ingin sekali menahan Vivian dan mengantarnya pulang sendiri bukan malah seperti ini.

__ADS_1


"Aaahhh ....ada apa denganku? Aishh.....dia juga pergi terlalu cepat, aku tidak tahu apapun tentangnya, aku harus mencari tahu siapa Vivian itu sebenarnya" ucap Leo sambil mengepalkan tangannya.


Dia juga langsung pergi dari restoran tersebut dan berniat untuk mencari tahu semua hal tentang Vivian dan mencari informasi lebih banyak mengenai Vivian sebab dia masih merasa curiga dengan tanda yang ada di pergelangan tangannya itu.


Saat aku berada di dalam taxi sayangnya taxi itu justru malah mogok di jalanan begitu saja dan aku merasa sangat sial malam itu.


"E...e..ehhh...pak kenapa tiba-tiba berhenti, aku sedang terburu-buru sekarang" ucapku kepada sang supir,


"Maaf tapi sepertinya mobil saya kehabisan bensin, saya lupa mengisinya tadi, maafka saya" ucap sang supir yang membuat aku langsung merasa kesal dan membelalakkan mataku sekaligus.


"A..a..apa? Kehabisan bensin, aishhh.... Kenapa gak seperti ini bisa terjadi, aahhh ya sudah aku sampai disini saja ini ongkosnya" ucapku kepada supir tersebut dan aku terpaksa harus turun disana saat itu juga.


Aku langsung berlari mencari taxi lain yang bisa aku naiki namun sayangnya sulit sekali mencari taxi yang kosong di jalanan ramai seperti itu, aku sudah berusaha mencarinya dan berusaha menghentikan beberapa taxi yang lewat sayangnya semua taxi itu membawa penumpang dan aku tidak bisa menumpangi nya.


Aku sungguh merasa kesal sehingga aku terus berjalan cepat sambil berusaha mencari taxi atau kendaraan lain yang bisa aku gunakan agar aku bisa segera sampai di kediaman tuan Lukas sebelum jam sepuluh malam, hingga akhirnya malah bus lagi yang aku dapatkan, meski bus itu sangat penuh aku tidak memiliki pilihan lagi dalam situasi yang mendesak seperti itu.


"Aahhh....bodoh amat yang penting aku harus kembali ke kediaman tuan Lukas dengan cepat" ucapku sambil segera masuk ke dalam bus itu.


Sampai akhirnya aku sudah sampai di depan rumah tuan Lukas dan aku langsung saja berlari sekencang yang aku bisa sampai saat itu aku melihat pintu hampir saja di tutup dari dalam, tapi untungnya aku masih sempat menahan pintu itu agar tidak di tutup oleh tuan Lukas.


"A. AA ..ahhhh...tunggu tuan aku akan masuk!" Ucapku sambil menahan pintu itu dengan mata yang terbelalak lebar juga nafas yang terengah-engah.


"Hah....hah.....hah.....tuan aku mohon izinkan aku untuk masuk aku akan memasak makanan yang sangat enak dan spesial untukmu makan malam tolong jangan biarkan aku di luar lagi aku mohon tuan" ucapku memohon kepadanya.


Padahal saat itu tuan Lukas sendiri tidak bermaksud untuk menutup pintu dan menguncinya dia hanya menutup pintu karena sudah menunggu kedatangan Vivian sangat lama sehingga saat itu memutuskan untuk menutup pintunya dulu tanpa menguncinya, tapi karena saat itu Vivian sudah mengira dia akan mengunci pintunya tuan Lukas menjadi memiliki ide cemerlang untuk menggodanya saat itu.


Sekaligus dia ingin memastikan apakah Vivian masih marah dengannya atau tidak, sebab sebelumnya dia sendiri juga merasa sangat cemas dengan keadaan Vivian karena dia pergi begitu saja setelah berbicara sangat berani kepadanya.


"Ada apa dengan bocah ini, bukankah tadi siang dia marah-marah kepadaku, aku pikir aku harus membujuknya untuk tidak marah tapi dia malah menduga aku tidak akan membiarkan dia masuk, dasar bocah konyol" batin tuan Lukas memikirkan.


"Tuan.... Kenapa kau diam saja, aku janji aku akan benar-benar memasak makanan yang enak untuk makan malamnya, tapi tolong jangan biarkan aku di luar lagi" ucapku kepadanya memohon untuk ke sekian kalinya,


"Huh.... Baiklah ayo masuk dan cepat masakan aku makan malamnya" balas tuan Lukas yang akhirnya mengijinkan aku untuk masuk.


Aku merasa senang dan langsung saja masuk ke dalam hingga berlari dengan cepat ke dapur masih dengan membawa kotak obat yang di berikan oleh kak Leo kepadaku sebelumnya.

__ADS_1


Sedang disisi lain tuan Lukas yang melihat ke arah lutut juga tangan Vivian yang sebelumnya dia tunjukkan terluka dan lecet kini dia sudah melihat bahwa semuanya sudah di obati sehingga dia bisa merasa sedikit lebih lega.


__ADS_2