
Hari ini tubuhku terasa kurang fit, Kenny menyuruhku untuk tinggal di rumah saja, tidak ikut ke sekolah seperti biasanya, katanya dia mengkhawatirkan aku.
"Kau istirahat saja di rumah Din, di sini kan banyak orang yang membantumu, ada Mbak Nur, ada Mbok Sumi!" kata Kenny.
"Iya Ken, aku memang mau di rumah saja hari ini!" sahutku sambil mengantar Kenny dan Icha ke depan menuju ke mobilnya yang sudah terparkir di depan gerbang.
Aku melambaikan tanganku saat mobil Kenny bergerak meninggalkan rumah ini.
Aku lalu beranjak ke dapur, berniat membantu Mbok Sumi memasak, mumpung baby Al sedang tidur.
Saat aku membantu Mbok Sumi, perutku tiba-tiba mual mencium bau ikan.
Aku langsung muntah-muntah di kamar mandi.
Mbok Sumi membantu memijiti leherku dengan minyak angin.
"Bu Dini kelihatannya sedang isi ya?" tanya Mbok Sumi.
"Iya Mbok, aku hamil 7 Minggu!" sahutku.
"Oala, kok Mas Kenny tidak cerita-cerita sih, padahal dulu waktu mendiang Mbak Felly hamil, semua orang di beritahu!" ungkap Mbok Sumi.
Aku sedikit terhenyak mendengar perkataan mbok Sumi, apakah kehamilanku ini bukan hal yang spesial buat Kenny, sehingga dia enggan memberitahukannya pada siapapun?
"Pantesan di lemari dapur banyak stok susu hamil, Mbok kira punya Mbak Felly dulu!" tambah Mbok Sumi.
Setelah badanku lumayan enak, aku pamit pada Mbok Sumi ingin jalan-jalan di luar cari angin.
Kebetulan baby Al masih tidur, aku keluar sendiri menuju ke arah minimarket di depan rumah.
Sekalian aku juga mau melihat-lihat perlengkapan bayi, karena di sebelah minimarket itu ada baby shop.
Saat aku masuk ke dalam minimarket dan mulai memilih snack untuk Icha, tiba-tiba ada yang menyentuh punggungku dari belakang.
Aku langsung menengok kebelakang, aku melotot saat melihat ada Leo yang sudah berdiri di belakangku.
"Leo?? Ngapain kau di sini?" tanyaku kaget.
__ADS_1
"Tadi aku cuma lewat Din, lalu aku melihatmu masuk ke sini, jadi aku ikuti saja deh, kau tidak ikut Kenny ke sekolah?" Leo balik bertanya.
"Tidak, perutku sedang tidak enak, aku memilih di rumah saja, sekalian menjaga Al!" jawabku.
"Kau sedang hamil begini, kenapa dari awal Kenny tidak menceritakannya padaku? Dia memang cuek dari dulu!" cetus Leo.
"Kau sendiri, kenapa akhir-akhir ini kau sering pergi sendiri? Apakah istrimu masih di rumah orang tuanya?" tanyaku.
"Din, sebenarnya ... aku dan istriku sedang dalam proses perceraian!" ucap Leo.
"Hah?? Cerai? Kenapa? Baru saja kau menikah, kenapa harus cerai??" tanyaku sambil melotot.
"Ya itu lah Din, kalau menikah bukan atas dasar cinta, tidak akan pernah cocok, padahal aku sudah berusaha menjadi suami yang baik, tetap saja kurang!" ungkap Leo.
"Kau yang sabar ya Le, suatu hari, kau pasti akan dapat pengganti istrimu itu!" ucapku.
"Din, apakah kau bahagia menikah dengan Kenny?" tanya Leo tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya seperti itu Le?" aku balik bertanya sambil menatap tajam Leo, sungguh aku tidak suka dengan pertanyaan itu.
"Din, kemarin saat ku datang ke rumah kalian, saat aku curhat masalah rumah tanggaku pada Kenny, dia malah curhat tentang ... mendiang istrinya, dalam hati aku tidak rela, dia membicarakan Felly padahal saat ini kau lah yang jadi istrinya, walaupun Felly sudah tiada!" ungkap Leo.
Kenapa Kenny menceritakan tentang Felly pada Leo, apakah aku ini beneran tidak layak untuknya, dia manis dan baik di depanku, hanya untuk menjaga perasaanku.
Padahal dalam hatinya hanya ada nama Felly, bahkan aku tidak ada dalam hati Kenny, aku malu, aku malu pada Leo.
"Maafkan aku Din!" ucap Leo sambil menyentuh bahuku.
Aku lantas menghindarinya, walau bagaimana aku ini istri orang, tidak pantas berdua dengan laki-laki lain walaupun hanya sebatas teman baik.
Tiba-tiba Leo menarik tanganku keluar dari minimarket itu, lalu membawaku masuk ke dalam mobilnya.
"Kalau kau mau menangis sekarang, menangislah Din, tidak akan ada orang yang melihatmu kecuali aku!" ucap Leo.
Aku lalu menangis sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku, mencurahkan seluruh perasaanku, tanpa bicara, hanya isakan tangisku saja yang terdengar.
Leo seolah memberikan kesempatan aku untuk menangis, untuk melepaskan segala beban yang ada dalam hatiku.
__ADS_1
Leo lalu memberikan tissue padaku untuk mengusap air mataku.
"Aku tau apa yang kau rasakan Din, apalagi saat ini kau sedang mengandung anak Kenny!" ucap Leo.
"Le, Kenny tidak salah Le, dia tidak pernah sedikitpun menyakiti aku, dia hormat dan santun padaku, dia perhatian dan baik padaku, mungkin aku yang salah, aku yang tidak tau diri, aku yang ..." Air mata kembali jatuh mengalir di pipiku.
Kenny tidak salah, tapi kenapa hatiku begitu sakit, kalau begitu siapa yang salah??
"Din, aku sudah lama sekali kenal dengan Kenny, dia memang tipikal orang yang akan sulit melupakan sesuatu dan susah move on, kau yang harus banyak bersabar menghadapinya, aku tau perasaanmu Din!" ucap Leo.
"Iya Le, aku tau aku harus sabar, dan aku akan bersabar untuk Kenny, karena dia adalah suamiku yang saat ini sangat aku cintai, apalagi kini ada benihnya di rahimku, trimakasih Le!" ujar ku yang akan bersiap untuk pergi, setelah di rasa hatiku cukup tenang.
"Din ... Seandainya, yang jadi Kenny itu aku, aku pasti akan sangat bahagia bersanding denganmu!" ucap Leo dengan suara bergetar.
Aku mulai paham situasi ini, Leo memang sejak dulu menyukai aku, aku tidak boleh lama-lama berdua dengannya, atau Leo akan semakin baper dengan situasi ini.
"Leo, aku harus pulang, baby Al menunggu ku, dan aku juga harus istirahat!" ujarku yang mulai membuka pintu mobil.
"Din, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku!" seru Leo.
Aku menganggukkan kepalaku, lalu dengan cepat aku berjalan menyebrang hendak kembali ke rumah.
Aku sampai lupa niat awal pergi untuk belanja dan melihat baby shop.
Aku memang harus pulang, kalau aku tidak segera pulang, akan semakin banyak aku bersama dengan Leo, itu tidak baik.
Walaupun Kenny belum bisa seutuhnya mencintaiku, setidaknya aku bisa menjaga kehormatanku sebagai istrinya, Kenny adalah suamiku yang sangat aku cintai, seumur hidupku.
"Lho, sudah pulang Bu? Tidak beli apa-apa?" tanya Mbak Nur heran.
"Iya Mbak, nanti saja bareng Icha, supaya dia bisa memilih snack yang dia mau!" sahutku sambil membawa baby Al ke atas untuk memberinya susu.
Aku langsung menaruh baby Al di atas ranjang ku, teringat akan perkataan Leo barusan, Kenny curhat tentang Felly, ada apa dengan Kenny, apakah dia merindukan Felly? Pantas saja aku menemukan bingkai foto Felly di bawah bantal Kenny.
*****
Akhir bulan ini cerita ini akan tamat ya guys ...
__ADS_1
Trimakasih atas kesetiaan membaca kisah ini sampai di part ini...