Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Kedatangan Leo


__ADS_3

Menjelang sore, Bu Ira sudah pulang ke rumah selepas dia mengajar, seharian ini aku sengaja menyibukkan diri untuk membersihkan rumah Bu Ira, menyapu, mengepel dan mencoba memasak sesuatu, karena ada beberapa bahan makanan di kulkas Bu Ira.


Sengaja aku menyibukkan diri, untuk melupakan sejenak tentang apa yang aku alami dan aku rasakan saat ini.


Aku juga sejak pagi tadi kembali mematikan ponselku, setelah membaca pesan singkat dari Ibu, aku tidak boleh lemah, meskipun aku begitu sedih mendengar kata-kata ibu, tapi aku harus tetap bertahan.


"Miss Dini, seharusnya Miss Dini jangan melakukan banyak hal di rumah, pulang-pulang rumahku jadi kinclong begini!" seru Bu Ira yang terlihat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumahnya yang memang terlihat sangat bersih.


"Tidak apa sesekali Bu, daripada aku tidak ada kerjaan bengong-bengong, malah bikin jadi suasana hati kacau!" sahutku.


Bu Ira juga nampak terkesiap, saat melihat ada beberapa hidangan yang aku masak yang sudah tersaji di meja makan, aku tahu Bu Ira tidak sempat memasak dan karena kesibukannya itu, masih ada beberapa bahan makanan yang tersimpan di kulkas, Aku sengaja mengolahnya, agar Bu Ira juga bisa makan tanpa harus repot-repot mengolahnya, apalagi saat ini aku menumpang di rumahnya.


"Ya ampun Miss Dini, pakai repot-repot mau masak segala! kalau soal makanan kan gampang Tinggal pesan saja!" seru Bu Ira.


"Aku sengaja cari kerjaan Bu, supaya aku tidak banyak bengong dan pikiranku malah kemana-mana!" jawabku.


Bu Ira kemudian melangkah dan menepuk bahuku dengan lembut, seolah turut merasakan apa yang saat ini sedang aku rasakan.


"Miss Dini yang sabar ya, pasti suatu hari nanti akan ada jalan keluar untuk masalah keluarga Miss Dini, dan Mr Kenny juga pasti akan bisa sepenuhnya mencintai Miss Dini!" ucap Bu Ira dengan tatapan mata penuh Simpati.


Aku hanya menarik nafas panjang sambil mencoba tersenyum, mungkin orang lain bisa saja dengan mudahnya bersimpati, namun aku sendiri yang mengalami begitu sesak, seolah aku ini adalah seorang pecundang, pengemis cinta, dan wanita yang tidak ada harga dirinya.


Tok ... Tok ... Tok


Tiba-tiba kembali terdengar suara pintu diketuk, Bu Ira kemudian langsung menoleh ke arah pintu rumahnya itu, kemudian dia melangkah menuju ke arah pintu dan aku pun mengikutinya dari belakang.


Mataku terbelalak lebar saat Bu Ira membuka pintu rumahnya itu, Leo sudah berdiri di sana dan dia langsung menatap ke arahku yang berdiri di belakang Bu Ira.


Aku terkesiap, aku langsung berpikir, tidak menyangka kalau Bu Ira bisa mengadukan keberadaanku di rumahnya pada Leo, Kenapa tidak sekalian saja dia memberitahukan pada Kenny kalau aku memang bersembunyi di rumahnya.


"Miss Dini, Maaf aku benar-benar tidak tahu kalau Pak Leo ini akan datang ke sini, dan Aku berani bersumpah kalau aku tidak memberitahukan soal keberadaan Miss Dini!" kata Bu Ira sambil menoleh dan menatap ke arahku berharap aku akan mempercayai semua ucapannya itu.

__ADS_1


"Dini, jangan salahkan Bu Ira, sejak semalam aku sudah tahu kalau kamu bermalam di rumah Bu Ira, saat itu aku berniat datang ke rumah kalian, tapi sebelum aku turun dari mobil, aku melihat kamu keluar dari gerbang dan pada saat itu diam-diam aku mengikutimu!" jelas Leo.


Aku tertegun sesaat, Benarkah apa yang Leo katakan itu? Benarkah dia memang sudah melihatku sejak semalam? Dan apakah ini tidak ada hubungannya dengan Bu Ira yang memberitahukan keberadaanku di sini?


Bu Ira nampak pematung, Sepertinya dia takut kalau aku menyalahkan dan mencurigainya Atas kejadian ini, karena aku memang sudah wanti-wanti padanya jangan sampai ada orang yang tahu keberadaanku Disini.


"Benarkah? Apakah sejak semalam kau memang melihatku Leo? Lalu kenapa kau tidak datang menghampiriku? Kenapa Kau membiarkan aku sampai aku ke rumah Bu Ira?" tanyaku sambil menatap ke arah Leo yang masih berdiri di depan pintu rumah Bu Ira.


"Eh maaf Miss Dini, sebaiknya kita mengobrol di dalam saja! Ayo pak Leo masuk dulu ke dalam, tidak enak dilihat orang nanti kalau berbicara di depan pintu!" ujar Bu Ira tiba-tiba.


Leo kemudian segera masuk ke dalam dan langsung duduk di ruang tamu, aku pun juga duduk di hadapan Leo diikuti oleh Bu Ira.


"Dini, Bu Ira sama sekali tidak memberitahu aku soal Keberadaanmu di sini, memang aku semalam sudah melihatmu keluar dari rumah Kenny, Aku hanya mencari waktu yang tepat untuk berbicara padamu, dan aku pikir saat ini adalah waktu yang tepat!" kata Leo lagi.


"Leo, maaf, sebaiknya kamu jangan campuri urusanku apalagi Rumah tanggaku!" cetus ku.


"Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu! tapi kamu sudah pergi dari rumah itu, Ingatkah Kita pernah bersahabat? Anggaplah aku sebagai sahabatmu yang hanya ingin membantumu, tanpa mencampuri urusan kalian!" sahut Leo.


"Maaf Leo, sekali lagi aku katakan padamu jangan campuri urusan Rumah tanggaku! sebaiknya kamu pulang saja dan aku mohon jangan beritahukan tentang keberadaanku ini pada siapapun termasuk Kenny!" ucapku.


Ku lihat Leo terdiam tanpa menjawab lagi apa yang aku ucapkan, dari matanya aku melihat ada perasaan prihatin, karena dia menatapku dengan begitu dalam.


Aku memalingkan wajahku, tidak mau menatapnya lagi, meskipun Leo pernah punya rasa padaku, tapi aku tidak pernah punya perasaan apapun padanya, aku selalu menjaga jarak, bahkan sampai saat ini pun aku tidak berniat untuk mengobrol dengannya.


"Baiklah, mungkin kamu memang tidak pernah bisa untuk mempercayai aku, tapi setidaknya aku tenang, karena kamu berlindung di sini, Aku janji tidak akan memberitahukan pada siapapun mengenai Keberadaanmu!" ucap Leo akhirnya.


"Terima kasih Leo, setidaknya kamu sudah membantu meringankan bebanku!" jawabku.


Aku senang akhirnya Leo bisa juga mengerti, Kalau aku memang tidak menghendaki dirinya meskipun hanya untuk membantuku.


"Tapi berjanjilah kamu akan baik-baik saja Din!" kata Leo lagi.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri, apalagi kalau kamu tidak ikut campur masalahku!" cetus ku.


Sebenarnya aku juga kasihan pada Leo, dia itu tulus, tapi aku tidak pernah bisa untuk menerima ketulusannya, semua apa adanya diriku tertutup oleh cintanya Kenny, sehingga aku buta melihat sekeliling.


"Oke, kalau begitu aku pamit, tapi aku pasti akan datang lagi untuk menjengukmu, dan kamu tidak boleh melarang aku!" ucap Leo yang kemudian segera berdiri dari duduknya.


"Eh, Pak Leo mau ke mana? ini diminum dulu dong!" seru Bu Ira yang baru muncul dari dapur sambil membawakan dua gelas minuman dingin.


"Aku harus pulang Bu Ira, Aku titip Miss Dini ya, Nanti aku pasti akan datang lagi untuk menjenguknya, untuk memastikan kalau dia baik-baik saja!" Jawab Leo yang kemudian langsung melangkah keluar dari rumah Bu Ira.


Bu Ira hanya bisa menatap kepergian Leo dengan tatapan heran.


"Lho, kenapa dia pergi begitu cepat sekali?" gumam Bu Ira.


Bu Ira kemudian duduk di hadapanku


"Maafkan aku Bu Ira, tadi aku sempat mencurigaimu memberitahukan Leo tentang keberadaanku!" ucapku pelan.


Aku juga merasa sangat bersalah pada Bu Ira, karena sempat meragukannya, dan bahkan berpikiran buruk terhadapnya, karena kedatangan Leo yang tiba-tiba itu.


"Sudahlah Miss Dini, Aku maklum kok, saat ini pikiran Miss Dini kan sedang kalut, Tapi kalau aku lihat Pak Leo Itu Perhatian sekali dengan Miss Dini!" kata Bu Ira.


"Ya, Dari dulu Memang dia perhatian padaku, hanya aku saja yang tidak pernah menggubris perhatiannya itu, aku terlalu bucin pada Kenny sampai aku buta melihat apapun!" ungkapku


"Maaf Miss Dini, kalau aku boleh bertanya, apa rencana Miss Dini selanjutnya? tidak mungkin kan Miss Dini akan selamanya bersembunyi seperti ini?" tanya Bu Ira.


Aku tercenung mendengar ucapan dari Bu Ira, memang benar tidak mungkin aku akan bersembunyi terus-menerus, akan tiba waktunya aku pasti akan keluar dan menghadapi semuanya, Tapi saat ini aku benar-benar tidak siap, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan


"Bu Ira, Bagaimana menurut pendapat Bu Ira, kalau aku menggugat cerai Kenny suamiku?" Tanyaku balik.


Bu Ira kelihatan melotot mendengar pertanyaanku itu, dan aku pun tidak sadar melontarkan kata-kata itu, kata-kata yang selama ini aku benci dan hindari, Tapi entah mengapa kini kata-kata cerai itu dengan mudahnya keluar dari mulutku.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2