
Setelah di timbang, kami mengantri untuk masuk ke dalam ruangan praktek kebidanan untuk imunisasinya Baby Aldio.
Sengaja aku duduk agak jauh dari Kenny.
Aku masih ingat dengan perkataannya, supaya aku jangan terlalu dekat, takut orang lain mengira kalau kami adalah suami istri.
Aku duduk sambil memangku baby Aldio di baris belakang kursi tunggu.
Sementara Kenny duduk di baris depan.
Tiba-tiba baby Aldio menangis, aku spontan berdiri dan menimangnya.
Sepertinya dia haus, sementara tas baby Al ada di Kenny, akhirnya aku mendekati Kenny.
"Ken, tolong buatkan susu, dedek Al haus kelihatannya!" kata Ku.
Kenny menoleh, lalu mulai membuatkan susu yang memang sudah di bawa sebelumnya.
Setelah selesai, Kenny segera memberikan botol susu Baby Al ke arahku.
Aku pun kembali ke tempatku dan mulai memberikannya susu.
Seorang suami istri dan seorang bayi yang duduk di dekatku nampak memperhatikan aku dan Kenny.
"Lagi marahan ya Mbak, kok duduknya jauhan!" celetuk sang istri sambil menoleh ke arahku.
Aku hanya tersenyum sambil terus memberikan susu pada baby Al.
"Namanya juga suami istri, bertengkar itu wajar, tapi tidak saling jauh juga kali, kan kasihan dedeknya!" timpal sang suami.
Tiba-tiba Kenny yang mendengar perkataan mereka menoleh.
"Maaf, tapi dia bukan istriku!" kata Kenny.
Suami istri itu membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk.
Hatiku yang tadi perih kini semakin perih, yah, aku memang bukan istrinya.
Tapi kenapa dia harus mengatakan itu, tanpa dia harus bilang aku juga tau kalau aku ini bukan istrinya. Apakah aku terlalu tidak layak buat dia.
Setelah tiba giliran kami, aku langsung membawa masuk baby Al ke dalam ruang praktek untuk di imunisasi, Kenny mengikuti dari belakang.
"Wah, lucu sekali bayinya, ganteng!" kata seorang bidan yang mulai menyiapkan jarum suntik.
"Trimakasih!" sahutku singkat.
"ASI nya kuat ya Bu, bagus badannya, berisi!" lanjut bidan itu.
"Dia minum susu formula!" kata ku. Sang bidan mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Yah, kok tidak di beri ASI, sayang sekali, istrinya di belikan pelancar ASI saja Pak, di apotik banyak!" ujar sang Bidan.
"Dia bukan suamiku!" jawabku cepat.
Sang bidan nampak heran dan memandang kami berdua.
Aku tidak ingin sakit lagi mendengar ucapan Kenny, lebih baik aku duluan saja yang berucap.
Setelah Baby Al selesai di imunisasi, kami segera beranjak pulang, aku berjalan duluan menyusuri koridor rumah sakit itu, Kenny berjalan di belakangku.
Setelah kami sampai di parkiran, tanpa banyak bicara aku segera masuk ke dalam mobil Kenny. Dia mulai menyalakan mesin mobilnya, dan kamipun pergi kembali pulang ke rumah.
"Maafkan aku Din!" ucap Kenny tiba-tiba.
"Maaf? Kenapa kau harus minta maaf?" tanya ku sambil menatap lurus ke depan ke arah jalan raya.
"Mungkin perkataan ku kurang berkenan di hatimu!" jawabnya.
"Perkataan yang mana? Aku rasa tidak ada yang salah dengan perkataan mu!"
"Aku tau kau terusik dengan ucapanku maafkan aku!" ucap Kenny.
Aku diam saja tanpa menjawab lagi ucapannya.
Mungkin Kenny sadar telah melukai hatiku dengan ucapannya. Aku pun tidak ingin memperpanjang masalah itu. sakit atau tidak hanya hatiku yang tau.
Tak lama kemudian kami sudah tiba di rumah Kenny.
Icha tidak terlihat, mungkin dia sedang tidur siang di kamarnya.
"Trima kasih ya Din, kau sudah mengantar Dedek Al imunisasi!" ucap Kenny.
"Sama-sama Ken, aku senang bisa membantumu!" sahutku.
Rumah Kenny nampak sepi, hanya Mbok Sumi yang terlihat sedang menyetrika pakaian.
Aku teringat baju Kenny yang ku bawa, aku langsung mengeluarkannya dari dalam tasku.
"Ini bajumu Ken, maaf tadi aku lupa!" ucapku sambil menyodorkan bungkusan bajunya.
"Oya, apakah kau juga mau mengambil Baju Bapakmu?" tanya Kenny.
"Tidak usah Ken, nanti saja lain waktu, aku juga mau pamit pulang, titip salam ya buat Om Banu!" ucapku sambil meraih tasku.
Lalu aku segera berjalan keluar dari rumah Kenny, Kenny mengikuti di belakangku.
"Din, trimakasih sekali lagi ya!" ucap Kenny.
"Iya Ken, sama-sama!" sahutku sambil mengenakan helm dan jaketku.
__ADS_1
"Lain kali kalau mau kesini, bilang aku saja, biar ku jemput, jadi kau tak perlu repot naik motor!" tawar Kenny.
"Gampang Ken, aku sudah biasa kok kemana-mana naik motor, Oya, nanti kalau dedek Al Demam karena imunisasi, di berikan obat yang dari rumah sakit saja ya, takarannya sudah di tulis tadi!" kata ku mengingatkan.
"Iya Din!" sahut Kenny singkat.
"Kenny juga harus semangat, anak-anak membutuhkanmu Ken, jangan seperti kemarin lagi oke?? Klub itu tidak baik untukmu!" ujarku sebelum meninggalkan rumah Kenny.
Dari kaca spion, aku masih melihat Kenny berdiri sambil menatap ke arahku.
Aku melajukan motorku langsung menuju ke rumah.
Saat aku memarkirkan motorku di halaman rumah, aku terkejut ternyata Om Banu sudah ada di rumahku, dan duduk mengobrol dengan Bapak.
Mereka menoleh ke arahku saat aku masuk kedalam ruang tamu itu.
"Kau sudah pulang Din?" tanya Bapak. Aku menganggukan kepalaku.
"Duduk Din," kata Om Banu. Aku pun duduk di sebelah Bapak.
Ibu datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi beberapa gelas minuman.
Setalah itu langsung duduk bergabung dengan kami.
"Dini, Om Banu datang ke sini, karena ada hal yang mau di bicarakan, ini menyangkut dirimu!" ujar Bapak membuka pembicaraan.
"Apa itu?" tanyaku tanpa basa basi.
"Dini, aku dan Bapak ibumu berniat akan kembali menjodohkan mu dengan Kenny, bagaimana? Apakah kau masih mau dengan Kenny sementara dia sudah tak perjaka lagi bahkan sudah memiliki anak?" tanya Om Banu.
Pertanyaan Om Banu bagaikan petir di siang bolong, aku begitu terkejut mendengarnya.
Aku tidak tau harus senang atau sedih, senang karena bisa mencintai dan memandangnya dengan bebas, sedih karena di hatinya tidak pernah ada diriku.
"Bagaimana Din?" tanya Bapak membuyarkan lamunanku.
"Aku tidak tau, coba saja di tanyakan pada Kenny, aku sih terserah Kenny saja!" ucapku sambil menunduk.
Kalau laki-laki lain yang di jodohkan padaku, mungkin aku akan langsung menolaknya, namun Kenny, cintaku terlalu besar untuk menolaknya, walaupun aku tau, mungkin aku hanya akan menjadi bayangan saja.
"Syukurlah Brata, Dini tidak menolak Kenny, aku ingin menjodohkan Dini dengan Kenny, supaya Kenny bisa melupakan masa lalunya yang tidak akan pernah bisa kembali lagi!" ujar Om Banu.
"Benar Banu, aku juga pusing memikirkan Dini yang selalu menolak di jodohkan, mungkin sebenarnya jodohnya dini itu ya Kenny!" timpal Bapak.
Ibu sedari tadi terlihat diam saja.
"Kalau begitu aku pamit dulu, aku akan membicarakan hal ini pada Kenny, mudah-mudahan niat baik kita kan terkabul!" ucap Om Banu sambil berdiri dari tempatnya.
Bersambung...
__ADS_1
****