Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Sikap Kenny


__ADS_3

Kenny masih diam tanpa bicara sepatah kata pun, namun tatapannya terlihat aneh, bahkan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


Meskipun tadi aku merasa begitu takut, tapi Kenny terlihat bisa mengontrol emosinya.


Tak lama kemudian, dua orang pelayan restoran itu datang dan menyajikan makanan yang dipesan Kenny tadi.


Aku belum bisa meraba-raba, apa yang ada dalam pikiran Kenny saat ini, apakah dia marah karena aku ingin berpisah dengannya, atau justru sebaliknya, dalam hati dia senang akhirnya bisa juga terbebas dari aku.


"Makanlah Din!" kata Kenny.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, kemudian perlahan aku menikmati sajian stik dan kentang yang sudah tersaji di hadapanku, Kenny nampak menikmati makanannya, tapi sepertinya dia juga tidak berselera makan.


Aku mulai menyantap perlahan makanan yang telah disajikan itu, aku baru menyadari kalau perutku memang sudah lapar, karena sejak siang tadi aku belum makan.


Aku sedikit heran melihat sikap Kenny, saat aku mengatakan mengenai perpisahan, mulanya Dia terlihat kaget dan melotot ke arahku, menatapku dengan tatapan tak percaya.


Tapi anehnya, dia tidak menanyakan alasanku untuk berpisah dengannya, setelah itu dia terlihat bersikap biasa, namun dari tatapan matanya, aku melihat ada yang berbeda dari Kenny, aku tidak berani menebak-nebak, terkadang tebakanku itu bisa salah.


Sepanjang kami menikmati hidangan di restoran itu, Kenny hampir tidak bicara, entah apa yang ada di benak laki-laki itu, aku pun tidak mencoba untuk memulai pembicaraan, karena aku merasa aku sudah mengungkapkan perasaan hatiku yang paling dalam.


Kenny pun tidak menghabiskan makanannya, Masih ada sisa di piring, ini tidak biasa, Kenny paling pantang menyisakan makanan, tapi malam ini kenapa dia makan tidak habis?


Sementara aku, mungkin karena lapar atau bawaan bayi, aku makan nyaris tanpa sisa, sebenarnya aku malu juga sih, jadi terkesan seperti orang yang kelaparan, padahal aku memang benar-benar lapar.


"Kamu sudah selesai?" tanya Kenny.


Aku menganggukkan kepalaku, kemudian Kenny berdiri dan berjalan mendahuluiku menuju ke parkiran mobil, lagi-lagi aku mengikutinya dari belakang.


Dia masuk ke dalam mobilnya dan aku pun ikut masuk ke dalam mobilnya, kemudian Kenny langsung melajukan mobilnya itu keluar dari restoran, matanya menatap lurus ke depan, namun aku bisa menangkap sorot matanya yang terlihat kosong, sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Kenny.


"Ken, Maafkan Aku, mungkin aku salah telah mengatakan hal itu padamu tadi, tapi jujur saja Ken, sekarang aku mengalah, aku tidak lagi memaksakan perasaan yang ada di dalam sini!" ucapku sambil menunjuk ke arah Dadaku.


"Kenapa kamu minta maaf? Apakah kamu memang merasa bersalah, Apakah hidup denganku adalah suatu tekanan bagimu?" sahut Kenny sambil terus menatap ke depan.


"Ken, Mungkin kamu tahu bagaimana perasaanku sejak dulu, tapi aku menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan, dan aku memilih untuk mundur!" ucapku.


"Karena kamu sudah menemukan orang yang tulus? Makanya semudah itu kamu menggunakan kata pisah dan mundur?" tanya Kenny lagi.


"Apa maksudmu?" tanya ku balik tak mengerti.


"Jangan pura-pura! Menurut keterangan polisi yang mengamati rumah Bu Ira, Leo sering sekali datang ke rumah Bu Ira, mau apa lagi dia kalau bukan untuk bertemu denganmu!" sahut Kenny.


"Ken! Jangan sembarangan menuduh!" sergahku.


"Aku tidak menuduh, aku bicara sesuai fakta, benar kan selama kamu pergi, kamu hanya berkomunikasi dengan Bu Ira dan juga Leo! Tapi kenapa harus Leo? Apa karena dia kini telah menjadi duda dan kamu merasa aman dalam lindungannya?" Cecar Kenny.


"Kamu salah besar Ken! Leo tidak seperti apa yang kau katakan itu!" tukasku.


"Yah, kau lari dariku, kau pergi di luar sana bertemu dengan laki-laki lain, dengan alasan kau merasa tertekan bersamaku, setelah itu kamu membuat keputusan untuk berpisah denganku, karena kamu sudah menyadari bahwa Leo benar-benar dalam mencintaimu, bahkan sejak dulu!" ungkap Kenny.

__ADS_1


Aku terhenyak mendengar kata-kata dari Kenny, tidak menyangka dia akan berpikir seperti itu, padahal apa yang dipikirkannya itu salah, Leo tidak seperti itu, Leo hanya membantuku, apalagi dulu aku, Leo dan Kenny pernah bersahabat.


"Ken, Kenapa kamu menuduhku seperti itu? Kenapa kamu hanya melihat dari satu sisi? Kenapa kamu tidak tanya padaku alasan kenapa aku pergi darimu?" tanyaku sambil menoleh ke arah Kenny yang masih menyetir dengan tatapan yang lurus ke depan.


Kenny terdiam tidak menjawab semua pertanyaanku, tapi dari wajahnya menyimpan sesuatu yang aku sendiri pun tidak tahu apa itu.


Sebenarnya sejujurnya aku sangat merindukan Kenny, sejak aku pergi aku bahkan belum memeluknya, meskipun rasanya ingin sekali, namun situasi tidak mendukung, apalagi Kenny kini masih terlihat emosi, entah apa yang menyebabkan dia begitu emosi.


Aku tahu aku memang salah, Aku pergi dari rumah tanpa seizinnya, tapi aku yakin, seumur hidup aku melakukan kesalahan besar hanya satu kali, dan seharusnya dia tahu alasan kenapa aku pergi meninggalkan rumah waktu itu.


Apakah dia tidak sadar kalau cintanya yang besar terhadap Felly bahkan masih menyimpan dan memandang fotonya, mengungkapkan isinya hatinya melalui secarik kertas, itu tidak melukai hatiku? Apakah dia tidak sadar itu?


Yah, mungkin memang benar keputusanku, berpisah adalah jalan yang terbaik karena kami pun sepertinya sulit untuk bersatu.


Kenny menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya, tanpa sadar kami sudah sampai tujuan, padahal jujur aku belum siap untuk pulang, bertemu dengan anak-anak dan juga Ayah, tapi kenapa Kenny membawaku ke rumah, apakah dia tidak ingin mengobrol dulu berdua denganku, entah di suatu tempat, atau di mana gitu.


"Kenapa diam saja? Ayo turun! Apa kamu sudah lupa di mana rumah suamimu?" tanya Kenny yang sudah mematikan mesin mobilnya dan mulai membuka pintu mobilnya itu.


Mau tidak mau aku menurut, aku membuka pintu mobil dan kemudian turun dari mobil Kenny, lalu berjalan menuju gerbang yang sudah dibukakan oleh Mbok Sumi.


"Ya Tuhan Bu Dini! Akhirnya Bu Dini pulang juga, syukurlah Bu, kami semua di sini mencemaskan Ibu!" seru Mbok Sumi yang kelihatan begitu senang dengan kedatanganku.


Aku hanya tersenyum sambil mencoba menganggukkan kepalaku, lalu kembali berjalan masuk ke dalam rumah, pasrah dengan semuanya, meskipun aku akan disalahkan oleh ayah Mertuaku, pokoknya aku sudah pasrah.


Ku lihat suasana rumah sangat sepi, sepertinya anak-anak sudah tidur, Ayah juga tidak terlihat, sepertinya Ayah juga sudah masuk ke kamarnya dan tertidur, aku menarik nafas lega, setidaknya aku tidak usah merangkai kata untuk memberikan alasan soal kepergianku waktu itu.


"Din, Masuklah ke kamar!" ujar Kenny.


Aku kemudian masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu, membasuh wajahku, membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku, aku lega juga karena di kamar ini pakaianku masih tersusun rapi di lemariku.


Setelah itu aku mulai duduk di tepi ranjang itu, ranjang yang menjadi saksi bisu di mana aku Bercinta Dengan Kenny, sehingga menghasilkan janin yang kini bersemayam di perutku.


Ceklek!


Pintu kamar dibuka dari luar, Kenny nampak masuk sambil membawakan segelas susu di tangannya, kemudian dia menyodorkan segelas susu itu ke arahku.


"Minumlah, mungkin selama kamu pergi, kamu kurang memperhatikan asupan gizi untuk bayi itu!" kata Kenny.


Aku menganggukkan kepalaku, setelah itu aku langsung meminum susu yang diberikan oleh Kenny, entah kenapa ada perasaan menghangat di dalam hatiku, tapi aku buru-buru menepiskan perasaan itu, aku tidak mau lagi tertipu oleh perasaanku sendiri.


Setelah aku berhasil menghabiskan susu yang diberikan Kenny, Kenny pun langsung mengambil gelas kosong, kemudian meletakkan di atas meja, perlakuannya padaku memang baik, kadangkala membuat aku luluh, tapi mungkin perlakuannya tidak sesuai dengan hatinya, aku tahu sejak dulu dia memang baik padaku, tapi aku merasa tidak pernah benar-benar memiliki hatinya.


"Sekarang cepatlah tidur, pasti kamu sangat lelah, kasihan bayimu kalau ibunya capek dia juga pasti capek!" ujar Kenny.


Lagi-lagi aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa bicara, Kemudian aku pun langsung merebahkan tubuhku, Kenny pun menyusul di sebelahku, mulanya aku sedikit kaget, padahal sebelum aku pergi dari rumah ini, Kenny memilih tidur di luar daripada bersamaku, tapi kali ini dia tidur satu ranjang denganku.


Aku yang merasa canggung kemudian membelakangi Kenny, aku tutup seluruh tubuhku dengan selimut, kemudian aku mencoba untuk memejamkan mataku.


Sepertinya Kenny juga sudah berbaring di sampingku, aku mendengar suara nafasnya yang teratur, ingin melihat ke belakang tapi aku tidak berani, aku tetap dalam Posisiku semula, membelakangi Kenny, nanti kalau dia sudah tidur nyenyak, baru aku berani untuk merubah posisi.

__ADS_1


Berusaha memejamkan mataku dan menenangkan pikiranku rupanya tidak berhasil membuatku tidur, aku masih saja terjaga, belum terdengar suara dengkuran Kenny, sepertinya Kenny juga belum bisa tidur, karena aku tahu kalau Kenny tertidur pasti akan terdengar suara dengkuran halusnya, tapi ini tidak.


Aku tidak tahu ini sudah jam berapa, tapi aku masih belum bisa untuk memejamkan mataku, aku berpura-pura tidur di hadapan Kenny supaya dia menganggap kalau aku memang tidur, Padahal aku tahu dia belum tidur.


Tiba-tiba aku merasakan ada yang menyentuh pinggangku, aku berusaha untuk menahan rasa sedikit geli, aku tahu itu tangan Kenny yang berusaha untuk memelukku, kalau aku menolak atau menghindar dia pasti tahu kalau aku belum tidur, padahal aku ingin Kenny menganggapku benar-benar tidur, meskipun aku hanya pura-pura.


Aku tidak tahu apakah Kenny sadar kalau aku belum tidur atau dia mengira kalau aku sudah tertidur beneran, tapi tangan Kenny semakin kuat merengkuh Pinggangku, bahkan aku bisa merasakan leher bagian belakangku tersentuh oleh bibirnya, bulu Kudukku langsung berdiri, aku meremang seketika, namun aku berusaha untuk menahannya.


Sebagai seorang laki-laki, wajar Kenny memiliki hasrat seperti itu, apalagi sejak aku pergi mungkin Kenny sedang butuh pelepasan, aku pun berusaha pasrah saja, karena aku juga kasihan pada Kenny, bahkan tubuhku sepertinya merindukannya, merindukan sentuhannya, karena setiap sentuhannya membuat tubuhku nyaman, dan aku merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Aku bisa merasakan nafas Kenny yang menderu, sepertinya dia sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya, dia terus menciumi tengkuk hingga punggungku, bahkan tangannya semakin erat memelukku, meskipun dari belakang aku bisa menikmatinya.


Namun tiba-tiba ada perasaan sedih di dalam hatiku, mungkin secara biologis Kenny butuh, tapi secara hati mungkin bisa jadi dia menganggap kalau aku ini Felly, Aku pasrah saja, mungkin ini adalah sentuhan terakhirnya sebelum aku dan Kenny benar-benar berpisah.


Tanpa sadar Kenny terus melucuti pakaianku, anehnya tubuhku meresponnya dan aku membiarkan dia melakukannya, hingga aku benar-benar polos, mataku masih kupejamkan, Aku tidak berani membuka mataku, aku masih berpura-pura tidur, gengsi juga kalau aku tiba-tiba membuka mata, aku juga malu karena meskipun Aku mengatakan cerai padanya, tapi aku masih menginginkannya.


Anehnya Kenny juga tidak berbicara apa-apa, dia bermain dengan bahasa tubuhnya tanpa suara, dan tanpa perkataan, bahkan dia mengecupi seluruh tubuhku dengan bibirnya yang hangat, disertai dengan sentuhan-sentuhan lembut jemarinya yang membuat bulu kudukku semakin merinding.


Ketika kecupan itu sudah sampai di Dadaku, aku nyaris menahan nafasku, karena Kenny dengan lembut mengecupi dadaku bahkan **********, membuat aku terhanyut dalam kenikmatan sentuhan Kenny, yang tidak sadar membuat semuanya menegang, apalagi aku sedang hamil, dadaku semakin padat dan berisi, dan Kenny semakin bergairah.


Dia masih terus menikmati dadaku tanpa sepatah kata pun, hanya suara kecapan dan sedikit ******* dari mulutnya, aku yang ingin bersuara berusaha untuk menahannya, supaya tidak menimbulkan suara yang membuat aku malu, aku berusaha untuk menahan semua kenikmatan yang Kenny berikan malam ini.


Hingga akhirnya, setelah dia puas mencumbuiku, dia pun mulai melucuti pakaiannya sendiri, aku bisa merasakan ada benda hangat yang terlihat sangat keras dan tegang yang menyentuh pahaku.


Aku masih memejamkan mataku, berpura-pura tidur dengan pulas, Padahal aku merasakan semuanya, merasakan kenikmatan yang Kenny berikan, bahkan kini jemari Kenny sudah menyentuh area pribadiku, dia mulai bermain-main di sana yang membuat aku serasa tidak tahan lagi.


Sebenarnya aku malu juga, karena ternyata bagian sensitifku sudah sangat basah, Kenny terus memainkan jarinya di sana yang membuat aku mau tidak mau mengeluarkan suara erangan.


"Jangan berkata apapun, Nikmati saja!" ucap Kenny.


Sepertinya Kenny tahu kalau aku tidak lagi tidur, aku yang terlanjur malu hanya bisa menggigit bibirku, tidak mungkin kan dalam suasana seperti ini aku langsung menepiskannya, lagi pula saat ini aku sedang berada dalam puncak kenikmatan bersama dengan Kenny, dan aku berharap ini akan dilanjutkan sampai tuntas.


Jari jemari Kenny terus bermain di daerah sensitifku sehingga aku yang tidak tahan lagi langsung melenguh dan aku sudah mencapai puncak kenikmatan, saat itulah Kenny mulai mengecup bibirku, memberikan aku kenikmatan yang menunjukkan seolah-olah kalau hanya dia milikku.


Mungkin Secara fisik dia memang milikku, karena dia masih Suamiku, lagi-lagi aku teringat hatinya, hatinya yang seringkali mengingat Felly, tapi malam ini aku berusaha menepiskan pikiran-pikiran itu, aku ingin menikmatinya bersama dengan Kenny, anggap saja ini adalah kenikmatan yang terakhir yang aku rasakan bersama dengan Kenny, sebelum aku dan Dia benar-benar bercerai.


Hingga aku merasakan ada sesuatu benda besar dan keras yang masuk ke dalam tubuhku, aku tidak merasa sakit sama sekali, karena daerah sensitifku sudah teramat sangat basah, aku yang sudah mencapai puncak kembali lagi merasakan kenikmatan-kenikmatan itu, sehingga tanpa sadar aku memeluk tubuh Kenny dengan erat menikmati setiap permainannya.


Kami melakukannya dengan tanpa suara, hanya dengan *******-******* dan erangan-erangan kecil, itu juga Aku berusaha untuk menahannya, karena jujur aku malu kalau terciduk oleh Kenny aku benar-benar menikmati permainannya, apalagi kami baru saja punya masalah besar, apalagi dia tahu keputusanku untuk berpisah dengannya.


Entah sampai berapa lama kami bercinta malam ini, kami sangat menikmatinya satu sama lain, hingga pada akhirnya Kenny pun kembali melepaskan benih-benih hangatnya di dalam rahimku, perasaanku menghangat seketika.


Entah kenapa ada sedikit kebahagiaan, rasanya tidak rela kalau ini adalah yang terakhir, dan aku berharap ini akan menjadi satu kenangan indah yang tidak akan aku lupakan seumur hidup


Setelah Kenny melakukan pelepasan, dia pun nampak terkulai disampingku, aku membuka mataku kini aku melihat dia terpejam dengan nafas terengah-engah, tubuhnya masih polos tanpa selembar benang pun, sepertinya Kenny terlihat lelah, dia langsung memejamkan matanya dan tertidur.


Aku yakin kalau Kenny benar-benar tertidur, Karena kini suara dengkuran halusnya sudah mulai terdengar.


Perlahan aku menyelimuti tubuh Kenny, Kasihan juga dia tidak mendapatkan jatahnya selama aku pergi, aku pun kembali berbaring di sampingnya, rasanya bahagia bisa membuat dia puas seperti itu, tapi tiba-tiba saja hatiku menjadi sedih, karena mungkin aku tidak akan bisa lagi menikmati seperti malam ini.

__ADS_1


Bersambung ....


*****


__ADS_2