
Aku benar-benar terharu dengan semua kebaikan yang Bimo dan Elis berikan kepadaku selama ini, mereka sama sekali tidak pernah merepotkan aku dan tidak pernah membuat aku kesulitan tetapi aku merasa diriku sendiri yang selalu membuat mereka kesulitan setiap saat.
Aku terus merasa putus asa dan lesu saat itu, bahkan di saat kami sudah sampai di dalam kelas, aku terus saja duduk dengan menundukkan kepala, aku tidak tahu bagaimana caranya kenapa aku harus sesedih ini dalam hatiku hanya karena tuan Lukas yang ternyata masih menyembunyikan status kami berdua.
Disisi lain Elis dan Bimo yang terus saja melihat Vivian sedih seperti itu, mereka berdua merasa kasihan dan tidak tega kepada Vivian sehingga terus saja memandangi Vivian, sampai tidak lama Elis langsung saja memberikan kode kepada Bimo dan bertanya kepadanya untuk menghibur Vivian agar tidak terlihat sedih lagi saat itu.
"Syuuttt.....Bimo...hey....Bimo" bisik Elis sambil mendekati meja Bimo saat itu,
"Apa?" Balas Bimo dengan menaikkan kedua alisnya kepada Elis,
"Ayo bujuk dia, cepat..hibur dia kau kan selalu senang melucu, jangan sampai Vivian terus memasang wajah yang sedih dan murung seperti itu, ayo cepat lakukan" ujar Elis kepada Bimo saat itu.
Bimo mengerutkan kedua alisnya bersamaan dan dia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa terhadap Vivian, sebab dia sendiri juga tahu sulit membuat orang tertawa jika hatinya tengah terluka, bahkan menguatkan saja terkadang itu tidak sampai pada hatinya.
Tetapi walau begitu Bimo tetap mencobanya, dan mulai berjalan mendekati meja Vivian lalu berdiri di samping mejanya tersebut dan mulai menyapa Vivian dengan kebiasaan yang selalu dia lakukan sebelumnya.
"Ekmm...Vivian...kau tahu tidak kenapa matahari terlihat silau jika di siang hari" ujar Bimo yang mulai membuat lelucon saat itu.
Saat mendengar Bimo berbicara kepadaku seperti itu, aku sungguh tidak memiliki semangat untuk sekedar mendengarkan leluconnya tersebut sehingga aku hanya bisa membalasnya dengan gelengan kepala pelan, dan langsung saja pergi dari kelas karena aku sungguh tidak bisa menahan tangis di mataku lagi.
"Itu karena...." Ucap Bimo yang tidak sampai karena aku langsung memotong ucapannya.
__ADS_1
"Bimo sudahlah sebagus apapun leluconmu aku sedang tidak ingin mendengarnya, maafkan aku, aku ke toilet dulu" ujarku kepadanya dan segera pergi dengan cepat.
Ku lihat wajah Bimo yang terlihat kebingungan mendengar jawaban dariku, dan aku tahu mungkin saja saat itu dia akan merasa sedikit kecewa kepadaku dan sebagainya tetapi aku memang sedang tidak ingin mendengarkan sebuah lelucon darinya, aku benar-benar sedang tidak baik-baik saja saat ini, hatiku sungguh hancur, semua usaha yang aku lakukan selama ini untuk membuat seorang tuan Lukas menyayangi aku dan mengakui aku sebagai tunangannya seakan benar-benar sudah gagal, dia masih sama dan tetap tidak menganggap aku.
Aku berdiri di depan kaca kamar mandi dan menatap wajahku sendiri saat itu.
"Apa wajahku terlalu jelek, atau kepribadian diriku yang buruk? Bagian mana dari diriku yang dia benci, kenapa dia sangat membenci aku dan selalu tidak menerima keberadaan aku" ucapku sambil langsung tertunduk dengan lesu.
Sampai tiba-tiba saja keluar kak Defi dari salah satu toilet yang ada di belakangku saat itu, dan aku sangat kaget ketika melihatnya, karena awalnya aku pikir sudah tidak ada seorangpun di dalam sana sebab tidak terdengar kocoran air ataupun suara manusia.
Sehingga saat kak Defi keluar dari sana dan aku melihatnya dari pantulan cermin aku langsung saja kaget terperanjat dan langsung saja tersentak ke belakang kaget saat itu.
"Astaga.....hah...hah...hah....ya ampun kak Defi kau mengagetkan aku saja" ucapku kepadanya sambil langsung berbalik dan memegangi dadaku yang masih saja kaget dan berdetak sangat kencang saat itu.
"Minggir kau" ucap kak Defi dengan nada suara yang dingin.
Aku segera menyingkir karena meski aku tidak menyingkirpun aku sudah tahu dia akan mendorong aku atau mengancam aku hingga aku mau memberikan jalan dan membiarkan dia bercermin disana, karena ada dia aku berniat langsung pergi dari sana dan sudah berbalik hendak melangkahkan kaki saat itu.
Tapi tiba-tiba saja kak Defi berbicara sendiri di depan cermin sambil membersihkan wajahnya sendiri saat itu.
"Semua orang tidak akan ada yang memperdulikan dirimu jika kau tidak berguna untuknya, meski kau sangat menyayangi mereka atau mengutamakan apapun untuknya, tetap saja kau tidak terlihat olehnya jika hatinya memang bukan untukmu" ujar kak Defi saat itu.
__ADS_1
Aku langsung menghentikan langkahku dan kembali berbalik menghadap ke arahnya dengan mengerutkan kedua alisku merasa sangat heran sekali dengan ucapan yang dia lontarkan kepada aku saat itu.
"Ehh....kak Defi apakah kau barusan berbicara denganku ya?" Tanyaku memastikan kepadanya saat itu.
Sampai tiba-tiba saja kak Defi menggebrak meja disana dengan cukup keras sambil melemparkan tatapan yang tajam dan wajahnya yang datar ke arahku, membuat aku kesulitan menelan salivaku sendiri dan sedikit takut melihatnya seperti marah dan kesal kepadaku saat ini.
"Brakk....." Suara meja wastafel yang di gebrak cukup kuat oleh kak Defi,
"A..a..apa kak, kenapa kau malah memberikan tatapan menusuk seperti itu, apa aku salah bicara lagi?" Tanyaku kepadanya dengan heran juga sedikit bingung saat itu.
"Dasar kau ini, bagaimana orang lain tidak memperlakukan kau dengan seenaknya jika sikapmu lembek seperti ini, kau harus jadi keras dan kuat sepertiku baru orang akan menyeganimu dan tidak akan berani melakukan hal-hal jahat kepadamu, lihat aku baik-baik apa aku terlihat lemah sepertimu hah?" Ucap kak Defi kepadaku saat itu.
Aku langsung saja membalas ucapannya itu dengan gelengan kepala, lalu dia mulai berjalan perlahan mendekati aku membuat aku merasa cukup takut dengannya dan refleks aku juga segera berjalan mundur dan sedikit menghindar darinya saat itu.
"K...KK..kak....kau mau apa?" Tanyaku lagi dengan wajah yang tegang juga sedikit takut melihatnya.
Sampai tiba-tiba saja kak Defi menepuk sebelah pundakku dan dia menoleh ke arah aku dengan memberikan tatapan tajam dan eskpresi yang begitu datar juga ucapannya yang terkesan seperti orang arogan saat itu.
"Kau tidak boleh lemah, jika ada yang mendesakmu kau jangan terlihat takut kau harus bersikap kuat dan keras sepertiku, mereka akan menyesalinya sendiri karena tidak memilih dirimu, berhentilah mengemis sesuatu dari orang lain itu hanya akan membuat dirimu hancur sendirian" ujar kak Defi kepadaku saat itu.
Setelah mengatakan kalimat tersebut kepadaku dia menepuk lagi pundakku beberapa kali dengan pelan lalu langsung saja pergi meninggalkan aku dari sana, aku menelan salivaku sendiri dengan susah payah dan langsung saja memegangi kedua lututku sendiri yang terasa begitu lemas.
__ADS_1
Dia benar-benar wanita yang keren di mataku bahkan di saat dia sudah disakiti oleh kak Kaylo dan di khianati oleh sahabatnya sendiri Cecil, dia tetap menjadi kak Defi yang kuat, dengan ucapan darinya saat itu aku mulai mengerti maksud apa yang coba dia sampaikan kepadaku, dan jika aku pikirkan lagi nasibku dengannya hampir sama dan orang yang kami cintai benar-benar pergi hanya karena satu orang yang sama juga yakni Cecil Wheeler.
Wanita yang manifulatip dan selalu saja memakai topeng dimanapun dia berada, dia selalu saja bisa memikat semua orang untuk menatap ke arahnya entah wanita ataupun pria, dan dia seakan selalu mendapatkan perhatian juga kasih sayang dari banyak orang, dia mendapatkan banyak cinta yang tidak aku dapatkan, padahal aku hanya ingin cinta tuan Lukas saja, aku tidak perduli dengan hal yang lainnya, selama ada tuan Lukas yang menyayangi aku, bagiku itu sudah cukup namun sayangnya bahkan sampai sekarangpun tuan Lukas masih tidak menganggap aku, sedangkan Cecil dia bahagia dengan kak Kaylo, aku memang sangat menyedihkan tidak heran kak Defi berbicara seperti tadi kepadaku.