
Dengan tangan sedikit gemetar, aku pun membuka pintu kamar hotel yang saat ini sedang aku singgahi bersama dengan Kenny.
Setelah pintu kamar hotel itu terbuka, di hadapanku ada dua orang polisi ditemani oleh seorang laki-laki, sepertinya dia adalah manajer hotel ini.
Aku sedikit terkejut melihat kedua polisi itu, apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Leo sehingga Polisi datang mencari Kenny?
"Selamat siang bu, mohon maaf saya mengantarkan kedua bapak polisi ini ke kamar ini, karena ada sesuatu yang ingin mereka lakukan!" jelas sang Manager itu.
"Ada apa bapak-bapak polisi datang ke sini? Apa ingin mencari suami saya? Saat ini suami saya sedang mengalami depresi, rasanya tidak pantas kalau harus membawanya atau mengintrogasi dia karena saat ini pikirannya sedang kacau!" ujarku.
"Maaf Bu Dini, saat ini pasien korban dari Pak Kenny sedang mengalami kritis, dan pihak keluarga menuntut pertanggungjawaban Pak Kenny, terkait soal kejadian tadi pagi!" jelas salah seorang polisi itu.
Aku sedikit terkejut mendengar penjelasan pak polisi itu, Bu Ira memang sudah mengatakan kalau kondisi Leo sangat parah, tapi kalau sampai saat ini Leo masih kritis, Kenny benar-benar terancam, apalagi ini pihak keluarga Leo sudah mulai menuntut, aku mulai bingung apa yang harus aku lakukan? Apakah aku membiarkan saja Kenny dibawa ke kantor polisi lalu mendekam di penjara?
"Jadi maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk mengamankan Pak Kenny sementara di tahanan, tapi Ibu jangan khawatir, kami akan tetap menjaga dan memantau kesehatan nya terlebih psikologisnya!" lanjut polisi yang satu lagi.
"Maaf Pak, saat ini suami saya sedang mengalami depresi berat, Apa tidak sebaiknya dia di sini dulu tidak langsung ditahan begitu saja, lagi pula Kami tidak akan kemana-mana kok!" kataku yang kini mulai sedikit takut, kalau Kenny akan dibawa bersama dengan mereka.
"Maaf Bu, tapi tetap saja, apa yang dilakukan Pak Ken itu adalah suatu tindak kejahatan, yang patut mendapatkan hukuman, apalagi keluarga korban menuntut dan memberikan laporan!" tukas sang polisi itu.
Lututku tiba-tiba menjadi lemas, Aku tidak bisa membayangkan Kalau suamiku Kenny ditahan di kantor polisi, rasanya hati ini tidak ikhlas, apalagi dia ditahan hanya karena dipicu oleh rasa cemburu, sesuai apa yang diungkapkannya padaku.
"Maaf Bu kami tidak bisa berlama-lama, kami harus segera membawa Pak Kenny ke kantor polisi untuk menjalani serangkaian pemeriksaan!" kata polisi yang satu lagi.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka menyeruak masuk ke dalam kamar, diikuti oleh satu temannya yang tadi, manajer hotel hanya bisa berdiri di depan pintu hotel, dia nampaknya juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku langsung mengejar dua orang polisi itu ke dalam, rasanya tidak rela dia memperlakukan suamiku seperti itu.
"Saya mohon Pak, Jangan tahan suami saya dulu, saat ini dia baru saja beristirahat, dia sangat lelah dan dia kelihatan begitu depresi, berikan kesempatan Pak!" Mohon ku sambil menautkan kedua tanganku di depan dada.
Mendengar suara keributan, Kenny pun terbangun, dia juga kelihatan terkejut saat melihat dua orang polisi sudah berdiri di hadapannya.
"Jangan tahan suami saya Pak, saya mohon!" seruku.
"Maaf Pak Kenny, dengan terpaksa kami harus menahan Bapak, keluarga dari pasien yang saat ini kritis memberikan laporan dan menuntut pertanggungjawaban Bapak!" kata seorang polisi itu.
"Silakan Pak, silakan bawa saya ke kantor polisi, saya sudah menyerah!" ucap Kenny.
"Tidak Ken! Kamu jangan berbuat seperti itu! Aku mohon jangan ikut ke kantor polisi!" ucapku yang kemudian Langsung menangis.
Kenny kemudian memelukku dengan sangat erat lalu menghapus air mataku dengan kedua tangannya.
"Biarkan mereka menjalankan tugasnya, aku janji ini tidak akan lama!" ucap Kenny.
"Tapi Ken! Kenapa harus begini jadinya? Apakah semuanya tidak bisa diselesaikan dengan kekeluargaan?" Tanyaku dengan tatapan penuh pengharapan.
"Maaf Bu, sebaiknya Ibu tidak menghalang-halangi kami supaya prosesnya juga bisa dipercepat dan dilancarkan jalannya, ini hanya pemeriksaan biasa kok, lagi pula semuanya itu kan ada prosedur!" ucap seorang polisi.
Kenny memberikan isyarat kepadaku, agar aku tetap tenang dan jangan panik, kemudian kedua polisi itu pun langsung membawa Kenny keluar dari kamar
__ADS_1
Aku menangis histeris melihat suamiku dibawa oleh dua orang polisi turun melewati lobby dan dilihat banyak orang, seolah-olah Dia adalah seorang penjahat besar, aku terus menangis sambil berjalan di belakang mereka, tidak perduli dengan orang-orang yang memandang aku dan dengan tatapan iba dan heran.
Kenny ikut ke kantor polisi tanpa perlawanan sedikit pun, dan pada saat Kenny mulai masuk ke dalam mobil polisi aku pun kemudian langsung berlari dan memeluknya dari belakang.
"Aku ikut bersamamu Ken!" isakku sambil menenggelamkan wajahku di punggung Kenny.
"Dini, aku harap melalui peristiwa ini, kamu semakin melihat dan menyadari kalau aku tidak pernah bermain-main denganmu, kalau aku sedikitpun tidak pernah mengabaikanmu!" ucap Kenny dengan suara bergetar.
Aku menganggukkan kepalaku sambil menangis, Leherku terasa tercekat, aku tidak bisa berkata apapun, aku hanya menangis dan terus menangis, seolah menyadari bahwa Kenny benar-benar tulus padaku.
Semua yang terjadi itu hanyalah kesalahpahaman, dan ketika aku pergi meninggalkan rumah itu adalah salah satu kesalahanku yang terbesar, karena aku tidak mempercayainya.
"Maafkan aku Kenny!" ucapku.
Hanya itu yang bisa aku ucapkan sebelum Kenny kembali dibawa dan digiring oleh seorang Polisi untuk masuk ke dalam mobil, aku terus menangis sambil melihat Kenny ada kini di dalam mobil polisi, yang mulai melaju meninggalkan parkiran hotel dengan suara sirinenya yang memekakan telinga, hatiku benar-benar hancur saat itu, tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.
Aku begitu sedih melihat suamiku begitu saja dibawa oleh Polisi dengan kesalahan yang menurutku adalah kesalahanku, karena aku tidak mempercayainya, bahkan beberapa kali aku melemparkan kata cerai dari mulutku.
Aku baru menyadari bahwa kata-kata cerai itu sangat menyakiti hati Kenny, sampai dia bertindak seperti itu, aku benar-benar menyesal, kenapa begitu mudahnya aku menilai segala sesuatu dengan satu sisi.
Tidak, aku harus bangkit, aku tidak boleh lemah seperti ini, aku harus menyelamatkan Kenny, aku tidak rela dia di penjara gara-gara aku.
Kemudian aku pun mulai masuk ke dalam mobil Kenny, saat ini aku mencoba untuk menenangkan pikiranku, belajar percaya bahwa Kenny akan baik-baik saja di sana.
Meskipun dia akan ditahan, tapi kenny pasti kuat. Aku tidak akan pernah meninggalkannya sedikitpun, tapi ada hal yang harus aku selesaikan saat ini.
Aku harus ke rumah sakit, aku harus Memastikan kondisi Leo, aku harus bertemu dengan keluarga Leo untuk meminta belas kasihan, sehingga mereka bisa mencabut tuntutannya terhadap Kenny.
Aku terus melajukan mobil Kenny menuju ke rumah sakit, sepanjang jalan aku lebih banyak menangis, tidak perduli dengan orang-orang yang melihatku, saat ini aku harus dengan cepat bergerak menyelesaikan persoalan ini, apalagi aku membayangkan Bagaimana perasaan ayah juga anak-anak juga kedua orang tuaku.
Sekitar 40 menit perjalanan, akhirnya aku sampai di rumah sakit tempat Leo dirawat, aku mendapatkan informasi di mana Leo dirawat oleh Bu Ira, aku segera memarkirkan mobil Kenny di parkiran rumah sakit dan tanpa menunggu lama aku langsung turun dan berjalan menyusuri koridor menuju ke tempat di mana Leo dirawat.
Leo dirawat di ruangan intensif, kondisinya memang terlihat masih kritis, di sana terlihat ada seorang wanita setengah baya itu adalah ibunya Leo, beserta dengan kedua orang adiknya Leo.
Karena Leo sudah tidak mempunyai ayah, selama ini Leo yang menjadi tulang punggung keluarganya, karena dia harus menghidupi ibu dan juga kedua adiknya yang masih kuliah.
Perlahan Aku duduk di samping wanita paruh baya itu, yang ku yakini adalah ibunya Leo.
Meskipun sudah lama aku mengenal Leo, namun Baru kali ini aku bertemu dengan keluarga Leo, Setahuku keluarga Leo Itu tinggal di Bogorl, di Jakarta Leo itu tinggal di tempat kost yang menyerupai apartemen.
"Selamat siang Bu, saya Dini temannya Leo, Bagaimana keadaan Leo Bu?" Tanyaku.
Ibunya Leo menoleh ke arahku sambil tersenyum getir, meskipun dia tersenyum namun ada raut kesedihan yang terpancar di wajahnya.
"Saya bu Rahma, saya langsung datang ke Jakarta saat mendengar kabar Kalau Leo mengalami musibah!" jawab Bu Rahma, ibunya Leo.
Wajah Bu Rahman nampak sedih, kedua bola matanya terlihat sembab sepertinya wanita itu habis menangis, entah kenapa aku jadi merasa bersalah semua kejadian ini kan aku pemicunya.
"Semoga masa krisisnya Leo segera lewat ya Bu, saya juga berharap Leo akan bisa segera pulih seperti sedia kala!" ucapku sambil menggenggam tangan Bu Rahma yang terasa dingin.
__ADS_1
"Terima kasih nak, Oh ya itu kedua adik kembarnya Leo, namanya Lia dan Lita, Leo sangat menyayangi kedua adiknya itu, bahkan kuliah Mereka pun Leo yang membiayai, mereka juga sedih mendengar kakaknya sampai seperti ini!" lanjut Bu Rahma sambil menunjuk ke arah dua orang gadis yang duduk berdampingan di hadapan kami.
Lia dan Lita, kedua adik kembar Leo nampak tersenyum ke arahku Saat Aku menoleh ke arah mereka, ternyata Leo mempunyai dua adik kembar yang manis-manis, meskipun Leo dulu adalah seorang playboy yang aku kenal, namun dia mempunyai sisi lain di keluarganya, dia adalah pahlawan keluarga yang menopang keluarganya.
Aku berpikir, pantas saja keluarganya Leo menuntut pertanggungjawaban Kenny, karena hanya Leo satu-satunya tulang punggung mereka, ditambah lagi keluarganya Leo sangat menyayangi Leo, tentu saja mereka begitu syok dan sedih saat melihat kalau Leo terbaring kritis akibat perbuatan Kenny.
Aku sangat ingin mengatakan pada bu Rahma kalau aku ini adalah istrinya Kenny, orang yang membuat dan menyebabkan Leo kritis, tapi aku belum memiliki keberanian untuk itu, aku masih takut, apalagi saat ini mereka kelihatan masih Shock dan sedih.
Tapi di sisi lain, aku harus menolong Kenny, yang saat ini berada dan ditahan di kantor polisi kalau bukan aku yang berusaha untuk menyelamatkannya siapa lagi?
Hatiku benar-benar galau dan bimbang, Aku bingung harus berbuat apa, Dan aku juga tidak tahu harus bertanya kepada siapa semuanya sama-sama rumit.
Tiba-tiba pintu ruangan intensif tempat Leo dirawat terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan itu, reflek Bu Rahma dan kedua anaknya berdiri dan berjalan mendekati dokter itu. aku mengikuti mereka.
"Bagaimana kondisi anak saya dokter, Apakah saat ini dia masih kritis?" tanya Bu Rahma.
"Ada kabar bagus Bu, sepertinya pasien Leo sudah sadar dari masa kritisnya, tapi kondisi luka fisiknya masih perlu perawatan intensif karena terbilang cukup parah!" jelas sang dokter.
Wajah Bu Rahma terlihat sedikit berbinar, seperti ada cahaya Harapan yang membuat dia bangkit dan kembali bersemangat, aku pun sangat senang mendengar kabar ini, paling tidak Leo sudah menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang berarti.
"Ah syukurlah, Apakah saya bisa menengoknya ke dalam dokter karena saya ingin sekali menemani anak saya!" ucap Bu Rahma.
"Mengingat kondisi Leo masih belum stabil, hanya boleh satu orang yang menjenguk, yang lain bisa melihat dari kaca, kami akan terus memantau perkembangan Putra ibu!" jawab sang dokter.
"Terima kasih Dokter!" ucap Bu Rahma.
Dokter itu menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun melangkah pergi meninggalkan kami yang masih berdiri di depan ruangan itu.
"Mari bu Silakan masuk!" kata Seorang perawat yang sejak tadi berada di situ, Bu Rahma kemudian mengikuti perawat itu masuk ke dalam untuk berjumpa dengan Leo.
Setelah Bu Rahma masuk ke dalam ruangan, hatiku sedikit lega, paling tidak sentuhan seorang ibu pasti bisa memberikan kesembuhan untuk anaknya dan memberikan harapan dan semangat yang baru untuk Leo bisa segera pulih dan bangkit dari keadaannya.
Kemudian aku pun melangkah mendekati Lia dan Lita, kedua adik Leo yang sejak tadi masih berdiri tidak jauh dari pintu ruangan itu karena mereka pun tidak diperkenalkan masuk ke dalam ruangan.
"Lia, Lita, Kalian pasti belum makan kan? Yuk kita makan di kantin dulu, biarkan Ibu menemani Kakak kalian, Kakak Kalian pasti akan segera sembuh!" ajakku sambil Mencoba tersenyum.
Mulanya mereka nampak ragu-ragu, namun aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku untuk meyakinkan mereka, dan akhirnya pun mereka ikut denganku ke kantin rumah sakit untuk makan siang, karena aku yakin sekali kalau mereka belum makan sejak tadi.
Kami kemudian duduk mengelilingi sebuah meja yang letaknya di sudut kantin Rumah Sakit, lalu aku menyodorkan menu makanan untuk mereka pilih, mereka Pasti sangat lapar karena mereka datang jauh dari Bogor.
"Mah Lia, Lita, kalian pilih saja makanan apa yang kalian mau, jangan sungkan sama kakak ya, nanti sekalian kita bawakan makanan untuk ibu, pasti ibu juga belum makan kan!" kataku.
"Terima kasih Kak!" ucap Lia dan Lita bersamaan.
Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, Sebenarnya aku senang juga bisa bertemu dan kenalan dengan keluarganya Leo, aku jadi lebih mengenal dia, ternyata memang keluarganya Leo adalah keluarga baik-baik dan sopan, terlebih kedua adiknya yang begitu manis, pantas saja Leo sangat disayang oleh keluarganya.
Setelah makanan pesanan kami jadi, kami pun langsung menyantap makan siang kami bersama, Lia dan Lita terlihatlah penyatap makanan Mereka, kelihatannya mereka memang sangat lapar, lagi-lagi aku merasa bersalah, hanya karena aku Kenny melakukan sesuatu tindak kekerasan pada Leo, dan merembet pada keluarga yang saat ini jadi susah dan sedih, aku memang benar-benar bersalah.
Bersambung ...
__ADS_1
*****