Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Miss Mona


__ADS_3

Aku tertegun melihat wanita yang kini ada di hadapanku.


Semua yang ada padanya sangat mirip dengan Felly, bahkan suara dan postur tubuhnya.


Kalau Felly berambut lurus sedangkan Miss Mona rambutnya bergelombang.


Tiba-tiba ada perasaan gundah yang melanda dadaku, apa tanggapan Kenny saat melihatnya? Kenapa harus Miss Mona yang jadi guru bahasa Inggris?


"Hei, ada apa denganmu?" tanya Miss Mona sambil melambaikan tangannya di depan wajahku.


"Oh, tidak, kamu guru bahasa Inggris yang baru? Perkenalkan, aku Dini, istri dari Mister Kenny!" sahutku yang langsung membalas uluran tangannya.


"Oh, ternyata anda istrinya Mister Kenny, kebetulan kalau begitu, Pak Budi baru saja memintaku untuk menemui Mister Kenny untuk persetujuan penerimaan guru baru!" kata Miss Mona.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke ruangan suamiku!" jawabku sambil kembali berjalan dan mendorong stroller baby Al menuju ke ruangan Kenny.


Aku langsung membuka pintu ruangan Kenny, dia nampak sedang membaca beberapa surat dan proposal, di hadapannya masih menyala laptopnya.


Melihat kedatanganku, dia sedikit terkejut, terlebih saat dia melihat Miss Mona yang sangat mirip dengan Felly, mendiang istrinya.


"Ada yang ingin bertemu denganmu Ken, Miss Mona, guru bahasa Inggris yang baru pengganti aku!" jelasku.


"Oh, baik, silahkan duduk!" sahut Kenny.


Dia sangat tenang, tidak menunjukan wajah terkejutnya, namun aku merasa matanya tak lepas dari Miss Mona, mungkin dia juga merasa bahwa Miss Mona sangat mirip dengan Felly.


"Pengalaman kerjamu di mana saja?" tanya Kenny dengan penuh wibawa.


Kini Miss Mona sudah duduk di hadapan Kenny.


"Saya lulusan dari Singapore, saya pernah mengajar di sekolah internasional selama dua tahun, setelah melihat di sini ada lowongan menjadi guru lewat internet, saya baru mencoba melamar di sini, dan kebetulan hari ini Pak Budi menerima saya bekerja karena katanya memang sekolah ini sangat membutuhkan guru bahasa Inggris!" jelas Mona.


Kenny terlihat menganggukan kepalanya, aku hanya menyimak pembicaraan mereka sambil memangku Baby Aldio dan memberikannya susu.


"Kalau memang Pak Budi sudah menerima anda untuk mengajar di sini, sayapun menyetujui anda untuk mengajar di sini!" ujar Kenny.


Perkataannya tiba-tiba membuatku semakin gundah gulana, wajah itu, wajah Miss Mona, mengapa sangat mirip dengan Felly, mampukah suamiku untuk move on dari Felly kalau dia setiap hari melihat Mona?


"Trimakasih Mister Kenny, saya akan berkerja dengan sebaik-baiknya, sekali lagi terimakasih telah menerima saya untuk mengajar di sini!" ucap Mona berkali-kali.

__ADS_1


"Ya, sama-sama, sekarang kamu boleh keluar dari ruangan ku!" ujar Kenny.


Mona langsung beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini.


Setelah Mona keluar, Kenny beranjak dari tempatnya dan kemudian melangkah mendekati aku dan duduk di sampingku.


Tangannya mengelus kepala baby Al yang sedang minum susu di pangkuanku.


"Dedek Al sudah bobo Din?" tanya Kenny.


"Sudah tadi, waktu aku membawanya jalan-jalan mengitari sekolah!" jawabku.


"Oh, kalau kamu capek menggendongnya atau memangkunya, letakan saja dia di sofa itu, atau di dalam strollernya!" kata Kenny sambil mencium kening Baby Al.


Rambut Kenny menyentuh wajahku, dapat kurasakan aroma maskulinnya yang bercampur dengan wangi shampo, membuat aku spontan memejamkan mata dan menikmatinya.


"Bagaimana dengan guru baru itu Ken?" tanyaku setelah Kenny selesai mencium baby Al.


"Guru baru yang mana?" tanya Kenny balik.


"Yang tadi, Miss Mona!" sahutku.


"Oh, dia, biasa saja!" ujar Kenny cuek.


Padahal tadi aku sempat melihat tatapan Kenny pada Miss Mona juga mengekspresikan keterkejutannya.


"Hei, ada apa denganmu Din?" tanya Kenny membuyarlan lamunanku.


"Tidak Ken, kau pasti merasa kalau Miss Mona itu mirip sekali dengan Mbak Felly, iya kan Ken?" tanyaku.


"Di dunia ini banyak sekali orang yang mirip, kenapa kamu mempermasalahkan itu?" tanya Kenny sambil menatapku.


"Aku tidak mempermasalahkan itu Ken, aku hanya takut, kau akan kembali teringat dengan Mbak Felly!" ucapku jujur.


Kenny mengangkat daguku dengan tangannya, dia menatapku dengan sangat dalam, sedalam lautan dan tak mampu untuk menyelaminya.


"Apa yang kamu pikirkan?? Apakah kamu berpikir aku akan menyukainya, hanya karena dia mirip dengan Felly?" tanya Kenny yang masih memegang daguku.


"Bukan itu maksudku!" sergahku.

__ADS_1


"Lalu apa? Apakah sedangkal itu kepercayaan mu padaku?? Sampai kamu mencurigai aku seperti itu??" Kini suara Kenny terdengar semakin meninggi.


Air mataku langsung meleleh mendengar perkataannya, aku salah, ya, aku salah karena telah sedikit berpikir negatif tentang suamiku sendiri, padahal belum terjadi apa-apa.


"Maafkan aku Ken! Maaf!" ucapku sambil menangis.


Kenny menghapus air mataku dengan tangannya, lalu dia mengecup keningku.


"Percayalah padaku Din, aku bukan orang serendah itu yang dengan mudahnya berpaut dari satu wanita ke wanita yang lain, kalau kamu keberatan, saat ini aku akan menyuruh Miss Mona untuk undur dari sini!" tegas Kenny.


"Jangan Ken, maafkan aku, aku hanya takut kehilangan Kenny, aku ... aku sayang sama Kenny!" isak ku Air mataku kembali tumpah.


Kenny lalu memeluk aku dengan erat, bahkan teramat erat.


"Kau sekarang adalah istriku Din, tidak ada lagi yang mampu memisahkan kita kecuali maut, seperti aku dan Felly, terpaksa berpisah karena maut yang memisahkan!" kini gantian Kenny yang menetaskan air mata.


Aku terkesiap, aku tidak mau melihat air mata itu jatuh lagi di pipi laki-laki yang sangat aku cintai, aku lalu menghapus air mata Kenny dengan kecupan-kecupanku di pipinya.


"Maafkan aku Ken, jangan sedih, maafkan aku!" ucapku berkali-kali.


"Sudahlah Din, sudah mau jam istirahat sekolah, tidakkah kamu ingin makan sesuatu? Kita makan di kantin yuk, sekalian aku mau memantau kondisi kantin terkini, apa saja yang mereka sajikan!" ucap Kenny. Aku menganggukan kepalaku.


Setelah meletakan baby Al di strollernya, Kenny pun menggandeng tanganku keluar dari ruangannya, lalu kami berjalan menuju ke kantin sekolah yang masih terlihat sepi, karena bel istirahat belum berbunyi.


"Eh, ada Mister Kenny, ayo silahkan Mister, duduk dulu, mau pesan makan apa nih?" tanya ibu penjaga kantin yang terlihat sangat antusias.


Kami pun duduk di salah satu meja kotak yang terlihat seperti meja cafe.


Seorang pelayan menyodorkan buku menu makanan.


"Kamu mau makan apa Din?" tanya Kenny.


"Terserah Kenny saja, aku ikut, apa yang kamu suka, aku juga suka!" jawabku.


"Aku mau makan nasi ayam bakar, apakah kamu mau?" tanya Kenny lagi. Aku menganggukan kepalaku.


Kenny memanggil pelayan dan mulai memesan makanan dan minuman kami.


Teeeeet ... Teeeet

__ADS_1


Bel sekolahpun berbunyi, terdengar riuh suara para murid yang langsung berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing.


*****


__ADS_2