
Aku menatapnya dengan heran sampai pria tersebut mulai membuka topengnya tersebut dengan perlahan dan itu membuat aku semakin penasaran untuk melihat wajahnya karena dia tiba-tiba saja mengajak bicara kepadaku begitu saja seakan dia telah mengenalku sedangkan aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya itu.
Hingga ketika pria itu sudah membuka topeng yang menutupi bagian matanya tersebut aku sangat kaget melihat ternyata dia adalah pria yang aku tolong kala itu, dia adalah pria yang mengalami kecelakaan di jalan raya beberapa hari yang lalu dan aku menolong dia hingga membayarkan biaya rumah sakit untuknya.
Dia menatap tersenyum begitu ramah kepadaku sedangkan aku refleks menutup mulut dengan kedua tanganku saking kagetnya melihat itu ternyata adalah dia.
"Wahhh.... KA...kamu, ini sungguh kamu? Pria yang kecelakaan saat itu?" Tanyaku kepadanya sambil memegangi wajahnya untuk memastikan.
Dia sama sekali tidak marah bahkan ketika aku menangkup wajahnya tersebut dengan kedua tanganku dan aku memegangi tangannya karena aku pikir dia adalah hantu.
"Wahhh... Kau sungguh manusia rupanya, ahhh.. maafkan aku aku sudah bersikap tidak sopan kepadamu, maafkan aku" ucapku sambil segera menarik kembali tanganku dan merasa malu kepadanya.
Aku benar-benar bersikap bodoh di hadapannya karena sudah sudah memegangi wajah dan tangannya secara sembarangan seperti tadi dan sekarang justru aku tidak bisa memasang wajah kepadanya, namun dia justru malah tertawa kecil menanggapi ucapanku yang meminta maaf dengan penuh rasa malu kepadanya.
"Ahaha... Kau ini memang sangat lucu, santai saja lagi pula aku saat itu memang hampir mati jadi wajar jika kau mengira aku adalah hantu gentayangan, tapi aku sungguh manusia dan masih hidup dengan sehat saat ini" balas dia sambil tersenyum padaku,
"A...ah... Iya aku sangat senang mengetahui kau sembuh dan baik-baik saja seperti ini, saat itu aku sungguh ngeri ketika mengingat kejadian kecelakaan mu" balasku kepadanya.
Dia terlihat menghembuskan nafas yang berat dan aku refleks langsung menatap dia dengan menaikkan kedua alisku bersamaan, karena raut wajahnya langsung berubah cepat ketika aku membahas mengenai kecelakaan saat itu.
"Oh... Maafkan aku jika kau merasa tidak nyaman karena aku menyinggung masalah kecelakaan saat itu" ujarku kepadanya lagi,
"Tidak masalah aku tidak keberatan jika kau membahasnya justru aku akan menceritakan semuanya kepadamu, karena aku butuh teman untuk berbagi cerita, tapi sayangnya aku tidak memiliki siapapun di sampingku selama ini, apa kamu mau menjadi temanku dan mendengarkan ceritaku?" Ucap pria itu sambil menatapku dengan lekat.
Aku sebenarnya sangat tidak enak kepadanya tapi melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu aku merasa tidak tega dengannya meski dia terlihat seperti orang kaya tapi aku pikir dia bukanlah orang jahat sehingga saat itu aku tidak bisa berpikir panjang lagi dan langsung saja menyetujui ucapannya itu.
"Baik aku akan menjadi temanmu mulai saat ini, ayo bersalaman untuk meresmikannya" ucapki dengan tersenyum dan mengulurkan tanganku kepadanya.
Pria itu langsung bersalaman denganku dan kami melihat langit bersamaan sampai tidak lama ketika acara sudah selesai Bimo dan Elis menghampiriku sedangkan disaat aku hendak mengenalkan pria tersebut kepada mereka dia menghilang entah kemana.
"Vivian... Aahhh.. kenapa kamu tidak ikut berpesta, padahal pestanya sangat seru loh" ucap Elis padaku,
"Iya, sayang sekali semuanya sudah selesai sekarang, huuuh... Aku sudah sangat lelah. Ayo kita pulang" ajak Bimo kepada kami,
"Ehhh..... Tunggu aku mau memperkenalkan seseorang teman baruku kepada kalian" ujarku menahan mereka berdua dengan cepat.
Elis dan Bimo langsung saling tatapan satu sama lain dan mereka terlihat menatapku dengan heran, aku tersenyum pada mereka dan langsung saja hendak memperkenalkan pria tadi kepada mereka namun saat aku berbalik dan hendak menanyakan namanya pria itu tidak ada di sampingku.
"Kenalkan dia... Ehhh... Iya siapa namamu....." Ucapku sambil menatap kaget dan terus mencari kesana kemari keberadaan pria tersebut.
Aku merasa sangat heran dan kebingungan saat itu ketika melihat pria tadi tidak ada di sampingku, padahal sebelumnya aku mengobrol dengan dia dan dia jelas duduk serta kakinya menatap di tanah, bahkan aku sudah memegangi tubuhnya sebelum itu.
"Heh... Vivian siapa yang kau sebut teman barumu itu, dimana dia?" Tanya Bimo kepadaku,
"Di...di..dia ada disini tadi, dia duduk di sampingku dan kita menatap langit beberapa saat yang lalu sampai kalian datang menghampiri aku, aku masih yakin dia ada di sampingku saat itu, apa kalian tidak melihatnya?" Balasku kepada Bimo dan Elis dengan sangat yakin.
__ADS_1
Tapi mereka langsung menggelengkan kepala bersamaan dan aku langsung membuka mataku dengan lebar dan sangat aneh ketika melihat mereka berdua menggelengkan kepala seperti itu.
"A...apa yang kalian maksud, kalian sungguh tidak melihatnya?" Tanyaku lagi untuk memastikan,
"Vivian sepertinya kau memang lebih lelah daripada aku, sudah ayo kita pulang sebelum otakmu itu semakin eror" ujar Bimo sambil langsung menarik tanganku pergi dari sana.
Elis juga menarik tanganku yang satunya sehingga aku terpaksa mengikuti mereka dan masuk ke dalam mobil milik Elis, selama perjalanan aku terus saja tidak fokus dan memikirkan tentang pria aneh tersebut.
Antara kaget, takut dan bingung menyatu di dalam perasaanku karena aku benar-benar tidak menduga melihat pria itu lagi setelah terakhir kali mengantarkan dia ke rumah sakit dan keadaannya cukup parah saat itu, bahkan aku juga sempat memberikan semangat kepadanya agar dia memiliki semangat untuk hidup dan tetap bertahan.
Bahkan sampai ketika Elis menghentikan mobilnya di halte bus aku dan Bimo segera turun di halte bus yang sama dan untungnya bus jurusanku datang lebih dulu sehingga aku langsung berpamitan kepada Bimo saat itu, aku terus termenung memikirkan pria itu sampai ketika tiba di kediaman tuan Lukas.
Aku sama sekali tidak menghiraukan keberadaanku tuan Lukas yang saat itu tengah duduk di sofa ruang tengah dan aku hanya melewati dia begitu saja sampai ketika aku memegang gagang pintu kamarku, dia langsung memanggil aku dan membuat aku langsung tersadar saat itu juga.
"Hey.... Apa kau sudah mengabaikan aku? Beraninya kau melakukan itu kepada tuan rumah dan tunanganmu ini!" Ujar tuan Lukas dengan sinis dan suaranya yang begitu datar.
Aku langsung tersadar dan segera berbalik menghadap dia secara perlahan dengan perasaan yang gugup dan sedikit senang karena tuan Lukas mengakui aku sebagai tunangannya.
"Ehehe... Tuan apa tadi kau bilang aku tunanganmu? Apa sekarang kamu sudah mengakui aku dengan resmi? Apa aku juga boleh mengatakan kepada teman-temanku bahwa kau adalah tunanganku?" Ucapku kepadanya menatap dia dengan perasaan yang senang.
Tuan Lukas langsung memalingkan pandangannya sejenak kepadaku dan dia langsung berdiri dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya tersebut.
"CK.... Dasar kau, siapa bilang aku sudah mengakhiri secara resmi, tadi aku hanya salah bicara, sudah kau memasak sekarang!" Bentak tuan Lukas dengan sinis kepadaku.
Aku pun langsung merasa sedih dan tertunduk dengan lesu, segera aku berjalan pelan ke dapur masih mengenakan kostum helloween tersebut di badanku, disaat aku hendak berjalan ke dapur lagi-lagi tuan Lukas memanggil aku dan membuat aku kembali berbalik kepadanya dengan lesu dan wajah yang di tekuk cemberut.
"Ada apa lagi tuan, aku akan memasak ini" balasku dengan lesu,
"Apa kau orang gila? Ganti pakaianmu dahulu sebelum kau memasak, aishhh.... Penampilanmu itu sangat mengganggu mataku yang melihatnya, cepat sana!" Ujar tuan Lukas sambil menghentakkan kakinya ke lantai cukup keras.
Aku segera berjalan cepat masuk ke dalam kamarku dan segera berganti pakaian dengan terburu-buru, alhasil karena aku terburu-buru dan tuan Lukas terus saja berteriak menyuruh aku untuk segera keluar dari kamar aku pun mengambil pakaian dengan asal.
"Heh.... Siput aishh... Kenapa kau sangat lama? Cepat aku sudah lapar!" Teriak tuan Lukas mendesakku.
Aku segera memakai pakaian dengan cepat dan mengambil pakaian apa saja yang terjangkau oleh tanganku saat itu sehingga aku keluar dengan memakai piyama yang kancing bajunya tidak benar, sehingga saat aku keluar dan berjalan cepat menuju dapur tuan Lukas menghentikan aku dengan merentangkan tangannya dan sebelah tangannya itu hampir saja mengenai jidatku.
"Ee...e..eeehhh.. tuan ada apa lagi, kenapa kau menahanku seperti itu, bukankah kau sudah tidak tahan lapar yah, aku harus segera memasak sekarang" ucapku kepadanya dengan heran.
"Lihat pakaianmu apa kau itu buta hah, atau memang otakmu sudah terganggu, bisa bisanya kau memasang kancing pakaian seperti itu" balas tuan Lukas sambil melirik ke arah pakaianku.
Saat aku melihatnya aku kaget dan langsung membelalakkan mataku dengan kaget dan langsung membenarkannya sambil berjalan menuju dapur, aku sungguh merasa sangat malu selama memasak aku terus menggerutu seorang diri merutuki kebodohan dan kecerobohan yang aku lakukan di hadapan orang yang aku cintai.
Aku sungguh merasa sangat malu dan tidak tahu dimana harus menyimpan wajahku ini ketika berhadapan lagi dengannya nanti.
"Aaahhh... Bodoh... Bodoh memang aku ini sangat ceroboh, bagaimana bisa aku memasangkan kancing pakaian seperti tadi aahh itu sangat memalukan aku pasti mirip seperti orang gila tadi" gerutu aku memikirkan dengan resah.
__ADS_1
Bahkan ketika selesai memasak aku segera menyajikan makanan itu dan menaruhnya diatas meja sambil tertunduk dan sengaja mengesampingkan rambutku untuk menutupi wajahku agar aku bisa menutupi sedikit rasa malu di dalam diriku kepada tuan Lukas.
"Ini makanannya tuan silahkan di nikmati" ucapku sambil langsung berlari sekencang-kencangnya menuju kamar dan menutup pintu cukup kencang.
"Hah.... Hah... Hah.... Ahhhh ini sangat memalukan sekali, aku sudah memakai pakaian kuntilanak di hadapannya dengan rambut berantakan dan tadi aku memakai piyama dengan kancing yang berantakan, ahhhh dia pasti akan semakin tidak menyukaiku, aduhh... Apa yang harus aku lakukan, sekarang akan semakin sulit membuat dia mengingat aku dan mempercayai bahwa aku adalah gadis kecil yang dia cari" gerutuku memikirkan dengan kesal.
Aku sungguh merasa sangat malu dan bingung untuk melakukan apa lagi saat ini, jantungku selalu berdegup kencang ketika berada di dekat tuan Lukas dan aku sendiri tidak bisa menahan diriku untuk tidak melihatnya, aku terlalu menyukai dia dan entah kenapa aku selalu merasa sangat yakin bahwa dia adalah pria buta yang menyelamatkan aku dari kolam saat itu kecil.
Sebab wajahnya itu terlihat mirip di mataku dan aku masih sangat mengingatnya dengan jelas karena aku tahu aku tidak akan melupakan wajah siapapun yang menyelamatkan aku atau berbuat baik kepadaku, terlebih dia adalah orang yang menyelamatkan nyawaku kala itu, tentu saja tidak mungkin aku melupakan dia dengan mudah.
Meskipun dia tidak buta seperti pria kecil itu namun aku tetap yakin dengannya aku duduk di ranjang dan kembali memegang tongkat orang buta yang dia tinggalkan kala itu, aku hanya bisa mengusap tongkat itu dan memeluknya setiap kali aku merindukan pria penolongku tersebut, dan aku selalu berharap dia yang akan menjadi jodohku.
"Pria buta, kapan kamu akan datang menemui aku, jika seandainya kamu bukan tuan Lukas aku masih akan memilih kamu meski aku menyukai tuan Lukas karena aku akan lebih mencintaimu dan sangat menunggumu untuk waktu yang lama, kapan kamu akan datang padaku pria buta" ucapku berbicara sendiri yang diakhiri dengan hembusan nafas yang berat.
Sedangkan disisi lain tuan Lukas justru tertawa kecil mengingat kekonyolan yang dilakukan oleh Vivian hari ini, dia terus tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum lebar setiap kali dia mengingat momen dimana Vivian mengenakan kostum kuntilanak buatannya itu apalagi melihat rambutnya yang berantakan dan dandanan yang cemong tidak jelas dengan lipstik merah di seluruh wajahnya.
"Ahahaha... Dasar gadis konyol, dia sangat mirip dengan hantu sungguhan saat itu, ahaha" ucap tuan Lukas berniat sendiri di depan meja makan.
Sebelum dia juga berniat untuk mengajak Vivian agar makan malam dengannya, namun karena Vivian langsung berlari kencang meninggalkan tempat itu sehingga tuan Lukas mengurungkan niatnya padahal saat itu dia sudah hampir membuka mulutnya.
Hingga dia merasa sangat kesal dan sebal karena Vivian malah pergi menghindarinya seperti itu, dia pun menikmati makanannya sendiri lalu segera kembali beristirahat ke kamarnya dengan cepat.
*****
Ke esokan paginya aku masih merasa sangat malu dan karena hari ini adalah hari libur dan aku juga tidak memiliki rencana dengan teman-temanku aku segera memasak dan menyiapkan sarapan untuknya lalu setelah itu aku segera pergi untuk joging di sekitar sana.
Sebenarnya aku bangun pagi-pagi sekali hari ini dan pergi jogig hanya untuk menghindari tuan Lukas karena aku masih merasa sangat malu kepadanya sebab kejadian tadi malam yang selalu melayang layang di kepalaku dan aku tidak berani menghadapi tuan Lukas untuk sementara waktu ini.
"Aaahh.... Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahnya yang tampan di pagi hari ketika dia baru bangun tidur dengan rambut yang setengah basah" gerutuku berbicara sendiri.
Aku terus berlari dengan sekuat tenagaku dan berolahraga dengan benar sampai tidak lama terdengar suara seseorang menghentikan aku dan membuat aku langsung berhenti lalu menoleh ke belakang dan melihat ternyata itu adalah pria yang semalam.
Pria yang aku tolong saat kecelakaan dan pria yang tiba-tiba saja menghilang malam tadi, dia muncul secara tiba-tiba dan kembali mengagetkan aku untuk yang ke tiga kalinya.
"Ya ampun..... KA..kau... bagaimana kau bisa ada di sekitar sini? Aaahhh sekarang aku tahu kalau kau manusia, apa kau hantu yah, sana menjauh dariku?" Ucapku langsung mundur beberapa langkah untuk menjauhinya.
Saat aku mengatakan itu dia malah tertawa kepadaku dan sama sekali tidak marah atau membela dirinya dengan benar.
"Aahahaha...... Kamu ini masih saja tidak mempercayai aku, aku manusia gadis lucu, kau lihat pakaianku dan kakiku yang menatap ke tanah, dan lihatlah aku dengan baik, aku sedang joging pagi ini, tentu aku seorang manusia karena tidak mungkin hantu berkeliaran di jam segini bukan?" Balas dia yang memang ada benarnya.
Aku sebenarnya ingin mempercayai ucapannya itu tetap dia yang menghilang secara tiba-tiba tadi malam membuat aku masih sulit mempercayai dia lagi dan dia yang tiba-tiba saja muncul di belakangku saat ini juga masih sangat aneh dan mengagetkan untukku.
"Te..te...tetap saja, kau menghilang tiba-tiba tadi malam, kau kemana saat itu?" Tanyaku kepadanya dengan gugup,
"Ahh... Masalah itu, jadi kau mengira aku hantu dan tidak mempercayai aku lagi karena kejadian semalam?" Balas dia kepadaku dengan wajahnya yang terus saja memperlihatkan senyuman.
__ADS_1
Dia memang pria yang hangat terlihat dari wajahnya yang terus saja tersenyum bersahaja setiap saat.