Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Menahan Emosi


__ADS_3

Malam telah berlalu dan ini menjadi malam yang sangat sepi dan cukup menyakitkan untukku.


Hingga ke esokan paginya aku sudah berusaha kembali dengan sikap awalku dan diriku yang baru, aku bersiap untuk pergi ke sekolah karena aku pikir saat itu aku belum benar-benar di keluarkan oleh ibu dari sekolahku sehingga aku berangkat untuk pergi sekolah, namun sebelum itu aku memasak sebuah makanan untukku sendiri dan baru saja aku ingin menyantapnya ku lihat tuan Lukas datang menghampiriku dan dia lagi-lagi membentakku.


"Hei, kenapa kau hanya menikmati makananmu sendiri? Apa kau lupa apa yang aku katakan padamu sebelumnya hah?" Bentak dia kepadaku dengan sorot mata yang tajam.


Aku tidak mau mendengar ocehannya dan hanya mengabaikan dia lalu terus memakan makanan yang aku masak sendiri hingga dia menjadi sangat marah dan dia langsung menggebrak meja dengan keras.


"Brakk.... Apa kau tuli? Cepat buatkan aku makanan!" Bentak dia sangat keras,


Aku hanya menatapnya sekilas dengan sinis dan kesal lalu aku segera pergi kembali ke dapur dan memasak untuknya, setelah aku menyajikan makanan dia terlihat langsung menyantapnya dan dia terlihat makan begitu banyak bahkan lebih mirip seperti orang yang kelaparan.


"Pantas saja dia membentakku seperti tadi ternyata dia sangat lapar yah" gerutuku memikirkan.


Melihat cara dia makan aku mengerti kenapa dia membentakku dan marah padaku seperti tadi, mungkin aku harus lebih memahaminya karena setelah dia makan dia juga tidak memarahi aku lagi dan langsung pergi ke luar lalu aku mengikutinya dan meminta dia mengantarku.


"Kenapa kau mengikutiku, diam di rumah!" Bentaknya lagi,


"Lah... Aku kan harus sekolah, apa kau lupa aku ini masih kelas tiga sekolah menengah atas, mana mungkin aku diam di rumah" balasku padanya.


Dia terlihat menggaruk belakang kepalanya dengan frustasi dan akhirnya mau membawaku bersama dengan dia ke mobilnya.


"Aishh... Ya sudah ayo masuk tapi ingat jangan menyentuh apapun di mobilku, apa kau mengerti!" Ucap dia memperingati aku.


Aku hanya mengangguk patuh dan segera masuk ke dalam mobilnya, saat itu aku mau membuka pintu mobil bagian belakang namun dia menarik tanganku dengan kasar dan menyuruh aku untuk duduk di depan dengannya.


"Apa kau pikir aku ini supirmu, kemari kau....aishh sangat merepotkan sekali, ayo masuk dan duduklah di depan!" Ucapnya masih dengan tatapan bengis dan datar.


Aku sebenarnya sangat kesal juga dengan sikap yang dia berikan kepadaku namun aku juga tidak bisa melawan dia apalagi merutukinya saat ini karena aku takut dia akan mendengar rutukanku, aku terus berusaha menahan semua emosi di dalam diriku dengan menggigit bibirku sendiri menahan emosi sekuat tenaga.

__ADS_1


Dia juga tidak bicara selama perjalanan dan hanya diam saja menatap ke depan, dan aku mulai merasa cemas karena dia tidak menanyakan juga dimana aku bersekolah, padahal dia tidak mengetahui apapun sama sekali tentangku namun anehnya ternyata dia mengetahui sekolah tempatku bersekolah dan dia menurunkan aku tepat di depan gerbang sekolah.


"Eh... Kau tahu dimana aku sekolah ya?" Ucapku bertanya keceplosan.


Aku yang sadar jika aku berbicara terlalu santai dengannya, segera ku tutup mulutku dan menatap dia yang sudah menatap tajam seperti hendak memakan aku saja.


"Turun!" Ucapnya dingin.


Aku pun segera turun dari mobilnya dan disaat aku hendak melambaikan tangan dan berpamitan padanya dia malah langsung melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan aku, aku sungguh merasa sangat tersinggung dengan apa yang dia perlakukan kepadaku, disana aku sangat kesal dan terus merutuki dia habis-habisan untuk meluapkan emosiku.


"Aaarrkkkkhghhh... Dia sangat menjengkelkan!" Teriak aku sangat keras sambil menghentakkan kakiku ke lantai,


"Pria sialan, manusia es! Aaargghhh aku ingin menguburnya!" Bentakku lagi meluapkan emosiku.


Saat itu aku pikir tidak akan ada yang mihatku dan mungkin orang-orang akanfokus dengan aktivitas mereka masing-masing.


Namun disaat aku berbalik aku langsung menabrak tubuh Kaylo dan dia terlihat menatap tajam dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya.


Saat aku menengadahkan kepala dan melihat ternyata itu adalah Kaylo aku langsung terperangah dan refleks menjauh darinya mundur beberapa langkah ke belakang.


Aku sangat gugup dan takut saat itu, tidak pernah aku kira ternyata akan ada seorang Kaylo di belakangku, dan aku sangat takut tadi dia mendengar semua rutukan aku yang sangat keras aku juga takut dia salah paham dan aku takut dia mengira semua itu untuknya padahal semua itu untuk tuan Lukas.


"KAU! Sudah dua kali kau membuat aku kesal, beruntung hari ini aku tidak ingin membuatmu terluka, jika sekali lagi kau menabrakku atau memukulku dengan sesuatu, aku tidak akan melepaskanmu!" Ucapku dia sangat menakutkan.


Dia langsung berjalan menyenggol sebelah pundakku hingga aku hampir saja kehilangan keseimbanganku.


Aku berdiri mematung sambil memegangi jantungku yang berdetak kencang karena takut menghadapi Kaylo barusan.


Tidak lama dari itu aku pun segera berjalan masuk ke dalam lingkungan sekolah juga dan ku lihat ada mobil Cecil yang melewatiku dan dia berhenti tepat di depanku lalu turun dari mobil itu dan langsung menggandeng tangan Kaylo.

__ADS_1


"CK... Mereka memang cocok, orang jahat memang akan berjodoh dengan orang jahat" gerutuku pelan sambil kembali melanjutkan jalanku lagi.


Sesampainya di kelas sekarang aku akan kembali bersungguh-sungguh lagi dalam belajar aku sudah sangat menguatkan tekadku untuk menyaingi Cecil, karena sekarang aku sudah tidak tinggal dengannya lagi, maka dari itu aku akan mengejar semua mimpiku dan aku tidak akan segan menyingkirkan Cecil dengan mudah.


Aku tahu seberapa besar kemampuan dia dalam belajar dia hanya pintar mengancam teman-temannya yang pandai dan membayar mereka dengan uang, itulah yang selalu dilakukan oleh Cecil dan aku sudah mengetahui semuanya.


Aku tidak terima karena dia terlihat begitu bahagia dengan Kaylo tadi sedangkan menjadikan aku sebagai penggantinya, meski aku memang ingin dekat dengan tuan Lukas untuk mencari info apakah dia benar pria yang aku tunggu atau bukan, namun tetap saja cara seperti ini bukanlah hal yang baik.


Dan aku hanya ingin di akui oleh pria itu sebagai aku, diriku sendiri.yang seharusnya dia cari bukan sebagai pengganti seseorang, terlebih ketika aku tahu seseorang yang menjadikan aku pengganti dirinya adalah Cecil, kakak angkatku yang begitu kasar kepadaku dan selalu membenciku sejak kecil.


Rasanya menyakitkan jika tuan Arnold hanya menganggap aku wanita pengganti Cecil padahal aku hanya ingin dia menganggap aku sebagai aku bukan pengganti siapapun meskipun kenyataannya dia seharusnya bertunangan dengan Cecil namun jika memang Cecil tidak mau bersamanya seharusnya dia tidak perlu berlebihan seperti ini sampai menjadikan aku sebagai penggantinya.


Itu terlalu merugikan aku dan menyakiti hatiku lebih parah lagi dari pada sebuah janji yang tidak di tempati.


Aku juga menyesal karena pernah membantu Cecil untuk mendapatkan Kaylo, seharusnya aku saat itu tidak mencoba berbaik hati dan membantu dia untuk menyiapkan makanan setiap pagi selama satu Minggu lebih hanya untuk aku berikan kepada Cecil dan dia akan mengakui semua masakan itu adalah hasil dari masakannya.


Padahal dia sama sekali tidak bisa memasak bahkan setelah berlatih cukup lama, jangankan memasak makanan yang begitu banyak dan seenak buatanku, dia memasak mie saja tidak bisa.


Karena dia memang tidak pernah di izinkan untuk datang ke dapur apalagi memegangi kompor dan wajan, selama ini sejak kecil selalu aku yang harus menyediakan makan untuknya bahkan ketika aku duduk di tingkat sekolah dasar aku bahkan sudah bisa membuat kue, pudding dan memasak berbagai macam jenis masakan.


Sekarang karena aku terus memikirkan masalah Cecil dan kesal kepadanya, sehingga saat guru memanggilku aku tidak fokus dan tidak mendengarnya hingga guru marah padaku dan akhirnya aku menerima hukuman untuk berdiri di luar hingga pelajaran selesai.


Aku hanya bisa menunduk lesu dan terus menahan rasa kesal juga kaki yang sangat pegal sebab terus berdiri sepanjang jam pelajaran yang cukup lama.


Hingga ketika jam pelajaran selesai Elis dan Bimo langsung membawa aku ke kantin dan mereka membantu aku untuk mengambil makanan dan minum karena mereka mengetahui bahwa aku sudah berdiri sangat lama sebelumnya.


"Elisa ini minum dulu, pasti sangat pegalkan berdiri disana selamat tadi?" Ucap Bimo sambil memberikan aku sebotol air,


"Haaa.... Itu memang sangat membuat kakiku pegal tapi tetap belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan yang aku terima selama tinggal di keluarga Wheeler" balasku dengan lemas.

__ADS_1


Aku bahkan tidak memiliki selera makan sekarang, karena saking lelahnya batin, pikiran dan fisikku, semuanya tidak ada yang sehat dan semuanya terluka cukup parah kali ini.


__ADS_2