Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Dalam Bayang-Bayang


__ADS_3

Langit sudah gelap, senja sudah berganti menjadi malam. Kenny masih nampak asyik memandang langit, yang kini penuh taburan bintang.


Aku tetap di sampingnya, menemani setiap khayalannya, entah mengapa, wajah Kenny terlihat lebih tenang, seolah di depannya ada Felly yang menghiburnya.


Ada yang aneh malam ini di tepi pantai ini, aku duduk berdua dengan Kenny, namun aku seperti obat nyamuk, Kenny asyik dengan dunianya yang aku sendiri tidak tau apakah itu.


"Ken, sudah malam, ayo kita balik ke villa!" ajakku.


"Sebentar lagi Din!" ujar Kenny.


Aku menunggunya sebentar lagi.


Ku lihat di jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, angin laut malam itu begitu dingin.


"Ken! Ayo balik! Kalau kau tidak mau balik, aku akan balik sendirian!" cetusku membuyarkan lamunan Kenny.


Kenny menoleh ke arahku, dia seperti tersadar dalam alam mimpinya.


"Din? Kau mau balik? Ayo kita balik Din!" Kenny segera berdiri dari duduknya, lalu menggandeng tanganku berjalan menuju Villa.


Gandengan tangan Kenny malam ini terasa berbeda, sangat erat dan hangat.


Setelah kami sampai di villa, Kenny tetap tidak melepaskan tanganku.


Hingga dia berdiri di jendela dengan memandang hamparan laut yang luas, dia masih menggenggam tanganku.


Tiba-tiba Kenny menoleh ke arahku.


Dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan Kenny mulai mendekati wajahku dan mencium bibirku.


Ciuman itu begitu dalam dan lembut, aku sangat bahagia dan menikmatinya, inilah ciuman yang aku dambakan selama ini, yang selalu aku impikan, bisa merasakan nikmatnya bibir Kenny, laki-laki yang sangat aku cintai.


"Ken!" ucapku lirih.


Dia diam saja, tetap melanjutkan aktifitasnya. Hingga dia mulai membuka kancing baju yang ku kenakan, aku merinding, benarkah Kenny akan melakukan itu padaku?


Matanya menatap penuh damba, setelah dia menurunkan seluruh pakaianku, dia mulai mengangkat ku ke tempat tidur, sekali lagi dia mulai menciumiku.


Setelah berapa lama dia memeluk dan menciumi tubuhku, dia mulai membuka pakaiannya sendiri.


Aku menutup mataku, tidak berani melihat tubuh polos Kenny, takut kalau ini hanya mimpi dan sebentar lagi aku akan bangun.


Perlahan Kenny mulai mengarahkan miliknya yang sudah sangat tegang itu, saat menyentuh benda itu aku sangat merinding. Begitu lembut dan hangat.


Dalam sekali hentakan, miliknya mulai menembus milikku, rasa sakit yang amat sangat mendera tubuhku, aku bergetar menahan sakit, sebisa mungkin aku menahannya.


Mungkin Kenny lupa kalau aku masih perawan, dia kurang bisa bermain lembut.


Kulihat dia begitu bergairah, apa mungkin karena sudah lama dia tidak melakukan aktifitas itu, entahlah.

__ADS_1


Dari rasa sakit yang amat sangat, akhirnya aku bisa juga menikmati permainan Kenny, dia begitu perkasa malam ini.


Aku mencium bibirnya berkali-kali, akhirnya malam ini, ku serahkan juga mahkota ini untuknya, untuk laki-laki yang amat aku cintai.


Hingga pada saat dia hendak mencapai puncaknya, gerakannya begitu cepat dan kuat, aku menjerit kecil.


"Felly, I love You!" ucap Kenny tiba-tiba.


Aku melotot, dalam keadaan seperti ini kenapa dia menyebut nama Felly, jangan-jangan aku ini di anggap Felly, dia sama sekali tidak menyebut namaku.


Air mataku langsung luruh seketika, hatiku sakit, bahkan lebih sakit dari waktu Kenny mengambil mahkotaku.


Dia terkapar di sebelahku saat dia sudah mencapai pelepasannya.


Aku menangis sambil memeluk selimut untuk menutupi tubuhku.


Kenny memelukku dari belakang, dia menyadari kesalahannya.


"Maafkan aku Din, maafkan aku!" bisik nya.


Aku tidak menoleh kearahnya, aku hanya bisa menangis, menangisi kebodohanku, yang hanya bisa menjadi bayangan Felly, tanpa mampu menjadi diriku sendiri.


Kenny tak pernah mencintaiku, di hati dan pikirannya hanya ada Felly, bahkan saat dia melakukan hubungan itu, Felly yang menjadi objeknya, bukan aku.


Aku terus menangis sambil menahan perih nya di tubuh bagian bawahku.


Kenny terus memelukku dari belakang, seolah ingin menebus semua kesalahannya, dia tidak banyak bicara, hanya memelukku dan berkali-kali minta maaf.


Aku tetap tak bergeming, hingga dia tertidur karena kelelahan. Dia masih memelukku dari belakang.


Lalu terdengar suara dengkuran halus Kenny, dia sudah benar-benar tertidur.


Aku membalikan tubuhku perlahan, lalu aku mulai menyingkirkan tangannya dari tubuhku, Kenny tidur terlentang dengan tubuh polosnya.


Ku pandangi tubuh itu, andai dia tidak menyebut nama Felly, mungkin malam ini akan menjadi malam yang paling membahagiakan aku.


Perlahan aku menyelimuti tubuh Kenny. Aku cium wajahnya. Walau dia menyakiti hatiku dengan perkataannya, namun aku tetap mencintainya.


Aku mulai beranjak ke kamar mandi, berniat akan membersihkan diriku.


Setelah selesai, aku berpakaian dan berbaring di samping Kenny.


Ada noda darah di tempat tidur itu, ku biarkan saja. Besok baru membereskannya kembali.


****


Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela kamar kami, aku terbangun saat melihat mentari begitu terang dan hangat, ku bangkit dari tidurku dan membuka tirai jendela kamar itu, pemandangan yang luar biasa indah terpampang di hadapanku.


Aku menoleh ke arah Kenny yang mulai mengerjapkan matanya, dia masih polos seperti semalam, tubuhnya hanya di tutupi oleh selimut.

__ADS_1


"Selamat pagi Ken!" sapaku sambil tersenyum, seolah melupakan rasa sakit hatiku semalam.


"Pagi Din, kau sudah bangun?" tanyanya.


"Sudah!" jawabku.


"Yang semalam itu, aku minta maaf kalau ... "


"Sudahlah Ken! Aku sudah melupakannya, sekarang lebih baik kau mandi, bersihkan tubuhmu!" potongku cepat.


Aku tidak ingin membahas soal semalam lagi.


Kenny tetap diam di tempatnya, tidak beranjak sama sekali. Lalu dia menoleh ke tempat tidur di sisinya yang banyak bercak darah, nampaknya dia mulai menyadari sesuatu.


"Din, kau sudah ... memberikan keperawananmu padaku?" tanya Kenny.


"Kau lupa apa yang kau lakukan padaku semalam?" aku balik bertanya.


"Trimakasih Din, kau sudah memberikannya padaku!" ucap Kenny.


"Kenapa berterimakasih? Bukankah aku ini istrimu? Seharusnya aku memberikannya pada saat malam pertama kita, tapi kau tidak mau bukan?!" kataku. Kenny terdiam.


"Maafkan aku Din!" ucap Kenny yang lagi-lagi minta maaf.


"Ya, lupakanlah, aku sudah memaafkanmu!" jawabku.


Aku mulai mengambil minuman hangat di pantry, lalu aku memberikannya pada Kenny.


"Minumlah Ken, supaya tubuhmu lebih segar!" ujarku.


Kenny meminum minuman itu sampai habis tak tersisa.


"Trimakasih Din!" ucap Kenny.


Aku meletakan gelas kosong itu di atas meja.


"Ken, sekarang kau mandilah, bersihkan tubuhmu, aku juga mau mengganti sprei itu, supaya bersih!" ujarku.


"Din, biarkan saja, jangan di ganti spreinya!" sergah Kenny.


"Kenapa?" tanyaku.


"Aku, mau melakukannya sekali lagi, seperti yang semalam, dengan Dini istriku!" ucap Kenny.


Aku meremang seketika, sejak kapan dia mengakui aku sebagai istrinya? Baru saja semalam aku sakit hati karena dia menyebut nama Felly, sekarang dia kembali memporak porandakan perasaanku.


"Tapi Ken ..."


Kenny menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, aku terkesiap.

__ADS_1


Sudah ada yang sangat siap untuk bertempur yang kulihat di sana.


****


__ADS_2