
Kenny duduk terpekur memandang tiket yang ada di tangannya, hadiah pemberian dari Ayahnya.
Ayah segitu perhatiannya pada aku dan Kenny, padahal yang aku tau, dulu Kenny bulan madu atas inisiatifnya sendiri, bukan atas dukungan atau hadiah dari siapapun.
Ya aku tau jawabannya, Kenny menjadikan aku istri adalah semata-mata karena menghormati keinginan Ayahnya, juga ada yang mengasuh dan menjaga anak-anaknya.
"Kalau kau tidak ingin pergi tidak usah di paksakan Ken!" ujarku membuyarkan lamunannya. Dia menoleh ke belakang karena aku berdiri di belakangnya.
"Din, kau mau pergi? Kita pergi saja bulan madu, karena Ayah sudah memberikan ini semua untuk kita!" sahut Kenny.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba air mataku jatuh begitu saja membasahi pipiku.
"Tidak Ken, bulan madu adalah untuk pasangan yang bahagia, kalau kau begitu tidak bahagia, untuk apa bulan madu? hanya formalitas supaya di lihat orang baik-baik saja!" tangisku pecah.
Kenny terkejut melihat aku menangis, lantas dia berdiri dan berusaha memelukku.
"Din, maafkan aku! Maafkan aku, beri aku waktu untuk belajar bagaimana cara mencintaimu, beri aku waktu Din, aku tau kau wanita baik yang dikirim Tuhan untukku, tapi berikan aku waktu ... sebentar saja!" Kenny juga ikut menangis saat memelukku.
Aku tau dia merasa sangat bersalah padaku, Kenny itu laki-laki baik, dia tidak pernah berbicara keras apalagi kasar, dia selalu menghormati dan menghargai aku.
Tapi kenapa selalu ada yang perih di sudut hatiku yang terdalam? Hanya karena Kenny belum bisa untuk mencintaiku.
"Kau tidak salah Ken, aku tidak pernah menyalahkanmu! Aku hanya ingin senyum di wajah ini kembali, aku ingin Kenny ceria seperti dulu, hanya itu Ken!"
Aku mengusap, mata Kenny yang basah, entah dari mana keberanian itu muncul, tiba-tiba spontan aku mengecup kedua matanya.
Kenny tidak menolakku, dia membiarkan saja aku melakukan hal itu.
Setelah itu aku mulai mencoum pipi dan bibirnya.
Hati ini membimbingku untuk melakukan itu, besarnya rasa cintaku padanya yang mendorongnya untuk melakukan itu.
Kenny nampak terkejut, namun sedikitpun dia tidak beranjak dari posisinya.
Aku dengan lembut terus menciumnya berharap dia akan membalasnya.
Kenny hanya diam mematung, membiarkan aku terus menciumnya.
Saat aku sudah hampir putus asa, dan ingin menyudahinya. Tiba-tiba dia membuka bibirnya, dia membalas ciumanku.
Rasanya begitu manis, lembut dan hangat.
__ADS_1
Aku bahagia, mengalir sudah air mata ini karena perasaan hangat di hatiku.
Entah Kenny melakukan itu karena terpaksa, karena tak mau menyakitiku, entah karena apa.
Tapi yang pasti, aku sangat menikmatinya.
"Ken, kau tidak perlu mencintaiku sebanyak aku mencintaimu, aku punya stok cinta yang banyak untukmu, tak akan habis untuk kita berdua!" ucapku.
"Terimakasih Din, trimakasih!" bisik Kenny. Dia mulai mencium bibirku yang kini terasa semakin dalam dan hangat.
*****
Pagi ini, Kenny sudah bangun dan mandi, setelah selesai berpakaian, dia langsung turun dan bergegas sarapan.
Aku yang masih di dalam kamar langsung membereskan tempat tidur dan pakaian kotor.
Tiba-tiba mataku tertuju pada sprei yang basah, aku langsung mendekatinya, apakah Kenny mengompol pikirku.
Setelah ku raba dan ku cium aromanya, aku baru sadar, itu adalah cairan kejantanan Kenny. Dia laki-laki yang normal yang butuh pelepasan.
Aku langsung bergegas ke kamar mandi, melihat tumpukan baju kotornya, ternyata benar, pakaian dalam Kenny basah. Aku langsung mengganti sprei dan membawa pakaian kotor Kenny ke bawah.
"Sini biar Mbok yang cuci bajunya Bu," kata Mbok Sumi saat aku sudah sampai di laundry.
Akupun mulai merendam dan mencuci baju-baju Kenny, berikut sprei yang basah itu.
Kenny, aku bahagia bisa mencuci baju-bajunya, entah kenapa semakin hari aku semakin sayang pada Kenny, aku baru menyadari satu hal bahwa mencintai itu adalah sebuah keikhlasan, dan aku ikhlas mencintai Kenny walaupun belum berbalas.
Setelah selesai mencuci dan menjemurnya, aku langsung beranjak ke ruang keluarga, Icha nampak sedang menonton TV di temani Mbak Nur, Baby Al di pangku oleh Ayah, Kenny duduk di sebelah Ayahnya.
"Kau sudah selesai Din? Duduklah disini!" kata Ayah.
Aku lalu duduk di hadapan Ayah dan Kenny.
"Nanti malam kalian berkemas-kemaslah, Kenny sudah mau berangkat bulan madu besok bersamamu!" ujar Ayah.
Aku terkejut mendengarnya, benarkah Kenny yang mau pergi, bukan karena paksaan Ayah.
"Kalau Kenny masih bimbang dan ragu, tidak apa tidak usah bulan madu Ayah, di tunda saja lain waktu!" sahutku.
"Siapa bilang aku mau menundanya? Kita berangkat besok!" ucap Kenny tiba-tiba.
__ADS_1
Aku terkesiap mendengarnya, benarkah apa yang Kenny ucapkan? Atau dia merasa tidak enak dengan Ayah, entahlah aku tidak mengerti.
"Lalu, bagaimana dengan Icha dan Dedek Al?" tanyaku.
"Kau lupa kalau di rumah ini ada tiga orang dewasa? Ada aku, Sumi dan Nur!" sahut Ayah.
"Ja-jadi, cuma kita berdua yang pergi?" tanyaku lagi.
"Ya iya lah, di mana-mana bulan madu itu berdua, supaya tidak ada yang mengganggu, sudahlah, pokoknya kalian berkemaslah!" jawab Ayah.
Sekilas ku lirik Kenny menunjukan wajah biasa saja, matanya masih tertuju ke layar ponselnya, sepertinya bulan madu ini bukan hal yang spesial baginya. Entahlah ...
Aku langsung mengambil Baby Al yang ada dalam gendongan Ayah, karena sudah waktunya minum susu.
Aku lalu membawanya ke kamar untuk menidurkannya.
Ku taruh Bayi mungil itu di ranjang besar kami, bayi lucu yang tampan.
Aku menciuminya dengan gemas.
"Tunggu sebentar ya Dek, Ibu buatkan susu dulu buat Dedek, biar cepat besar, makin tampan kayak Papi Kenny ya!" ucapku pada Baby Al sebelum membuatkan susu yang memang sudah di persiapkan sebelumnya.
Setelah membuatkan baby Al susu, aku langsung menidurinya sambil aku memberikan susu padanya.
Aku pun mengantuk lantas ketiduran, aku kaget saat ada sebuah tangan yang memindahkan baby Al.
Aku mengerjapkan mataku, Kenny sudah berdiri sambil menggendong Baby Al yang tertidur, lalu dia meletakan baby Al di box bayinya.
"Kalau kau mengantuk istirahatlah
Din, siapkan kondisimu untuk kita besok!" ujar Kenny sambil duduk di tepi ranjangnya di sebelahku berbaring.
"Kau serius mau menerima hadiah Ayah soal bulan madu itu Ken?" tanyaku.
"Aku serius, biarkan aku mencoba belajar untuk menerimamu lahir dan batin, biarkan aku belajar bagaimana cara membalas cintamu yang teramat besar dan dalam itu padaku!" ucap Kenny.
Aku terhenyak, Kenny itu baik sekali, dia sangat menghargai perasaanku padanya.
"Kalau tidak bisa jangan di paksa Ken, saat ini aku hanya mau melihatmu ceria dan tersenyum seperri dulu, aku ikhlas!" jawabku.
Tiba-tiba Kenny memelukku dengan sangat erat, bahkan teramat sangat erat.
__ADS_1
****