
Kini aku tidak lagi menyesal saat itu Cecil mendorongku, aku bisa bersama dengan tuan Lukas secara tidak langsung karena kejahatan yang dia berikan padaku saat itu, dan pertama kali aku menemukan dia lagi juga di hari ulangtahun Cecil juga dan saat itu Cecil juga yang mendorong aku hingga jatuh, tapi tuan Lukas juga yang membantuku, aku benar-benar merasa baik-baik saja sekarang.
Karena pahlawan kecilku sudah kembali, malaikat pelindungku sudah tiba, dia bisa melindungi aku untuk seterusnya mulai saat ini, dan aku sangat sangat mencintai dia sejak dulu hingga saat ini.
Selama di perjalanan aku meras sangat senang dan terus saja berusaha menahan senyum agar tidak terlihat terlalu jelas jika aku sangat senang sekali di ajak pergi seperti ini oleh tuan Lukas untuk pertama kalinya, hingga tidak lama kemudian setelah beberapa saat di perjalanan ternyata tuan Lukas justru malam membawa aku ke tempat dimana aku pernah tinggal dulu bersama keluarga Wheeler.
Nampak bangunan rumah yang dulu pernah aku tinggali itu sudah terbengkalai dan memang ayah sudah menjualnya saat itu, sekarang aku bahkan tidak tahu siapa pemilik rumah tersebut, padahal banyak sekali kenangan di rumah itu antara aku dan ayah, tapi aku selalu merasa benci dan kesal setiap kali melihat rumah itu lagi.
Sebab setiap kali melihat rumah itu, aku akan selalu ingat dengan kejadian-kejadian yang sangat menyedihkan yang aku alami dahulu saat aku masih kecil.
Aku tidak ingin mengingat semua kejadian yang sangat menyedihkan itu, aku benci melihat rumah itu aku sangat tidak ingin melihatnya namun tuan Lukas justru malah dengan sengaja membawa aku ke tempat yang paling tidak ingin untuk aku datangi selama ini, dan dia juga langsung keluar begitu saja sambil membukakan pintu mobilku saat itu.
"Vivian ada apa denganmu? Ayo turun aku akan membawamu ke tempat yang akan kamu sukai" ucap tuan Lukas kepadaku saat itu.
Tentu saja aku langsung membelalakkan mataku dengan sangat lebar saat mendengar dia mengatakan bahwa dia akan membawa aku ke tempat yang akan aku sukai padahal sudah jelas saat itu kami berada di depan rumah kediaman Wheeler sebelumnya beberapa tahun yang lalu.
Aku langsung menggelengkan kepala dengan kuat karena aku memang tidak ingin keluar untuk mihat rumah yang lebih banyak menyimpan luka di ingatan dan hatiku saat aku kecil, di rumah itu aku disiksa dan di rumah itu aku mendapatkan banyak sekali penderitaan selama hidupku, aku kehilangan masa kecilku yang seharusnya menjadi masa yang sangat menyenangkan untukku setiap anak ketika mengingatnya, namun aku sama sekali tidak bisa mengingat masa kecilku karena semuanya sangatlah menyedihkan dan membuat aku selalu kesal.
"Tidak....aku tidak ingin keluar, aku benci tempat ini" ucapku kepadanya dengan membelalakkan mata dengan sangat lebar.
Namun tuan Lukas terus saja memaksa aku untuk keluar dari dalam mobilnya, bahkan dia menarik terus tanganku dengan kuat dia sama sekali tidak mendengarkan ucapanku padahal aku sudah menceritakan sedikit tentang masa kecilku yang buruk pada dia sebelumnya namun seakan dia tidak mengerti aku sama sekali saat itu dan terus saja memaksa aku untuk keluar dari mobil.
"Vivian...ayolah keluar dahulu aku akan membawamu ke taman bermain itu, tempat dimana dulu kita selalu bertemu" ucap tuan Lukas kepadaku saat itu.
Ketika mendengar ucapannya aku bisa menjadi sedikit tenang dan akhirnya aku pun turun namun aku masih tetap tidak ingin mihat rumah itu walaupun kepenasaranan mataku untuk melihatnya tentu saja selalu ada.
Tapi tuan Lukas terus menggandeng aku dan membawa aku ke taman di samping rumah itu yang sekarang sudah di tempat oleh sebuah bangunan yang tidak tahu itu bangunan apa, aku sudah tahu itu dan sudah berusaha untuk memberitahu tuan Lukas sejak kemari malam, namun dia tetap saja tidak mempercayai ucapanku alhasil sekarang dia sendiri yang merasa kecewa ketika melihat tempat itu sudah tidak lagi sama seperti dahulu.
"Ehhh...kenapa sekarang jadi ada bangunan disini, bukankah ini benar tempatnya bukan?" Ucap tuan Lukas kebingungan sendiri saat melihatnya saat itu.
Aku menepuk jidatku sendiri dengan pelan, benar-benar tidak bisa habis pikir dengan pikirannya aku sudah memberitahu dia bahwa tempat itu sudah di tempati bangunan lain namun dia tidak mendengarkannya sama sekali.
"Sudahlah tuan, karena tempat ini juga sudah berubah, bisakah kita pergi saja dari sini sekarang" ucapku kepadanya.
Tuan Lukas akhirnya mengangguk dan dia mau segera pergi dari sana.
Aku pun merasa sangat senang karena akhirnya bisa benar-benar pergi dari tempat yang sangat menyebalkan itu, sedangkan kini justru malah wajah tuan Lukas yang terlihat berubah menjadi datar dan dia terlihat cukup murung saat itu, aku tidak tahu dia kenapa dan aku juga tidak tahu mengapa dia bisa sekecewa itu hanya karena tempat itu sudah tidak seperti dulu lagi.
Aku pun berusaha untuk mengajaknya bicara dan berusaha untuk menghiburnya saat itu, karena aku juga tidak bisa melihat dia terlihat merenung seperti itu, seperti terus saja merasa sedih tidak karuan.
"Eummm....tuan... bagaimana jika kita pergi ke taman bermain saja, atau ke tempat lain yang lebih menyenangkan, atau ke cafe, restoran dan tempat lainnya, apa kita menonton film saja bagaimana?" Ucapku kepadanya saat itu.
"Tidak mau" balas dia dengan datar dan bahkan tidak mirip ke arahku sedikitpun dia hanya menatapku dengan ujung matanya saja saat itu, aku sungguh sedikit kesal karena dia sulit sekali untuk di bujuk padahal aku sudah menawarkan banyak ajakan untuknya yang pasti ajakan itu akan sangat menyenangkan jika seandainya dia mau mengikutiku.
Aku pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar dan tidak tahu lagi bagaimana bisa membuatnya merubah wajahnya yang terus terlihat datar seperti itu.
"Kalau begitu sekarang kita mau kemana? Aku sudah memakai pakaian terbaik untuk pergi denganmu kenapa kau malah murung seperti itu, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana denganmu sekarang" balasku kepadanya dengan tertunduk dan kembali menghembuskan nafas dengan lesu saat itu.
Tuan Lukas sendiri mulai melirik sedikit ke arahku saat itu dan aku tahu dia tersenyum perlahan saat itu dan aku pikir itulah kesempatan untukku membuat dia agar mau mengikutiku.
"Tuan kau ketahuan aku tahu kau baru saja tersenyum, kau harus ikut dengan apa yang aku ingin lakukan hari ini apa kau mengerti?" Ucapku kepadanya sambil menatap tajam padanya.
__ADS_1
Dia terlihat baru saja ingin membuka mulut menjawab ucapan dariku namun dengan cepat aku mendahului ucapannya karena aku tidak ingin mendapatkan penolakan darinya ataupun dia yang akan beralasan di luar akal ku.
"Eeetttssstt....sudah jangan menjawabku, kau tidak bisa menolak keinginanku atau pun mengganti keinginanku, ini hukuman dariku karena kau sudah melupakan aku sebelumnya" ucapku kepadanya saat itu.
"Aku tidak melupakanmu, aku hanya tidak tahu namamu dan aku tidak tahu wajahmu, aku hanya salah mengenalimu" balas dia yang masih saja tidak mau kalah dan salah saat itu.
Padahal sudah jelas bagiku semuanya sama saja dia tidak mengenalku atau dia tidak mengingat aku, padahal jika dia mengingat aku harusnya dia juga memeriksa Cecil sebelum terus saja percaya dengan semua ucapan nyony Wheeler dan Cecil yang mengaku sebagai aku hanya karena dia memiliki rambut yang hitam sama seperti aku dan dari keluarga Wheeler padahal dulu aku juga punya rambut yang jauh lebih baik daripada miliknya sekarang.
"Tetap saja itu sama, intinya kau harus mengikuti aku dan menurut denganku hari ini, apa kau mengerti tuan Lukas" ucapku kepadanya.
"Emm..." Balasnya hanya seperti itu saja membuat aku sangat tidak puas mendengar jawaban darinya saat itu.
Dia sama sekali tidak terlihat memiliki semangat untuk pergi jalan denganku, aku menjadi kurang senang mendapatkan reaksi darinya yang hanya seperti itu saja, sedangkan aku sendiri begitu bersemangat sekali untuk pergi jalan berdua menghabiskan waktu dengannya hari ini.
"Tuan apa kau tidak menyukai aku lagi ya, apa kau memang hanya menyukai Cecil sama seperti yang di katakan oleh Elis dan Bimo sebelumnya?" Ucapku mencurigai dia sekarang,
Tuan Lukas langsung saja menatap ke arahku dan dia menaikkan kedua alisnya saat itu.
"Eehhh ..ada apa denganmu gadis kecil, apa kau sedang mengintrogasi aku, cemburu denganku atau kau sedang menguji kesabaranku?" Balas tuan Lukas balik bertanya kepadaku saat itu sambil mengusap lembut bagian atas kepalaku saat itu.
Aku tetap memberikan tatapan tajam kepadanya dan aku tetap saja tidak bisa membiarkan dia begitu saja, aku langsung saja menghempaskan tangan dia yang mengusap kepalaku saat itu dan terus menatap ke arahnya lebih tajam lagi saat itu, untuk memberikan dia rasa serius dan takut denganku walaupun aku tahu dia jauh lebih menakutkan daripada apapun di dunia ini.
Sampai tidak lama kemudian ketika aku terus saling tatap dengannya dalam waktu beberapa saat, akhirnya dia pun tersenyum kepadaku dan aku langsung memalingkan pandangan darinya karena aku takut tidak bisa menahan diri ketika melihat wajahnya yang tersenyum seperti itu dan membuat dia terlihat semakin tampan dari sebelumnya dan aku tidak akan bisa lagi memasang wajah galak kepadanya.
"....hey ..aku tahu kau ingin tersenyum bukan? Jangan menahannya gadis kecil kau terlihat sangat lucu ketika marah seperti itu dan aku semakin menyukaimu dalam setiap saat apalagi saat melihat tingkahmu itu" ucap tuan Lukas kepadaku dan membuat aku hampir saja runtuh dengan dinding pertahanan diriku saat itu.
"Aaahh... bagaimana dia bisa bicara semanis ini, aku tidak akan bisa melewatkannya jika dia terus seperti ini" batinku yang sudah tidak tahan dengan dia.
Aku menarik nafas panjang dan mulai berusaha untuk melihatnya lagi karena dia sudah kembali fokus menyetir, aku mulai meminta dia untuk pergi menuju mall terdekat disana dan aku sungguh ingin pergi ke tempat bermain dimana aku bisa memainkan banyak permainan disana, aku juga ingin bermain dengan sepuasnya bersama tuan Lukas.
Hingga ketika sampai disana dan sudah masuk ke dalam zona bermain terlihat banyak sekali permainan yang tersedia disana, sedangkan tuan Lukas terlihat terus saja mengerutkan kedua alisnya yang hampir menyatu saat itu, sejak dia masuk dan melihat semua anak-anak yang begitu banyak disana dia langsung merasa tidak sudah dan hampir akan memutar balik badannya untuk pergi saat itu, namun untungnya aku berhasil menahan dia dengan cepat juga sehingga masih bisa menahannya.
Walau aku harus menarik tangannya dengan kuat untuk masuk ke dalam, walau tuan Lukas terus saja berteriak tidak mau masuk ke dalam sana dan terus saja memegangi pintu masuknya aku terus berusaha untuk menarik dia dengan sekuat tenagaku.
"Aaahhh...aku tidak ingin masuk ini hanya tempat untuk anak nakal dan orang-orang yang tidak dewasa, ini bukan tempat untukku" ucap tuan Lukas sangat keras membuat beberapa orang melirik ke arah kami,
"Tuan ayo cepat masuk, kau akan terlihat lebih memalukan jika terus seperti ini" balasku kepadanya.
Hingga akhirnya tuan Lukas mau masuk ke dalam walau wajahnya terlihat cukup tertekan saat itu, aku juga berusaha menahan tawa karena melihat wajahnya yang sudah begitu pasrah melihat aku terus bermain dengan gembira tanpa henti, aku sudah memainkan permainan basket dan mendapatkan skor yang tinggi, aku juga sudah bermain motor-motor an disana bersama remaja lainnya yang saat itu mungkin duduk di bangku sekolah menengah atas sama denganku.
Aku mengajak tuan Lukas untuk ikut bermain basket disana denganku namun dia terus saja berdiri mematung tidak ingin melakukannya, selama aku terus bermain dengan gembira dan sangat senang, dia justru hanya berdiri di dekatku dengan wajah yang tertekan dan murung saat itu.
Aku tahu dia sangat tidak menyukai tempat ini tapi dia seharusnya mencoba untuk menyesuaikan diri bukan malah pasrah saja seperti itu.
"Tuan....ayo ambil bolanya kemari aku akan mengajarkanmu bagaimana cara memainkan permainan yang satu ini, ayo tuan kenapa kau diam saja seperti seorang robot sih" ucapku sambil segera menarik tangannya dan membuat dia berdiri di depan permainan bola basket tersebut.
"Huuuhhh....aku tidak bisa ini bukan tempat untukku" ucapnya begitu saja tanpa ekspresi sedikitpun di wajahnya.
Aku lagi-lagi harus menahan tawa melihat wajahnya yang sangat tertekan dan begitu pasrah, akhirnya aku juga yang harus mengajarkan dia dan menggerakkan kedua tangannya untuk mengambil bola di tempat tersebut dan melemparkannya hingga masuk ke dalam ring, aku terus melakukannya berkali-kali dan dia terus diam saja padahal aku sangat semangat dan begitu antusias sekali memainkannya.
"Ahahah....tuan ayo tuan cepat lemparkan kau jangan lemas begitu dong, tuan ayo haha" ucapku terus menyuruhnya bersemangat.
__ADS_1
Namun bukannya lebih bersemangat dia justru malah langsung saja tiba-tiba membalikkan badannya begitu saja tanpa aku duga, hingga aku tidak sengaja terpeleset dan menimpa wajahnya sampai wajah kami berdua terlihat begitu dekat satu sama lain saat itu.
Aku membuka mataku lebar dan merasakan detak jantungku yang cukup kuat saat itu, aku sulit mengendalikannya dan tidak tahu harus seperti apa saat itu, hingga tidak lama tuan Lukas justru malah mengecup pipiku begitu saja dan aku langsung segera mendorong tubuhnya sambil segera berdiri dengan tegak dan memalingkan pandangan ke arah lain dengan perasaan yang tidak menentu dan sangat gugup saat itu.
"AA ...aahh....ahh tuan apa yang kau lakukan kenapa kau ma...." Ucapku terhenti karena tuan Luka justru malah mengecup pipiku yang sebelahnya lagi membuat aku benar-benar tidak bisa berkutik saat itu.
Aku berdiri dengan mematung dan langsung memegangi kedua pipiku secara refleks dengan pipiku yang terus saja merona karena malu saat itu dan dia hanya menatapku dengan wajah yang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Aku sungguh sedikit kesal dan malu ketika melihat wajahnya yang seperti itu, aku pun langsung saja berjalan keluar dari tempat permainan tersebut dan merasa tidak karuan sedangkan tuan Lukas juga segera mengejarku keluar dari sana sambil menahanku dan dia berhasil meraih tanganku lalu menggandeng aku pergi keluar dari sana dengan bersama-sama.
"Ehhh ..Vivian tunggu aku..." Teriak tuan Lukas saat itu.
"Gadis kecil apa kau malu karena aku melakukannya tadi?" Tanya tuan Lukas yang membuat aku semakin malu saja.
Padahal saat itu sudah terlalu cukup untuk membuat aku malu dan salah tingkah tapi sepertinya dia masih belum puas kepadaku dan malah kembali membahasnya membuat pipiku semakin memerah dan aku menjawabnya dengan perasaan yang sangat gugup saat itu.
"EU...EU...apa..aku sama sekali tidak malu, aku hanya marah" balasku beralasan kepadanya.
Tapi dia malah mendekatkan wajahnya kepadaku saat itu dan dia malah mengatakan hal yang membuat aku semakin sebal dengannya.
"Kalau kau tidak malu boleh aku melakukannya lagi sekarang?" Balas tuan Lukas membuat aku langsung berbalik menatap ke arahnya dengan menatap dia sangat tajam saat itu.
"Kau....apa kau mau aku tabok hah!" Ucapku memperingati dia saat itu.
Tuan Lukas malah tersenyum saja dan dia terus menggandeng tanganku lalu mengajak aku untuk pergi dari sana dengan cepat hingga dia membawa aku ke sebuah restoran yang cukup mewah dan kami menikmati makan malam berdua disana dengan suasana yang selama ini aku dambakan dan aku impikan.
Duduk berdua di depan meja yang terdapat banyak makanan mewah di atasnya, bersama seorang pria yang mencintai aku dan sangat aku cintai, di temani dengan alunan musik yang romantis saat itu dan aku semakin merasa melayang di buatnya.
"Bagaimana apakah kamu suka dengan semua ini, aku sudah melakukan apa yang aku bisa untukmu dan aku akan selalu memberikan apapun yang kamu inginkan gadis kecilku" ujar tuan Lukas samb menyentuh tanganku dengan lembut.
Tidak pernah aku bayangkan bahwa aku juga akan berada di titik ini sekarang, duduk bersama orang yang sangat aku cintai dan sangat mencintai aku berdua menikmati makan malam dengan ucapannya yang sangat membuat aku senang juga tersanjung, aku benar-benar bersyukur sekali atas semua nikmat yang bisa aku rasakan saat ini.
Walau sebelumnya aku harus menerima banyak penderitaan tapi bagiku ini semua cukup setimpal dengan penderitaan yang aku dapatkan ketika aku kecil saat itu.
Hingga tidak lama ketika kami baru saja selesai menikmati semua makanan disana Cecil tiba-tiba muncul begitu saja dengan ibu angkatku, mereka datang ke meja kami dan menyapa saat itu, mereka berbicara kepada tuan Lukas seakan bahwa tuan Lukas masih bersama dengan Cecil, dan mungkin saat itu mereka pikir tuan Lukas masihlah tuan Lukas yang dulu.
Pria dingin yang sama sekali tidak pernah memandang aku dan hanya menganggap aku sebagai pengganti dari Cecil atau gadis kecilnya, namun sekarang dia sudah tersadar dia bukan lagi pria yang dingin seperti dulu kepadaku dia sudah sangat berbeda sekarang dan aku mempercayainya sama seperti aku yang mempercayai dia sejak dulu hingga sekarang.
"Aahhh...tuan Lukas, Vivian sedang apa kalian disini, kami sangat senang bisa bertemu denganmu disini Vivian" ucap nyonya Wheeler kepadaku saat itu.
Melihat wajahnya yang terus memasang wajah baik seperti itu selalu membuat aku tertipu sebelumnya, namun tidak lagi dengan sekarang karena aku sudah tidak sebodoh dulu lagi dan aku sudah tahu semua kebusukkan mereka sekeluarga, mereka juga tidak benar-benar ingin membantu aku atau membiarkan aku hidup dengan tenang dan damai selama ini.
Mereka langsung bersikap seakan baik kepadaku saat itu, tapi aku tahu dengan jelas bahwa dia tidak sebaik itu pada kenyataannya, mereka bersikap baik hanya ketika ada tuan Lukas saja di tempat itu, aku yakin sekali jika tidak ada tuan Lukas mereka akan seperti apa kepadaku.
Aku sudah tidak nyaman dengan keberadaan mereka saat itu dan hanya bisa tertunduk dengan lesu tidak ada gairah lagi dalam diriku padahal sebelumnya aku merasa sangat senang menikmati makan malah romantis dengan tuan Lukas, sekarang sudah di hancurkan saja dengan kedatangan mereka berdua pada meja kami saat ini.
Tuan Lukas yang melihat keadaan Vivian langsung merubah wajahnya seketika dia mengerti bahwa Vivian tidak nyaman dengan kehadiran dua wanita tersebut sehingga tuan Lukas langsung menarik tanganku dan dia membawa aku pergi dari tempat itu secepatnya.
"Ayo kita pergi, bukankah kau sudah selesai dengan makananmu" ucap tuan Lukas kepadaku.
Aku menatapnya dengan heran sebab dia tiba-tiba saja menggandeng tanganku dan sama sekali tidak menghiraukan ucapan dan sapaan dari Cecil juga nyonya Wheeler saat itu.
__ADS_1
Dia terus membawa aku keluar dari sana dan aku sungguh merasa sangat senang sampai terus menatap wajahnya selama berjalan dan sangat senang ketika melihat tanganku benar-benar di gandeng olehnya saat itu.
Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya bahwa aku bisa di gandeng oleh seorang tuan Lukas bahkan Cecil dan nyonya Wheeler bisa aku abaikan begitu saja, mereka juga terlihat sangat kesal dan menggerutu sendiri karena tidak di anggap kehadirannya oleh kami berdua.