
Pagi ini, Kenny kembali melakukan apa yang semalam kami lakukan. Hanya saja, dia melakukannya dengan lebih lembut dan perlahan, sudah tidak ada lagi nama Felly yang terucap oleh bibirnya.
Aku bahagia. Dengan ikhlas aku melayani dia dengan segenap hatiku, memberikannya kebutuhan biologisnya.
Kenny nampak senang dan bergairah, wajar saja karena dia adalah laki-laki normal. Pasti dia juga sangat menginginkan hasratnya tersalurkan.
"Trimakasih ya Din!" ucapnya sambil mengecup keningku.
Aku mengusap wajahnya yang berkeringat.
"Iya Ken, asal kau senang itu sudah cukup!" sahutku.
Kenny lalu membimbingku ke meja makan. Dia mulai membuatkan sereal hangat untuk kami berdua.
"Minumlah!" ucapnya sambil menyodorkan segelas sereal ke hadapanku.
Akupun meminumnya sampai habis.
"Sekarang kau mandi duluan, biar aku yang mengganti spreinya!" ujar Kenny sambil beranjak dari tempatnya.
"Tapi Ken!" Aku berusaha mencegah Kenny karena merasa tidak enak akan noda darah yang ada di sprei itu.
"Tidak usah sungkan, biarkan aku yang membereskannya, lagi pula ini kan darah perawan istriku!" ucap Kenny.
Aku terkesiap mendengarnya, benarkah kata-kata itu bersumber dari hatinya? Atau hanya untuk menutupi rasa bersalahnya saja?
Aku tidak tau jawabannya. Tapi yang pasti, dia mulai berubah.
Kenny lalu membawa sprei itu ke laundry, dia nampak mencuci dan mengucek sprei itu dengan tangannya sendiri.
Setelah selesai dia lalu menjemurnya. Kenny, ada apa dengannya?
Aku masih duduk terpekur di meja makan ini, tanpa tau harus berbuat apa.
Masih dapat kurasakan, cairan hangat Kenny memenuhi perutku. Aku kemudian berjalan tertatih menuju ke kamar mandi.
Aku mulai kembali membersihkan tubuhku, rasanya remuk redam seluruh tulang-tulangku, Kenny memang luar biasa, tak percuma aku menjaga kehormatanku untuknya.
Setelah selesai, aku keluar dari kamar mandi dengan memakai kimono handuk, Kenny nampak masih duduk setelah membereskan tempat tidur.
Dia menatap intens terhadapku, aku mendadak risih. Tidak biasanya dia menatapku sedalam itu. Apa yang terjadi dengannya?
"Kau tidak mandi Ken?" tanya ku mencoba mengalihkan tatapannya.
"Eh, ya ya, aku mandi sekarang!" Kenny langsung berdiri dan mengambil handuknya, lalu dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Aku mulai mengeringkan rambutku dan mulai berpakaian. Setelah itu aku mulai membuka ponselku, ada banyak panggilan tak terjawab dari ibu dan bapak, juga dari rekan-rekan guru, ada juga pesan dari Ayah, ada foto Icha dan Baby Aldio yang dikirim Ayah, aku jadi kangen terhadap mereka.
Besok adalah hari terakhir kami di villa ini, setelah itu kami harus kembali pulang ke Jakarta.
Kenny nampak baru selesai mandi, dia hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya.
Aku melirik sekilas padanya, tampan sekali dia dengan rambut basahnya itu.
__ADS_1
"Tidak usah melirik! Kalau kau mau pandang, pandanglah aku sepuasmu!" ujar Kenny tiba-tiba.
Aku kaget karena telah terciduk olehnya.
"Siapa yang melirik! Aku hanya melihat kau sudah berpakaian belum!" sahutku mencoba mengalihkan perkataannya.
"Kalau belum kenapa? Kau menginginkannya lagi?" tanya Kenny sambil tersenyum.
"Tidak! Siapa bilang?!" sergahku salah tingkah.
Kenny lalu segera berpakaian di depanku tanpa malu-malu.
Ku palingkan sedikit pandanganku, aku tidak tahan juga melihat tubuh atletisnya.
Setelah selesai, Kenny langsung beringsut mendekatiku dan duduk di sebelahku.
"Kita jalan-jalan yuk keluar! Di daerah sini ada pasar seni lho yang bagus, kau bisa membeli barang yang kau inginkan!" ucap Kenny.
Aku menganggukan kepalaku, aku memang ingin sekali jalan-jalan, terlalu lama ada di dalam villa membuatku jenuh.
Kami lalu bergegas keluar dari Villa, berjalan kaki menuju pusat pebelanjaan dan pasar seni yang letaknya tidak jauh dari lokasi Vila kami.
"Ken, aku ingin membelikan oleh-oleh, untuk Icha, ayah, bapak, ibu dan semua orang yang ada di rumah!" ujarku pada Kenny.
"Ya, kau pilihlah mana yang bagus untuk mereka!" kata Kenny.
Aku mulai sibuk memilih-milih baju dan barang untuk oleh-oleh, tak lupa juga Ku membeli makanan khas daerah itu.
Ada kebahagiaan yang terbersit dalam hatiku, dia nampak seperti suami sungguhan.
Setelah selesai berbelanja, kami makan di sebuah restoran yang menyajikan makanan laut, aku sangat antusias karena aku sangat menyukai makanan laut.
Siang itu, kami makan begitu lahap, Kenny juga makan begitu banyak, padahal sebelumnya, dia tidak makan terlalu banyak, tapi hari ini dia nampak berbeda.
Setelah kenyang kami pun memutuskan untuk kembali ke villa untuk beristirahat.
"Nanti malam kita mau dinner dimana?" tanya Kenny.
"Hmm, tumben nanyain soal dinner segala, biasanya mana pernah kau mengajakku dinner!" sahutku.
"Apa aku tidak boleh mengajakmu dinner?" tanya Kenny lagi.
"Ya boleh lah, siapa juga yang melarang!" cetusku.
Setelah kami membereskan barang, Kenny mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur, mungkin karena lelah hampir seharian kami berjalan.
Aku masih sibuk membereskan belanjaan yang baru ku beli tadi.
"Din!" panggil Kenny.
Aku menoleh ke arahnya.
"Ayo kesini!" ajak Kenny sambil menepuk tempat tidur di sampingnya.
__ADS_1
Perlahan aku beranjak mendekati Kenny.
"Ada apa Ken?" tanyaku sambil mulai berbaring di sebelahnya.
"Tidak! Aku hanya ingin di temani olehmu saja!" jawab Kenny.
Aku terdiam, Kenny benar-benar sudah berubah, apa yang menyebabkan dia berubah secepat itu?
"Ken!" ucapku.
"Ya?"
"Apa yang membuat kau berubah terhadapku?" tanyaku pelan.
Kenny menarik nafas panjang. Lalu dia mulai berbaring menghadap ke arahku.
"Kau mau tau jawabannya Din?" tanya Kenny. Aku langsung menganggukan kepalaku.
"Apa?" tanyaku.
"Karena ... karena ... aku terharu padamu!" ucap Kenny lirih.
"Terharu?? Apa yang membuatmu terharu?" tanyaku lagi.
"Kamu ... kamu sudah menjaga kehormatanmu untukku! Itu tidak mudah! Trimakasih Din! Kamu sudah berkorban banyak untukku, keterlaluan kalau aku sampai menyakiti hatimu lagi!" ucap Kenny sambil menatap wajahku.
Tiba-tiba, air mataku jatuh tanpa di komando, aku menangis di depan Kenny.
Kenny lalu mengusap air mataku dengan tangannya.
"Mulai hari ini, jangan ada lagi air mata di pipimu Din, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membuatmu bahagia!" ucap Kenny.
Aku tidak tahan mendengar perkataannya, air mataku kini jatuh dengan derasnya membasahi wajahku.
"Tidak apa-apa Ken! Aku paham kondisimu!" ucapku.
"Sudah cukup, semalam aku baru menyadari, betapa besar dan dalamnya rasa cintamu untukku, tidak adil rasanya kalau aku begitu egois, lagi pula, Felly juga sudah mengijinkan aku bersama denganmu, merajut mimpi dan masa depan kita bersama-sama!" ucap Kenny.
Aku tidak tahan lagi, aku langsung memeluk Kenny dengan erat. Ku tumpahkan segenap rasa di dadanya, aku sangat bahagia, sangat bahagia.
"Jangan menangis Din, cukup sudah air matamu yang terbuang hanya untukku!" bisik Kenny.
Drrt ... Drrt ... Drrt ...
Ponsel Kenny tiba-tiba bergetar, Kenny langsung mengusap layar ponselnya, Ayahnya yang menelepon dari jakarta. Dia lalu memasang pengeras suara di ponselnya itu, sehingga akupun bisa mendengar percakapan mereka.
"Halo Ayah!" sapa Kenny.
"Ken! Kau cepatlah pulang! Icha pergi dari rumah!" ujar Ayah.
Aku dan Kenny saling berpandangan mendengar ucapan Ayah.
****
__ADS_1