Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Kenny Menyetujui Perjodohan


__ADS_3

Di ruang tamu itu, sudah ada Om Banu dan Kenny.


Mereka duduk bersebelahan di sofa, sementara Bapak duduk di sebrang Om Banu dan Kenny.


Suasana terlihat kaku, Kenny juga kelihatan tidak banyak bicara, aku tau sebenarnya dalam hati dia masih Berduka, namun sepertinya dia menyembunyikan dalam hatinya.


Aku lihat mata itu, mata yang biasanya memancarkan cahaya, kini cahaya itu telah redup.


Kenny menunduk menatap ke lantai, pandangannya kosong.


"Ayo duduklah Dini!" titah Bapak.


Aku dan Ibu langsung duduk di samping Bapak. Dadaku mulai berdebar cepat.


"Dini, maksud kedatangan kami adalah, kami berniat untuk mengambil Dini sebagai menantu di rumah kami!" ucap Om Banu, ucapan yang singkat, jelas dan to the point.


Aku diam tanpa memberikan jawaban apapun. Kenny tetap dalam posisi dan ekspresi yang sama seperti tadi.


"Bagaimana Din? Bapak dan Ibu sih setuju saja, sekarang tergantung Dini!" tanya Bapak.


Aku terdiam mendengar ucapan dan permintaan Om Banu. Suasana hening beberapa saat lamanya.


"Bagaimana Din?" tanya Ibu lagi mengagetkan lamunanku.


Aku menoleh ke arah Kenny, dia juga nampak diam seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi.


"Kenapa kalian menanyakan hanya kepadaku? Kenapa tidak tanyakan pada Kenny?" tanyaku.


Om Banu tertawa mendengar pertanyaanku.


"Dini, justru karena Kenny menyetujui perjodohan ini, makanya kami datang, tidak mungkin kalau Kenny tidak setuju aku dan dia akan datang ke rumah kalian!" ucap Om Banu.


Aku terkesiap seketika, benarkah apa yang di ucapkan Om Banu adalah murni dari hati Kenny? Terus terang aku sangat meragukannya.


"Aku tidak pernah mendengar dari mulut Kenny langsung, jadi mana aku tau dia serius atau tidak!" kata ku.


Sekarang Kenny yang nampak terkesiap sambil mengangkat wajahnya.


Ah, lagi-lagi wajah itu membuat aku luluh, wajah tampan nan rupawan yang selalu mengusik di setiap tidurku.


"Katakanlah sesuatu Ken, sepertinya Dini kurang yakin padamu!" ujar Om Banu sambil menepuk bahu Kenny.


Kenny terperangah sebentar, sekilas aku melihat ada sedikit senyum yang tersungging di bibirnya, setelah sekian lama aku tidak melihat senyum manis Kenny.

__ADS_1


"Iya Din, aku menerima perjodohan ini!" ucap Kenny singkat dan jelas.


Aku tertegun mendengar ucapannya, benarkah Kenny menyetujui kalau aku di jodohkan olehnya, itu berarti, aku akan menjadi calon istri Kenny? Mimpikah aku?


Aku mencubit pahaku sendiri, ternyata memang sakit, berati ucapan Kenny yang baru ku dengar tadi bukanlah mimpi.


"Nah, kamu sudah mendengarnya sendiri Din dari mulut Kenny, sekarang keputusan ada di tanganmu, apakah kamu mau menerima Kenny dengan segala kelebihan dan kekurangannya, untuk menjadi pendamping hidupmu?" tanya Bapak.


Aku kembali terdiam. Kesempatan untuk membantu dan melayani Kenny dan anak-anaknya sudah ada di depan mataku, aku tidak berani berharap lebih dari itu. Karena aku tau, hati Kenny bukan untukku.


"Baiklah Om, Bapak, Ibu, aku juga menyetujui perjodohan ini!" ucapku akhirnya.


Wajah mereka nampak senang dan gembira, namun saat aku melirik ke arah Kenny, wajahnya kelihatan datar.


Setelah kedua belah pihak sama-sama sepakat, kami pun menyantap jamuan makan siang yang di siapkan ibu.


Bapak dan Om Banu nampak mengobrol akrab, Ibu sibuk mengatur dan membereskan meja makan, maklum kami tidak ada asisten rumah tangga.


Sementara aku dan Kenny duduk di meja makan saling berhadapan dan sama-sama canggung.


"Makan yang banyak Kenny, supaya kamu agak gemukan, kamu makin ganteng lho kalo badannya berisi!" kata Ibu sambil menambahkan lauk di piring Kenny.


"Sudah tante, sudah cukup!" tukas Kenny.


"Iya Tante!" sahut Kenny.


Ibu kelihatan sayang sekali dengan Kenny, dari aku kecil bahkan ibu lebih memanjakan Kenny dari pada aku.


Setelah memberikan Kenny semangkok sop iga lagi, ibu lalu meninggalkan kami dan bergegas kebelakang.


"Maafkan ibuku ya Ken, dia memang suka lebay!" ujarku memecah kesunyian.


"Iya Din, tidak masalah!" sahut Kenny sambil melanjutkan makannya.


Mulut Kenny agak belepotan makanan, entah naluri dari mana aku langsung mengambil tissue dan membersihkan bibir Kenny.


Dia nampak risih. Tapi aku melakukan itu dengan ikhlas, tanpa mengharap dia membalas perlakuanku padanya.


Ya, dengan senang hati aku menerima Kenny menjadi calon suamiku, dan aku sudah siap mental jika dia tidak akan pernah bisa mencintaiku.


Cukup bisa membantu dan melayani keluarga Kenny, itu sudah cukup membuatku bahagia.


"Dedek Al gimana Ken? Sudah turun demamnya?" tanyaku.

__ADS_1


"Sudah Din, pagi-pagi dia sudah sehat, sekarang dia dan Icha di titip sebentar sama Mbak Nur!" jawab Kenny.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya!" kataku.


"Minggu depan tahun ajaran baru, aku mau mulai ke sekolah!" ucap Kenny.


"Oya, baguslah, kau jadi punya kegiatan Ken!" sahutku.


"Iya Din, aku juga ingin bangkit, demi Icha dan Aldio, bantu aku bisa melupakan semuanya Din, bantu aku, aku tidak sanggup, aku butuh bantuanmu untuk melepaskan aku dari situasi ini!" ucap Kenny matanya penuh kesedihan, aku tidak tahan, tidak tahan melihat orang yang sangat aku cintai seperti ini.


"Iya Ken, aku akan membantumu, kau jangan khawatir, bukan saja hanya membantumu, tapi juga anak-anakmu!" kataku sambil menggenggam tangan Kenny, memberikan dia kehangatan dan pengharapan.


"Trima kasih Din!" ucap Kenny sambil tersenyum.


Melihat dia mulai bisa tersenyum membuat hatiku menghangat, aku ingin Kenny juga bisa menikmati hari-harinya yang akan datang dengan penuh senyuman.


Setelah selesai makan siang, Om Banu dan Kenny segera pamit pulang kerumahnya.


Setelah mereka sudah benar-benar pergi ibu langsung memelukku dengan erat.


"Akhirnya Din! Ibu bahagia akhirnya kamu bisa menemukan jodohmu, walaupun harus muter-muter dulu!" kata Ibu.


"Bapak juga bahagia Din, walau Kenny itu sudah tak perjaka lagi, tapi dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, semoga kedepannya kalian akan bahagia!" timpal Bapak sambil mengelus punggungku.


Aku tersenyum mendengar perkataan Bapak dan Ibuku, bahagia? Aku tak yakin dengan kata-kata itu, Kenny memang membutuhkan aku, sebagai pengasuh bayinya, dan perawat untuk menjaga anak-anaknya, atau rekan kerja untuk membangun sekolahnya.


Tapi bukan untuk menjadi istri yang benar-benar istri sesungguhnya.


Aku tau betul isi hati Kenny, jelas terungkap saat aku menemaninya ke rumah sakit kemarin, dia tidak benar-benar menganggap ku ada, bahkan dia tidak ingin orang menganggap aku ini adalah istrinya.


Ya, aku menerima perjodohan ini bukan untuk mendapatkan cinta Kenny, tapi untuk membantu dan melayani keluarganya, itulah caraku untuk mencintai Kenny.


****


Kalau para reader bertanya apakah ada cinta yang seperti cinta Dini??


Jawabannya adalah ada.


Karena kisah Dini dan Kenny itu bukan fiktif.


Cinta itu buta guys, terkadang tidak ada logika 😉


Tetap dukung Author ya ...

__ADS_1


__ADS_2