
Malam ini aku tidak dapat memejamkan mataku, aku masih ingat betul kata-kata Kenny di rumah sakit.
Kata-kata yang sudah menggores sedikit hatiku.
Dia takut orang lain mengira aku adalah istrinya.
Aku memang tidak sebanding dengan Felly, dia walaupun janda jauh lebih cantik dari aku, kulitnya putih, tinggi, dengan kedua mata yang indah.
Wajar saja Kenny jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.
Setelah dulu aku tau dia memilih Felly, aku semakin minder dan rendah diri.
Kulitku tidak putih, tapi hitam juga tidak, kata orang kulitku sawo matang, aku berkaca mata, mungkin karena aku sangat suka membaca, sehingga penglihatan ku jadi minus.
Rambutku bergelombang, sering kali aku mengikat rambutku ke belakang, seperti ekor kuda.
Dulu saat remaja, Kenny sering usil menarik rambut ekor kudaku. Dia sukses membuatku menangis karena keusilannya.
Namun itu semua hanya sebuah kenangan masa lalu, satu-satunya yang membuatku bangga adalah dulu aku pernah menjadi pacarnya, walaupun hanya untuk sebuah status.
Kenny adalah idola kaum wanita, selain berwajah tampan dan rupawan, Kenny juga atletis dan multi talenta, senyum manisnya mampu menggetarkan hati setiap wanita. Termasuk diriku mungkin.
Karena itulah dia sering jadi korban kejaran para wanita, tak perduli itu guru atau murid atau siapa saja.
Karena itu Kenny meminta padaku untuk menjadi kekasihnya, tak lain adalah demi sebuah status yang akan menyelamatkannya dari kejaran para wanita.
Aku pun menyetujuinya, karena aku pun sudah mencintai Kenny sejak lama. Aku sangat bahagia.
Namun ternyata hubungan itu tidak bertahan lama, setelah Kenny mulai jatuh cinta pada Felly, maminya Icha.
Ah, sudah lah, semuanya itu sudah berlalu, kini Kenny juga telah kehilangan orang yang di cintainya itu.
Itu adalah takdir, ya, sebuah takdir.
Drrt ... Drrrt ... Drrrt
Ponselku bergetar, aku langsung mengambil ponselku yang ada di atas meja kamarku.
Sekilas aku melihat, panggilan itu dari Kenny, ada apa malam-malam dia meneleponku?
Aku lalu segera mengusap layar ponselku itu.
"Halo ..." sapaku.
"Halo Din, Dedek Al Demam, aku sudah memberinya obat, tapi demamnya belum turun, kebetulan Mbok Sumi baru pulang kampung tadi sore karena saudaranya sakit!" tutur Kenny.
"Coba kamu minta tolong pada Mbak Nur Ken," usulku.
__ADS_1
"Mbak Nur juga bingung Din, apalagi ayah, dia tidak mengerti sama sekali .. Aku harus bagaimana?" tanya Kenny.
"Tenang Ken, kamu jangan panik, sekarang kau ambilah sapu tangan handuk, lalu kompreslah di dahi baby Al, lakukan beberapa kali jika kompresan mulai kering!" jawabku.
"Baiklah, aku akan coba!" sahut Kenny.
"Oke, kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi aku ya Ken!" ucapku.
"Iya Din!" Jawab Kenny.
Kemudian telepon segera di matikan oleh Kenny.
Aku kembali merebahkan tubuhku di tempat tidurku.
Kasihan Kenny, seorang laki-laki muda yang belajar mengurus bayi tanpa ada dampingan wanita sisinya.
Kalaupun aku menjadi baby sitter untuk baby Al, aku ikhlas, bahkan tanpa di gaji sekalipun, yang penting Kenny tidak susah dan baby Al ada yang mengurusnya.
Ah, kenapa pikiranku jadi melayang kemana-mana? Aku menutup kepalaku dengan selimut, berharap aku segera tidur dan menepis semua pikiran-pikiranku.
****
Pagi ini, aku bangun agak kesiangan, karena semalam aku tidur terlalu larut.
Aku masih terbaring di tempat tidurku sambil mengucek mataku, tiba-tiba ibu masuk ke dalam kamarku begitu saja.
"Liburan ini Bu!" sahutku.
"Sudah bangun sana, terus mandi pakai baju yang bagus, dandan sedikit!" kata Ibu.
Aku mengerutkan keningku bingung.
"Ngapain pakai baju bagus segala di rumah?" tanya ku heran.
"Hari ini Pak Banu dan Kenny mau datang!" sahut Ibu.
"Hah?? Datang?? Ngapain Bu?" tanya ku lagi.
"Entahlah, tadi pagi-pagi sekali Pak Banu sudah telepon, katanya dia dan Kenny mau datang!" kata Ibu yang langsung ngeluyur begitu saja keluar dari kamarku.
Aku kemudian bangkit dari tempat tidurku, menyambar handuk yang di jemur di balkon, kemudian masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, ku lihat Bapak sedang sibuk menata ruang tamu, sementara Ibu sibuk memasak di dapur, aku pun bergegas ke dapur membantu ibu.
"Masak apa sih Bu? Kok tumben banyak begini belanjaannya!" tanya ku pada Ibu yang nampak sibuk memotong bawang dan sayuran.
"Masak Sop tulang iga, ayam goreng dan sambal goreng kentang, juga dendeng balado!" jawab Ibu.
__ADS_1
"Banyak amat masaknya Bu? Kayak mau acara besar-besaran saja!" cetusku sambil mulai membantu ibu menggoreng ayam yang sudah di ungkep.
"Kata Bapak, nanti Pak Banu datang sama Kenny adalah untuk membicarakan soal perjodohan kalian!" jelas Ibu.
Mataku melotot karena terkejut.
"Hah? Perjodohan? Serius Bu?" tanya ku tak percaya.
"Ya serius lah, sejak kapan ibu bohongin kamu!" sahut Ibu.
"Tapi Bu, Kenny kan masih Berduka!" ujar ku pada Ibu.
"Justru Pak Banu minta perjodohan ini di percepat, supaya Kenny bisa cepat move on kata orang sekarang mah!" kata Ibu.
"Tapi Bu, Kenny tidak pernah mencintai aku, dia tidak akan bisa move on semudah itu!" cetusku.
"Sabar Din, ibu dan bapak itu cuma mau Dini menikah dan bahagia, dan ibu tau kamu akan bahagia jika menikah dengan Kenny, makanya ibu dan bapak sepakat untuk menerima perjodohan ini!" jelas Ibu.
Aku diam saja tanpa bicara apapun pada ibu, aku memang mencintai Kenny, tapi aku juga harus memikirkan perasaan Kenny, dan cinta itu adalah sebuah keikhlasan, bukan paksaan.
Makanan sudah tertata di meja makan, ruang tamu juga sudah rapi dan bersih.
Aku duduk merenung di tepi ranjang ku, apakah Kenny juga setuju atas perjodohan ini, sedangkan kemarin saja dia tidak mau orang mengira aku adalah istrinya.
Tiba-tiba ada yang mengalir di pipiku, perasaan tidak menentu menaungi seluruh hatiku.
Di tengah kegalauan dan kebimbangan ku, tiba-tiba aku teringat akan pesan mendiang Felly.
Sebelum meninggal, Felly pernah berucap hendak menitipkan Kenny dan anak-anaknya padaku.
Entah ini firasat atau bukan, tak lama setelah Felly mengatakan hal itu, dia sudah pergi meninggalkan kami.
Ya, Kenny adalah wasiat dari Felly, dan suatu wasiat adalah wajib hukumnya untuk di laksanakan, termasuk menjaga Kenny dan anak-anaknya.
Ceklek!
Ibu masuk ke kamarku, buru-buru aku menghapus air mataku.
"Pak Banu dan Kenny sudah datang Din, apakah kamu sudah siap?" tanya Ibu.
"Aku sudah siap Bu!" jawabku mantap sambil beranjak berdiri dan melangkah keluar dari kamarku.
Di ruang tamu itu, sudah ada Bapak, Om Banu dan Kenny.
Bersambung ...
*****
__ADS_1