
Seketika Bimo tersentak dan terbatuk beberapa kali hingga aku juga cukup kaget melihatnya dan segera ku ambilkan air untuknya dengan segera, sedangkan Elis terlihat tenang-tenang saja.
"Ohok....ohok...ohok... Aaahh....." Suara Bimo yang batuk,
"Ya ampun Bimo, kamu ini kenapa sih, cepat minum lagi" ucapku memberikannya segelas air,
"Sudah kuduga, si topeng itu pasti akan memperlakukanmu sangat buruk, iya kan aiiisss aku ingin menghajarnya!" Ucap Elis terlihat sangat gemas,
"Tidak papa Elis, aku sudah terbiasa lagi pula bagaimana pun dia padaku, dia tetap mau mengakui aku sebagai adik meskipun memperlakukan aku tidak layak" balasku menenangkan Elis.
Setelah kami selesai belajar aku pulang bersama dengan Elis dan Bimo, kami berjalan bersama-sama menuju gerbang sekolah hingga tidak lama mobil Cecil menyamping menghampiriku dan dia keluar dari sana lalu memintaku untuk segera masuk, aku tidak bisa menolaknya dan langsung masuk ke dalam.
Ku pikir Cecil sungguh akan membawa aku pulang dengan mobilnya, tapi rupanya aku memang terlalu bodoh karena masih saja berharap ada hal baik darinya, di pertengahan jalan Cecil langsung menurunkan aku bahkan dia mengusirku dengan kasar, mendorong tubuhku keluar dari mobilnya.
"Minggu, keluar kau dari mobilku, ckk....jangan kau pikir aku akan membawamu sampai ke rumah dasar pengemis!" Ucapnya lalu menutup pintu dengan kasar.
Aku hanya bisa berdiri sambil terus melihat mobil yang dinaiki oleh Cecil perlahan menghilang dan pergi sampai tidak terlihat, aku hanya bisa menghembuskan nafas lesu dan tidak bisa melakukan apapun lagi.
"Apa aku memang pengemis? Kenapa tidak ada sedikitpun keberuntungan dalam hidupku" gerutuku pelan dan aku segera melanjutkan jalanku.
Aku harus kembali berjalan kaki meski rasanya sudah sangat lelah, aku harus terus memaksakan kakiku untuk berjalan hingga sampai di rumah dan setiap hari ketika pulang aku harus mencuci pakaian ibu dan kakak angkatku.
Setiap hari selalu berjalan sulit untukku, hingga tiba dalam hari ini dimana ketika aku baru saja sampai di rumah setelah berbelanja makanan, ibu langsung menyuruh aku menyiapkan banyak hidangan untuk makan malam karena dia bilang ayah akan pulang malam ini.
Sehingga aku menurutinya dan merasa sangat senang ketika mengetahui hal itu, aku sangat senang ketika mendengar ayah pulang karena aku sangat merindukannya dan setidaknya jika ada ayah di rumah ini, aku tidak akan terlalu tersiksa seperti hari-hari sebelumnya.
"Heh, kenapa kau lama sekali cepat selesaikan makanannya!" Bentak ibu sambil menepuk belakang kepalaku ketika aku tengah memasak,
__ADS_1
"Iya Bu, aku sedang mengerjakannya" balasku sambil membungkuk.
Hingga tidak lama setelah aku selesai menghidangkan semua makanan terdengar bel yang berbunyi di luar, aku begitu antusias untuk membukanya, dan segera berlari kesana dengan tidak sabar.
"Ting ..tong....Ting...tong" suara bel rumah yang berbunyi,
"Aahhh....itu pasti ayah, tunggu aku ayah!" Teriakku sambil berlari kecil menuju pintu.
Aku buka pintu dengan perasaan senang namun rupanya itu bukan ayah dan itu adalah Lukas pria masa kecilku, dia menatapku dengan dingin sedangkan aku perlahan tersenyum senang melihatnya.
"KA..kamu.... Aku sudah lama mencarimu, kamu pasti akan menjemputku kan?" Ucapku begitu saja,
"Minggir!" Ucapnya begitu dingin.
Dia seperti tidak mengenali aku dia berjalan melewatiku begitu saja dengan satu pria di belakangnya mereka terlihat seusia dan ibu saat itu baru saja menuruni tangga, lalu dia juga kaget melihat pria itu tiba-tiba saja datang dan menerobos pada rumah kami begitu saja.
Sayangnya pria itu tidak bergerak sedikitpun dan dia langsung menanyakan mengenai Cecil.
"Dimana putrimu?" Tanyanya begitu saja,
"O..ohh...anda kemari untuk mencari putri saya ya, silahkan duduk dahulu, saya akan panggilkan segera" ucap ibu sambil mempersilahkan.
Ibu juga berteriak kepadaku untuk menyajikan makanan untuk kedua pria yang duduk di sofa tersebut.
"Vivian cepat kau sajikan minuman terbaik untuk tuan muda Lukas dan sekretarisnya" teriak ibu memerintah,
Aku hanya membalasnya dengan anggukan dan segera menyajikan minuman secepat yang aku bisa, aku juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk bisa lebih dekat dan memulai bicara padanya.
__ADS_1
Aku yakin sekali itu adalah dia, anak kecil buta di masa lalu yang mengikat janji denganku, aku berpikir mungkin dia melupakanku atau terjadi kecelakaan hingga membuat dia hilang ingatan sehingga tidak bisa mengenali aku.
Ku hidangkan minumannya dan menaruh minuman itu di atas meja, namun setelah itu aku tidak langsung pergi, aku mencoba untuk mencari tahu lagi tentangnya.
"Tuan....apa kamu benar-benar tidak mengenaliku, aku Vivian" ucapku pelan padanya,
"Siapa kau berani-beraninya bicara santai dengan tuan muda Lukas, dasar pelayan rendahan" ucap sekretaris di sampingnya,
"Ini aku gadis kecil yang pernah kau tolong, tidak bisakah kau mengingatku?" Ucapku untuk terakhir kalinya.
Sampai ibu kemudian datang bersama Cecil dan aku segera pergi dari sana dengan perasaan kecewa karena dia tetap tidak menanggapi aku dan dia terlihat tidak mengenali aku sedikitpun, aku mengintip di balik tembok, berusaha mendengar apa yang akan mereka bicarakan.
"Nyonya Sava, apa benar putrimu ini tidak bisa berenang dan dia berusia 17 tahun saat ini?" Tanya tuan Lukas begitu saja dengan serius,
"Be....benar tuan, dia Cecil dan dia berusia 17 tahun dia juga tidak bisa berenang, saat kecil dia bilang ada seorang pria yang menyelamatkan hidupnya ketika hampir tenggelam di kolam renang rumah ini, namun dia tidak mengingatnya terlalu jelas" ucap ibu begitu saja.
Aku langsung terbelalak hebat dan aku sangat kaget ketika mendengar ibu membicarakan kejadian yang ibu bicarakan sama persis dengan apa yang aku alami dengan pria buta ku saat kecil.
"Ba... bagaimana bisa ibu berbohong dan berbicara hal omong kosong seperti itu kepadanya?" Gerutuku memikirkan,
Lalu tiba-tiba saja tuan Lukas itu mengatakan bahwa dia akan mengejar Cecil sebab dia mengaku bahwa dialah pria yang menyelamatkan Cecil saat kecil dan jika dia merasa cocok atau sudah yakin dengan Cecil dia akan menikahinya sesuai janji yang pernah dia ucapkan.
Bak tersambar petir aku langsung jatuh ambruk ke bawah dengan lemas, kakiku tidak bisa aku gerakkan lagi dan air mata mulai mengalir di pipiku, sekarang aku sangat yakin bahwa tuan Lukas itu adalah pria yang aku cari selama ini, dia malaikat penyelamatku, dan aku sangat yakin tentang itu mulai sekarang.
Tapi disisi lain aku sangat sakit hatiku teriris sangat dalam ketika mendengar dia mengira Cecil adalah aku, padahal aku sudah berusaha mengingatkan dia bahwa akulah gadis yang dia selamatkan bukan Cecil.
"Kenapa semuanya di ambil, kenapa aku selalu harus mengalah pada Cecil?" Gerutuku sambil memegangi dadaku yang terasa sesak.
__ADS_1