Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Disakiti Lagi


__ADS_3

"Kita teman, dia tunanganku" ucap aku dan tuan Lukas bersamaan dimana saat itu tuan Lukas mengatakan bahwa aku adalah tunangannya sedangkan aku mengatakan bahwa dia adalah temanku.


Aku juga sama kagetnya dan langsung saling tatap dengan tuan Lukas sampai saat itu tuan Lukas menatapku dengan tatapan yang tajam dan dia seperti mengerutkan kedua alisnya kepadaku hingga aku hanya bisa menunduk dengan perasaan tidak menentu.


"Eeehh ...apa yang kalian ucapkan mana yang benar, teman atau tunangan?" Tanya Bimo sambil menatap dengan heran.


Dan Elis yang terus saja menyelidik dengan menatap lekat kepadaku saat itu.


Aku benar-benar merasa kebingungan sendiri dan juga merasa takut tidak menentu saat itu, aku hanya bisa menatap ke arah wajah tuan Lukas yang saat itu malah memberikan aku tatapan yang cukup tajam dan aku sama sekali tidak mengerti dengan apa maksud dari tatapannya tersebut.


"Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan kepada mereka berdua sekarang?" Batinku terus saja merasa heran dan kebingungan sendiri saat itu.


Sampai tidak lama Elis kembali datang mendekati aku dan dia terus saja memberikan aku tatapan yang tajam dan menyelidik, aku tahu dia pasti saat ini sangat mencurigai diriku dan sangat penasaran dengan apa hubunganku bersama tuan Lukas yang sebenarnya, tatap Elis dan Bimo saat itu bahkan terasa lebih mencekam dan lebih menakutkan di bandingkan dengan tatapan dari tuan Lukas yang sebelumnya.


Aku sendiri hanya bisa merasa gugup dan terus menatap ke arah mereka dengan menaikkan kedua alisku yang kebingungan harus menghadapi mereka berdua seperti apa sekarang.


Jika aku mengatakan bahwa aku adalah tunangan tuan Lukas sama persis dengan apa yang di katakan oleh tuan Lukas kepada mereka sebelumnya, aku hanya takut dia akan marah dan semakin tidak menyukaiku, tetapi jika aku mengatakan tuan Lukas adalah temanku, dia justru memberikan tatapan menyeramkan kepadaku saat itu, apalagi jika nanti aku mengatakan hal itu lagi, sehingga aku cukup kebingungan dan di lema antara dua pilihan saat itu.


"Vivian...kenapa kau malah diam saja, dan kenapa kau terlihat gugup seperti itu?" Ucap is terus mendekatiku.


"Apa jangan-jangan kau dan tuan Lukas memilik sesuatu yang di rahasiakan dari kami berdua yah?" Tambah Bimo membuat aku semakin cemas dan takut saja.


Untungnya di waktu yang tepat tuan Lukas langsung menjawabnya sambil menarik tanganku dan membuat aku berada di belakang tubuhnya, saat itu seakan dia tengah melindungi aku dengan tubuhnya dan dia yang menghadapi kedua temanku yang terus saja bertanya-tanya kepadaku dengan sangat serius bak seperti seorang Intel yang terus mencurigai aku dan menatapku sangat serius.


"Tidak ada, dia adalah tunanganku dan tidak ada rahasia apapun yang kamu sembunyikan" ujar tuan Lukas mengatakan yang sebenarnya di hadapan Bimo juga Elis saat itu.


Bukan hanya Elis dan Bimo saja yang kaget mendengarnya tetapi aku sendiri juga sama merasa kagetnya dan aku langsung saja mengeluarkan suara saking kagetnya dan menatap ke arahnya saat itu.


"HAH? ucapku cukup keras bahkan malah akulah yang terlihat paling kaget diantara Elis juga Bimo yang seharusnya mereka lebih kaget dariku.


"Astaga...Vivian kenapa kau terlihat sekaget itu, apa yang dikatakan oleh tuan Lukas benar?" Tanya Bimo mencari pengakuan dariku,


"I..iya...itu benar, aku memang sudah bertunangan dengan tuan Lukas cukup lama" balasku kepada mereka sambil langsung menunduk dengan rasa malu dan tidak menentu.


Aku mengatakan itu karena aku pikir tuan Lukas yang sudah memutuskannta sendiri untuk memberitahu kedua temanku tentang semua kebenarannya saat itu, aku juga sudah merasa sangat tenang dan senang karena akhirnya tuan Lukas mau mengakui aku sebagai tunanganny di hadapan orang lain walau sebenarnya mereka berdua bukan orang lain sebab mereka berdua adalah sahabat terbaikku.

__ADS_1


Ketika aku membalas dengan anggukan dan meng iyakan semua ucapan dari tuan Lukas, seketika Elis dan Bimo kembali membuka matanya sangat lebar dan mereka bahkan bersamaan menutup mulut yang terbuka sangat lebar.


Elis sendiri langsung saja menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak menduga jika ternyata tunangannya Vivian adalah tuan, Lukas.


"Ya ampun Vivian kenapa kau tidak mengatakan kepadaku bahwa ternyata tunanganmu itu tuan Lukas?" Ucap Elis kepadaku saat itu,


"Eheh....maafkan aku Elis tapi kau juga tidak pernah bertanya kepadaku tentang siapa tunanganku itu bukan, jadi ini bukan salahku yah, lagian aku juga sudah memberitahu kalian hari ini" balasku meminta maaf segera kepada Elis karena aku tidak ingin dia marah dan mengamuk di hadapan tuan Lukas.


Sebab semua itu bisa menjadi akhir dari diriku, jika tuan Lukas mengetahui bahwa aku mendapatkan kedua temanku yang sangat aneh dan luar biasa, meski Elis seorang kutu buku dan selalu mementingkan pelajaran dia adalah si jomblo dari seumur hidup dan selalu mendedikasikan waktu berharganya untuk belajar dan belajar setiap saat.


Terkadang aku sendiri sangat kagum dengan dia yang tidak pernah terganggu dengan banyak pria yang sering memberikan dia kado juga sebuah surat di atas mejanya atau dalam loker miliknya.


"Baiklah jika memang benar kau sudah bertunangan dengan tuan Lukas mengapa saat itu aku lihat tuan Lukas malah datang ke sekolah untuk menemui Cecil di saat dirimu tidak masuk sekolah?" Tanya Elis begitu saja sambil menatap tajam kepada tuan Lukas.


"Aahh ...iya betul-betul, saat itu aku dan Elis melihatnya dengan langsung tuan Lukas datang ke sekolah dan masuk ke ruang guru, lalu setelah keluar dia berjalan menemui Cecil dan mengobrol dengannya, Cecil bilang tuan Lukas datang ke sekolah untuk mencarinya dan dia juga bilang jika tuan Lukas selalu mengejarnya tanpa henti tetapi dia selalu menolak karena merasa dirinya lebih menyukai Kaylo saat itu, aku masih bisa mengingat kejadian tersebut dengan amat sangat" tambah Bimo yang membuat aku sangat kaget ketika mendengarnya.


Aku sama sekali tidak menduga jika tuan Lukas benar-benar melakukan semua hal seperti itu, tetapi aku pikir lagi memang tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang tuan Lukas, sebab aku sendiri juga tahu bahwa pada awalnya wanita yang ingin di jadikan calon istri olehnya adalah Cecil bukanlah aku, meski aku sendiri adalah gadis kecil yang sebenarnya dia cari, tetapi dia seakan terus melupakan aku dan tidak mengingat sedikit pun tentang aku atau gadis kecil itu dengan baik.


Aku memberanikan diri menatap ke arah tuan Lukas dan berusaha menanyakan mengenai semua itu, tetapi jawabannya justru malah membuat aku semakin sakit dan aku sungguh merasa malu mendapatkan perlakuan begitu dingin seperti itu dari tanganku sendiri.


"Tuan... Apa semua itu benar?" Tanyaku kepadanya penuh harap bahwa dia akan mengatakan tidak saat itu.


Seketika aku benar-benar merasa hancur dan kesal, tubuhku sendiri terasa sangat lemas saat itu, bahkan Bimo dan Elis sama kagetnya ketika mendengar pengakuan tersebut dari tuan Lukas yang menjawabnya dengan begitu mudah.


Tuan Lukas yang melihat semua orang justru malah langsung merubah ekspresi di wajah mereka dan menatap dia dengan penuh emosi juga rasa sedih dari Vivian, dia tentu merasa sangat kebingungan karena yang tuan Lukas maksud sebenarnya, dia memang datang ke sekolah dan memang bertemu dengan Cecil tetapi dia juga datang ke sana untuk membuatkan izin bagi Vivian, bertemu dengan Cecil hanya sebuah ketidak kesengajaan untuknya saat itu.


Namun salahnya tuan Lukas adalah, dia tidak.me jelaskan semua itu, dia sama sekali tidak mengatakan semuanya dengan rinci kepada Vivian dan selalu saja membuat Vivian harus menebak-nebak sendiri dengan apa yang dia maksudkan setiap saat.


Itu mungkin cukup menyulitkan bagi aku yang harus menerima semua ini, tapi aku tetap berusaha tenang saat itu dan dengan cepat menarik nafasku panjang lalu membuangnya perlahan, aku berusaha untuk menahan air mata agar tidak muncul di mataku apalagi jika sampai menggenang dan jatuh di pipiku.


Aku tidak ingin terlihat lemah dan rapuh di hadapannya, aku hanya takut dia hanya akan mengatakan bahwa aku wanita yang cengeng jika aku tidak bisa menahan emosi juga kesehatan yang aku rasakan saat itu.


"Kenapa kau diam saja, kau mau masuk ke sekolah atau kembali ke rumah?" Ucap tuan Lukas menyadarkan aku dengan cepat,


"Aku akan ke sekolah kau pergi saja ke kantor tuan terimakasih sudah mengantarkan aku" balasku menatapnya sambil menampilkan senyuman terpaksa dalam diriku.

__ADS_1


Aku berniat untuk pergi saat itu juga karena Bimo dan Elis sudah menarik tanganku sejak lama dan mereka berusaha membawa aku untuk pergi dari sana secepat yang mereka bisa, karena mereka terlalu perduli dan peka atas perasaanku, berbeda dengan tuan Lukas yang selalu saja tidak mempercayai aku apalagi memahami perasaan diriku.


Bahkan di saat aku sudah seperti ini saja dan hendak pergi untuk menghindarinya lebih cepat, dia justru malah menahanku dan memanggil kembali namaku padaku saat itu aku sudah hampir tidak tahan lagi menahan air mata yang sudah menggenang di matamu saat itu.


"Ehhh ..tunggu Vivian, ingat kalian berdua jangan sampai orang lain mengetahui jika dia adalah tunanganku, cukup kalian berdua saja yang mengetahuinya, selain itu jangan sampai tahu, atau aku akan mencari kalian berdua lagi dan membuat kalian tidak aman dalam bisnis dan semua hal" ucap tuan Lukas memperingati Elis dan Bimo saat itu.


Aku diam termenung menatap dengan tatapan yang mulai buram dan kabur sebab air mata sudah sangat menumpuk di dalam mataku, aku langsung menundukkan kepala karena aku tidak ingin tuan Lukas melihat air mataku saat itu, sampai dia segera pergi dari sana dengan cepat dan barulah Elis dan Bimo bisa menggerutu dengan keras dan sepuas mereka merutuki tuan Lukas.


"CK....dasar manusia sombong dan keterlaluan bagaimana bisa dia memperlakukan Vivian kita dengan seenaknya seperti ini, dia benar-benar sangat membuat aku jengkel!" Bentak Elis sambil mengepalkan kedua tangannya emosi,


"Dasar manusia di wajah datar, dia sok sekali berkata seperti itu dan mempermainkan sahabat kita" tambah Bimo yang tidak kalah sama kesalnya.


Padahal aku sudah merasa sangat senang dan bersyukur sekali, meski dia berbicara sekasar itu kepadaku hari ini dan membuat aku kecewa beberapa kali, tetapi ketika dia mengakui bahwa aku adalah tunangannya di hadapan kedua sahabatku itu sudah membuat aku sangat senang dan aku merasa cukup atas dirinya yang sudah mau mengakui diriku.


Namun nyatanya dia hanya mengijinkan Elis dan Bimo saja untuk mengetahui semua itu, dan dari situ aku mulai tersadar bahwa memang dia masih tidak menginginkan aku untuk menjadi tunangannya dan dia masih tetap terpaksa bertunangan dengan wanita seperti aku


Rasanya seperti di bawa terbang sangat tinggi olehnya lalu tiba-tiba dia membantingkan aku ke tanah dengan sangat kuat hingga hatiku hancur dan aku tidak bisa jika tidak menangis saat itu.


Aku terus menunduk dengan air mata yang perlahan terus menerobos keluar dari pelupuk mataku meski aku sendiri sangat tidak ingin untuk mengeluarkan air mata ini, aku tidak ingin terlihat seperti wanita yang lemah, apalagi ini hanya perihal seorang pria.


"Aku salah....aku salah dan bodoh karena mau bertunangan dengan orang sepertinya" ucapku pelan saat itu masih dengan posisi menunduk dan lemas.


Bimo dan Elis yang melihat diriku begitu menyedihkan saat itu, mereka langsung saja menggandeng tanganku dengan erat dan tersenyum begitu lebar padaku, tidak lupa merekam juga memberikan aku ucapan yang sangat memberikan aku semangat lagi untuk melewati semuanya dengan hati yang lebih lapang kedepannya.


"Vivian sudahlah jangan di pikirkan lagi, jika kamu memang menyukai tuan Lukas tetapi dia sama sekali tidak menghargai kamu dan tidak menganggap kamu seperti tadi, itu tidak masalah, itu bukan berarti kamu tidak cantik atau tidak layak untuknya, hanya saja dia yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sesempurna dirimu" ucap Elis kepadaku.


Ucapan Elis sungguh membuat aku terpupuk dengan semangat yang baru, dan membuat aku tidak lagi banyak berharap yang lebih dengan hubunganku juga tuan Lukas.


Rasanya apa yang dikatakan oleh Elis kepadaku saat itu memanglah hal yang sangat benar, dan mungkin seharusnya aku tidak boleh memaksakan kehendak sejak dulu, tidak terus berusaha untuk menjadi wanita yang sempurna dan luar biasa di hadapan tuan Lukas padahal dia sendiri bahkan tidak pernah melirik ke arahku sedikitpun.


Mungkin di matanya itu hanya ada Cecil seorang dan aku mungkin saja memang hanya pengganti yang tidak berguna dan dia hanya membutuhkan seorang pelayan yang bisa melayani semua kebutuhan dirinya selama ini, atau dia hanya memanfaatkan dirimu untuk menemaninya agar tidak kesepian dan dia bisa melupakan Cecil dengan cepat jika aku hadir dalam hidupnya.


Aku terus saja menduga-duga dan terus memikirkan semua itu, sampai Bimo langsung menggandeng tanganku dan membawa aku untuk segera masuk ke dalam gedung sekolah secepatnya sat itu.


"Aishh ..sudah...sudah...ini hampir siang, bel juga sebenarnya lagi akan berbunyi, ayo kita ke kelas saja dulu, dan sebaiknya kau lupakan saja kejadian tadi, kita akan berpura-pura tidak mengetahui apapun atau mendengar apapun jika kau merasa malu dan tidak nyaman" ucap Bimo kepadaku.

__ADS_1


Dia adalah sahabat yang benar-benar baik dan mereka berdua selalu saja ada di saat aku senang maupun sedih, selalu ada di saat aku tidak memiliki siapapun yang tidak bisa aku andalkan, dan menjadi teman pertama yang mau menerima aku meski aku seorang anak angkat dan saingan Cecil di sekolah.


Aku benar-benar terharus dengan semua kebaikan yang Bimo dan Elis berikan kepadaku selama ini, mereka sama sekali tidak pernah merepotkan aku dan tidak pernah membuat aku kesulitan tetapi aku merasa diriku sendiri yang selalu membuat mereka kesulitan setiap saat.


__ADS_2