
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Bapak mengajak Kenny untuk makan bersama di meja makan.
Kenny pun tanpa penolakan ikut bergabung makan bersama kami. Mungkin karena dia juga lapar, yang aku tau, sejak dia pergi dari rumahnya kemarin, dia belum sempat makan.
"Makan yang banyak Ken! Sekarang kau makin kurus!" kata Bapak.
Ibu menambahkan lauk ke piring makan Kenny.
Bapak dan Ibuku memang sayang pada Kenny sejak dulu, makanya mereka berniat menjodohkan aku dengan Kenny, karena hubungan orang tua kami yang nampak seperti saudara.
Saat Kenny lebih memilih Felly, Bapak dan Ibu sempat kecewa, bahkan mereka ikut aku melanjutkan studi ke Malaysia.
Tak lain adalah untuk melupakan Kenny.
Namun semakin aku pergi menjauhinya, aku semakin sulit untuk melupakannya.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia, bahkan melamar kerja di sekolah Kenny, tanpa ada niat untuk merebut dia dari Felly.
Tidak ada di benakku untuk merebut Kenny, dia bukan milikku, tapi untuk tetap mencintainya dalam hati, itu tidak dosa bukan?
Ibu mulai memasukan beberapa makanan ke dalam rantang.
"Din, nanti antar Kenny pulang kerumahnya, sekalian bawa makanan ini untuk Pak Banu!" kata Ibu sambil meletakan rantang yang sudah di tutup itu di atas meja makan.
"Tapi Bu, nanti aku pulang di jemput Bapak ya?" tanya ku.
"Iya, kau tenang saja Din, kau kan juga bisa membantu Kenny mengurus bayinya, hitung-hitung kau belajar jika kelak punya bayi!" cetus Bapak.
Setelah kami selesai makan bersama, Kenny pun pamit pulang, aku terpaksa ikut Kenny pulang kerumahnya, sebenarnya aku juga senang Bapak menyuruhku ikut Kenny, aku jadi bisa bertemu dengan Icha dan Baby Al yang lucu dan menggemaskan itu.
Sepanjang perjalanan kami saling diam, aku juga bingung mau memulai pembicaraan dari mana.
"Trima kasih ya Din," ucap Kenny tiba-tiba.
Aku menoleh ke arahnya.
"Trima kasih untuk apa?" tanya ku.
"Kemarin itu aku begitu frustasi, aku putus asa, rasanya duniaku hilang di telan bumi, aku bahkan tak ingin hidup lagi!" ungkap Kenny.
Matanya menatap lurus ke depan, tapi aku tau mata itu kosong, mata yang tidak memiliki cahaya kehidupan lagi, bagi Kenny, Felly adalah dunianya.
Tiba-tiba ada yang perih di sudut hati ku, betapa beruntungnya Felly di cintai oleh seorang Kenny Wijaya, laki-laki yang telah memikat hatiku sejak dulu, laki-laki yang selalu ada dalam impianku.
__ADS_1
Ah, masakan aku cemburu pada orang yang sudah meninggal, maafkan aku Mbak Felly.
"Ken, sekarang coba kau jawab aku, apakah dengan kau bersikap seperti itu, bahkan cuek terhadap anak-anakmu, Mbak Felly akan senang? Jawab Ken!!" seru ku pada Kenny.
Kenny hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun.
"Icha tidak ikut ujian kenaikan kelas, kini dia berubah seperti dulu, pribadi yang tertutup dan penyendiri, harusnya kau menguatkannya, bukan malah membuatnya menjadi lemah!" lanjut ku.
Kenny masih diam dalam pikirannya sendiri, seolah aku tidak pernah ada di sampingnya.
"Baby Aldio juga, dia masih sangat kecil untuk mengerti arti kehilangan, harusnya kau sebagai Papinya, terus mendampinginya dan menyayangi nya, ingat Ken, Baby Aldio itu lahir dari benihmu!" tegasku.
"Cukup Din! Cukup!" seru Kenny.
"Kau kenapa Ken? Merasa bersalah?? Bangun Ken!! Sudah saat nya kau bangkit dari keterpurukanmu! Kau masih punya tanggung jawab terhadap anak-anakmu!" aku menepuk punggung Kenny keras.
Kenny tetap tak bergeming, hingga kami sampai di rumah Kenny.
Kami pun segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya.
"Ayah mana Mbok?" tanya Kenny pada Mbok Sumi yang sedang menyapu teras.
"Lagi istirahat di kamar Mas, Mas Kenny baru pulang? Tadi di tanyain sama Icha!" sahut Mbok Sumi.
"Di dalam, lagi bantu Nur susuin Dedek Al!" jawab Mbok Sumi.
Kenny bergegas masuk kedalam, aku pun mengikutinya di belakangnya.
"Papi!!" Icha langsung menghambur ke arah Kenny dan langsung melompat ke pelukannya.
"Papi kemana saja?? Papi jangan pergi tinggalin aku! Sekarang sudah tidak ada Mami, Papi jangan tinggalin aku dan Dedek!" ujar Icha.
Kenny terlihat memeluk Icha dengan erat.
"Maafin Papi Cha, Papi janji tidak akan meninggalkan Icha dan Dedek Al, Papi janji!" ucap Kenny sambil mencium rambut Icha.
Icha menoleh ke arahku yang sedari tadi diam saja. Aku bingung dan canggung ada di rumah ini, apalagi aku sendirian sekarang.
"Miss Dini kok ada di sini? Miss Dini ajak Papi pergi ya? Makanya Papi tadi tidak ada!" cetus Icha.
Aku tertegun mendengar perkataan Icha.
"Justru Miss Dini yang antar Papi pulang ke rumah, karena kepala Papi lagi pusing, Miss Dini bantu obatin Papi!" kata Kenny membelaku.
__ADS_1
Kenny lalu mendekati bayinya dan mulai mengangkatnya dalam gendongannya.
Sepertinya dia sudah sadar akan tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya.
"Duh anak Papi yang tampan ini, cepat besar ya Al, nanti bantu Papi di sekolah!" ucap Kenny sambil mencium sayang bayinya.
Icha bergelayut manja di samping Kenny, kini hanya Kenny harapan sari gadis kecil itu, karena Icha hanya punya Kenny.
"Ken, sini baby Al aku gendong, aku mau mengajaknya jalan-jalan kedepan sebentar!" ujar ku.
Kenny lalu menyerahkan bayi mungilnya ke gendonganku.
"Kalau kau capek kau istirahat saja Ken, biar aku sementara yang mengurus Baby Al" tawarku.
Kenny hanya menganggukan kepalanya lalu segera melangkah naik ke atas menuju ke kamarnya.
Aku langsung menggendong Baby Al ke taman depan rumah, tak lupa aku juga menggandeng tangan Icha.
Anak itu kini sangat butuh perhatian orang dewasa di dekatnya.
"Cha, lihat deh dedeknya, lucu ya!" kataku pada Icha.
"Lucu sih Miss, tapi gara-gara Dedek Mami pergi! ucap Icha. wajahnya berubah mendung.
"Jangan salahin Dedek Cha, Dedek Al tidak salah, dia kan masih kecil, tidak mengerti apa-apa!" ujarku.
"Lalu aku harus salahin siapa dong?" tanya Icha.
"Icha tidak boleh salahkan siapa-siapa, karena semua ini kehendak Tuhan!" jawabku.
"Kenapa Tuhan tidak sayang aku dan Dedek? Kenapa Tuhan biarkan Mami pergi?" tanya Icha lagi.
Anak ini begitu Kritis, kalau dia belum menemukan jawaban yang memuaskannya, dia tidak akan berhenti bertanya.
"Tuhan selalu sayang sama semua orang termasuk Icha dan Dedek, Tuhan ambil Mami karena Tuhan mau Icha jadi anak mandiri, pintar, Mami bisa lihat dari surga lho! Kalau Icha sedih terus, malas sekolah dan malas belajar, Mami pasti akan sedih!" ucapku.
"Benarkah?" tanya Icha. Aku menganggukan kepalaku.
"Kalau Icha sedih, Papi jadi ikutan sedih lho Cha, makanya Icha jangan sedih lagi Cha, Icha harus semangat seperti dulu, walau tidak ada Mami, kan masih ada kakek, Mbok Sumi dan Mbak Nur, juga papi!" jelas ku.
Wajah Icha mulai nampak berbinar cerah.
****
__ADS_1