Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Ingin Menyendiri


__ADS_3

Aku mengerjapkan mataku, saat cahaya mentari pagi menyinari wajahku dari celah jendela kamar yang setengah terbuka itu.


Aku langsung menggeliat bangun dari tidur, sepertinya aku kesiangan, aku ingat semalam itu aku banyak cerita dengan Bu Ira, menumpahkan semua isi hatiku padanya, sampai aku sendiri pun tidak dapat memejamkan mataku.


Menjelang subuh baru aku bisa tertidur, rasanya tubuh ini begitu lelah sekali.


Aku langsung buru-buru bangun dan membuka jendela kamar itu lebar-lebar, Hawa hangat dan segar di pagi hari menerpa wajahku, Aku kemudian langsung keluar dari kamar tamu itu, tidak enak juga dengan Bu Ira, aku menumpang di sini tapi aku sendiri malah bangun kesiangan.


Bu Ira nampak menata meja makan, Sepertinya Dia baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi, wanita yang tinggal sendiri dan belum menikah itu pun tersenyum padaku


"Eh, Miss Dini sudah bangun, ayo sini sarapan dulu Miss, seadanya ya, Aku hanya bisa membuatkan nasi goreng saja!" kata Bu Ira sambil melambaikan tangannya.


Aku pun melangkah maju dan duduk di ruang makan itu, Bu Ira juga duduk di hadapanku, dia sudah terlihat rapi berpakaian. Sepertinya dia akan siap-siap berangkat untuk mengajar.


"Maafkan aku Bu Ira, aku bangun kesiangan, aku jadi malu!" ucapku menunduk.


"Ah Miss Dini, Aku maklum kok, saat ini Miss Dini sedang ada masalah, santai saja, pokoknya Anggap saja rumah sendiri! Oh ya, kalau Miss Dini memerlukan pakaian, aku sudah menyiapkannya tuh di meja kamar, nanti Miss bisa pilih sendiri pakaian mana yang mau dipakai!" kata bu Ira.


"Aku jadi merepotkan Bu Ira, sebenarnya aku tidak enak ini, tapi terpaksa karena ..."


"Sudahlah Miss Dini, jangan sungkan padaku, kita kan sudah kenal lama, ayo langsung dimakan sarapannya!" potong Bu Ira cepat.


Bu Ira nampak langsung menyantap sarapannya itu, sepertinya dia agak terburu-buru, karena sebentar lagi pasti bel sekolah akan berbunyi, meskipun rumah Bu Ira sangat dekat sekali dengan sekolah, namun ini memang sudah hampir terlambat.


Mau tidak mau aku pun ikut Bu Ira sarapan, sebenarnya aku tidak merasakan lapar sama sekali, namun aku ingat, ada janin dalam perutku ini yang membutuhkan nutrisi, paling tidak aku makan supaya dia bisa tetap hidup dan sehat.

__ADS_1


"Miss Dini istirahat saja ya di sini, pokoknya Anggap saja rumah sendiri, aku mau berangkat dulu ke sekolah, tidak enak Nanti kalau terlambat!" kata Bu Ira yang langsung berdiri setelah dia menyelesaikan sarapannya.


"Iya bu, sekali lagi terima kasih ya untuk tumpangannya, mungkin aku memang butuh waktu sendiri, mohon jangan beritahukan pada siapapun tentang keberadaanku di sini!" mohon ku.


Bu Ira nampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, setelah itu Dia pamit untuk berangkat ke sekolah, karena memang hari ini dia kelihatan terlambat, aku merasa bersalah padanya, karena semalaman dia mendengarkan curahan hatiku sampai dia bangun kesiangan juga.


Aku menarik nafas panjang, setidaknya aku sedikit tenang, Aku punya tempat untuk berlindung sementara, ya mungkin di sini, di rumah Bu Ira, aku akan menyembunyikan diriku beberapa waktu lamanya, Aku perlu menenangkan hati dan pikiranku.


Aku merogoh ponselku yang masih tersimpan di dalam saku pakaianku, Bahkan aku tidak berani untuk menyalakan ponselku itu, takut kalau-kalau banyak panggilan atau notifikasi yang masuk dalam ponselku, aku yakin pasti pagi ini semua orang mencari aku termasuk bapak dan ibu.


Sebenarnya aku tidak ingin membuat mereka semua cemas, tapi aku tidak ada jalan lain, aku butuh sendiri saat ini, kemudian aku meletakkan ponselku begitu saja di atas meja, dan aku kembali ke kamarku, berniat akan mandi dan membersihkan tubuhku.


Di atas meja yang ada di sudut kamar tamu itu, ada beberapa tumpukan pakaian bersih, juga handuk dan beberapa pakaian dalam yang kelihatannya masih baru, ternyata Bu Ira memang sudah menyiapkan semuanya.


Tok ... Tok ... Tok


Baru saja aku selesai berpakaian tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu depan, Aku kemudian berjalan cepat mengintip dari tirai jendela. Siapakah orang yang datang, dadaku berdebar dengan sangat keras.


Ternyata yang mengetuk pintu itu adalah seorang kurir, aku melihat dari tirai jendela itu, seorang kurir dengan pakaian ekspedisinya terlihat sedang mengantarkan barang, aku berpikir mungkin itu adalah paket dari seseorang untuk Bu Ira.


Perlahan aku pun membuka pintu rumah itu, sang kurir sedikit terkejut melihat ke arahku.


"Lho, maaf saya kira Bu Ira ada di dalam, Soalnya ada lampu yang masih menyala, Ternyata bukan Bu Ira!" ujar sang kurir itu sambil menatapku dengan tatapan heran.


"Oh iya, saya ini temannya Bu Ira yang kebetulan sedang main ke rumahnya, Bu Ira sendiri sedang mengajar di sekolah!" jelasku.

__ADS_1


"Oh pantas saja, saya kira Bu Ira tidak mengajar karena sepertinya ada orang di dalam, Oh ya ini ada paket untuk Bu Ira!" kata kurir itu sambil menyodorkan sebuah paket ke arahku.


Aku kemudian langsung mengambil paket itu dan meletakkannya di atas meja yang ada di dalam ruang tamu.


Setelah sang kurir itu pergi, aku buru-buru kembali menutup pintu rumah itu, takut kalau-kalau ada orang yang melihat keberadaanku di sini, maklum saja dari depan pintu rumah Bu Ira, nampak jelas sekali sekolah Rajawali, Aku tidak ingin seorangpun melihat kalau aku ada di sini.


Kemudian aku kembali ke ruang makan, masih ada piring bekas makananku yang belum aku bereskan, aku berniat akan membereskan meja makan juga piring dan gelas kotor, karena walau bagaimana aku menumpang di sini, aku harus menjaga rumah ini tetap rapi dan bersih.


Setelah semuanya selesai, Aku kemudian kembali meraih ponselku, Meskipun aku tidak ingin membuka ponselku, namun aku begitu Penasaran melihat kabar terkini, apalagi sejak semalam sampai dengan sekarang ponselku itu mati.


Kemudian aku mulai menyalakan ponselku itu dan berniat akan kembali mematikannya, Setelah aku melihat berita terkini, paling tidak aku harus memastikan kalau Kenny dan anak-anak baik-baik saja juga bapak dan ibuku.


Setelah aku membuka ponselku itu dan mengaktifkan internetnya, banyak sekali panggilan masuk dan notifikasi yang aku sendiri sampai kebingungan untuk membacanya.


Di situ juga terlihat berkali-kali Kenny mencoba melakukan panggilan juga pesan singkat, banyak sekali, bahkan mungkin sampai tak terhitung jumlahnya.


Aku mengabaikannya, untuk apa aku membaca semua pesan singkat dari Kenny, toh hatinya juga tidak terpaut padaku, kemudian Aku beralih pada pesan singkat dari ibuku, Aku mulai membuka dan membacanya.


"Nak, Kamu di mana sekarang? katakan pada ibu, meskipun kamu tidak mau menceritakan pada siapapun, tapi Ibu adalah ibumu, kalau kamu membaca pesan ini tolong jawab Nak, Ibu sangat ingin bertemu denganmu!"


Spontan air mataku kembali tumpah membaca pesan singkat dari ibu, ada rasa bersalah yang tiba-tiba menggelayuti hatiku.


Bersambung ....


****

__ADS_1


__ADS_2