Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Guru Baru


__ADS_3

Seperti rutinitas setiap hari, aku mendampingi Kenny pergi ke sekolah sekalian mengantar Icha.


Namun hari ini, aku mengajak serta baby Aldio, dia sudah cukup kuat untuk di ajak ke luar rumah.


"Jangan lupa strollernya di masukan kedalam mobil Mbok!" ucapku pada Mbok Sumi.


"Iya Bu!" jawabnya sambil memasukan stroller baby Al ke dalam mobil, sementara aku menggendong baby Al.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Kenny yang nampak sudah siap di depan kemudi.


"Siap Papi!" sahut Icha dan aku hampir bersamaan.


Kami pun segera berangkat ke sekolah.


Icha nampak senang dan bersemangat ke sekolah, karena aku membawa adiknya, Icha bisa memamerkan adiknya ke semua teman-temannya.


"Bu, nanti masuk ke kelas aku sebentar ya!" kata Icha.


"Oya? Apa yang mau kakak Icha lakukan?" tanyaku.


"Aku mau kasih tau teman-teman aku kalau aku punya adik yang lucu!" sahut Icha.


"Hmm, baiklah sayang, nanti ibu akan masuk ke kelas Icha, tapi Dedek tidak bisa menemani kakak Icha belajar!" tambahku.


"Oke Bu, sebentar saja kok!" kata Icha.


"Bukan cuma Icha yang punya adik, teman yang lain juga punya adik, jadi Icha jangan terlalu pamer juga!" ujar Kenny.


"Tapi teman-teman tidak punya adik selucu Dedek Al!" sahut Icha.


"Iya nih, Dedek Al memang lucu, badannya mulai gembul, Mimi susu nya banyak!" timpalku sambil menciumi wajah baby Al yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


Tak lama kemudian, kami sudah sampai di sekolah, saat kami turun dan menaruh baby Al dalam strollernya, beberapa murid dan orang tua murid datang mengerumuni kami.


"Ooo, jadi ini anaknya Mister Kenny, ya ampun, ganteng banget kayak Papinya!" ujar salah seorang orang tua murid sambil mencolek pipi Baby Al.


"Ya ganteng lah Bu, Papinya kan juga ganteng banget!" timpal ibu yang lain.


"Miss Dini beruntung tuh, bisa dapetin Mister Ken, walau sudah tak perjaka, tapi tetap pesonanya tak terkalahkan!" cetus seorang ibu yang lain, di iringi dengan suara tawa dari mereka semua.


"Maaf ibu-ibu, kami permisi dulu!" ujar Kenny yang terlihat jengah oleh celotehan ibu-ibu.


Kami pun berjalan melewati deretan ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah, sempat ku lirik, mereka berbisik-bisik sambil menatap ke arah kami, entah apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Sesuai janji, aku masuk sebentar ke kelas Icha, Icha nampak bangga memperkenalkan adiknya di hadapan teman-temannya, aku membiarkannya, asal anak itu kembali berwajah ceria, itu sudah cukup.


"Wah, adikmu lucu sekali Cha!" kata salah satu teman Icha.


"Iya dong! Namanya Dedek Aldio, dia ganteng kayak Papi aku!" sahut Icha bangga.


"Aku juga pingin punya adik bayi! Nanti aku akan bilang sama Mama!" ujar teman yang lain.


Setelah puas memamerkan adik nya, aku segera keluar dari kelas Icha, sepuluh menit lagi pelajaran akan di mulai, Kenny sudah duluan pergi ke ruangannya.


Aku berjalan menyusuri koridor menuju ke ruang guru sambil mendorong stroller baby Al.


Semua guru mengerumuniku saat aku masuk ke ruang guru itu.


"Wah, bayinya lucu dan tampan, seperti Mister Ken!" seru Bu Ira yang pertama kali langsung mengelus pipi baby Al.


"Ini betul-betul bibit unggul, Mister Ken! Sayang dia cuma satu! Ayo Miss Dini, bikin anak sama Mister Kenny, di jamin keturunanmu bening-bening!" ujar seorang guru yang lain.


Aku hanya tersenyum menanggapi celotehan mereka, dalam hati aku bangga, benih Kenny memang luar biasa, menghasilkan anak yang amat sehat dan berparas tampan.


Perlahan aku mengusap perutku sendiri, kapan benih itu akan tumbuh di dalam rahimku?


"Miss Dini, aku gendong sebentar ya Baby Al nya, tidak tahan gemesin banget!" kata Bu Iren.


Aku menganggukan kepalaku, dengan cepat Bu Iren langsung mengangkat Baby Al dari dalam strollernya, para guru yang lain mengerumuninya dan mulai mencium atau mencolek bayi gembul itu.


Suara bell sekolah berbunyi, pertanda pelajaran akan segera di mulai.


Bu Iren langsung mengembalikan baby Al ke dalam strollernya, kemudian dia bergegas ke luar ruangan menuju ke kelasnya, di ikuti oleh guru yang lain.


Aku juga ikut ke luar ruangan, karena ruangan gitu itu sudah sepi.


Aku membawa baby Al jalan-jalan sambil melihat suasana sekolah,


Aku terus berjalan hingga ke ruang TU, di sana ada beberapa staf termasuk Bu Ana.


Melihat aku dari luar, Bu Ana segera keluar ruangan dan langsung menghampiriku.


"Wah, bayinya sudah besar sekarang, lucunya!" kata Bu Ana sambil mengelus pipi baby Al yang kini mulai tertidur.


"Bu Ana sudah menikah belum?" tanyaku. Yang pernah ku dengar dulu Bu Ana pernah sempat ada rumor dengan Kenny terkait kesalahpahaman.


"Belum Miss!" jawab Bu Ana singkat.

__ADS_1


Aku melihat dia begitu takjub memandang baby Al, dari sorot matanya seperti menyimpan sesuatu, tapi entah apa itu, mungkin hanya perasaanku saja.


"Bu Ana sudah lama bekerja disini?" tanyaku.


"Sudah lebih dari dua tahun Miss!" jawab Bu Ana. Matanya terus menatap baby Al, seolah menyimpan rasa kekaguman.


"Baiklah, aku mau keruangan suamiku dulu!" ujar ku.


"Tunggu Miss, bolehkan aku mencium baby Al?" tanya Bu Ana.


Aku spontan Menganggukan kepalaku. Bu Ana lalu berlutut dan mulai mencium pipi baby Al yang tertidur.


Tapi aneh, Bu Ana bukan seperti mencium seorang bayi. Dia mencium sambil memejamkan matanya.


"Tampan sekali!" gumamnya.


"Maaf Bu, aku harus pergi!" ujarku. Dia segera berdiri lalu menganggukan kepalanya.


Aku dengan cepat mendorong stroller baby Al menuju ke ruangan Kenny.


Aku masih bingung dengan Bu Ana, mungkin jangan-jangan Bu Ana menyimpan sebuah rasa pada Kenny suamiku, tapi aku menepiskan pikiran itu, kenapa juga aku mencurigainya.


Aku terus berjalan melewati ruang kepala sekolah, dari pintu kaca, aku melihat Pak Budi berbicara dengan seseorang di hadapannya.


Aku menghentikan langkahku. Sepertinya dari pakaiannya yang formal, dia adalah guru baru. Siapa dia?


Aku tetap berdiri di depan pintu ruangan Pak Budi. Hingga pembicaraan mereka selesai.


Saat wanita itu berdiri dan hendak berjalan keluar ruangan, aku terkejut dan langsung membulatkan mataku.


"Felly!" pekik ku perlahan.


Wajah dan tubuh itu sangat persis seperti Felly, seperti pinang di belah dua.


Aku langsung menyingkir dari ruangan itu dan berjalan perlahan, ku lihat wanita itu keluar dari ruangan Pak Budi.


Jiwa penasaranku muncul, siapakah wanita yang sangat mirip Felly itu, kenapa bisa ada kebetulan semacam ini?


Dia berjalan cepat melewatiku, lalu dia menoleh ke arahku.


"Maaf, ruangan Mr. Ken ada di mana ya?" tanyanya. Aku terperangah.


"A-Anda siapa?" tanyaku gugup.

__ADS_1


"Oh, saya Mona, guru bahasa Inggris yang baru!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya hendak menjabat tanganku.


****


__ADS_2