
Malam ini aku menggendong Baby Al, sehabis minum susu, sepertinya bayi mungil ini mulai mengantuk, dia agak rewel mencari posisi yang nyaman.
Mulai malam ini baby Al sudah tidur di kamar kami, di kamar aku dan Kenny.
Kenny duduk di meja kerjanya yang terletak di sudut kamarnya dengan sebuah laptop di hadapannya.
Baby Al terus menangis, aku agak bingung karena aku belum pengalaman mengurus bayi.
Karena takut mengganggu Kenny, aku akhirnya keluar dari dalam kamar.
Aku terus menggendong Al dan terus menuruni tangga,berharap jika di ajak jalan, bayi mungil ini bisa tertidur.
Ku lihat Ayah, (sekarang aku memanggil Om Banu dengan sebutan Ayah) nampak sedang duduk sambil menonton siaran langsung pertandingan bola.
Dia menoleh ke arahku yang baru turun dari tangga.
"Kenapa si Dedek? Rewel lagi?" tanya Ayah.
"Mungkin mengantuk Ayah!" sahut ku.
"Mana Kenny? Kenapa kamu tidak bersama Kenny mengurus dedek?" tanya Ayah.
"Kenny sedang kerja Ayah, dia ada di depan laptop, memantau perkembangan sekolah!" jawabku.
"Ayah perhatikan, kalian setelah menikah tidak bisa terlihat dekat, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ayah sambil menatapku.
Sepertinya Ayah tau kalau Kenny bersikap dingin padaku, mungkin ini yang di sebut insting orang tua.
"Aku baik-baik saja Ayah, Kenny memang sedang sibuk, aku tidak ingin mengganggunya!" kataku.
"Dini, sepertinya kalian berdua harus bulan madu!" cetus Ayah tiba-tiba.
Aku terkejut mendengar ide Ayah, mana mungkin Kenny mau mengajakku bulan madu.
"Hari Senin besok aku sudah aktif mengajar Ayah, liburan kita bahkan sudah di perpanjang!" tukasku.
"Tidak apa-apa menambah 3 atau 4 hari lagi liburan, kau lupa Din, suamimu adalah owner sekolah?" ujar Pak Banu.
Ya, aku tau Kenny adalah pemilik sekolah Rajawali, tapi bukan itu masalahnya, mau bulan madu ke bulan juga Kenny tidak akan mau menyentuhku.
Aku ini hanya istri bayangan, hanya pengasuh dari anak-anaknya, bahkan aku tidak berani berharap lebih.
"Din!" suara Ayah membuyarkan lamunanku.
"Ayah harap kamu sabar menghadapi Kenny, Ayah kenal kamu bukan sehari dua hari, kamu pasti sanggup mengadapi Kenny!" ujar Ayah.
__ADS_1
"Iya Ayah!" ucapku.
"Sudah, sekarang kamu keatas temani Kenny, tuh Dedek Al sudah tidur!" kata Ayah sambil menunjuk Dedek yang memang sudah nampak tertidur di gendonganku.
Setelah pamit, aku lalu ke naik ke kamarku.
Kulihat Kenny masih duduk di depan laptopnya.
Setelah aku menaruh baby Al di box bayinya, aku lalu keluar kamar, hendak membuatkan Kenny minuman hangat, aku menuju ke dapur.
Mbok Sumi masih nampak menyiapkan bahan masakan untuk sarapan besok.
"Lho, ibu belum tidur?" tanya Mbok Sumi.
"Belum Mbok, si dedek baru bisa tidur, ini Papinya juga belum tidur, mau buat minuman hangat buat Kenny Mbok!" kata Ku.
"Oh, biar Mbok buatkan saja Bu, mau susu hangat, teh atau kopi?" tanya Mbok Sumi.
"Aku saja yang buat Mbok, aku kan istrinya, aku mau buat susu hangat saja, supaya Kenny juga lebih sehat!" jawabku.
"Ooh, ya sudah Bu, Mas Kenny juga pasti lebih senang ibu yang membuatkannya!" kata Mbok Sumi.
Setelah selesai membuat susu hangat buat Kenny, aku segera beranjak naik ke atas, ke kamarku.
Kenny nampak berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam, laptopnya sudah mati, sepertinya dia lelah.
"Aku sudah buatkan susu hangat untukmu, minumlah Ken, setelah itu kamu boleh tidur!" ucapku sambil menyodorkan gelas susu hangat ke arah Kenny, lalu aku duduk di sampingnya.
"Trimakasih Din, harusnya kamu tak usah repot-repot membuatkannya untukku, kalau aku mau aku bisa membuatnya sendiri!" ujar Kenny sambil beranjak duduk dan meraih gelas dari tanganku, lalu dia segera meneguknya sampai habis.
"Kamu lupa Ken, kalau sekarang aku adalah istrimu, bukankah hal yang wajar kalau aku melayani mu?" tanyaku sambil menatap matanya, aku menatap matanya untuk meyakinkannya kalau kini aku memang sudah jadi istrinya.
"Maafkan aku Din, maafkan aku!" ucap Kenny. Dia kini menggenggam tanganku.
"Sudahlah Ken, kamu istirahat saja!" gumam ku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Maaf kalau aku belum bisa memenuhi kewajiban ku untuk memberikanmu nafkah batin, beri aku waktu Din!" ucap Kenny lagi. Aku menganggukan kepalaku.
"Iya Ken, aku akan bersabar menunggumu!" ucapku.
Tanpa terasa ada butiran bening yang jatuh di pipiku.
"Jangan menangis Din," Kenny langsung memelukku.
Aku nyaman dan bahagia berada dalam dekapan hangatnya, tapi aku tau Kenny melakukan itu karena rasa bersalahnya padaku.
__ADS_1
Rasanya aku ingin berlama-lama dalam pelukan Kenny, namun perlahan Kenny menguraikan pelukannya.
"Tidurlah Din, sudah malam!" ucap Kenny.
Aku menganggukan kepalaku. Lalu aku merebahkan tubuhku di sampingnya, membelakanginya.
****
Pagi datang berkunjung, aku menyiapkan bekal makanan untuk Icha, saat aku akan memberikannya pada Icha, Icha menolak pemberianku, bekal yang sudah aku siapkan tidak di gubrisnya.
"Aku tidak mau bawa bekal, aku makan di kantin saja sama teman-teman!" cetus Icha.
"Icha, tapi bekal kan lebih sehat, lagipula ibu sudah membuatnya lho dari tadi subuh!" kataku.
"Suruh siapa Miss Dini membuat nya? Pokoknya aku tidak mau! Miss Dini saja makan sendiri!" bantah Icha.
"Icha!! Siapa yang mengajari Icha tidak sopan sama orang tua?!!" bentak Kenny tiba-tiba.
Icha terdiam, dia nampak terkejut karena baru kali ini Kenny membentaknya dengan keras.
Kenny menatap Icha tajam, Icha langsung menangis.
"Papi! Kenapa Papi marahin aku??" tanya Icha sambil menangis.
"Icha harus belajar menghargai pemberian dari Miss Dini, walau bagaimanapun, sekarang dia adalah ibu Icha pengganti Mami!" tegas Kenny.
"Tidak! Ibuku cuma Mami! Aku tidak mau!!" Tiba-tiba Icha langsung berlari sambil menangis dan masuk ke kamarnya.
Mbak Nur langsung menyusul di belakangnya.
Aku diam saja tetap berdiri mematung, tidak tau lagi harus berbuat apa.
Ayah mendekatiku sambil menepuk lembut bahuku. Sementara Kenny masih duduk di meja makan dengan wajah datarnya.
"Din, Ayah ada teman yang punya villa bagus di daerah Lombok, pergilah kau dan Kenny untuk berbulan madu di sana, Ayah sudah siapkan tiket untuk kalian!" kata Ayah.
Kenny terperangah dan langsung mengangkat wajahnya.
"Tapi Ayah, aku sudah harus ke sekolah, ada hal yang harus ku kerjakan di sekolah!" sergah Kenny.
"Kalau kau tidak mau menghargai hadiah pemberian dari Ayah, jangan panggil Ayah lagi!!" ucap Ayah sambil melangkah pergi menuju ke luar.
Kenny nampak tertegun karena perkataan Ayahnya itu, aku juga masih berdiri dan diam tanpa komentar.
Aku tau, namaku tidak pernah ada di dalam hati Kenny, dia hanya menghormatiku, menghargaiku, tapi bukan mencintaiku.
__ADS_1
Bersambung ....
****