
Mobil yang dikendarai oleh Leo berhenti tepat di depan rumah bapak dan ibuku.
Leo nampak mematikan mesin mobilnya, setelah itu dia turun dari dalam mobilnya itu, aku pun ikut turun dan menyusul langkahnya yang berjalan menuju ke rumah ibu dan bapak.
Dadaku berdebar, ini adalah pertama kalinya aku bertemu lagi dengan ibu dan juga bapak, Setelah kepergianku dari rumah Kenny.
Dalam hati aku takut, takut kalau bapak akan marah padaku, karena aku pergi dengan diam-diam dari rumah suamiku sendiri, Leo menoleh ke arahku kemudian menganggukkan kepalanya, seolah meyakinkan aku kalau semuanya akan baik-baik saja.
Leo kemudian memencet bel yang ada di pagar rumah bapak dan ibu, dan tak lama kemudian pintu rumah nampak terbuka, dan Bapak melangkah mendekati kami sambil membuka pagar rumah nya itu.
"Selamat malam Om, Saya mau mengantarkan Dini untuk menemui ibunya!" ucap Leo sopan.
Bapak tidak menjawab salam dari Leo, dia menatapku dengan tajam, seolah dari sorotan matanya itu ada penghakiman di sana.
"Dini, kalau bukan karena ibumu sakit, mungkin kamu tidak akan pernah datang lagi ke rumah ini!" ujar bapak.
"Maafkan aku pak! Maafkan Aku! Aku salah, aku salah pada bapak dan ibu!" ucapku sambil mencium tangan Bapak.
Bapak nampak dingin tanpa ekspresi, namun aku tahu ada kekecewaan yang tersirat dari wajahnya, sebagai anak aku memang sangat bersalah, apalagi ini menyangkut hubungan keluarga, Bapak dan Ibu pasti malu pada keluarga Ayah Banu karena aku pergi secara diam-diam, dan itu berarti kalau aku kabur dari rumah mertua aku sendiri.
Aku kemudian langsung menghambur ke kamar ibu, ibu nampak berbaring, tubuhnya kelihatan semakin kurus dan lemah, Aku kemudian langsung mencium tangan Ibu dan tangisku pun pecah seketika.
Ibu juga kelihatan menangis, entah apa yang dirasakan ibu saat ini, Namun Ibu memeluk aku dengan sangat erat, seolah tak mau dilepaskan lagi, tanpa Ibu berkata-kata pun, aku sudah dapat menyentuh hati ibu.
"Maafkan aku ibu, aku salah! maafkan aku!" isakku.
"Dini, kamu ke mana saja? Kenapa kamu pergi dari suamimu? Apakah masalahmu tidak bisa diselesaikan dengan kekeluargaan?" tanya ibu dengan suara bergetar.
"Maafkan aku ibu, saat ini jujur aku butuh sendiri, Berikan aku kesempatan untuk menenangkan diri Bu, saat ini aku tidak bisa mengambil keputusan apapun!" ungkapku yang masih terus meneteskan air mata.
Sementara Leo terdengar berbincang-bincang dengan bapak di ruang tamu, entah apa yang mereka perbincangkan.
"Dini, pulanglah ke rumah suamimu, tidak pantas seorang perempuan meninggalkan rumah suaminya tanpa seizin dari suaminya itu!" ucap ibu tiba-tiba.
"Maaf Bu, saat ini aku belum bisa melakukan itu, aku masih butuh waktu untuk menenangkan diriku!" tukasku.
"Tapi kenapa Nak? Apakah yang diperbuat Kenny padamu sehingga kau seperti ini?" tanya ibu lagi sambil menatapku dalam.
"Kenny tidak salah Bu, tidak bisa mencintai dengan sepenuh hati itu bukan merupakan kesalahan, aku yang salah!" jawabku yang kembali menangis.
"Nak, kadang ada prioritas yang lebih besar daripada sekedar Cinta, bayi yang ada di dalam kandunganmu itu butuh belaian ayahnya, paling tidak kau pertimbangkan masalah itu!" kata ibu.
"Bayi ini akan kuberikan banyak cinta Bu, Ibu jangan khawatir, yang penting Ibu jaga kesehatan ibu, percayalah aku akan baik-baik saja!" ucapku.
"Sekarang katakan pada ibu, Di mana kamu tinggal selama ini?" tanya ibu.
Aku terdiam, apakah mungkin aku memberitahukan Ibu kalau selama ini aku bersembunyi di rumah Bu Ira?
Tidak, ibu tidak boleh tahu di mana keberadaanku, karena kalau sampai Ibu tahu, maka Kenny juga pasti akan tahu karena ibu tidak bisa berbohong.
__ADS_1
"Maaf Bu, aku tidak bisa memberitahukan ibu, tapi yang pasti aku baik-baik saja dan aku cukup aman dan nyaman, Ibu jangan cemas!" ucapku.
"Kamu tidak percaya pada ibu?" ibu kembali menatapku
"Aku percaya pada ibu, tapi saat ini aku belum bisa memberitahukan Ibu, Berikan aku waktu ibu, saat ini aku hanya butuh ketenangan!" jawabku.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Ibu harus istirahat, Aku pun keluar dari kamar ibu, Leo masih duduk di ruang tamu bersama dengan Bapak, mereka nampak minum kopi bersama.
Aku langsung duduk bergabung dengan mereka.
"Ibu sudah tidur!" kataku.
"Dini, Bapak sudah tahu apa yang terjadi denganmu dan Kenny, tapi bapak sangat menyayangkan sikapmu yang pergi begitu saja, Apakah kamu pernah memikirkan perasaan mertuamu?" ujar bapak.
"Maafkan aku pak!" ucapku singkat.
Aku tidak bisa berkata-kata apa lagi pada bapak, aku memang salah.
"Maaf Pak, mungkin di antara Dini dan Kenny memang sedang ada masalah, kita beri kesempatan Dini untuk menenangkan diri sebentar, yang penting kan bapak dan ibu tahu kalau Dini baik-baik saja!" kata Leo.
"Lalu apa rencanamu Din?" tanya Bapak.
"Aku tidak tahu Pak!" jawabku.
"Saat ini Dini sedang galau Pak, karena itu berikan dia kesempatan untuk menenangkan diri, dia pasti akan baik-baik saja!" ujar Leo.
Tiba-tiba Bapak langsung menatapku dengan tajam, entah apa yang dipikirkannya saat ini.
"Dini, tapi kamu tidak tinggal di tempatnya Leo kan?" tanya Bapak menyelidik.
"Ya Tuhan Pak! Kenapa Bapak bisa berpikir seperti itu? Saat ini aku masih sah istrinya Kenny dan aku tidak mungkin berbuat seperti itu Pak, Aku tinggal di suatu tempat, Leo Itu hanya mengantarku!" jelasku.
"Benar pak, Bapak kan tahu aku dan Dini itu sudah lama sekali kenal baik, dan Kenny itu juga adalah sahabatku, jadi mana mungkin kami berbuat macam-macam!" timpal Leo.
"Ah syukurlah kalau begitu, Bapak kan jadi tenang, semoga saja dengan melihatmu ibu akan sembuh dari sakitnya!" kata bapak.
"Pak, kalau begitu aku pamit ya, aku mau kembali ke tempatku, aku tidak mungkin lama-lama di sini, kan Bapak tahu aku sedang dicari-cari polisi!" ujarku.
"Tapi Dini, Berjanjilah kamu akan sering-sering datang ke sini, jangan membuat Bapak dan ibumu cemas!" kata bapak memperingatkan.
"Iya Pak, aku hanya butuh waktu Sebentar saja untuk berpikir dan menenangkan diri, sebelum aku mengambil satu keputusan!" ucapku.
Akhirnya saat itu juga, aku bersama Leo meninggalkan rumah bapak dan ibu untuk kembali ke rumah Bu Ira.
Meskipun aku sangat ingin berlama-lama ada di rumah orang tuaku, ingin rasanya aku mencurahkan isi hatiku pada ibu, tapi semakin aku berlama-lama berada di rumah itu, maka keberadaanku akan semakin diketahui oleh Kenny, aku tidak mau hal itu terjadi.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Bu Ira, aku lebih banyak diam, Begitu juga dengan Leo, entah apa yang berkecamuk di dalam pikirannya, setidaknya Leo itu memang teman yang baik, bisa dipercaya dan membantu dalam kesulitanku.
Hingga akhirnya kami pun sampai di depan rumah Bu Ira, Leo turun dan membukakan pintu mobilnya untukku.
__ADS_1
"Leo, Terima kasih banyak ya!" ucapku.
"Sudahlah Din, masuklah dan istirahatlah, nanti aku akan kembali menjengukmu di sini!" jawab Leo.
"Terima kasih untuk tidak memberitahukan dimana keberadaanku pada Kenny, dan juga kedua orang tuaku!" lanjutku.
"Aku hanya mencoba menghargai keputusanmu Din, memberikan kamu kesempatan untuk berpikir, kalau kamu butuh bantuan apapun, jangan sungkan menghubungiku!" kata Leo.
"Iya, sudah lama aku tidak membuka ponselku karena aku takut, mungkin nanti aku akan ganti nomor dan aku akan menghubungimu Leo, kalau begitu aku masuk ya!" pamitku yang kemudian berjalan ke arah pagar rumah Bu Ira.
Untung saja Bu Ira memberikan aku kunci serep rumahnya, jadi aku bisa langsung masuk ke rumahnya tanpa aku harus membangunkannya.
Leo nampak masih Berdiri menatapku, sepertinya dia menungguku benar-benar masuk ke dalam rumah, baru setelah itu dia akan pergi.
Benar saja, Ketika aku membuka pintu dan sudah masuk ke dalam rumah, Leo kemudian terlihat naik ke dalam mobilnya dan kemudian dia melajukan mobilnya itu meninggalkan rumah Bu Ira, aku bisa melihatnya dari balik jendela.
Kemudian setelah Leo pergi, aku pun langsung masuk ke dalam kamar, menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur mencoba untuk memejamkan mataku.
Kendati sangat sulit untuk aku benar-benar tertidur, karena banyak pikiran-pikiran yang berkecamuk yang saat ini sedang menggerogoti kepalaku.
Aku lalu menatap ke arah ponselku yang masih teronggok di atas meja yang ada di sudut kamar.
Ponsel yang sengaja aku tidak Nyalakan, meskipun terkadang aku sangat ingin membuka ponsel itu, hanya ingin mengetahui kabar dan informasi, namun aku juga tidak pernah mencoba untuk menyalakan ponselku itu.
Entah bagaimana kabar Icha dan baby Aldio, sejujurnya aku sangat merindukan anak-anak itu, dan bagaimana juga kondisi kesehatan Ayah, entah kenapa meskipun kini aku jauh dari mereka, tapi aku selalu memikirkan mereka.
Aku kemudian bangkit dari tidurku, lalu aku meraih ponsel yang ada di atas meja.
Mumpung masih jam segini, aku berniat akan menyalakan ponselku itu, sekedar ingin tahu kabar orang-orang yang aku kasihi.
Setelah aku menyalakan ponselku, banyak sekali notifikasi yang bermunculan yang tak henti-hentinya, karena sudah hampir satu minggu ini aku tidak menyalakan ponselku.
Setelah notifikasi mereda, kemudian aku mulai membuka pesan-pesan singkat, ada banyak panggilan tak terjawab di sana, yang sudah tak terhitung jumlahnya.
Mataku tertuju pada gambar profil di salah satu akun milik Kenny, aku mengerutkan keningku, di gambar profil itu bukan gambar Kenny, tapi gambar baby Aldio.
Dadaku berdebar, baby Aldio tampak pucat, dan di tangan kanannya terpasang jarum infus.
Aku perbesar gambar profil itu, itu seperti bukan di rumah tapi di rumah sakit, apakah baby Aldio dirawat di rumah sakit?
Aku menggigit bibirku, kasihan sekali bayi mungil itu jikalau benar dia dirawat di rumah sakit, tapi sakit apa dia?
Rasanya ingin sekali aku menelepon, tapi aku berusaha untuk menahannya, hingga timbullah ide, sepertinya aku harus menelepon Mbak Nur.
Ya, mungkin sekarang aku harus telepon Mbak Nur, sekedar menanyakan kabar terkini di rumah itu, mudah-mudahan saja Mbak Nur bisa dipercaya dan tidak membocorkan tentang aku.
bersambung ....
****
__ADS_1