Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Mulai Ke Sekolah


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama aku dan Kenny ke sekolah, setelah kami menambah cuti liburan kami.


Aku yang kini menyandang status sebagai istri dan ibu dari dua orang anak, mulai belajar bagaimana menyiapkan bekal dan perlengkapan sekolah Icha.


Di tambah lagi baby Aldio yang kini sangat dekat denganku, dia masih terlalu kecil untuk di ajak ke sekolah, makadari itu, selama aku dan Kenny di sekolah, Baby Al di asuh oleh Mbok Sumi dan Mbak Nur.


Kenny mulai menyalakan mesin mobilnya, aku dan Icha langsung masuk ke dalam mobil. Kami pun langsung berangkat ke sekolah.


Rasanya canggung saat kami sudah tiba di sekolah, sudah lama juga aku tidak menginjak sekolah ini.


Terakhir aku kesini saat aku belum menikah dengan Kenny.


Kini saat aku datang kembali, aku sudah berstatus sebagai istri Kenny.


Hampir semua mata memandang ke arahku, aku jadi risih sendiri.


Icha sudah masuk ke dalam kelasnya, kini dia sudah duduk di kelas dua SD.


"Selamat pagi Miss Dini!" sapa para guru saat aku mulai masuk ke dalam ruang guru.


"Wah, sekarang sepertinya kita jangan memanggilnya Miss lagi, dia sudah Nyonya!" cetus salah seorang guru.


Aku hanya tersenyum dan langsung duduk di kursi kerjaku.


"Harusnya Miss Dini tidak usah jadi guru lagi lho, suaminya kan pemilik sekolah, masa istri seorang pemilik sekolah masih kerja jadi guru!" ujar Bu Iren.


"Ah Bu Iren, guru itu kan panggilan jiwa, masa aku harus di rumah saja!" sahutku.


"Benar tuh apa yang di bilang Miss Dini, sambil kerja kan bisa langsung memantau suaminya!" cetus seorang guru musik.


Aku hanya tersenyum menanggapi celotehan mereka. Lebih baik aku juga tidak banyak bicara.


Setelah beberapa orang guru masuk ke dalam kelas masing-masing, Bu Ira nampak mendekatiku.


"Miss Dini, bahagia ya akhirnya berjodoh juga dengan Mr. Ken!" ujar Bu Ira.


"Itu sudah takdir Bu, semuanya sudah ada yang mengaturnya!" sahutku.


"Mr. Ken juga sudah gemukan sekarang, padahal waktu mendiang istrinya sakit, dia terlihat makin kurus!" tambah Bu Ira.


"Syukurlah kalau dia sudah gemukan bu, akhir-akhir ini dia memang banyak makan!" jawabku.


"Akhirnya Mr. Ken bisa move on juga dari mendiang istrinya ya, aku turut senang Miss," sahut Bu Ira sambil menepuk bahuku, lalu dia segera meninggalkan ruangan ini.

__ADS_1


Aku kembali sendirian di ruangan ini, maklum, aku ini guru bidang study, bukan guru kelas.


Aku kemudian berjalan menyusuri selasar sekolah menuju ke ruangan Kenny yang letaknya agak di sudut.


pintu ruangan itu tidak tertutup rapat, perlahan aku masuk kedalam ruangan itu.


Ku lihat Kenny sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memandang sebuah bingkai foto.


Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Kenny sedang memandang foto Felly. Apakah dia masih belum bisa melupakan Felly?


"Ken!" sapaku pelan.


Dia menoleh, lalu cepat-cepat memasukan kembali bingkai foto itu ke dalam laci meja kerjanya.


Perlahan aku berjalan mendekatinya.


"Tidak usah di sembunyikan Ken, kau letakan saja di mejamu, supaya kau bisa memandangnya setiap saat!" ujarku.


"Tidak Din, maafkan aku!" ucap Kenny.


"Kenapa kau harus minta maaf? Menumpahkan kerinduan itu bukan suatu kesalahan, jadi kau tidak perlu minta maaf padaku!" ucapku yang langsung duduk di hadapannya.


"Tapi aku tidak akan memajang fotonya, karena istriku sekarang adalah dirimu Din, maafkan aku, kalau kau menginginkannya foto ini di singkirkan, maka aku akan menyingkirkannya!" kata Kenny.


Aku menahan tangannya.


"Jangan Ken, aku menghargai setiap perasaanmu, aku tidak aa-apa, sungguh! Kau jangan merasa bersalah padaku, simpanlah kembali foto itu!" ucapku.


Kenny lalu berdiri dan memelukku. Pelukan yang terasa sangat hangat dan nyaman, aku bebas mencium aroma tubuh Kenny dengan sepuas-puasnya, sekarang tubuh Kenny sudah menjadi canduku.


"Maafkan aku Din, beri aku waktu sebentar lagi!" bisiknya.


"Iya Ken iya, kau jangan khawatir, aku tidak marah sama sekali, aku sayang padamu melebihi perasaan apapun, lakukanlah apa yang membuatmu nyaman, aku akan selalu mendukungmu!" ucapku.


Kenny kemudian mulai kembali mencium bibirku, aku selalu tidak bisa menolak itu, cintaku menutupi segalanya, aku sangat menikmati setiap sentuhannya.


Sebenarnya ada yang aku tunggu dari ucapannya, aku sangat ingin mendengar Kenny mengucapkan kata cinta untukku, namun sampai sejauh ini, hanya perlakuan fisiknya saja yang lembut padaku.


Namun dari mulutnya belum pernah sekalipun terucap kata cinta untukku.


Sedangkan dia seringkali mendengar kata-kata cinta darimu, dan Kenny sangat tau kalau aku sangat mencintainya.


Ah, sampai hari ini pun, aku hanya mendapatkan tubuh fisiknya, namun belum seluruh hatinya.

__ADS_1


"Apa kau mau makan sesuatu Ken?" tanyaku sambil mengusap lembut rambutnya.


"Aku cuma ingin minum minuman hangat Din!" jawab Kenny.


"Baiklah sayang, kau tunggu sebentar, aku akan mengambilkan di panty!" ujar ku sambil beranjak meninggalkannya.


Aku lalu menuju ke pantry dan langsung membuatkan susu hangat untuk suamiku itu.


Susu hangat ini aku buat dengan penuh cinta pada Kenny, aku sungguh sangat mencintai dia, walaupun dia masih belum bisa membalas sepenuhnya perasaanku ini.


Aku ikhlas memberikan seluruh hatiku padanya. Tidak ada sisa untuk yang lain karena dia sudah menguasai seluruh hati ini.


Setelah selesai, aku lalu memberikan susu hangat itu untuk suamiku ini, dia langsung meneguknya sampai habis.


"Wah, kalau seperti ini, kau akan selalu sehat Ken!" ucapku sambil membersihkan bibir Kenny dengan tissue.


"Trimakasih Din!" ucapnya.


"Iya Ken, setelah ini, kau mau melakukan apa?" tanyaku setelah meletakan gelas kosong di atas meja.


"Aku mau ke ruang kepala sekolah, mau membicarakan tentang progres sekolah, juga rencana jangka panjang untuk sekolah ini!" jawab Kenny.


"Kalau aku, sebentar lagi akan mulai mengajar di kelas Icha, setelah itu nyambung lagi di kelas 6!" ujarku.


"Seharusnya kau tak perlu lagi mengajar Din, kita cari lagi guru bahasa Inggris yang handal, kau hanya perlu mendampingiku saja kemanapun!" ucap Kenny.


Aku terkesiap mendengarnya, benarkah Kenny ingin aku mendampinginya?


"Tapi Ken ... Aku ..."


"Berhentilah mengajar dan dampingilah aku Din, aku suamimu sekarang, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, lahir dan batin!" ucapnya sambil memandang wajahku.


Aku menunduk malu.


"Kalau suamiku menghendaki begitu, aku akan patuh padamu Ken!" jawabku.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Bu Iren nampak sudah berdiri di depan pintu.


"Miss Dini, sudah di tunggu anak-anak kelas dua A, hari ini kan jadwal mereka Miss!" kata Bu Iren mengingatkan.


"Oh, iya bu, saya akan segera ke kelas dua sekarang!" jawabku sambil bergegas meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2