
Seketika Cecil menghentikan langkahnya dan dia langsung berbalik menatap kepadaku lagi, aku mengangguk menatapnya untuk meyakinkan dia bahwa apa yang sudah aku katakan pada dia sebelumnya adalah sebuah kebenaran.
"Apa kau yakin bisa berhasil dengan cara murahan seperti itu?" Tanya Cecil sedikit meragukan aku,
"Tentu saja, dan aku rasa ini patut untuk di coba, seandainya tidak berhasil kamu tetap.bisa menjadi lebih dekat dan mungkin saja dia bisa memujimu atas masakanmu, orang-orang juga bisa menyanjung mu" ucapku sengaja menyakinkan dia.
Hingga akhirnya Cecil setuju dan aku sudah membuat kesepakatan dengannya, mulai saat itu setiap pagi aku selalu membuatkan bekal makanan dengan masakan yang berbeda menu, bahkan setiap pulang sekolah aku juga mengajarinya memasak, meski Cecil selalu memarahi aku dan terkadang bersikap kasar kepadaku namun aku tetap memakluminya karena dia masih belajar dan aku tahu tentang itu.
Seperti pagi ini dimana aku tengah memasak dan Cecil membantuku selama satu Minggu ini Cecil sudah bisa memasak telur dadar dan sayur bayam dia juga sudah bisa membuat sebuah pudding dan menggoreng ikan, setidaknya untuk seorang seperti Cecil ini adalah perkembangan yang sangat bagus dan cukup cepat sehingga aku senang dan sedikit memujinya, namun sama seperti yang kita tahu sipat sombong Cecil tidak bisa di hilangkan.
Dan dia terus merasa hebat sendiri dengan dirinya dan lupa bahwa akulah yang mengajarinya selama ini, namun aku juga tidak terlalu mempermasalahkan hal seperti itu yang terpenting Cecil tidak lagi dekat dengan tuan Lukas dan dia justru semakin dekat dengan pria yang dia sukai yang tidak lain adalah Kaylo, laki-laki teman sekelasnya.
"Cecil..... Ini makanannya sudah selesai" ucapku sambil memberikan box makanan itu kepadanya.
Cecil segera mengambilnya dengan cepat dan segera pergi dari rumah aku juga segera membereskan dapur dan mencuci piring kotor serta barang lainnya bekas memasak sebelumnya, dan seperti biasa aku harus pergi ke sekolah dengan berjalan kaki namun disaat aku keluar dari rumah, aku lihat mobil yang di tumpangi oleh Cecil masih terparkir di depan.
"Kenapa dia belum pergi juga, apa ada yang ketinggalan?" Gerutuku sambil berjalan melewati mobil itu.
Namun tiba-tiba saja Cecil keluar dari mobil dan dia berteriak memanggilku.
"Heh cupu! Mau kemana kau? Cepat masuk ke dalam" ucap Cecil dengan wajah yang jutek.
Aku menatap dengan heran dan segera menghampirinya dengan cepat lalu disaat aku sudah berdiri di depan pintu mobil Cecil langsung menyuruhku untuk masuk dan dia membentakku dengan kasar.
"Cecil ada apa memanggilku?" Tanyaku merasa heran,
"Aishh....ayo cepat naik apa kau tidak akan ke sekolah, atau kau memang senang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki?" Ucapnya membuat aku kaget.
Aku terperangah dan segera masuk ke dalam, ku kira ada yang salah dengan masakan yang aku buat dan Cecil akan memarahi aku, namun rupanya dia justru mengajak aku pergi ke sekolah bersama-sama, padahal sebelumnya dia tidak pernah bersikap baik seperti ini kepadaku, terakhir kali saja disaat aku sedikit demam dia juga tidak perduli padaku dan tetap membiarkan aku pergi sekolah dengan berjalan kaki.
Namun hari ini dia tiba-tiba saja berubah, meski cara mengajaknya kasar dan lebih mirip seperti orang yang mengajak bertengkar dibandingkan dengan orang yang menawarkan tumpangan kepadaku.
Walau begitu aku tetap merasa senang karena setidaknya kini aku dan Cecil sudah jauh lebih dekat dan dia juga tidak sekejam sebelumnya, aku merasa saat ini Cecil mulai berubah sedikit demi sedikit dan aku adalah orang yang paling senang melihat perubahannya tersebut.
Walaupun ibu masih membanciku dan justru semakin membenciku apalagi disaat melihat Cecil banyak menghabiskan waktu di dapur denganku dan dia yang perlahan mulai menolak bertunangan dengan tuan Lukas, saat sampai di sekolah Cecil turun dari mobil lebih dulu dan dia mengancamku sebelum benar-benar turun.
"Heh, berhenti tersenyum seperti itu, jangan kau pikir aku melunak padamu, ini hanya sebagai balasan karena kau mengajariku, ingat jangan ke PD an" ucap Cecil memperingati aku dan hanya aku balas dengan anggukan.
Dia pun pergi keluar dari mobil di gerbang sedangkan aku turun tepat di depan gedung sekolah, aku tidak bisa berhenti tersenyum karena merasa sangat senang hari ini, sebab Cecil bersikap baik padaku bahkan berkat pergi bersama dengan Cecil aku bisa menikmati banyak waktu di sekolah sebelum jam masuk berbunyi dan bisa duduk dengan tenang di depan meja belajarku.
"Aaahhh....rasanya menyenangkan dan damai sekali disaat bisa pergi ke sekolah sepagi ini" ucapku menikmati kedamaian di dalam kelas.
Tidak lama Bimo datang bersama Elis dan mereka kaget melihat Vivian sudah berada di dalam kelas di jam sepagi ini, karena biasanya Vivian akan datang di menit-menit terakhir ketika bel berbunyi dan guru datang untuk memulai pelajaran, bahkan aku memang sering mendapatkan hukuman dari guru karena terlambat.
"Wah, Vivian apa kau menjadi murid teladan hari ini?" Ucap Bimo sambil menghampiriku dan duduk di meja belajarku,
__ADS_1
"Benar juga, tumben sekali kau hadir di kelas sepagi ini, biasanya kau selalu datang di saat bel berbunyi" tambah Elisa sambil menaruh tas sekolahnya di atas meja da duduk di kursinya.
Aku hanya tersenyum menjawab ucapan mereka hingga membuat Bimo semakin penasaran kepadaku.
"Vivian apa kau tidak waras? Kenapa hanya tersenyum terus seperti itu, menyeramkan!" Ucap Bimo bergidik ngeri,
"Tidak aku baik-baik saja, hanya hari ini cukup membahagiakan bagiku" balasku merasa sangat senang.
Tidak lama kemudian guru tiba ke dalam kelas dan memulai pelajaran lalu di akhir guruengumumkan mengenai acara festival helloween tahunan yang sering dilaksanakan di sekolah ini, pada setiap tahun.
Semua anak-anak yang mendengar kabar tersebut langsung berjingkrak kegirangan dan mereka menepuk meja dengan keras ada juga diantara yang lain yang bertepuk tangan sangat meriah, hanya aku yang menatap linglung dan tidak mengerti, sampai Bimo meraih tanganku dan membuatku ikut bertepuk tangan meski aku sendiri tidak mengerti dengan maksud sebenarnya.
"Tunggu.....tunggu....Bimo kenapa kau dan semua orang terlihat begitu antusias? Memangnya acara macam apa itu?" Tanyaku keheranan.
Bimo menatapku dengan heran dan dia langsung memberitahu kepadaku secara gamblang.
"Aishh.....itu loh, acara tahunan di sekolah ini festival helloween yang selalu meriah dia setiap tahu, tidak mungkin kau tidak tahu festival helloween kan?" Ucap Bimo padaku dan aku langsung membalasnya dengan gelengan kepala hingga membuat Elis menahan tawa di buatnya.
Dan Bimo menepuk jidatnya cukup keras.
"Aduh.... Vivian sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini sih, kanepa kau bahkan tidak tahu dengan acara festival semegah itu?Apa kau ini seorang semut yang selalu diam di dalam lubang yah?" Ucap Bimo terlihat cukup jengkel padaku,
"Aku memang tidak pernah keluar rumah sebelumnya" balasku menjawabnya dengan jujur.
Seketika Bimo dan Elis langsung mendekatiku dengan kedua mata mereka yang terbelalak lebar dan Elis langsung bertanya dengan sangat serius kepadaku.
Sekali lagi aku mengangguk menjawab pertanyaan darinya dan seketika mereka berdua menghembuskan nafas yang terasa berat.
"Hhhaaahh.....Vivian kau ini memang orang paling polos di dunia ini, bagaimana kita menjelaskannya" ucap Bimo merasa bingung sendiri dan dia segera duduk di kursi yang ada di samping mejaku,
"Kenapa kalian terlihat frustasi, ini bahkan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sekolah, sebelumnya aku hanya belajar di rumah dengan guru home schooling yang di jadwalkan oleh ibu angkatku" balasku menambahkan dan mereka berdua terlihat semakin tertekan.
"Haissshhh....sekarang kau bahkan lebih parah lagi" ucap Bimo sambil menggelengkan kepalanya,
"Kasihan sekali kau Vivian, tapi tenang saja mulai sekarang karena kau sudah resmi menjadi bagian dari sahabatku maka aku akan memberitahumu apa itu artinya hidup sesungguh dan bagaimana cara menikmati semuanya" ucap Elis sambil tersenyum padaku.
Aku juga membalasnya dengan anggukan dan tersenyum senang padanya, aku merasa sangat senang karena memiliki dua sahabat yang baik dan mau membantuku meski aku begitu menjegkel bagi mereka karena selalu tidak mengetahui banyak hal di luar.
Bahkan saat kami hendak pergi menonton pertandingan basket saat jam istirahat aku tidak tahu bagaimana cara memasukkan bola ke dalam ring bahkan aku tidak tahu jika bola berwarna coklat yang dapat memantul itu adalah bola basket, hingga Elis dan Bimo mengajariku cara memainkannya setiap di jam istirahat dan aku mulai menyukai permainan basket ini.
Dan saat ini disaat aku tengah bermain basket tidak sengaja aku melemparkan bola meleset dari ring tujuanku dan justru malah mengenai bahu kanan Kaylo, disana juga ada Cecil dan aku merasa kaget juga cemas ketika mengetahuinya.
"Bukk....aishhh....siapa yang berani melemparkan bola basket ini padaku!" Bentak Kaylo terlihat sangat emosi.
Aku langsung menunduk begitu pula dengan Bimo juga Elis yang melemparkan tatapannya dengan cepat ke arah lain, aku sangat gugup saat itu dan tidak bisa berbuat apapun selain berharap Kaylo tidak akan melihat ke arahku dan tidak akan mengetahui bahwa akulah yang melakukannya.
__ADS_1
Namun dugaanku salah, Kaylo berjalan ke arahku dan dia langsung menepuk kepalaku cukup keras.
"Heh culun! Aku tahu kau yang melemparnya, cepat jawab aku!" Bentak Kaylo sangat keras,
"Aku merasa sakit dan segera mengangkat kepalaku lalu langsung meminta maaf kepada Kaylo dengan tangan yang sudah bergetar hebat,
"I..iya .... Maafkan aku, tadi itu sungguh tidak sengaja aku tidak tahu bahwa bolanya akan meleset dan mengenai bahuku, maafkan aku" ucapku sambil tertunduk padanya.
Rasa takut menghantui diriku dan Kaylo langsung mengambil makanan dari tangan Cecil yang saat itu berada di sampingnya dengan membawa bekal makanan yang sudah aku buatkan, dan Kaylo langsung membuang semua makanan itu ke atas kepalaku begitu saja.
Semua orang menjadikan aku bahan tontonan dan banyak dari mereka yang mengambil rekaman video di saat itu, bahkan Cecil juga terperangah kaget melihat Kaylo yang melakukan hal seperti itu kepadaku.
"Aaahhh....... Kenapa kau melakukan ini padaku, aku sudah meminta maaf kepadamu?" Ucapku tidak terima.
Tapi apa yang aku dapatkan disaat aku mencari tahu apa kesalahanku padanya, dia justru malah menampar aku di depan semua orang.
"Plak.... Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku, aku beritahu padamu. Kesalahanmu adalah berurusan denganku, dan semuanya mulai saat ini dia adalah bahan bully an kita di sekolah, lakukan apapun semuanya kepada anak culun yang tidak tahu diri ini!" Ucap Kaylo lalu dia segera pergi bersama dengan Cecil.
Aku melihat Cecil kaget dan terus menatapku bahkan ketika Kaylo menggenggam tangannya dan mbawa dia pergi menjauh dariku, aku sangat berharap kebaikan dari Cecil saat itu, ku pikir dia akan membelaku atau sekedar membebaskan aku dalam keadaan yang sulit tadi, namun rupanya aku memang terlalu bodoh dan malah berharap kepada orang seperti Cecil.
Ku pikir dia sudah sedikit berubah dan baik kepadaku namun rupanya aku salah, dia sama sekali tidak berubah dia masih sama persis seperti Cecil yang aku kenal sejak dulu, dia selalu iri dan membenciku bahkan saat kecil dia benci dengan rambut hitamku yang sama bagusnya dengan rambut panjang miliknya hingga aku di paksa oleh ibu untuk mengecat rambutku hingga aku dewasa seperti sekarang.
Bahkan itu tega membuat Informa palsu tentang rambutku, dan dia mengatakan bahwa rambut pirang ini aku miliki sejak aku lahir padahal aku harus selalu mengecatnya setiap kali rambutku mulai tumbuh, dan sekarang Cecil bahkan tidak bisa membantu aku atau sekedar membelaku di saat aku sangat berharap banyak padanya.
Kakiku mulai terasa lemas dan semua orang mulai melemparkan makanan kepadaku, aku sungguh sudah sangat buruk dan kacau dan hanya bisa tertunduk sambil menangis tersedu-sedu di lantai lapangan basket sambil menutupi wajah dengan kedua tanganku.
Sedangkan Elis dan Bimo terus berusaha menghadang anak-anak yang terus melempari aku dengan banyak makanan sisa, hingga akhirnya guru datang dan segera membubarkan semua siswa itu.
"HEY.... Apa yang kalian lakukan para brandalan! Pergi kembali ke kelas kalian!" Bentak seorang guru kedisiplinan di sekolah itu membubarkan semuanya.
Elisa langsung menghampiriku dan membersihkan kotoran di wajahku juga di rambutku begitu juga dengan Bimo yang langsung membantu aku berdiri dan memapah aku sampai ke UKS bahkan mereka berdua memberikan seragam baru padaku yang mereka beli dengan uang mereka sendiri dan mereka menjagaku disaat aku tidak sadarkan diri di ruang UKS selama beberapa jam.
"Vivian, maafkan aku karena aku gagal melindungimu" ucap Bimo sambil menggenggam tanganku.
"Maafkan aku juga Vivian, kau sungguh gadis yang malang, dan si Kaylo sialan itu aishh.....aku akan memberi dia pajaran!" Bentak Elis yang tidak tahan untuk menghajar Kaylo dengan tangannya sendiri.
Bimo segera menahan Elis karena dia tahu Elis hanya marah sejenak atas perlakuan yang mereka berikan kepada Vivian sampai tidak sadarkan diri seperti ini.
"Aishh.....sudahlah Elis kau ini mau ngapain sih" ucap Bimo menahan tangan Elis dengan kuat,
"Lepaskan aku akan pergi menampar pria sialan itu" bentak Elis masih dengan emosinya yang menggebu,
"Elis sudahlah meski kita melawannya tetap saja yang ada justru kita yang akan di keluarkan dari sekolah ini, apa kamu mau itu terjadi hah? Apa kau lupa seberapa sulitnya kita masuk ke sekolah ini?" Ucap Bimo menyadarkan Elis.
Setelah mendengar itu akhirnya Elis bisa sedikit tenang dan dia segera duduk kembali.di samping Bimo dan dia hanya bisa melampiaskan emosinya ke kasur di sebelahnya yang kosong dan memukul kasur itu bak seperti samsak baginya.
__ADS_1
"Eughh...buk...buk...buk.... Kaylo sialan, pria menjengkelkan, arghhhh" teriak Elis sangat keras dan terus memukul ranjang itu dengan kuat.
Meski Bimo sudah menahannya namun tenaga Elis jauh lebih kuat dibandingkan dengan tenaga Bimo, maka dari itu tentu saja Bimo tidak dapat menahannya hingga akhirnya keributan yang dibuat oleh Elis membuat aku tersadar.