
Tanpa terasa, kandunganku kini sudah menginjak usia yang ke delapan bulan. Semakin hari perutku semakin membesar, ruang gerakku juga semakin terbatas.
Apalagi setelah di periksa melalui USG, bayi yang katanya berjenis kelamin perempuan ini memiliki bobot yang cukup besar.
Hubunganku dengan Kenny semakin membaik, dia sudah benar-benar membakar semua foto-foto Felly, kecuali foto yang ada di kamar Icha.
Kenny mau menunjukan padaku, kalau dia benar-benar sepenuh hati mencintaiku, apalagi kini bayinya dalam perutku sudah semakin membesar, rasa sayangnya pada bayi ini begitu jelas terlihat, aku sudah merasakan kebahagiaan itu, kebahagiaan yang aku impikan selama ini.
Semua permasalahan di masa lalu, aku menganggap suatu pelajaran berharga, di mana waktu bisa mengubah hati seseorang, dan kesabaran adalah kunci dari segalanya.
"Kata Dokter, usia kehamilan sudah sebesar ini tidak boleh terburu-buru naik turun tangga, bisa bahaya, tergelincir sedikit bisa jatuh!" kata Kenny saat makan malam bersama sepulangnya kami dari kontrol kehamilan.
"Kamu ini bagaimana Ken, sejak usia kandungan masih kecil juga bahaya kalau naik turun tangga cepat-cepat!" sergah Ayah.
"Mulai sekarang, Kalau Dini mau naik, biar aku saja yang menggendongnya!" ucap Kenny.
Aku sedikit terhenyak, kenapa Kenny jadi berlebihan begitu.
"Tidak usah lah Ken! Aku bukan anak kecil!" sergahku.
"Siapa yang menganggap mu anak kecil? Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa pada bayiku!" ujar Kenny.
"Bu, kapan Dedek bayinya lahir?" tanya Icha.
"Bulan depan sayang!" jawabku sambil mengelus kepala Icha.
"Lho, bulan depan kan Al ulang tahun!" cetus Icha.
Karena beberapa hari ini kami memang merencanakan akan merayakan hati ulang tahun yang pertama Aldio, sekarang dia sudah tidak di panggil dedek lagi, karena sebentar lagi akan jadi kakak.
"Jadi nanti Aldio sama Dedek bayi ulang tahunnya bisa bareng deh!" sahut Kenny.
"Asyyyikk! Aku akan punya dua adik!" seru Icha senang.
Setelah selesai makan, Icha di temani Mbak Nur membereskan buku sekolah, sementara Kenny terlihat menitah Aldio, anak itu sudah mulai bisa berjalan satu dua langkah.
Aku melanjutkan pekerjaanku merajut pakaian bayi, pakaian Bekas Aldio masih bahus-bagus, jadi aku tidak perlu banyak membeli keperluan bayiku, aku hanya ingin merajut untuk mengisi waktuku.
Karena Kenny tidak lagi mengijinkan aku untuk ke sekolah menemaninya sejak awal kehamilanku.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Ayah nampak sudah masuk ke kamarnya, Icha juga sudah mulai beranjak tidur.
Aldio yang tertidur di sofa mulai di angkat Kenny pindah ke kamar kami, karena anak itu masih tidur bersama kami.
Setelah selesai memindahkan Al, Kenny beranjak mendekatiku.
"Sekarang giliran ibunya yang di gendong!" ucap Kenny sambil tersenyum.
"Jangan Ken Ah, aku bisa jalan sendiri!" sergahku.
__ADS_1
Aku malu juga karena di situ masih ada Mbok Sumi.
"Tidak akan ku biarkan kau naik sendiri ke atas! Ayo!" Kenny segera mengangkat tubuhku.
Mau tidak mau aku menuruti Kenny, dan membiarkan dia menggendong tubuhku layaknya seorang bayi.
Dia begitu gagah dan perkasa, begitu kuat menggendongku ke lantai atas.
Setelah tiba di kamar kami, dengan perlahan Kenny membaringkan aku di tempat tidurnya sambil mengecup keningku.
"Istirahatlah Nyonya Kenny!" ucapnya lembut.
Kini dia tidak sungkan lagi mengakuiku sebagai istri satu-satunya, bahkan di status ponselnya dia memasang gambar ku, yang menunjukan bahwa hanya aku satu-satunya istrinya.
Dan itu membuatku sangat bahagia.
"Ken ... Kau akan kasih nama siapa bayi kita nanti?" tanyaku sambil menatap wajah tampannya.
Kenny berbaring menghadapku, keningnya berkerut seperti sedang berpikir.
"Hmm, siapa ya ... bagaimana kalau aku beri nama Kendi kalau tulisan bahasa Inggrisnya Candy?" tanya Kenny.
"Kenapa harus Kendi?" tanyaku penasaran.
"Kendi itu adalah Kenny dan Dini, anak kita yang akan terus mempersatukan kita, Candy Sweety Wijaya, bagus tidak?" tanya Kenny balik.
"Duh, kok jadi permen sih artinya?" ujar ku bingung.
Tangannya mulai mengelus perutku yang sudah terlihat sangat besar. Ada gerakan yang merespon setiap sentuhan Kenny.
"Bayinya senang di belai Papinya!" bisikku.
"Ya, sangat menggemaskan! Aku tak sabar ingin melihatnya lahir ke dunia, dia akan menjadi teman main Aldio!" ucap Kenny.
"Ssst, Al sekarang sedang tidur, bulan depan saat dia ulang tahun, apakah adiknya sudah lahir atau belum ya?" tanyaku.
"Entahlah, tapi aku ingin merayakan dua momen sekaligus, ulang tahun dan kelahiran!" jawab Kenny.
"Ken ..."
"Ya sayang ..."
Aku terkesima mendengar jawaban Kenny. Sayang? Dia memanggilku sayang? Selama ini perkataan itu tidak pernah keluar dari mulut Kenny.
Ada rasa haru yang mendalam di hatiku, perkataan yang begitu indah dan manis, hanya dengan sebuah kata 'sayang'.
Tanpa ku sadari, ada butiran bening yang mengalir dari kedua mataku.
"Hei, kenapa kau menangis? Apa yang membuatmu begitu sedih?" tanya Kenny sambil mengusap air mataku dengan jemarinya.
__ADS_1
"Itu bukan air mata kesedihan Ken, itu air mata kebahagiaan!" ucapku lirih.
"Apa yang membuatmu bahagia sampai kau menangis?" tanya Kenny lagi.
"Karena ... kau memanggilku sayang! Kata yang belum pernah keluar dari mulutmu selama ini!" jawabku.
Kenny terdiam sambil menatapku hangat.
"Jadi ... hanya karena panggilan itu? Aku akan memanggilmu sayang setiap hari, setiap menit, setiap detik, kalau itu bisa membuatmu bahagia!" Kenny langsung memelukku dengan eratnya.
"Trima kasih Ken ... trimakasih!" ucapku terisak.
"Iya sayang ..."
"Sayang ... sayang ... sayang ... I Love You!" bisik Kenny lembut di telingaku.
Aku tak mampu berkata apapun, hanya kebahagiaan yang aku rasakan, Kenny berhasil mencintai aku dengan segenap hatinya.
"Ken ... Aku sayang Kenny!" ucapku mengungkapkan seluruh perasaanku.
"Aku juga sayang, menyayangimu sangat!" balas Kenny.
Untuk sesaat lamanya kami saling berpelukan dan mengungkapkan seluruh perasaan kami, tidak ada lagi yang tersembunyi atau terselubung, semuanya sudah jelas, dan kami saling terbuka satu sama lain.
"Trimakasih Ken ..." kembali aku mengucapkan kata itu, sebagai wujud syukurku karena Kenny telah menerimaku apa adanya.
"Iya sayang, malam ini, aku tidak ingin melepas pelukan ini, aku sadar bahwa kau lah satu-satunya wanita yang sejak dulu sudah di persiapkan Tuhan untukku!" bisik Kenny.
"Ken ..."
"Iya sayang ..."
"Aku sangat bahagia!" ucapku.
"Kebahagiaanmu adalah kebahagian ku sayang!" bisik Kenny.
Aku membalas pelukan Kenny, aku tenggelam dalam dekapan laki-laki yang sangat aku cintai sejak dulu, kini ada di hadapanku, bahkan menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukku.
"Bolehkan malam ini aku menengok bayiku?" bisik Kenny.
Aku menganggukkan kepalaku.
Malam ini dengan penuh gairah dan cinta Kenny memasuki tubuhku, kian dalam dan hangat.
Dia terus menjaga perutku yang besar supaya tidak tertindih olehnya.
Suamiku luar biasa.
Bersambung ...
__ADS_1
****
Menjelang episode terakhir guys ...