Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Terbongkar


__ADS_3

"Baiklah pertanyaan yang kedua.... Kenapa rambutmu berwarna pirang, apakah kau memiliki rambut pirang itu sejak kau lahir, atau kau mewarnainya" ucap tuan Lukas kembali melontarkan pertanyaan yang kedua kepadaku.


Kini mendengar pertanyaan tersebut jujur saja aku merasa sedikit kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut darinya sebab masalah rambut ini aku sama sekali tidak pernah membahasnya dan mengatakan yang sebenarnya kepadaku siapapun selama ini dan hanya ayah, ibu angkat juga Cecil yang mengetahui mengenai rambutku juga bi Ida yang pernah bersama denganku dulu.


Aku bingung dan tidak tahu harus menjawabnya seperti apa kepada tuan Lukas sedangkan peraturan yang dia buat saat itu adalah aku sama sekali tidak boleh memalingkan pandangan dari matanya, aku bahkan sudah sangat tidak sanggup lagi saat ini aku sudah ingin memalingkan mata dengan secepatnya, namun sayangnya aku tidak bisa melakukan itu, aku benar-benar gugup dan kesulitan menelan salivaku sendiri.


Tanganku mulai mengepal, aku berusaha untuk menguatkan diriku sendiri saat itu dan berharap tuan Lukas bisa membebaskan aku dari pertanyaan yang sangat sensitif seperti ini, karena aku tidak mungkin mengatakan masalah rahasia rambut pirangku ini.


"Tuan....bisakah aku tidak menjawabnya, ada rahasia besar yang hanya aku simpan dengan keluarga Wheeler saja mengenai rambutku ini, aku tidak bisa memberitahu padamu" ucapku dengan berkata jujur kepadanya.


Nampak wajah tuan Lukas langsung saja terlihat kecewa dia mengerutkan kedua alisnya dan wajahnya terlihat sangat kesal juga kecewa, hingga dia langsung membentak aku cukup keras dan kembali mendesak agar aku segera menjawab pertanyaan tersebut darinya.


"Tidak bisa! Cepat jawab sekarang!" Bentak tuan Lukas sangat keras.


Dia benar-benar berhasil membuat aku berada di tengah-tengah pilihan yang sangat sulit dan aku tidak tahu harus bagaimana hingga setelah aku memikirkannya dalam waktu yang sangat singkat itu, aku pun mulai menarik nafas dengan panjang lalu mulai menghembuskan nya perlahan, mempersiapkan diri untuk mengatakan semua kejadiannya mengenai rambutku yang berwarna pirang ini.


"Huuuuhh...baiklah tuan aku akan menjawabnya dengan jujur sebenar rambut pirangku ini, bukanlah warna rambut asliku" balasku menjawab kepadanya dan langsung saja mata dia terbelalak dengan lebar.


Terlihat tuan Lukas seperti sangat penasaran dengan rambutku ini, bahkan dia sampai langsung menggeser duduknya mendekat terus kepadaku sambil menanyakan lagi denganku mengenai rambutku dan dia meminta aku untuk menjelaskannya lebih detail.


"Apa?....ayo cepat jelaskan, ceritakan semuanya aku akan mendengar apapun yang kau ceritakan" ucap tuan Lukas kepadaku.


Aku mengangguk karena memang tidak ada pilihan lain, aku pikir tuan Lukas bukan orang yang perlu aku khawatir ketika dia mengetahui rahasia ini, lagi pula dia juga tidak banyak bicara dengan siapapun, maka dari itu aku pikir rahasia ini mungkin akan aman saja padanya.


Aku pun mulai melanjutkan ceritaku mengenai Cecil yang selalu membenci aku, bahkan sejak aku kecil, aku selalu saja di perlakukan dengan cara yang tidak baik bahkan terkesan sangat buruk oleh ibu dan Cecil, mereka hanya baik kepadaku disaat ayah ada di rumah, mereka selalu saja memperlakukan aku layaknya seorang pembantu di rumah mereka, aku tidak memiliki kamar, tidak sekolah ataupun bisa bermain layaknya anak-anak seusia aku saat itu, memang sangat menyakitkan dan cukup menyedihkan tetapi apakah sebagai seorang anak aku bisa berontak atau memilih aku ingin tinggal dengan siapa dan siapa ibu juga ayahku, aku sama sekali tidak bisa melakukan semua itu.


Aku hanya pasrah menerima semua hal yang di lakukan oleh mereka berdua kepadaku, mungkin saat itu karena aku masih berusia 3 sampai 4 tahunan, bayangkan saja di usiaku yang sangat kecil seperti itu, dimana seharusnya aku bermain dan bergembira melihat semua hal yang manis dan lucu di dunia ini, bisa bermain di taman bermain juga bisa memegang buku gambar dan mewarnai, menerima pelukan dari seorang ibu yang sangat manis juga penuh kasih sayang.


Aku juga ingin mendapatkan semua hal yang manis dan menyenangkan seperti itu, tetapi aku tidak pernah bisa mendapatkannya, sebab ibu Wheeler sama sekali tidak pernah menganggap keberadaanku sebagai putri keduanya, dia hanya mengatakan bahwa aku tidak sama dengan Cecil, dan selalu akan seperti itu, saat kecil mungkin aku tidak terlalu memperdulikan hal tersebut tetapi semakin bertambahnya usiaku, aku semakin mengerti dengan semua ini bahwa hanya bi Ida dan ayah saja yang menyayangiku.


Tetapi ayah selalu meminta aku untuk bersikap baik dan akur dengan Cecil tanpa dia tahu bahwa sebenarnya selama itu Cecil yang selalu berlaku buruk padaku dan dia selalu melemparkan semua masalah kepadaku, hanya karena dia tahu bahwa ayah tidak akan marah padaku, sebaliknya ibu yang selalu memberikan aku hukuman yang begitu berat setelahnya.


Ibu sering menghukum aku dengan hukuman yang di luar kemampuan aku saat itu, dia menyuruh aku menguras air kolam dengan ember, dan sebuah serang yang sangat besar bahkan selang itu hampir seukuran dengan tubuhku yang masih berusia 4 tahun saat itu.


Tapi aku tidak bisa menolaknya dia akan memberikan sebuah tamparan atau cubitan yang sangat keras kepadaku, melukai fisikku atau mengurungku di dalam kamar mandi sepanjang malam jika aku membantah ucapannya ataupun tidak melakukan semua hukuman yang dia berikan padamu, jadi mau tidak mau dan bisa tidak bisa aku tetap harus melakukannya.


Hingga pada satu hari Cecil akan berulang tahun dia sangat senang dan begitu beruntung sebab ayah dan ibu merayakan ulangtahunnya, dan ayah bilang karena tangga juga bulan kelahiran antara aku dan Cecil sama, maka mereka akan merayakannya bersamaan, aku juga sangat senang ketika mendengar ucapan tersebut.


Sebab selama aku tinggal di kediaman Wheeler tidak pernah sekalipun aku bisa merasakan rasanya merayakan ulang tahun dengan sebuah kue yang bertumpuk dan mewah, teman-teman yang banyak juga dengan semua dekorasi penuh balon, aku tidak pernah mendapatkan semua itu, jadi ketika ayah mengatakan bahwa aku juga akan merayakan ulang tahunku yang ke lima tahun tentu aku sangat senang sekali.


Sedangkan Cecil dia terlihat sangat kesal dan tidak senang padaku, dia terlihat membenciku, namun walau begitu karena ayah tidak pernah pergi ke luar kota lagi, aku merasa sangat aman, dan benar-benar bisa merayakan hari ulangtahun untuk pertama kalinya di usiaku ke lima tahun sedangkan Cecil yang saat itu usianya enam tahun, kami berdua memakai gaun yang sangat indah pemberian dari ayah, masih sangat aku ingat sekali bahwa hari itu aku memakai sebuah gaun berwarna putih yang sangat cantik dan ayah bilang bahwa aku terlihat seperti seorang putri di negeri dongeng dengan sebuah bunga di samping telingaku.


Juga sepatu kaca kecil yang aku kenakan saat itu, ayah juga memelukku penuh dengan kasih sayang dan aku sangat senang sekali menerimanya, sedangkan Cecil memakai gaun berwarna merah, dia selalu iri dan membenciku dia marah dengan ayah dan pergi ke pesta untuk menyambut tamu hanya berdua dengan ibu, sedangkan ayah juga segera menyusul mereka dengan cepat dan dia melupakan aku.


Tetapi aku tetap pergi ke sana sendiri bersama dengan bi Ida, namun Cecil malah mendorongku.


"Untuk apa kau datang kemari, sana pergi hanya aku saja yang boleh berdiri di depan kue ulangtahun ini, semua nya hanya milikku bukan milikmu!" Bentak Cecil kepadaku.


Aku diam mematung dan tidak bisa melakukan apapun kala itu, sampai ayah menghampiri aku dan dia mengatakan bahwa aku akan merayakan ulang tahun ku nanti setelah Cecil kakakku sudah selesai.


"Sayang maafkan ayah ya, Cecil marah dan lebih baik kita membuat dia tenang dulu, setelah acara tiup lilin kakakmu selesai barulah kau muncul kita akan merayakannya untukmu setelah itu, apa kau mengerti gadis cantik?" Ucap ayah membujukku.


Aku mengerti bahwa ayah sangat kesulitan saat itu, sehingga aku tidak ingin membuatnya kesulitan di depan banyak sekali tamu undangan di pesta itu, aku pun memilih untuk menurut dengan ucapan ayah, sampai akhirnya aku benar-benar pergi menjauh dari pesat tersebut dan hanya berdiri di tengah-tengah kerumunan para tamu undangan yang mulai berdatangan saat itu, menatap ke arah Cecil dan ibu yang terlihat tengah sibuk menyambut dan menyalami para tamu.


"Baiklah ayah, aku mengerti, aku akan pergi" balasku kepada ayah saat itu.


Disaat aku hanya menatap dari kejauhan saja aku pikir aku akan baik-baik saja saat itu tapi aku justru malah di ketahui oleh Cecil, aku tersenyum padanya disaat mata kami saling bertemu, tetapi dia justru malah sangat kesal kepadaku saat itu, aku tidak tahu kenapa dia masih saja menatap aku dengan tatapan penuh dengan kebencian, padahal aku tersenyum kepadanya saat itu, aku yang hanya berusaha 4 tahun itu sungguh merasa sangat aneh dan bingung, mengapa Cecil seperti itu kepadaku.


Sampai akhirnya aku lihat Cecil berjalan ke arahku dia terus menatap aku dengan tatapan sangat tajam dan dia langsung saja menarik tanganku menyeret aku pergi ke luar dari tempat pesta diadakan di rumah kami saat itu, bahkan dia mendorong aku sampai terjatuh ke dalam kolam renang, aku tidak pernah bisa berenang dan aku hampir tenggelam lalu mati saat itu, namun untungnya seseorang menolongku, dan dia adalah pria buta yang sangat tampan, walau dia buta tapi dia menyelamatkan hidupku, dia pria yang lembut dan sangat baik.

__ADS_1


Dia juga menghadiahkan aku sebuah tongkat miliknya, walau sebenarnya tongkat itu tertinggal setelah dia menolongku kala itu.


Tuan Lukas yang mendengar Vivian malam menceritakan kisah masa kecilnya dia sungguh merasa sangat bosan dan sama sekali tidak tertarik dengan apapun yang Vivian bicarakan saat itu, tetapi di satu waktu ketika dia mendengar sebuah pesta dan dia yang di selamatkan oleh seorang pria buta, tuan Lukas mulai tertarik dengan hal itu, sampai dia mendengarkan semua cerita Vivian hingga dia mulai memotong ucapan Vivian dengan cepat agar bisa mengetahui mengenai rambut pirangnya tersebut.


"Tunggu....kau di selamatkan oleh pria buta, dan apa kau masih menyimpan tongkatnya?" Tanya tuan Lukas kepadaku memotong ceritaku saat itu.


"Iya, tentu saja aku masih menyimpan tongkatnya" balasku kepadanya saat itu.


"Tuan kapan kau akan mengerti dengan semua cerita yang aku beritahu padamu, aku sengaja bercerita panjang lebar agar kau bisa menyadari bahwa memang akulah gadis yang kau cari, kenapa kau bodoh seperti ini" batinku merasa sangat jengkel dengan tuan Lukas saat itu.


"Aahhh...ayo lanjutkan ceritanya dan langsung saja kau katakan kenapa rambutmu bisa pirang, jangan bertele-tele lagi, apa kau mengerti!" Bentak tuan Lukas kepadaku.


"Iya...iya...tuan, aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa aku memang gadis yang kau cari" balasku keceplosan padanya karena memang sudah tidak bisa menahan diri.


Dia terus memberikan tatapan tajam menusuk padaku hingga aku pun harus mulai menceritakan mengenai rambut pirangku tersebut.


Saat aku berusaha sepuluh tahun Cecil semakin membenciku, setiap orang selalu memuji rambut hitam yang mengkilap dan sangat sehat yang aku miliki, dia mungkin jengkel melihat semua orang yang bertamu ke rumahnya selalu memuji aku ketika aku menyajikan minuman padanya dan beberapa orang terkadang membandingkan rambutku dengan rambutnya yang tidak terlalu hitam dan tidak sehalus milikku.


Akhirnya dia sangat marah, dan dia menyuruh aku untuk pergi dari rumahnya, tapi ibu dan ayah tidak bisa menuruti permintaan dia, akhirnya Cecil mengurung diri di dalam kamar dan aku segera menghampirinya karena aku tidak tega melihat dia seharian tidak makan dan tidak melakukan apapun, hanya diam di kamar dan terus mengamuk tidak karuan.


Aku memutuskan untuk mewarnai rambutku menjadi warna pirang, ayah membawaku ke salon saat itu dan mulai saat itulah rambutmu menjadi warna pirang, semua orang mengenali aku dengan gadis si rambut pirang, aku tidak masalah meski aku kehilangan banyak pujian berkat rambut hitam dan sehat milikku, aku pergi kembali menemui Cecil dan memintanya untuk keluar dari kamar karena rambutku sudah tidak hitam lagi saat itu.


"Cecil keluarlah, ada sebuah kejutan untukmu, ayo lihat kemari rambutku sudah menjadi jelek sekarang, ayo keluarlah Cecil!" Teriakku kepadanya saat itu.


Cecil akhirnya keluar dan langsung saja merasa sangat senang bahkan dia menertawakan aku dengan puas karena rambut pirang yang aku miliki.


Tetapi hal tersebut menjadikan alasan mengapa Cecil tidak sejahat sebelumnya kepadaku, dia menjadi lebih baik walaupun tidak baik sepenuhnya, tetapi berkat hal itu dia menjadi tidak sering menindas mu dan tidak banyak memberikan hukuman padaku, bahkan dia masih mau menerima aku hingga aku di perbolehkan sekolah di sekolah yang sama dengannya hingga saat ini, jadi aku akan selalu mewarnai rambutku setiap kali warnanya memudar atau setiap kali tumbuh rambut baru.


"Begitulah ceritanya tuan, apa lagi yang ingin kau tanyakan padaku" balasku menutup ceritaku.


Tuan Lukas terlihat menatapku dengan terperangah dan matanya benar-benar terlihat sangat aneh saat itu.


"Tuan ...tuan...apa kau baik-baik saja?" Tanyaku sambil melambaikan tanganku tepat di depan wajahnya untuk menyadarkan tuan Lukas.


Tiba-tiba saja tuan Lukas langsung memegangi kedua pundakku dengan erat dan dia menatapku semakin lekat juga sangat serius.


"Vivian berikan aku tongkatnya, aku ingin melihat dengan langsung tongkat itu" ucap tuan Lukas kepadaku.


"Ehhhh....tuan tapi apa kau sungguh baik-baik saja?" Tanyaku lagi karena sangat mengkhawatirkannya dia,


"Cepat ambil tongkatnya Vivian!" Bentak tuan Lukas membuat aku langsung mengangguk.


Aku segera pergi ke kamar dan mengambil tongkat yang selalu aku peluk ketika aku dan tuan Lukas tidak baik-baik saja, aku pergi membawa keluar tongkat itu dan memberikannya kepada tuan Lukas.


Dia terlihat sangat kaget ketika melihat tongkat itu, dia mulai memeganginya dan mulai terus memeriksa tongkat tersebut.


"Itu tongkat yang dulu kamu tinggalkan di kolam, dan aku mengambilnya dengan susah payah" ucapku kepadanya dengan banyak sekali harapan agar tuan Lukas bisa mempercayai aku.


Dia langsung menatap ke arahku dengan matanya yang berkaca-kaca saat itu, sampai tidak lama dia langsung saja memeluk aku dengan sangat erat, tuan Lukas memelukku cukup lama dan dia terus meminta maaf kepadaku.


"Kau....maafkan aku....aku sungguh bodoh, aku benar-benar buta aku tidak mengingatmu sama sekali, maafkan aku gadis kecilku, maafkan aku" ucap tuan Lukas kepadaku.


Aku sangat senang, tidak tahu lagi bagaimana cara aku menggambarkan rasa bahagia di dalam diriku saat itu, aku menerima pelukannya dan membalas dia dengan penuh kebahagiaan dan kasih sayang yang seharusnya tercurah sejak lama padanya.


"Tidak perlu meminta maaf padaku tuan, aku akan selalu mengingat pria buta itu sampai kapanpun, karena aku sudah berjanji padanya" ucapku kepada tuan Lukas.


Dia langsung melepaskan pelukannya dariku dan aku hanya bisa tersenyum menatapnya, tapi dia justru malah kembali memelukku dengan wajahnya yang cukup lucu ketika dia terlihat sangat bersalah seperti itu.


Aku tahu saat itu dia menangis tapi dia seperti menahan tangisan itu, mungkin karena ada aku yang tengah berada di hadapannya dan aku memeluknya.

__ADS_1


"Tuan jika kau ingin menangis maka menangislah, curahkan perasaanmu jangan menahannya, aku tidak akan menertawakan dirimu jika kau menangis dan terlihat jelek di hadapanku" ucapku sengaja menggodanya.


"Diam! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu, aku hanya ingin memelukmu dan biarkan seperti ini untuk beberapa saat" ucapnya padaku.


Aku hanya mengangguk dan menuruti ucapannya, malah itu menjadi malam yang sangat membahagiakan untukku, aku sangat senang dan bahagia, karena pada akhirnya tuan Lukas si pria buta yang sudah aku tunggu dan aku cari keberadaannya bertahun-tahun akhirnya aku menemui dia dan dia bisa mengenali aku sebagai gadis kecil yang selalu bersama dengannya saat kecil, gadis kecil yang mengikat janji dengannya.


"Terimakasih tuhan, terimakasih banyak karena sudah membuat dia sadar tanpa aku harus menjelaskan lebih banyak hal lagi dengannya, terimakasih karena sudah menghadirkan pria sehebat dia dalam hidupku" batinku sangat bersyukur saat itu.


Bahkan malam itu aku melihat tuan Lukas yang bahkan tidak ingin berpisah denganku padahal aku hanya akan pergi tidur saja ke kamarku bukan benar-benar pergi dan meninggalkan dia selamanya.


"Tuan aku lelah aku ingin tidur, kau pergi juga ke kamarmu, bukankah kau sudah harus kerja besok pagi" ucapku kepadanya,


"Tidak aku tidak akan bekerja, aku ingin pergi ke taman disaat kita kecil bersamamu" ucapnya padaku saat itu.


Aku langsung saja membelalakkan mata dengan sangat lebar dan penuh dengan pertanyaan di belakangku ketika mendengar jawaban aneh darinya.


"Ehhh...untuk apa kau mau pergi ke sana denganku?" Tanyaku kepadanya sambil menaikkan kedua alisku secara refleks.


"Tentu aku ingin menuntaskan janjiku kepadamu, aku akan kembali ke taman itu menemuimu dalam kondisi mataku yang sudah bisa melihat aku ingin kau melihat aku seakan kita berada di belasan tahun lalu" ucap dia kepadaku.


Aku benar-benar tidak bisa menahan tawa saat mendengarnya tidak pernah aku duga bahwa inilah yang akan di lakukan oleh seorang tuan Lukas yang terkenal begitu dingin dan sangat menyeramkan ketika dia bertemu dengan gadis kecilnya di 12 tahun lalu.


Tuan Lukas sendiri terlihat cukup kesal karena melihat Vivian yang justru malah tertawa ketika mendengar ucapannya barusan, padahal dia pikir tidak ada yang lucu dengan apa yang dia katakan kepada Vivian malam itu.


"Heh...kenapa kamu tertawa seperti itu, apa ada yang lucu dengan ucapanku?" Tanya tuan Lukas dengan mengerutkan wajahnya,


"Ahaha...tidak.. tidak kau bahkan sangat lucu tuan haha, kau sangat lucu sekali" balasku kepadanya,


"Apanya yang lucu, aku bicara sangat serius denganmu gadis pirang!" Ucap tuan Lukas membuat aku sangat kaget dan langsung memebalalakkan mataku mendengar dia mengatai aku dengan sebutan yang selalu di bicarakan orang-orang kepadaku saat aku kecil.


"Ehhh...kenapa kau mengatai aku seperti itu, jangan panggil aku gadis pirang!" Bentakku kepadanya sambil cemberut dengan kesal.


Kini giliran tuan Lukas yang justru terlihat tertawa puas karena dia berhasil membalas perbuatanku yang menggoda dia sebelumnya, dia benar-benar sangat pandai dalam hal balas membalas seperti ini, aku sangat kesal saat itu, sebab sudah sangat lama sejak terakhir kali ada orang yang mengatai aku si pirang atau sebutan gadis pirang.


"Ahahah....wajahmu juga terlihat sangat lucu, lihatlah mulut cemberut mu itu, kau benar-benar seperti bebek" ucap tuan Lukas semakin membuat aku kesal,


"Apa kau bilang? Sudahlah aku mau tidur, tidak mau bicara denganmu lagi, dan kembalikan tongkat itu padaku!" Bentakku kepadanya dengan kesal.


Tapi sayangnya tuan Lukas tidak memberikan tongkat itu kepadaku padahal sebelumnya dia sudah memberikan tongkat itu kepadaku disaat aku sudah berniat untuk mengembalikannya kepada dia di 12 tahun lalu.


"Tidak bisa, inikan tongkatku kenapa aku harus memberikannya kepadamu" ucap tuan Lukas padaku saat itu,


"Heh...apakah kau sudah lupa tuan? Kau sendiri yang memberikan tongkat itu kepadaku, mana mungkin kau melupakan ucapanmu sendiri bukan, jadi cepat kemarikan tongkatnya aku sudah ingin tidur" ucapku kepadanya sambil meminta tongkat itu kembali.


"Tidak bisa....walaupun dulu aku pernah memberikannya padaku sekarang aku akan mengambilnya kembali aku tidak akan membiarkanmu mengingat aku sebagai pria buta itu" ucap tuan Lukas kepadaku,


"Tuan yang aku sukai itu adalah pria kecil berusia sepuluh tahu yang buta dan tampan, dia memegang tongkat dengan sangat keren dia juga menolongku dari kematian, dia lah yang aku suka bukan kau, kau sangat menjengkelkan dan selalu membuat aku kesal, jadi cepat kembalikan tongkatnya!" Bentakku kepadanya,


"Tidak mau kau harus duduk dulu di sampingku lagi baru aku akan memberikannya padamu" balas tuan Lukas yang masih saja keras kepala.


Aku pun langsung mengangguk dan segera duduk di sampingnya lalu dengan cepat di saat tuan Lukas tengah lengah aku langsung saja merampas tongkat tersebut dari tangannya dengan cepat dan langsung berdiri kembali dengan cepat.


Aku berniat untuk langsung pergi ke kamarku saat itu tetapi tuan Lukas menahan tanganku dengan cepat.


"Ehhh...tunggu!...." Ucap tuan Lukas menahan tanganku,


"Ada apa lagi tuan Lukas?" Balasku sambil menghembuskan nafas dengan kasar,


"Bisakah kau tidak pergi ke kamarmu, bisakah kita terus mengobrol disini, aku sangat merindukanmu gadis kecil, aku mencari mu tanpa henti selama ini, apakah kau tidak merindukan aku" balas tuan Lukas memasang wajah yang menyedihkan.

__ADS_1


Tetapi aku tidak akan tertipu lagi olehnya sebab aku sudah tahu bahwa dia tidak benar-benar sedih saat itu, dia hanya ingin mengelabui aku supaya aku kembali duduk dan menurutinya, aku sama sekali tidak akan jatuh dalam perangkapnya degan mudah, sehingga aku langsung menolaknya dengan tegas.


"Tidak...aku tidak mau! Kita ini tinggal satu rumah apa yang kau lakukan bersikap seperti ini setelah kau tahu aku gadis kecilmu di masa lalu, kemarin-kemarin saat aku menjelaskan padamu dan sekali berkata padamu bahwa aku gadis itu, kau sama sekali tidak pernah mempercayai aku, jadi ini adalah hukuman untukmu karena tidak mempercayai ucapanku sebelumnya" ucapku sambil menghempaskan tangannya dan langsung berlari masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya dengan cepat.


__ADS_2