
Saat sudah berada di dalam bus aku terus saja merasakan lututku yang sakit dan perih karena terluka sebelumnya oleh Cecil, aku sangat tidak terima dia memperlakukan aku lagi dengan sangat kasar seperti itu, rasanya aku sangat ingin pergi mengejar dia saat itu juga dan menjambak rambutnya hingga rontok lalu mendorong dia ke jalanan aspal yang panas itu hingga dia juga mendapatkan luka di lutut yang sama denganku.
Tetapi sayangnya aku memang bukan dia, aku tidak bisa melakukan hal kejam dan jahat seperti itu entah kepada orang lain ataupun Cecil sekalipun yang selalu memperlakukan aku dengan buruk, itulah sisi kelemahan ku aku bodoh dan lemah karena tidak bisa membalas semua perbuatan buruk orang lain terhadapku.
Terkadang aku kesal dengan sikap diriku yang seperti ini, karena aku tahu jika aku terus bersikap seperti ini maka diriku sendiri yang harus aku korbankan untuk di lukai terus menerus oleh orang lain, tetapi aku sendiri selalu saja yakin dengan pemikiran dan keyakinan yang datangnya entah dari mana, aku selalu ingat ucapan dan amanah yang selalu di berikan oleh bi Ida kepadaku sejak aku kecil.
Dia bilang aku tidak boleh sama seperti orang yang berbuat jahat kepadaku, dalam artian jika ada orang yang memperlakukan aku dengan buruk maka bi Ida bilang aku tidak perlu membalas orang tersebut dengan keburukan yang sama seperti apa yang telah dia lakukan kepadaku.
Jika aku sakit hati dan merasa tidak enak atas perbuatannya kepada diriku, maka jika aku melakukan hal yang sama atau bahkan lebih kepada orang tersebut itu artinya aku pendendam dan aku sama saja dengan orang tersebut, lalu dendam akan terus saling berbalas dan berlanjut tanpa henti, jadi bi Ida selalu berpesan kepadaku, jika orang lain jahat kepadaku kita, kita tidak perlu menjadi jahat juga kepadanya, cukup diam dan ada baiknya menghindari orang seperti itu agar kita tetap aman dan juga tidak perlu membenci siapapun di dunia ini.
Tuhan ada untuk memberikan pelajaran kepada setiap umatnya, dan jika ada tuhan yang maha kuasa lantas kenapa kita harus membalasnya dengan tangan kita sendiri, bukankah pembalasan dari tuhan itu jauh lebih pedih dan tuhan selalu akan memberikan jalan dan balasan terbaik untuk setiap umatnya.
Entah itu perbuatan buruk atau baik sekalipun yang di lakukan oleh setiap insan ciptaannya, maka dari itu bi Ida selalu saja mengajari aku artinya sebuah keperdulian, masih sayang dan cara belajar untuk sabar dan ikhlas, aku sudah di didik oleh bi Ida sejak kecil hingga aku tumbuh besar dan dia menghilang entah kemana.
Tapi berkat didikan dan semua yang dia ajarkan kepadaku, aku menjadi ikhlas atas semua yang aku lalui saat ini dan aku selalu yakin dimanapun bi Ida berada dia akan selalu berada dalam lindungan yang maha kuasa dan aku sangat mempercayai hal itu meski terkadang aku sering mengingatnya dan mencemaskan dia dengan amat sangat.
Seperti saat ini, dimana aku sangat merindukan sosok bi Ida dan sangat mencemaskan dirinya, disaat aku terluka seperti ini, aku sangat membutuhkan sosok sepertinya di sampingku yang akan selalu menomor satukan aku layaknya putri dia sendiri, tali sayangnya dia benar-benar sudah pergi dan aku sama sekali apakah dia benar-benar telah tiada dan menyatu dengan bumi atau memang masih hidup.
Aku duduk di dalam bus dengan perasaan yang tidak menentu dan aku menatap dengan tatapan yang kosong ke luar jendela bus saat itu.
"Ya tuhan aku mohon seandainya bi Ida masih hidup aku berharap dia akan selalu baik-baik saja dimanapun dia berada, tetapi jika dia sudah tiada aku mohon tempatkanlah dia disisimu, dia adalah orang yang sangat baik dan aku sangat mencintainya" batikku terus memohon.
Selain tuhan tidak ada lagi tempat aku berlindung dan memohon, hanya ada harapan dan doa yang selalu aku langitkan setiap waktu, dalam segala suasana hatiku.
Hingga ketika sampai di kediaman tuan Lukas aku segera pergi masuk ke dalam rumah dan lanjut harus membersihkan rumah seperti biasa, aku sudah membersihkan kolam renang, lantai dan bahkan mencuci sisa piring kotor bekas makan tuan Lukas pagi tadi.
Setelah selesai melakukan semua pekerjaan rumah barulah aku mulai memasak aku sengaja membuatkan makan siang untuk tuan Lukas dan berniat untuk membawakan makan siang itu untuknya, aku tahu dia selalu makan siang di kantornya entah di cafe, restoran ataupun tempat lainnya.
Tapi aku juga tidak benar-benar pernah tahu dimana dia sering menikmati makan siangnya itu, badannya terlihat kurus akhir-akhir ini sehingga tidak bisa aku pungkiri bahwa aku sangat mencemaskan kondisinya, aku segera menyiapkan makanan untuknya dan langsung pergi untuk memberikan makanan itu ke kantor tuan Lukas secepatnya.
"Aahh.... Semoga dia ada di kantornya, jika tidak ada aku akan merasa sia-sia datang dari jauh ke kantornya menggunakan bus dan berdesakan dengan banyak orang seperti ini" gerutuku sambil masuk ke dalam bus.
Setiap kali harus menaiki bus aku selalu saja jarang sekali mendapatkan tempat duduk dan bus nya juga selalu saja penuh dengan banyak manusia yang beragama jenis, aku terkadang merasa sangat risih karena banyak sekali pria di dalam bus dan jika kami bersentuhan entah tanganku yang menyentuh tangan pria lain ataupun sebaliknya, aku selalu mengeritkan kedua alisku dengan kuat hingga hampir menyatu dengan melemparkan tatapan tajam ke arah orang tersebut.
__ADS_1
Sebab aku tidak biasa melakukan kontak fisik seperti itu dengan orang asing jadi tentu saja aku merasa sangat risih dengannya, dan kali ini disaat bus sudah benar-benar penuh sialnya sang supir terus saja mendesak dan menyuruh kami para penumpang di dalam untuk terus saja mundur dan memberi jalan bagi penumpang lain yang baru masuk saat itu.
Aku sangat kesal bahkan tidak hanya aku tetapi penumpang yang lainnya juga terlihat protes karena kami di dalam bus itu sudah sangat berdesakkan dan pengap, aku sendiri bahkan sudah tidak tahan lagi sehingga aku memutuskan untuk turun disana saja daripada aku harus mati kesesakan di dalam bus dengan posisi berdiri dan terjepit.
"Hah....hah ....ha... Dasar supir bus sialan bagaimana bisa kau terus menyuruh semua orang terus masuk padahal bus itu sudah sangat penuh, dasar kau manusia tidak tahu diri tidak memiliki kemanusiaan huuh!" Teriakku memakai supir bus itu seiring perginya bus tersebut.
Aku sangat kesal di tambah kakiku yang tergores akibat di dorong oleh Cecil masih belum sempat aku obati atau aku tutupi dengan plester sebab aku sangat terburu-buru untuk menyiapkan masakan bagi tuan Lukas.
Aku melakukan itu karena aku juga takut tidak akan memiliki waktu yang cukup di saat aku memberikan makanan ini kepada tuan Lukas.
Saat itu terpaksa aku harus menaiki taxi karena memang tidak ada cara lain, walaupun aku harus menggunakan uang milik tuan Lukas yang tadinya akan aku gunakan untuk belanja bulanan saat ini.
"Aaahhh.... Maafkan aku tuan Lukas tapi aku harus menggunakan uangmu, ini juga untuk mengantarkan makanan untukmu artinya ini tidak termasuk dengan pengeluaranku bukan? Ahaha... Iya aku memang pintar" gerutuku bicara sendiri.
Segera aku menghentikan salah satu taxi yang minta disana dan langsung saja pergi menuju kantor tuan Lukas, aku masih bisa mengingat nama kantornya saja dan segera pergi masuk ke dalam kantornya tersebut, dimana saat aku hendak masuk ke dalam aku di tahan oleh seorang resepsionis disana dan dia malah meminta aku menunjukkan kartu identitas resmi untuk masuk ke tempat dimana lift terdapat disana.
"Ehhh ... Kenapa kau menahanku, aku ingin pergi ke sana" ucapku kepadanya dengan heran,
"Maaf nona apakah saya bisa mihat kartu identitas resmi anda atau sebuah janji dan undangan khusutdari CEO kami?" Tanya seorang resepsionis kantor tersebut.
"Aishh..... Nona yang cantik aku ini adalah tunangannya tuan Lukas, jadi tentu aku bisa masuk ke kantor tunanganku sesuka hatiku dan tidak ada yang bisa menahan aku seperti ini termasuk dirimu sendiri" ucapku dengan tegas kepada perempuan tersebut.
Namun tiba-tiba saja wanita resepsionis tersebut justru malah melambaikan tangannya kepada seorang satpam dan menyuruh satpam tersebut untuk membawa aku keluar dari kantor tersebut, padahal aku sudah mengatakan kepadanya bahwa aku adalah tunangan tuan Lukas, tapi sepertinya wanita itu tidak mempercayai aku sedikitpun.
"Pak satpam bawa wanita ini keluar dia sama dengan yang lainnya mengaku sebagai tunangannya tuan Lukas padahal kami semua tahu bahwa tunangan tuan Lukas adalah putri keluarga Wheeler" ujar wanita itu membuat aku sangat kesal.
Aku langsung menatap dia dengan tatapan yang terbelalak lebar dan aku sangat kesal dan emosi ketika melihatnya apalagi disaat wanita itu mengatakan bahwa tunangan tuan Lukas adalah putri keluarga Wheeler.
Satpam sialan itu juga langsung saja menarik tanganku dan dia hendak menyeret aku keluar dari sana, namun aku berusaha untuk berontak dan melepaskan tangan satpam itu yang terus saja menarik tanganku dan menyeret tubuhku dengan kuat juga cukup kasar saat itu.
"Nona mari anda kiar dari sini atau saya akan benar-benar menyeret anda secara paksa" ucap sang satpam sialan tersebut.
Tentu saja aku sangat tidak terima karena mendapatkan perlakuan seperti ini dari karyawan calon suamiku sendiri dan aku langsung saja menginjak dengan sekuat tenaga salah satu kaki satpam itu lalu membenarkan rambutku yang berantakan karena aku sudah memberontak dengan keras untuk melepaskan tangan dan diriku dari satpam sialan itu.
__ADS_1
"Aaakkkhh...lepaskan aku, aishh lepaskan aku satpam sialan rasakan ini eughh" ucapku sambil langsung saja menginjak salah satu kakinya dengan sekuat tenaga.
Hingga satpam itu langsung meringis kesakitan sambil mengangkat sebelah kakinya dan memegangi kakinya tersebut yang terasa sangat sakit, aku tersenyum puas lalu aku mulai melihat ke arah wanita resepsionis itu yang menatapku dengan tatapan tidak bersahabat.
"Kau ...beraninya kau mengatakan bahwa tunangan tuan Lukas adalah putri keluarga Wheeler, aku ini juga putri keluarga Wheeler, aku adalah tunangannya yang resmi, ini lihat di jari manisku ini lihatlah dengan mata kepalamu yang benar aku sudah bertukar cincin dengan tuan Lukas apa kau tidak tahu itu hah?" Bentakku kepadanya sambil memperlihatkan cincin di jari manisku untuk memberikan bukti nyata kepada wanita tersebut.
Namun sayangnya wanita itu masih tetap tidak mempercayai aku bahkan kini dia justru malah mengejek aku dan menertawakan aku dengan sangat puas.
"Apa? Ahahaha... Nona jangan bermimpi terlalu jauh saya tahu bahwa anda adalah salah satu wanita yang mengejar tuan Lukas saya sudah sangat sering mihat berbagai macam wanita yang melakukan trik sepertimu, tapi sayangnya saya tidak bisa di tipu oleh wanita sepertimu, saya tahu jelas yang mana nona Cecil dan yang mana pelayannya, kau hanya payan di rumah nona Cecil bukan? Aku pernah melihatmu saat acara ulangtahun nona Cecil kau tidak bisa menipuku" ucap resepsionis itu sangat membuat aku semakin merasa kesal.
Aku mengepalkan kedua tanganku dengan kuat dan berusaha menarik nafas untuk mengatur dan menurunkan emosi yang bergejolak di dalam hatiku saat itu, sedangkan satpam yang kakinya aku injak dia masih meringis kesakitan sendiri.
"Aaaw...a.a...aaa ini sangat menyakitkan hey nona kau harus bertanggung jawab dengan kakiku" ucap satpam itu malah merecoki aku.
Aku benar-benar tidak bisa melawan mereka sebab mereka berdua saat itu sedangkan aku seorang diri dan aku sama seki tidak memiliki bukti lainnya yang bisa aku perlihatkan kepada mereka semua agar mereka berdua yakin bahwa aku sungguh tunangan tuan Lukas.
Foto pertunangan aku dan tuan Lukas juga tidak aku miliki dan aku benar-benar terlihat konyol jika berharap kedua orang bodoh di hadapanku saat itu bisa mempercayai ucapanku.
"Hey.... Tuan aku hanya menginjak kakimu sedikit kau jangan meringis terus dan bersikap berlebihan seperti itu, saat nanti tuan Lukas tiba di pasti akan memecat kalian secepatnya karena memperlakukan aku tidak sopan seperti tadi, lihat saja nanti!" Ucapku sengaja berniat menakut-nakuti mereka.
Padahal aku sendiri sebenarnya merasa sangat takut dan cemas saat itu karena kali satpam itu memang aku injak dengan sekuat tenagaku dan dia meringis kesakitan sampai saat ini, juga menuntut aku untuk bertanggung jawab dengan kakinya.
"Nona saya tidak mau tahu, anda harus mengobati kaki saya jika tidak anda harus membayar kompensasi kepada saya atas rasa sakit yang saya derita karena anda menginjak kaki saya seperti tadi, atau saya akan membawa anda ke jalur hukum sekalian" ucap sang satpam itu membuat aku langsung terbelalak kaget mendengarnya.
Dia benar-benar mengancam aku untuk melaporkan perlakuanku yang menginjak kakinya itu ke kantor polisi dan aku mulai merasa bahwa satpam itu terlalu berlebihan dengan hal tersebut yang tengah terjadi dan aku langsung saja menatapnya penuh kecurigaan dengan cepat.
"Ehhh.... Aku rasa aku tidak akan sanggup menginjak kaki sampai sepatah itu sebab kau lihat sendiri saja lututku terluka dan betisku juga lebam masih ada warna hijau disana, apa kau pikir kakiku yang seperti ini akan mampu menginjak jari kakimu sangat keras? Bahkan kekuatan aku sangat lemah, kau jangan melebih-lebihkan masalah ini karena aku bukan orang bodoh yang akan membayar kompensasi kepadamu sebab itu semua juga salah dirimu sendiri yang menyeret aku dengan kasar padahal aku belum selesai bicara" balasku kepadanya.
Satpam itu langsung tersentak dalam beberapa saat dan dia saling lirik dengan wanita resepsionis tersebut hingga wanita itu yang mulai menyerang aku dengan perkataan dirinya yang tajam, sedangkan aku sendiri sudah lebih dulu merasakan keanehan semua ini.
"Kau.... Tidak pantas dan tidak akan bisa melawan kami berdua, mau memang yang salah dan kau pelakunya cepat kau berikan saja kompensasi kepada kami maka kami bisa mengijinkykau masuk ke dalam sana juga kau tidak akan berurusan lagi dengan kaki pak satpam bagaimana?" Ucap wanita tersebut kepadaku.
Aku semakin merasa aneh dan semakin mengerutkan keningku dengan kuat aku mulai curiga bahwa mereka hanya memanfaatkan aku saat itu.
__ADS_1
"Kenapa mereka terdengar seperti mulai bekerja sama dan membuat tawaran kepadaku? Apa mereka pikir aku bodoh dan akan terjebak dengan kelakuannya huuh dasar satpam dan resepsionis sialan kalian benar-benar harus di pecat!" Batinku merasa sangat dongkol terhadap kkuan kedua karyawan perusahaan yang menyebalkan tersebut.