Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Kehujanan


__ADS_3

Masakanku sudah selesai dan aku sudah mencicipinya setelah aku rasa semua sudah sempurna, barulah aku pergi ke kamarku lagi dan langsung mandi juga segera bersiap siap untuk pergi ke kampus, aku tahu tuan Lukas tidak pernah ingin menemuiku sehingga aku meninggalkan pesan lewat secarik kertas yang aku sisipkan di bawah piringnya sehingga dia bisa membacanya nanti ketika dia hendak sarapan.


"Oke...semuanya sudah sempurna, tuan Lukas aku pergi dulu ya...bye gantengnya aku hehe" ucapku sambil segera bergegas pergi keluar dari rumah itu.


Aku sengaja pergi lebih awal hari ini karena aku dengan ada ujian harian, sehingga aku harus sampai di sekolah tepat waktu dan masih harus mengulas pelajaran disana karena jika di rumah aku selalu tidak memiliki waktu untuk belajar apalagi membuka buku, sebab pekerjaan di rumah sangatlah banyak dan tiasa hentinya.


Aku berangkat ke sekolah dengan mood yang cukup bagus hari ini meski seluruh tubuhku terasa sangat sakit bahkan aku membeli koyo tempel dahulu sebelum naik ke atas bus dan aku masih sempat tidur dahulu di dalam bus sampai ke sekolah lalu saat di sekolah aku pergi ke UKS dan menempelkan koyo itu terlebih dahulu lalu Elis tiba-tiba saja datang menghampiriku dan dia langsung membantu aku untuk menempelkan koyo itu ke punggung dan pinggang bagian belakangku.


"Aishh.... Vivian kenapa kau memakai ini, kau sudah gulat yah?" Ucap Elis yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan langsung meraih koyo itu dari tanganku dengan cepat,


"E..ehh....Elis sudah biar aku saja yang memasangnya aku bisa kak" balasku merasa tidak enak,


"Halah... Bisa darimana sedari tadi aku memperhatikanmu, jelas sekali kau terlihat kesulita, sudah diam saja ini hampir selesai" balas Elis yang tetap membantuku.


Aku merasa senang dan tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari Elis, meski dia terlihat cuek dan jutek dari wajah dan ekspresinya namun dia selalu membantuku selama ini sehingga aku merasa dia memperhatikan aku dan benar-benar sahabat terbaik.


"Hmm...jadi begini yah rasanya memiliki seorang sahabat yang baik, aku merasa selalu terbantu dan di lindungi olehnya, terimakasih Elis kamu sudah mau menjadi sahabatku, aku tidak akan melupakanmu sampai kapanpun" gumamku dalam hati.


Aku merasa terharu tentunya karena dia dan Bimo adalah sahabat pertamaku dan untungnya aku mendapatkan sahabat yang baik meski ini pertama kalinya aku berkomunikasi dengan orang lain, sebab sebelumnya aku selalu merasa kesulitan untuk berbicara apalagi mengobrol dengan orang baru.


Selama ini aku hanya berbicara leluasa dengan bi Ida namun sekarang bi Ida juga sudah tidak ada, aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal dunia, meski keyakinannya dia mungkin sudah meninggal.


Aku tahu ayahku orang seperti apa ketika marah sehingga siapapun tidak akan ada yang bisa menghentikannya dalam melakukan kehendak dan ketentuan darinya, namun yang membuat aku kecewa dan tidak menduga, ayah yang aku Angga satu-satunya anggota keluarga yang melindungi aku dan menyayangiku dengan tulus rupanya dia justru pemilik topeng yang sangat pandai dan lebih ahli daripada Cecil dan Ibunya.


Aku sungguh sudah tertipu banyak oleh ayah, sikap dan cara dia berbicara kepadaku selama ini selalu saja memperlihatkan seakan dia menyayangiku dengan tulus namun disaat terakhir seperti sebelumnya dia justru malah merelakan aku untuk pergi dengan seorang pria asing yang seharusnya menjadi pasangan Cecil, aku tahu aku hanya seorang pengganti disini, tapi karena rasa sakit itu dan aku merasa pria tersebut adalah pria yang aku cari selama ini, aku akan mempertahankannya dan memperjuangkan dia.


Selesai sekolah Elis sudah memperingati aku lagi untuk segera menyiapkan kostum helloween, karena acara festival itu akan di rayakan lusa mulai dari sore hari hingga tengah malah di puncaknya, aku hanya mengangguk saja meski hatiku sendiri merasa resah dan otakku merasa bingung tidak menentu.


"Vivian ingat, kau harus datang di acara helloweennya, awas saja jika sampai kau tidak hadir, aku tidak ingin melihatmu di kucilkan oleh teman-teman sekelas hanya karena kau menjadi satu-satunya orang yang tidak hadir nanti" ucap Bimo memperingatiku,


"Iya Vivian, apa yang dikatakan oleh si Bimo memang benar, dan kau jangan lupa untuk memakai kostum helloween yang bagus, agar mereka tidak menyepelekan kamu" tambah Elis juga mengingatkan aku,


"Ahaha.... Iya kalian tenang saja aku pasti hadir kok" balasku kepada mereka sambil tersenyum.


Aku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku akan datang di acara festival itu meski aku sendiri bingung kemana harus mencari kostum yang bagus untuk acara helloween nanti, rasanya aku sungguh kebingungan dan resah, disaat Elis dan Bimo sudah berpamitan pergi dan kami sudah berpencar, kini hanya tinggal aku yang melun memikirkan masalah kostum itu seorang diri


Aku duduk di bangku panjang sambil menunggu bus yang datang, namun otakku justru malah terus memikirkan tentang kostum tersebut, aku tidak memiliki uang atau apapun, sehingga aku bingung apa yang harus aku pakai dalam acara helloween nanti.


"Aishh...bodoh, kenapa aku malah menyetujui ucapan Elis dan Bimo dengan mudah tadi, padahal sudah jelas sekali aku kesulitan dan pasti tidak akan bisa hadir di acara tersebut, darimana aku bisa mendapatkan uang untuk membeli kostum helloween yang mahal itu, sedangkan tidak mungkin untuk memakai kostum lain ke acara seperti itu, aaaahhh.... Aku harus bagaimana sekarang?" Ucapku berbicara sendiri sambil tertunduk lesu


Saking panjangnya aku melamun aku sampai tidak sadar kalau bus jurusanku sudah tiba disana dan sudah memasukkan penumpang hingga ketika aku sadar justru bus nya baru saja melaju sehingga aku malah tertinggal olehnya.


"E...eh...ehh....busku.... Pak tunggu, tunggu aku akan naik bus itu..." Teriakku sambil berlari dan melambaikan tangan untuk menghentikan busnya.


Tapi sayangnya meski aku sudah berlari tetap saja aku tidak bisa mencapai kecepatan bus itu sehingga aku justru malah tersandung dengan kakiku sendiri dan jatuh tersungkur di aspal jalanan cukup keras.

__ADS_1


"Aaaa....brukkkk" suaraku yang jatuh.


Akhirnya lututku pun terluka karena tergores saat jatuh untuk menahan bobot tubuhku sendiri, rasanya sangat sakit meski hanya lebam dan lecet sedikit, aku pun segera berjalan ke pinggir lalu duduk di bahu jalanan sambil membersihkan kotoran yang ada di sekitar luka lututku juga membersihkan seragamku yang kotor karena jatuh barusan.


Aku benar-benar sial hari ini, dan aku terpaksa harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah tuan Lukas karena itu adalah bus terakhir yang lewat ke sana.


"Aishh .....sial sekali, kenapa harus aku sih yang menerima semua kesialan ini, huaaa....aku ingin menangis hiks....hiks...hiks..." Ucapku berteriak sendiri sambil menengadahkan kepalaku ke atas.


Sampai tidak lama tiba-tiba saja turun hujan karena memang sedari tadi udara sudah dingin dan awan hitam sudah memenuhi langit namun waktunya begitu pas disaat aku berteriak ingin menangis dan menengadahkan kepala ke atas langit, tiba-tiba saja awan diatas sana langsung menurunkan air yang di kandungnya seakan dia tahu bahwa aku tengah bersedih dan menangis.


Lalu mengguyurkan hujan ke arahku agar aku tidak terlihat tengah menangis dan terpuruk lemah seperti ini, karena hujan juga sudah turun aku melanjutkan tangisanku begitu saja karena aku tahu orang-orang juga tidak akan perduli ataupun memperhatikan aku sebab hujan sudah turun secara tiba-tiba dan mereka sibuk untuk mencari tempat berteduh di pinggir jalan atau bangunan yang ada disana.


Ada juga orang-orang yang memakai payung dan mereka yang berteduh juga rupanya membawa sebuah jas di kantong mereka sehingga mereka langsung memakai jas itu lalu kembali berjalan dan melanjutkan aktivitas mereka lagi.


Melihat semua orang yang menggunakan payung dan jas, aku sungguh merasa menjadi orang yang paling sial dan tidak beruntung di dunia ini, karena seakan hanya akulah yang tidak mengetahui bahwa hari ini akan turun hujan.


"Hiks ..hiks...hiks... Apa hanya aku yang bodoh dan tidak melihat perkiraan cuaca hari ini?... Kenapa semua orang membawa payung dan jas sedangkan hanya aku yang kehujanan seperti ini...hiks....hiks... Ini menyebalkan huaaaaa" teriakku kembali menangis keras.


Rasanya sungguh menyebalkan dan aku tidak bisa melakukan apapun lagi, aku terus menangis sambil tertunduk menyembunyikan wajahku di balik kedua kaki yang aku tekuk, bahkan rasa sakit di lututku yang tergores dan perih terkena air hujan sudah aku abaikan rasa sakitnya sejak awal.


Karena rasa sakit di hatiku jauh lebih mengkhawatirkan di bandingkan dengan luka lecet di lutut juga goresan di keningku dimana plester nya memang sudah tidak merekat sejak malam.


"Hiks...hiks...tuhan apa kau menghukumku, apa kesalahan yang aku buat di kehidupanku sebelumnya? Kenapa harus aku yang menerima nasib menyedihkan seperti ini? Hiks...hiks...hiks aku juga ingin memiliki payung, aku ingin memiliki plester yang bagus, kenapa aku tidak bisa memilikinya?" Gerutuku terus berbicara meluapkan kekesalan di dalam hatiku sendiri.


Sedangkan disisi lain tanpa Vivian sadar sejak awal hujan turun seseorang di dalam mobil sudah memperhatikannya dan dia adalah Kaylo putra salah satu pewaris perusahaan ternama di negara ini, dia berhenti di sana tepat ketika tidak sengaja melihat Vivian menangis dan terkena hujan di hadapannya begitu saja.


Tidak dapat dia pungkiri meski dia cukup kesal dan tidak pernah memperhatikan Vivian sebelumnya namun disaat dia sudah mendengar teriakkan Vivian saat itu dia menjadi merasa sedikit terpanah dengannya, sebab Vivian begitu menyedihkan sehingga Kaylo merasa tidak tega dengannya.


Dia pun segera turun dari mobil dengan membawa payung yang dia punya, lalu dia berjalan mendekati Vivian dan dia segera menyodorkan payung yang dia kenakan ke depan untuk membuat Vivian terlindungi juga dari hujan yang membasahi tubuh dia sebelumnya.


Saat itu aku merasa ada sepasang kaki berdiri di depanku dan hujan tidak terasa menyentuh tubuhku lagi sehingga aku langsung mengangkat kepalaku untuk melihat siapa orang yang ada di hadapanku itu dan saat aku melihatnya aku langsung terperangah kaget, karena ternyata itu adalah Kaylo orang yang selama ini menyulitkan aku beberapa kali.


"KA..KA..kau....kenapa kau memayungi aku?" Tanyaku sambil menengadahkan kepala menatapnya dengan heran.


Dia tidak menjawab pertanyaanku itu dan dia tiba-tiba saja mengulurkan tangannya dan membantu aku untuk bangkit berdiri.


"Ayo berdiri, aku akan mengantarmu" ucap dia begitu saja.


Aku kaget dan terperangah menatapnya, karena dia adalah orang pertama yang mengajak aku dan mengulurkan tangannya padaku seperti itu, yang aku tahu dia adalah pria dingin dan kejam juga seorang brandalan keras kepala di sekolah, tidak ada siapapun yang berani mengusik ya dan dia terkenal bersahabat dekat dengan Cecil bahkan orang-orang mengatakan dia adalah pacar Cecil sekarang.


Aku menjadi ragu untuk menerima uluran tangannya, apalagi setelah mengingat apa yang pernah dia lakukan kepadaku sebelumnya dan aku tahu dia adalah kekasih Cecil, aku pun langsung memutuskan untuk tidak menerima uluran tangannya itu dan langsung bangkit berdiri lalu mendorong dia sedikit dan langsung berlari menjauh darinya.


"Aku tidak butuh belas kasihan darimu, menjauhlah dariku!" Bentakku kepadanya sambil mendorong dia ke belakang sedikit keras,


"Hah.....ada apa dengannya, aku sudah berbaik hati untuk membantunya? Kenapa dia malah mendorongku, aishhh dasar sialan aku menyesal sudah mengasihi orang tidak tahu diri sepertinya, aaarrhhhh....membuat pakaianku basah sia-sia saja" gerutu Kaylo saat Vivian berlari kabur menjauh darinya.

__ADS_1


Aku tidak perduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya karena aku mendorong dia seperti tadi, aku melakukan itu karena aku takut dia hanya akan mempermalukan aku lagi dan aku takut dia hanya berpura-pura baik saja kepadaku, karena melihat dia yang sebelumnya selalu saja bersikap jahat dan selalu mempermalukan aku.


Bahkan dia juga yang menjadi sebab dimana aku mendapatkan bullyan dari semua teman-teman di sekolah, bahkan Cecil juga menjadi dalangnya, oleh karena itu aku memilih untuk kabur dan menjauh dari orang sepertinya karena aku tidak ingin berhubungan sedikitpun dengan orang sepertinya.


Alhasil karena menghindar darinya aku harus berlari menerobos hujan yang cukup deras saat itu sehingga membuat seluruh pakaianku basah kuyup, bahkan seluruhnya sudah basa habis tidak ada satupun yang tersisa, untungnya buku yang ada di dalam tasku selamat karena tasku adalah tas kulit yang asli sehingga air tidak tembus ke dalam.


Aku sedikit merasa lega, dan tidak masalah jika tubuhku saja yang kehujanan dan terkena basah asalkan buku pelajaranku tetap aman, setelah aku rasa sudah berlari cukup jauh dari tempat dimana Kaylo menemukan aku.


Aku pun segera berhenti dan beristirahat sejenak sambil berjongkok dan memegangi kedua lututku yang terasa bergetar karena lelah dan kedinginan.


"Huhu... akhirnya ini sudah jauh, ahhh....lelah sekali dasar Kaylo sialan, dia selalu saja membuat aku kesal dan selalu membuat aku sial, atau jangan-jangan kesialanku saat ini juga karena ada dia" gerutuku berbicara sendiri dengan kesal.


Aku segera melanjutkan jalanku dan aku terus berjalan kaki menerobos hujan meski kepalaku sudah terasa sedikit pusing, aku tidak perduli meski sudah bersin terus sepanjang jalan, aku berjalan masuk karena akhirnya sampai juga di kediaman tuan Lukas, sesampainya di sana aku sungguh merasa tidak enak badan sehingga aku memutuskan untuk beristirahat dahulu di kamarku sebelum mulai membereskan rumah dan memasak.


"Aaahh...ha..ha..ha..hacimm...." Suaraku yang terus bersin berkali kali.


Aku segera tidur setelah mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian yang hangat, aku tidur di ranjang dengan menaikkan selimutku sampai ke leherku, walaupun rasanya sangat tidak enak aku terus berusaha tertidur.


Karena biasanya jika aku merasa tidak enak badan seperti ini selalu ada bi Ida yang merawatku namun sekarang aku tahu bahwa aku harus bisa merawat diriku sendiri sehingga aku langsung beristirahat seperti itu.


Sampai beberapa jam berlalu dan aku bangun, badanku terasa jauh lebih baikan meski bersin ku sudah sedikit berkurang namun aku masih sedikit lemas, tapi aku harus tetap membereskan rumah dan memasak sebelum tuan Lukas kembali, aku pun memaksakan diri dan bangkit dari tempat tidurku.


Aku segera mengambil alat pembersih dan membersihkan semua bagian rumah ini meski terasa sangat lemas.


Aku bahkan hanya memasak tiga menu saja untuk makan malam tuan Lukas karena aku tidak tahan merasakan kepalaku yang kini semakin terasa pusing, setelah semuanya selesai aku pun memilih untuk duduk di depan meja makan dahulu dan beristirahat, karena aku tidak bisa pergi ke kamar sebab kakiku terasa sangat lemas sekali sekarang.


"Aaahhh...hacim... Hacimm, ohhh....sebaiknya aku istirahat di sini dulu, aku tidak kuat untuk berjalan ke kamar" kataku sendiri.


Aku pun duduk disana dan sengaja menaruh kepalaku ke atas meja hingga lama kelamaan aku mulai tertidur dan di sisi lain aku tidak tahu jika tuan Lukas pulang ke rumah, mungkin karena saat itu aku tertidur sehingga tidak memperhatikan hal tersebut.


Tuan Lukas yang baru saja pulang dari kantor dia langsung pergi ke kamarnya seperti biasa dan membersihkan diri, lalu dia segera pergi ke ruang makan dan melihat hanya ada tiga menu saja diatas meja juga Vivian yang terlihat tertidur disana dengan wajah yang pucat pasi dan bibirnya terlihat bergetar.


"Ehh ...kenapa dia sangat pucat, apa dia sakit?" Gerutu tuan Lukas.


Dia pun segera mendekati Vivian dan menempelkan tangannya tersebut pada kening Vivian hingga dia membelalakkan matanya merasakan suhu tubuh Vivian yang sangat tinggi.


"Aaahh ....kenapa dia bisa panas seperti itu, aishh dia pasti demam, bagaimana bisa dia malah tidur disini disaat demam" gerutu tuan Lukas lagi dengan mengerutkan keningnya.


Dia pun mencoba untuk membangunkan Vivian dan menyuruhnya untuk pindah ke kamar karena dia harus makan malam juga, sedangkan dia tidak mungkin makan sambil melihat orang sakit di hadapannya seperti itu.


"Hey....bangun.... Gadis bodoh bangun!" Ucap.tuan Lukas sambil menggoyangkan tangan Vivian.


Aku mulai mengerjakan kedua mataku dan melihat tuan Lukas yang sudah berada di hadapanku, aku pun mulai tersenyum kepadanya karena saat itu aku sungguh tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.


"Kamu.... Hmm akhirnya kau menemuiku, aku sudah menunggumu sangat lama, kemana saja kau selama ini? Ini sudah dua belas tahun" ujarku begitu saja.

__ADS_1


Perkataan itu membuat tuan Lukas mengerutkan keningnya lagi karena tidak mengerti dengan apa yang tengah dikatakan oleh Vivian olehnya.


__ADS_2