Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Pertemuan Para Guru


__ADS_3

Sore ini aku bersembunyi di kamar tamu, aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya, karena sebentar lagi rekan-rekan guru Bu Ira akan datang untuk membahas satu hal di rumah Bu Ira.


Mau tidak mau aku memang harus bersembunyi, dan tidak membuat mereka curiga sama sekali, sebenarnya aku sudah tidak tahan dengan kondisi ini, betapa tidak nyamannya aku terus-menerus bersembunyi di rumah Bu Ira, entah mau sampai kapan.


Sementara sekarang pikiranku semakin kalut, ditambah lagi baby Aldio yang sedang sakit dan masih dirawat di rumah sakit, aku jadi kepikiran terus, apalagi ibuku juga dalam kondisi kurang sehat, Kepalaku benar-benar pusing!


Apakah aku harus keluar dari tempat persembunyianku ini? Apakah aku sudahi saja semuanya ini? Jujur aku juga sudah lelah, hanya untuk seorang Kenny, aku sampai mengorbankan banyak hal, Apakah aku harus seegois itu?


Beberapa orang sudah berada di depan rumah Bu Ira, ternyata para guru itu sudah datang, aku bisa mengintip dari jendela kamar tamu, mataku melotot saat aku melihat Icha ada di antara mereka.


Aku mengerutkan keningku, kenapa Icha bisa ikut-ikutan datang ke rumah Bu Ira? Jangan-jangan Kenny juga akan datang ke rumah Bu Ira.


Dadaku tiba-tiba berdetak dengan keras, benar dugaanku, tak lama kemudian Kenny nampak berjalan kaki menyusul para guru itu, dan juga Icha yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju rumah Bu Ira.


Bu Ira terlihat membukakan pintu dan terdengar suara sambutannya, mereka kemudian masuk ke dalam rumah Bu Ira dan duduk di ruang tamu, Kenny yang menyusul di belakangnya pun ikut masuk ke dalam rumah Bu Ira, membuat jantungku semakin mau copot rasanya.


Kamar tamu yang aku pakai sekarang ini posisinya berada tepat di samping ruang tamu, ketika mereka semua sudah masuk dan duduk di ruang tamu, aku bisa mendengar dengan jelas suara mereka.


Karena rumah Bu Ira ini tidak terlalu luas dan di atas pintu kamar tamu ini terdapat ventilasi udara jadi akan sangat terdengar, suara orang di ruang tamu karena letaknya memang bersebelahan.


Aku kemudian berjalan ke arah pintu, Aku berusaha mengintip dari lubang kunci pintu kamar tamu itu, aku bisa melihat dengan jelas mereka duduk di sofa ruang tamu itu, jantungku semakin berdebar, aku melihat Kenny duduk di sana sambil memangku Icha.


Sebenarnya aku sangat rindu sekali pada Kenny dan juga Icha, Sudah lama aku tidak melihat mereka dari dekat, tapi dari lubang kunci ini aku bisa melihat mereka meskipun jarak hanya beberapa meter, namun aku bisa melihat dengan jelas wajah Kenny yang kebetulan duduk sambil menghadap pintu kamar tamu yang aku pakai saat ini.


Miss Mona juga hadir dalam pertemuan itu, walaupun dia guru baru, namun dia sepertinya sangat kompeten dalam memajukan sekolah milik Kenny, Kenny wajahnya terlihat datar saja, entah mengapa ada ekspresinya yang terlihat hilang, bukan seperti Kenny yang aku kenal dulu.


Bu Ira nampak sibuk menyajikan minuman dan makanan ringan yang di bawahnya dari dapur ke ruang tamu itu, sebagai teman mengobrol.


"Jadi bagaimana Mister, mengenai prospek status sekolah kita yang akan berubah menjadi sekolah internasional?" tanya Pak Budi yang terlihat menyeruput minuman yang disajikan oleh Ibu Ira tadi.


"Coba tanyakan langsung saja bagian kurikulum, Bagaimana proposal perencanaannya?" tanya Kenny balik.


Aku sedikit terkejut, ternyata miss Mona sudah naik jabatan menjadi kepala bagian kurikulum, yang memang dia berkompetensi karena dia memang lulusan luar negeri.


Aku terus mencuri dengar pembicaraan mereka dari balik pintu, sedikit kepo juga sih apa yang akan mereka bicarakan.


"Lho, kan lebih enak Mister Kenny langsung yang memaparkan, sehingga kita semua bisa jelas, waktu itu kan pernah kita diskusikan Mister!" terdengar suara Miss Mona.


"Jangan terlalu membebani mister, apalagi Mr Kenny kan baru kehilangan istrinya, seharusnya kita para guru ini yang terus bahu-membahu untuk kemajuan sekolah kita!" ujar Bu Yuni, salah satu guru di sekolah Rajawali.

__ADS_1


"Tapi kan masalah pribadi jangan dicampur adukkan dengan masalah pekerjaan, Mr Kenny juga pasti tahu profesionalisme!" tukas Miss Mona.


"Sudah sudah! kita sebaiknya jangan berdebat, begini saja, Miss Mona kan tinggal memaparkan saja apa yang sudah direncanakan, biar hari Senin besok saya yang akan maju ke Diknas!" ujar Bu Ira menengahi.


"Benar kata Bu Ira, kita sebagai guru harus bijak, tidak perlu berdebat ataupun saling menyalahkan, lagi pula kita datang ke rumah Bu Ira kan dalam rangka silaturahmi juga!" ucap Pak Budi menengahi.


"Papi aku mau pulang!" tiba-tiba terdengar suara Icha Yang merengek, spontan aku langsung menajamkan mata dan telingaku.


"Sebentar lagi sayang, kan papi belum selesai!" ucap Kenny.


"Tapi aku bosan di sini Papi! Aku kan capek dari pulang sekolah, Aku ingin bermain, aku bosan!" seru Icha yang kini suaranya sudah mulai naik.


Duh Ica Kasihan sekali, rasanya saat itu Ingin sekali aku lari keluar kamar dan memeluk anak itu, tapi aku menahannya, Kenny pasti kerepotan sekali, Mbak Nur dan Mbok Sumi sibuk mengurusi baby Aldio di rumah sakit, mau tidak mau Icha memang harus ikut Kenny, Pak Banu juga sudah tua dan kesehatannya juga menurun, tidak mungkin bisa menjaga Icha dengan sepenuhnya.


Tiba-tiba kembali perasaan bersalah menggelayuti aku, kasihan sekali Icha dan Kenny, mereka kelihatan begitu repot sekali, bahkan Icha pun masih mengenakan seragam sekolah, padahal ini sudah sore hari.


"Icha mau es krim tidak? Bu Ira punya es krim di kulkas, yuk sini ikut Bu Ira ke dalam!" ajak Bu Ira yang terlihat mendekati Icha namun Icha menepiskan tangan Bu Ira sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau! aku tidak mau es krim atau apapun! aku hanya mau pulang! aku capek!" teriak Icha.


Kenny yang sejak tadi terlihat diam saja nampak menahan dirinya, sepertinya dia sedang menahan dan mengontrol emosinya aku terkesiap Kenapa juga aku harus melihat langsung pemandangan ini.


"Sudahlah Mister, namanya juga anak kecil, tidak usah terlalu diambil pusing, wajar kalau dia rewel!" kata miss Mona.


"Pokoknya aku mau pulang! aku mau pulang!" teriak Icha sambil menangis.


Hatiku terenyuh Bagai teriris Sembilu, Kasihan sekali Icha, Dia pasti sudah sampai pada titik lelahnya, di mana seharusnya dia sudah beristirahat dan mandi, tapi sudah jam segini Icha masih berada di sini bersama dengan Kenny.


"Icha! sekali lagi Kamu bikin keributan, Papi hukum kamu!" sentak Kenny.


Icha nampak terdiam, tapi terdengar dia menangis terisak-isak sambil menyeka wajahnya dengan tangan mungilnya.


"Maafkan Icha, mungkin waktunya belum tepat untuk kita membicarakan hal sekolah saat ini, besok kita cari waktu lagi!" ucap Kenny.


"Iya Mister Kenny, tidak apa-apa, Mister sebaiknya mengantar Icha pulang, sepertinya Icha benar-benar kecapean, Kasihan dia mister, apalagi saat ini ibunya tidak ada, mana maminya belum lama meninggal!" kata Pak Budi.


Hatiku sakit, Icha memang sangat kasihan, maminya sudah tidak ada, dia sudah tidak ada lagi sandaran untuk dijadikannya ibu, setelah aku jadi ibu sambungnya, aku malah menyiksa mereka dengan kepergianku yang tidak jelas ini.


Tanpa terasa air mataku terus mengalir, Aku benar-benar sedih melihat kejadian di depan mataku itu, mereka semua memang tidak tahu kalau aku mendengar semuanya, hatiku begitu Pedih.

__ADS_1


Kenny nampak menggendong Icha, kemudian Dia pamit dan keluar dari rumah Bu Ira, aku cepat-cepat ke jendela kamar untuk melihat Kenny yang langsung naik ke atas mobilnya, dan tak lama kemudian mobil Kenny pun melaju meninggalkan rumah Bu Ira.


Aku langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur, tidak lagi tertarik mendengar pembicaraan mereka, para guru yang masih berada di ruang tamu rumah Bu Ira itu.


Aku sedang berpikir, sedang menimbang-nimbang, sebenarnya apakah tindakanku ini sudah keterlaluan, aku memang sakit hati terhadap Kenny, terlebih saat dia membentak aku soal foto Feli, tapi apakah karena alasan itu aku mengorbankan semuanya.


Ayahku, Ibuku, baby Aldio dan bahkan kini Icha semuanya sudah menjadi korban karena keegoisanku, yang hanya ingin diakui oleh Kenny.


Aku terus menangis di atas tempat tidur, entah sudah berapa lama, sampai kepalaku benar-benar pening dan aku enggan untuk bangkit lagi dari tidurku, aku bingung dan Dilema apa yang harus aku lakukan.


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu di kamar ini, Aku terperanjat dan langsung membuka mataku lebar-lebar.


"Miss Dini! Tolong buka pintunya! semua guru sudah pada pulang sekarang tinggal kita berdua!" terdengar suara teriakan Bu Ira dari balik pintu kamar itu.


Mendengar perkataan dari Bu Ira, aku menarik nafas kemudian aku menyeka wajahku yang menangis, setelah itu dengan perlahan aku membuka pintu kamar itu, Bu Ira sudah berdiri di sana.


"Mereka semua sudah pulang nih, lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan, Maklum saja tadi Icha agak rewel Mungkin dia kecapean!" jelas Bu Ira.


"Ya Bu Ira, saya sudah mendengarnya, kasihan Icha, semua ini salahku! Aku memang bukan ibu yang baik buat anak-anak, baby Aldio sakit, sekarang Icha juga tidak terurus gara-gara aku!" ujarku menyalahkan diri sendiri.


"Miss Dini jangan seperti itu, kadang manusia itu butuh sendiri, butuh privasi, juga butuh berpikir!" ucap Bu Ira.


"Iya Bu, mungkin kalau aku tidak terlalu egois, Aku tidak akan pergi selama ini, tapi karena aku egois ingin menang sendiri, makanya mereka anak-anak itu menjadi terlantar! Aku merasa bersalah sekali!" ungkapku.


"Ya sudah Miss Dini, masih banyak waktu dan kesempatan ini untuk berpikir dan mengambil keputusan, sekarang kita makan yuk, masih banyak tuh makanan di meja makan, mereka semua juga tadi pada buru-buru makannya cuma sedikit!" ajak Bu Ira.


Aku menganggukkan kepalaku, setelah itu aku mengikuti langkah kaki Bu Ira menuju ke ruang makan kami kemudian duduk saling menghadap di meja makan itu.


"Bu Ira, sepertinya aku harus mengakhiri semuanya ini!" ucapku.


"Apa maksud Miss Dini?" tanya Bu Ira.


"Aku harus mengambil keputusan secepatnya, atau akan banyak lagi orang yang jadi korban gara-gara aku!" jawabku.


Bu Ira nampak terdiam, sepertinya dia bingung terhadap kata-kataku barusan, aku pun juga sebenarnya belum pasti mengambil keputusan, hatiku masih bimbang, apakah mungkin aku bisa mengambil keputusan besar itu, memilih bercerai dengan Kenny?


Tapi aku masih bisa tetap memperhatikan dan merawat anak-anaknya, tapi bukan sebagai istri melainkan sebagai teman seperti dulu.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2