Mengejar Cinta Lukas

Mengejar Cinta Lukas
Pesta Helloween


__ADS_3

Sampai tidak lama terdengar teriakkan dari tuan Lukas yang memanggil aku dengan sangat keras.


"Vivian.... keluarlah! Aishh.... Apa kau bertelur di dalam sana" teriak tuan Lukas yang sudah sangat kesal menunggu Vivian tak kunjung keluar juga.


Padahal di sisi lain aku justru terlalu keasikan melihat diriku di depan cermin, ketika mendengar teriakkan dari tuan Lukas aku pun segera keluar dan menghadap ke arah tuan Lukas namun dia terlihat kaget dan membelalakkan matanya saat melihat aku menggunakan pakaian vampir tersebut, entah karena rambutku yang masih berantakan dan wajahku yang cemong atau karena pakaian yang aku pakai ini memang sangat cantik hingga membuat tuan Lukas terpesona melihatnya.


Aku pun segera berbicara kepadanya karena melihat dia yang diam mematung tanpa bicara apapun kepadaku.


"Tu...tuan.... Tuan Lukas... Apa kau baik-baik saja?" Tanyaku sambil mengibaskan tanganku ke depan wajahnya hingga akhirnya dia pun bisa berkedip.


"Ahh.... Kau... Wajahmu itu aishh... Kau bisa membuat semua orang kaget ketika melihat wajah anehmu itu, sudah ayo cepat ikut aku" ujar dia begitu saja dan langsung kembali menarik tanganku dengan cepat.


Aku berusaha menghentikan dia karena pakaian milikku yang sebelahnya masih tertinggal di ruang ganti.


"E .e..eh ..tuan tunggu pakaianku yang sebelumnya masih ada di dalam sana aku harus mengambilnya" ucapku kepadanya dan dia langsung berhenti seketika,


"Kau yakin masih membutuhkan pakaian orang gila seperti itu, sudah anggap saja kau membuangnya lagi pula kaukan sudah aku belikan pakaian ini, diam dan ikuti saja aku!" Ucap dia mendominasi.


Rupanya dia membawa aku ke salon kecantikan yang ada disana dan dia menyuruh tulang salon disana untuk me make over aku dengan lebih baik bukan menjadi hantu aneh seperti sebelumnya, meski aku menolak tetapi tuan Luka sterus memaksa aku hingga wanita pelayan salon itu langsung saja menarik tanganku dan mendudukkan aku pada sebuah kursi yang di depannya terdapat sekali make up berjajar rapih dengan berbagai merk dan produk yang berbeda.


Aku bahkan sedikit kaget melihat betapa banyaknya alat make up di depan meja tersebut juga ada sebuah cermin berukuran besar di depan sana sehingga aku bisa melihat pantulan diriku seluruhnya dengan jelas.


Wanita itu meminta izin terlebih dahulu kepadaku dan dia meminta aku untuk tenang juga menutup mataku jika tidak biasa di rias oleh orang lain, aku hanya menurutinya saja karena memang aku tidak pernah memakai riasan apalagi di rias oleh orang lain sebelumnya, aku hanya diam tanpa bicara sedikitpun dan terus saja membiarkan perias itu berkutik menyentuh wajahku.


Hingga tidak tahu dia memakaikan apa saja pada muka ku ini, selama di rias olehnya aku hanya merasa cemas, aku takut dia akan membuat wajahku sama buruknya dengan sebelumnya namun walau begitu aku masih berusaha untuk bersikap tenang sampai beberapa menit kemudian dia selesai meriasku dan meminta aku untuk membuka mata.


"Aahh....sudah selesai, ayo nona cantik bukalah matamu dan bercermin" ucap perias tersebut.


Aku mulai membuka mataku perlahan dan melihat pantulan diriku di cermin yang terlihat sangat cantik juga nampak sangat berbeda daripada sebelumnya.


Aku bahkan hampir tidak mempercayai apakah orang yang aku lihat itu adalah diriku sungguhan atau bukan aku sungguh merasa itu seperti bukan aku, wajahku terlihat sangat cantik bagiku dan aku tidak menyangka bisa terlihat secantik ini.


"Wahhh.... Apa ini sungguh aku?" Ucapku merasa kaget sendiri,


"Ahaha... Gadis cantik itu memang kamu, wajahmu itu tidak pernah tersentuh oleh make up jadi wajar saja jika kamu terlihat berbeda ketika menggunakan make up untuk pertama kalinya, di tambah kau memang sudah cantik sejak awal jadi kau tidak perlu se kaget itu" ujar wanita yang merias aku tersebut.


Aku tidak bisa berhenti tersenyum senang aku sangat puas dengan hasilnya dan aku segera berlari menghampiri tuan Lukas yang menungguku di luar, aku langsung bertanya pendapatnya dan memamerkan penampilanku yang sudah terlihat cantik dan luar biasa seperti ini.


"Tuan....tuan....tuan Lukas lihat ini, apakah aku terlihat keren dan cantik, aaahh aku senang sekali, bagaimana menurutmu?" Ucapku kepadanya sambil berpose di hadapannya dan memutar memperlihatkan gaun cantik itu di hadapan dirinya.


"Aishh.... Apanya yang cantik kau terlihat sama saja, namun ini memang sedikit lebih baik daripada sebelumnya yang terlihat seperti orang gila, aarrhhh kau akan mempermalukan aku jika orang yang tahu kau tunanganku melihat penampilan dirimu seperti setan sungguhan sebelumnya" balas tuan Lukas sambil menggelengkan kepala dan menaruh kedua tangannya di pinggang.


Aku hanya bisa tersenyum memperlihatkan sebagian gigiku dan berjalan pelan menghampirinya juga segera meminta maaf kepadanya atas kesalahan yang aku perbuat sampai membuat dia kaget dan jatuh ke sofa sebelumnya.

__ADS_1


"Ehehe... Tuan maafkan aku habisnya saat itu aku tidak tahu lagi harus melakukan, apa sekarang aku sudah sangat senang, terimakasih sudah baik padaku, kau adalah yang kedua setalah bi Ida yang baik padaku aku menyukaimu" ujarku begitu saja.


Aku memang selalu mengungkapkan isi hatiku begitu saja kepada siapapun dan memang sejak awal melihat tuan Lukas aku sudah sangat menyukai dia dan penasaran dengannya itulah kenapa aku tidak terlalu keberatan disaat Cecil menyerahkan aku kepadanya hanya saja aku benci ketika di sebut sebagai pengganti Cecil karena sebenarnya dia lah yang berpura-pura menjadi aku.


Tuan Lukas tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika mendengar Vivian mengungkapkan perasaannya dengan begitu mudah kepada dirinya dan dia langsung menghempaskan perasaan aneh tersebut.


"Aahhh....hey, beraninya kau mengatakan kalimat seperti itu, aishh sudahlah cepat sana kau pergi bukankah kau harus ke pesta helloween itu" ujar tuan Lukas segera mengusir Vivian.


Aku baru ingat dan langsung saja segera pergi karena takut Elis dan Bimo sudah menungguku di rumahnya Elis, segera aku pergi dengan cepat dan berlari meninggalkanku tuan Lukas saat itu juga.


"Oh...ya ampun iya, aku hampir saja lupa dengan acaranya, kalau begitu aku pergi ya tuan, terimakasih atas semuanya aku sangat menyukaimu dadah..." Ucapku berteriak sambil melambaikan tangan kepadanya dan segera berlari dengan cepat keluar dari tempat yang besar dan mewah tersebut.


Aku segera pergi ke halte bus dan langsung masuk ke dalam bus, hingga tidak lama sesampainya di rumah Elis ku lihat Bimo dan Elis benar-benar sudah menungguku di depan halaman rumahnya Elis namun ada yang membuat aku merasa berbeda sebab Elis duduk di dalam sebuah mobil yang atapnya terbuka dan mobil itu berwarna merah menyala.


Aku berjalan dengan kagum melihat mobil itu sementara Elis dan Bimo justru kagum melihat gaun vampir yang aku kenakan saat ini.


"Waahhh.... Mobil siapa ini? Keren sekali" ucapku sambil berjalan menghampiri Elis dan Bimo yang duduk di dalam mobil itu,


"Astaga.... Vivian apa yang kau kenakan apakah itu kostum vampir yang ternama tahun ini, bahkan Elis saja tidak mampu membelinya saat ke toko beberapa hari yang lalu" ucap Bimo yang membuat aku merasa sedikit malu.


Aku langsung melihat pada diriku sendiri dan sungguh merasa senang mengingat bahwa gaun ini di belikan oleh tuan Lukas untukku dan dia sama sekali tidak mengatakan bahwa aku harus membayarnya itulah yang membuat aku sangat senang malam ini.


"Iya... Aku sebelumnya sangat menginginkan gaun seperti itu saya hanya hanya ada dua jenis gaun, yang berwarna merah full sudah di beli oleh Cecil, dan sekarang kau yang menggunakan again termahal ini, wahhh kau benar-benar hebat Vivian" balas Elis menambahkan.


"Ehh... Aku rasa gaun ini biasa saja, aku hanya menyukai gaun ini karena cocok di tubuhku ukurannya dan aku memilihnya sembarangan" balasku mengatakan yang sebenarnya,


"AA..a...apa? Kau memilih gaun ini sembarangan tapi kau mampu membelinya? Wahh.... Kau memang sesuatu Vivian" balas Elis lagi dengan kaget dan mata yang terbelalak sangat lebar,


"Eh, jangan salah paham bukan aku yang sanggup membeli gaun ini tapi tunanganku yang membelikannya, aku mana sanggup membeli gaun seperti ini dan keluarga Wheeler mana mungkin akan memberikan gaun semahal dan sebagus ini kepadaku" balasku kepada mereka sambil tersenyum senang,


"Tuananganmu? Jadi kau sudah bertunangan di usia muda yah? Apa itu pertunangan bisnis?" Tanya Bimo dan Elis yang nampak sangat penasaran.


Aku mengangguk dan mengatakan semuanya kepada mereka karena aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk aku memberitahu Elis juga Bimo tentang semuanya karena aku sendiri juga tidak ingin memendam rahasia terlalu lama dari mereka.


Dan ketika mereka berdua mengetahui hal itu, mereka langsung saja kaget sambil menutup mulut yang terbuka dengan tangan saking kagetnya mendengar ucapan dan cerita yang aku katakan.


"Wahh.... Si Cecil dan keluarga Wheeler jahat sekali melakukan itu kepadamu, jika aku menjadi kau aku sudah memilih untuk kabur dari mereka sejak lam, untuk apa juga kau masih bertahan pada mereka" balas Bimo yang di angguk ki oleh Elis,


"Si Bimo benar, kau keluar saja dari keluarga biadab itu kau bisa tinggal di rumahku selamanya, aku juga selalu tinggal seorang diri karena kedua orangtuaku selalu di luar negeri, mereka juga tidak akan keberatan jika kau menjadi saudaraku" balas Elis menambahkan.


Aku sangat senang melihat kedua sahabat yang selalu mendukungku bahkan mereka sampai mau membantu aku hingga sejauh itu, namun aku juga manusia aku memiliki perasaan tidak enak jika harus menyusahkan mereka terus menerus, apalagi jika harus menumpang tinggal di rumah Elis selamanya, itu tidak akan pernah aku lakukan.


"Elis sebelumnya aku terima kasih kepadamu karena kamu mau menampung aku dan menerimaku, tapi untuk saat ini aku juga sudah tinggal dengan tunanganku dan aku mencintainya meski dia tetap menganggap aku sebagai pengganti Cecil, dia juga tidak terlalu buruk jadi aku baik-baik saja tinggal disana dengan dia" balasku kepada mereka.

__ADS_1


"Ahh.... Sudahlah jika begitu tapi kalau kau membutuhkan apapun beritahu aku dan Bimo saja, aku akan selalu membantu kamu sebisaku" balasku Elis yang sangat baik denganku.


Aku sungguh hampir terharu mendengar betapa baiknya Elis dan Bimo kepadaku, hingga mereka segera mempersilahkan aku masuk ke dalam mobil baru milik Elis tersebut, dia bilang mobil itu adalah hasil dari dia menabung selama ini dan dia bisa membelinya sekarang walaupun separuh uangnya itu dari sang ibu, namun dia tetap akan mengembalikan uang yang dia pinjam dari ibunya sendiri karena dia mengatakan bahwa dia benar-benar akan hidup dengan mandiri.


Elis memang wanita yang keren dan luar biasa aku selalu merasa kagum kepadanya setiap kali dia bercerita tentang dirinya juga keluarganya, meski dia terlahir di keluarga yang cukup kaya dia tidak pernah menunjukkan hal tersebut dan malah bergaul dengan Bimo yang berasal dari keluarga sederhana, juga dengan aku yang tidak tahu asal usul seperti saat ini.


Kami pergi ke sekolah dengan menggunakan mobil mewah milik Elis dan kami terus saja bernyanyi bersenandung ria selama di perjalanan hingga kami sampai di sekolah semua mata tertuju pada kami yang duduk di dalam mobil mewah yang mengkilap.


Tentu ini adalah mobil baru sehingga semuanya masih sangat mengkilap dan mewah, anak-anak yang sebelumnya tidak pernah melirik ke arah aku dan Elis kini mereka tiba-tiba saja datang mengerubungi kami dan kebanyakan dari mereka memuji penampilan Elis yang nampak berbeda karena datang dengan mobil mewahnya.


Ada juga diantara mereka yang memuji penampilan Bimo sebab kali ini dia tidak memakai kacamata dan sedikit mengubah gaya rambutnya sehingga dia tidak terlihat culun seperti biasanya, juga ada yang sibuk berbisik membicarakan gaun cantik yang aku kenakan saat itu.


"Hey..... Lihat bukankah itu trio sampah di sekolah kenapa mereka terlihat sangat keren malam ini, semua yang mereka pakai terlihat mewah, apa selama ini kita salah menganggap mereka dari kalangan bawah ya?" Gerutu para siswa lainnya.


Elis dan Bimo menatap ke arahku dan mereka meenganggukkan kepala satu sama lain lalu kami saling berpegangan satu sama lain dan berjalan masuk ke dalam gedung sekolah bersama-sama dengan begitu bangganya.


Dan tidak lupa Elis juga mengibaskan rambutnya ke belakang untuk memberikan kesan arogannya, hingga ketika kita hendak pergi ke aula di perjalanan kami bertemu dengan geng Cecil tentunya ada Kaylo di sampingnya yang selalu menemani dia kemanapun, Kaylo bahkan memakai pakaian kostum vampir pria yang terlihat senada warnanya dengan kostum milikku namun kostum yang di pakai oleh Cecil juga kostum wanita vampir hanya sama kostumnya itu hanya gaun biasa dan tidak memiliki jubah di belakangnya, berbeda dengan milikku danilik Kaylo saat itu yang terlihat jauh lebih mirip dengan seorang vampir di dunia fantasi sesungguhnya.


Hal tersebut membuat sedikit perbincangan oleh orang-orang yang ada di sekitar sana dan mereka sibuk menjodoh-jodohkan aku dengan Kaylo karena pakaian kami yang terlihat sangat serasi di tambah teman-teman gengnya Cecil juga membicarakan dia di belakangnya sehingga hal itu membuat Cecil terpancing emosi.


"Ehh.... Cecil apa kau memakai pakaian palsu atau pengganti? Kenapa kostum adik angkatmu lebih keren dari milikmu? Dia juga terlihat serasi dengan Kaylo" bisik teman Cecil dari belakang,


"Sialan, dia benar-benar mencuri perhatian semua orang malam ini, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!" Gerutu Cecil menyimpan kebencian di dalam dirinya.


Aku tetap mengabaikan dia dan omongan orang-orang di sekitar sehingga aku hanya langsung masuk melewati Cecil dan Kaylo karena Elis juga menarik tanganku dan Bimo mengejak aku untuk segera masuk ke aula.


Disana juga banyak terdapat mahasiswa lainnya yang kebetulan di acara pesta helloween ini semua mahasiswa dan anak SMA tingkat akhir di satukan dalam satu aula yang sangat besar dan acara pesta helloween pun di mulai malam itu hingga mencapai puncaknya di tengah malam dan suasana semakin ramai dan penuh.


Aku sudah lelah berdiri dan berjoget tidak jelas sehingga aku memilih ke pinggi dan duduk beristirahat sedangkan aku lihat Elis dan Bimo masih saja asik berjoget di tengah-tengah kerumunan banyak orang.


Aku hanya menatap mereka dari jauh dan memperhatikan langit untuk sesaat, di tengah-tengah keramaian banyak orang seperti ini, aku hanya bisa menatap langit dengan bertaburan bintang yang sangat indah malam ini, melihat langit bisa membuatku sedikit damai dan menenangkan.


"Ahhh.... Indah sekali, aku ingin melihat bulan lebih dekat" ucapku asal bicara sambil membuat teropong dari tanganku yang aku bulatkan membentuk bulatan kecil.


Hingga tidak lama, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang pria yang memakai topeng di sampingku, dia berbicara begitu saja kepadaku, membuat aku sedikit kaget di buatnya.


"Langit memang terlihat indah dan mendamaikan sama sepertimu, aku merasa tenang ketika melihat wajahmu di saat aku hampir mati saat itu" ujar pria tersebut membuat aku terperanjat kaget.


"Ehh.... Si..siapa kau, apa kau berbicara kepadaku?" Tanyaku kepadanya dengan membelalakkan mataku dan menunjuk diriku sendiri.


"Tentu saja aku berbicara padamu tidak mungkin aku berbicara pada langit yang tidak bisa bicara ataupun pada orang-orang yang sibuk dengan kebisingan di bawah sana" balas dia sambil tersenyum kecil.


Aku hanya bisa melihat bibirnya saja karena bagian matanya di tutupi dengan topeng dan aku merasa sedikit familiar dengan postur tubuhnya tersebut namun aku masih belum bisa mengingat dengan jelas siapa pria itu sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2