Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Di Periksa Dokter


__ADS_3

Dia pun segera mendekati Vivian dan menempelkan tangannya tersebut pada kening Vivian hingga dia membelalakkan matanya merasakan suhu tubuh Vivian yang sangat tinggi.


"Aaahh ....kenapa dia bisa panas seperti itu, aishh dia pasti demam, bagaimana bisa dia malah tidur disini disaat demam" gerutu tuan Lukas lagi dengan mengerutkan keningnya.


Dia pun mencoba untuk membangunkan Vivian dan menyuruhnya untuk pindah ke kamar karena dia harus makan malam juga, sedangkan dia tidak mungkin makan sambil melihat orang sakit di hadapannya seperti itu.


"Hey....bangun.... Gadis bodoh bangun!" Ucap tuan Lukas sambil menggoyangkan tangan Vivian.


Aku mulai mengerjakan kedua mataku dan melihat tuan Lukas yang sudah berada di hadapanku, aku pun mulai tersenyum kepadanya karena saat itu aku sungguh tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.


"Kamu.... Hmm akhirnya kau menemuiku, aku sudah menunggumu sangat lama, kemana saja kau selama ini? Ini sudah dua belas tahun" ujarku begitu saja.


Perkataan itu membuat tuan Lukas mengerutkan keningnya lagi karena tidak mengerti dengan apa yang tengah dikatakan oleh Vivian olehnya.


Entah saat itu mungkin karena aku tengah demam sehingga aku kehilangan kesadaranku dan aku terus saja berbicara seenaknya kepada tuan Luka aku mengatakan semua hal yang ingin aku katakan termasuk mengenai kesedihan yang aku rasakan sebab Cecil juga kedua orang tua angkatku yang dengan sengaja malah membunuh bi Ida seperti itu.


"Tuan Lukas....bisakah kau tidak kasar kepadaku? Bisakan kau tidak menyuruhku membereskan rumahmu yang besar ini, aku lelah, tanganku kecil dan tidak sanggup untuk membersihkan semua bagian di sini" ucapku yang ngelantur tidak jelas.


Tuan Lukas yang melihat itu dia pun terpaksa langsung menggendong Vivian dan membawanya ke kamar lalu dia menyuruh dokter pribadinya untuk datang memeriksa Vivian ke sana dengan segera.


Hingga sesampainya dokter ke sana dia segera di periksa oleh dokter sedangkan tuan Lukas menunggunya di luar dengan perasaan yang bingung juga terus memikirkan mengenai ucapan yang keluar dari mulut Vivian sebelumnya.


"Apa yang dia katakan tadi? Dia bilang dia sudah menunggu aku selama dua belas tahun lamanya? Apa mungkin dia selama ini memang mengatakan yang sebenarnya kepadaku?" Gerutu tuan Lukas memikirkan itu terus.


Namun disaat dokter keluar dan selesai memeriksa keadaan Vivian dokter pun mengatakan bahwa demamnya sudah turun dia hanya kecapean dan membutuhkan banyak istirahat saja, sehingga dokter langsung pergi saat itu juga, tuan Lukas segera mengantarkan dokter itu hingga ke pintu depan dan dia segera kembali ke kamar Vivian dia mengintip dari balik pintu kamar tersebut.

__ADS_1


Dan melihat Vivian yang sudah bisa tidur dengan lelap, hingga dia pun kembali keluar dan menutup pintu itu dengan rapat.


"Sebaiknya aku menanyakan semua itu kepada dia nanti saja, aku juga mungkin terlalu memaksakan dia untuk bekerja di rumah ini seorang diri" tambah tuan Lukas mulai memikirkan.


Dia segera kembali ke kamarnya dan langsung menghubungi sekretaris kepercayaannya untuk menemukan seorang pelayan yang ada dia kerjakan di rumahnya namun dia meminta seorang pelayan perempuan yang tidak terlalu tua namun juga tidak terlalu muda dia juga minta satu saja dan memutuskan bahwa besok pagi harus ada di kediamannya.


Termasuk sekretaris itu juga yang harus menjelaskan mengenai semua peraturan di kediaman tuan Lukas tersebut.


Sampai ke esokan paginya disaat aku bangun ku lihat jam sudah menunjuk ke arah angkat sepuluh dan aku sangat kaget ketika melihat hal tersebut.


"Aaahhh ......astaga....sudah jam sepuluh, aduhhh....aku bangun kesiangan bagaimana aku belum menyiapkan sarapan untuk tuan Lukas apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ucapku merasa heran dan kebingungan sendiri,


Aku segera bangkit dari tidurku dan segera membersihkan diri dengan cepat meski kepalaku masih terasa sedikit sakit dan pusing namun aku mengesampingkan rasa sakit tersebut dan buru-buru pergi ke dapur namun ku lihat sudah ada tuan Lukas yang tengah menikmati sarapan ya di depan meja makan juga ada seorang wanita yang cukup tua, dia menyajikan makanan itu ke atas meja.


"E...eh....tu..tuan, siapa dia?" Tanyaku kepadanya dengan heran,


Aku juga merasa sedikit tidak enak karena sudah merepotkan dia sebab sakit semalam tapi aku masih belum mengingat apapun yang terjadi kepadaku malam tadi sehingga akunhanya mengangguk patuh saja kepadanya dan aku segera membantu bibi itu untuk membereskan makanan ke dapur.


"Aaahhh....bi ini biar aku saja, bibi bisa kerjakan yang lain, maaf merepotkan kamu untuk memasak bi, seharusnya itu tugasku" ucapku merasa tidak enak pada pelayan baru itu,


"Tidak papa gadis cantik, kita sama-sama bekerja disini jadi kita harus saling membantu" balas bibi itu yang terlihat sangat baik.


Ketika melihat wajahnya dan mendengar perkataannya entah kenapa aku merasa bibi itu mirip seperti bi Ida yang selalu mengatakan hal seperti itu kepadaku dahulu.


Namun sayangnya sekarang bi Ida sudah pergi meninggalkan aku dan aku tidak akan bisa menemuinya lagi, aku pun segera memperkenalkan diri kepada bibi itu agar kami menjadi lebih akrab antara satu sama lain nantinya.

__ADS_1


"Aahhh...bi boleh aku tahu siapa namamu?" Tanyaku kepadanya,


"Kenalkan nama bibi bi Ida bibi sudah bekerja sangat lama sekali sebagai pelayan di rumah-rumah yang mewah termasuk rumah yang seperti ini, jadi bibi sudah terbiasa membersihkan semuanya" balas bibi itu menjelaskan.


Saat bibi itu memperkenalkan namanya kepadaku dan dia menyebut nama Ida itu membuat aku semakin teringat kepada sosok bi Ida, bibi yang sudah aku anggap seperti ibuku sendiri dan tanpa sadar aku tiba-tiba saja termenung sambil menitikan air mata, hingga bibi itu menyadarkan aku lagi.


"Neng ...neng....apa Eneng baik-baik saja?" Tanya bibi itu sambil menggoyangkan sebelah tanganku.


Bukan hanya namanya saja yang sama namun cara bicaranya juga sama hanya saja binIda yang dulu dia memanggil aku nona bukan eneng namun aku sama sekali tidak keberatan dengan masalah panggilan seperti itu.


Apapun yang dia sebutkan saat berbicara denganku aku selalu suka dan tidak mempermasalahkan masalah itu selagi nama panggilannya bukan mengejekku atau hal negatif lainnya.


"Ahh....aku....aku baik-baik saja bi, aku hanya mengingat dengan bi Ida yang dulu aku kenal, namanya sama dengan namamu dan aku merindukan dia" balasku dengan jujur kepada bibi itu,


Dia tiba-tiba saja mengusap punggungku pelan dengan lembut dan memberikan nasehat kepadaku.


"Eneng, apapun masalah yang menimpamu, bibi yakin eneng cantik pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan penuh kesabaran dan ketabahan sebab yang menjadikan manusia kuat sesungguhnya adalah kesabaran dan ketabahan mereka, jadi eneng jangan berlarut-larut dalam kesedihan seperti itu" ucap bi Ida kepadaku.


Mendengar nasihat darinya aku sangat senang dan terus tersenyum mengangguk patuh padanya dan segera mengusap air mata yang mengalir di pipiku.


Aku sangat senang karena aku seperti menemukan bi Ida yang baru namun dengan karakter yang sama, dia juga membantu aku membersihkan meja dan yang lainnya karena ini hari Minggu sehingga aku hanya diam saja di rumah serta membantu bi Ida membereskan rumah sedangkan tuan Lukas terlihat pergi berolahraga ke luar dan aku belum melihatnya lagi.


Jika dia berolahraga dengan joging juga lainnya aku justru sudah berolahraga dengan membersihkan rumahnya yang luas ini.


Turun tangga setiap hari menyapu lantai dan mengepelnya itu juga sangat melelahkan dan seperti sama saja dengan kita berolahraga yang lainnya karena yang terpenting adalah keringat kita keluar dan kita bisa merasa bugar setelahnya.

__ADS_1


Tapi jika sudah membersihkan rumah aku bukan merasa bugar saja namun seluruh badanku terasa pegal dan aku sangat lelah bahkan itu lebih lelah dari pada olahraga yang lainnya yang biasa dengan sengaja di lakukan oleh orang-orang kaya di sekitar kompleks perumahan elit itu.


__ADS_2