
Siang ini Icha baru pulang sekolah di jemput oleh Mbak Nur. Wajahnya nampak lelah.
Aku langsung mengambil tas Icha yang di bawa Mbak Nur. Sekarang aku adalah Ibunya Icha, aku yang akan bertanggung jawab untuk mengurus Icha.
"Mbak Nur tolong lihatin dedek Al saja ya, biar aku yang membantu Icha ganti seragam dan makan siang!" kataku. Mbak Nur menganggukan kepalanya.
Aku langsung berjalan ke kamar Icha, berniat menaruh tas sekolahnya di meja kamarnya.
"Miss Dini ketuk pintu dulu dong, jangan asal masuk!" cetus Icha saat melihatku masuk ke kamarnya sambil membawa tasnya.
"Tapi biasanya juga Mbak Nur langsung masuk aja kan, Ibu mau bantu Icha ganti baju, tadi Ibu sudah masak ayam goreng kesukaan Icha!" kataku.
"Aku tidak mau makan! Aku tidak lapar! Miss Dini keluar saja!" seru Icha.
Aku terkejut, Icha memang agak cuek terhadapku, tapi baru kali ini aku melihat dia begitu berani membantahku.
"Icha harus makan, kan capek baru pulang sekolah, apa mau ibu bawa makanannya ke kamar Icha, supaya Icha bisa makan di sini?" tawarku. Icha menggelengkan kepalanya.
"Miss Dini bukan Ibuku! Ibuku itu cuma Mami! Kenapa sih Miss Dini ambil Papi dari Mami?? Kenapa??" tanya Icha.
Aku terkesiap mendengarnya, kenapa Icha bisa berpikir seperti itu? Sejak aku menikah dengan Kenny, dia tidak mau memanggilku Ibu, dia juga semakin menjauh dariku.
"Tidak apa-apa kalau Icha belum bisa menganggap Ibu sebagai ibunya Icha, tapi ibu akan tetap merawat dan mengurus Icha, karena Icha adalah tanggung jawab Ibu!" tegasku.
"Mbak Nuuuur!!!" teriak Icha.
Mbak Nur nampak tergopoh menghampiri Icha.
"Ada apa Cha, kenapa teriak-teriak begitu??" tanya Mbak Nur.
"Mbak Nur saja yang membantu aku, yang temenin aku, aku tidak mau sama Miss Dini! Aku mau sama Mbak Nur saja!" ujar Icha.
"Lho, enakan sama Bu Dini kan, Bu Dini kan ibunya Icha sekarang, istrinya Papi Kenny!" kata Mbak Nur berusaha menjelaskan.
"Siapa bilang?? Ibuku itu ya cuma Mami, pokoknya aku tidak mau sama Miss Dini!!" seru Icha.
Aku mengangkat tanganku berusaha untuk menenangkan Icha, lalu aku memberi isyarat pada Mbak Nur agar dia menuruti saja kemauan Icha.
"Baiklah, kalau Icha tidak mau, tidak apa-apa, nanti di temani Mbak Nur makan ayamnya ya Cha, Ibu mau temani Dedek Al dulu!" ucapku sambil beranjak pergi dari hadapan Icha.
__ADS_1
Tadi Papinya yang menolak aku, sekarang anaknya, apa nasibku selalu menjadi orang yang tertolak?
Aku menyeka kasar wajahku yang basah oleh tetesan air mata yang mengalir tanpa di komando.
Kemudian aku mulai mengambil baby Al yang tertidur di dalam box bayinya, sementara Kenny entah berada di mana, mungkin saja dia sedang tidur di kamarnya.
"Dedek saja ya yang main sama Ibu, mungkin cuma Dedek yang bisa panggil ibu sama Bu Dini!" ucapku sambil mengecup pipi bayi mungil itu.
Aku memandang wajah baby Al dengan intens, benar-benar mirip Kenny.
Aku mencium lembut wajah baby Al, membayangkan kalau aku sedang mencium Kenny. Biarlah aku hanya bisa mencium suamiku itu sebagai bayangan, walau dalam hatiku aku sangat menginginkannya.
Setelah baby Al tertidur, aku segera memindahkannya di box bayinya, kasihan bayi mungil itu, dia belum punya kamar sendiri karena masih terlalu kecil, akhirnya dia selalu tidur di mana-mana, kadang di box bayi, kadang di kamar ku, kadang di kamar Mbak Nur.
Setelah selesai, aku menitipkan baby Al pada Mbok Sumi. Aku lalu bergegas naik ke atas, menuju ke kamarku, kamar aku dan Kenny.
Saat ku buka pintu kamar itu, Kenny terlihat sedang duduk di tempat tidur sambil memandangi foto Felly, bahkan dia terlihat sedang menangis.
Dia tidak sadar aku berdiri di belakangnya. Tangisan Kenny begitu pilu dan sedih.
Aku juga sedih, karena melihat Kenny sedih. Kenny tidak bahagia menikah denganku.
Kenny menoleh, dia langsung menyeka wajahnya yang basah oleh air mata.
"Eh, Dini, sudah dari tadi Din?" tanya Kenny.
Aku menganggukan kepalaku, aku tak tega melihat wajah itu, Kenny langsung menutup bingkai foto Felly di tempat tidur, dia berusaha untuk menyembunyikannya, tapi aku sudah terlanjur tau.
"Kangen ya sama Mbak Felly?" tanyaku balik. Kenny tidak menjawab, mungkin dia takut menyakiti hatiku, tapi aku sudah terlanjur sakit.
"Sedikit!" lirihnya.
"Kalau mau menumpahkan perasaanmu, tumpahkan saja Ken, kalau ingin menangis juga tidak apa-apa, laki-laki kan juga punya perasaan!" ujarku.
Kenny kembali menangis, dia kini memeluk bingkai foto itu.
Aku lalu mendekati Kenny, ku peluk kepalanya di dadaku, sekedar tempat untuk mencurahkan hati dan perasaannya.
"Menangislah Ken, aku tau kamu pasti kangen sama Mbak Felly!" ucapku sambil membelai lembut rambut Kenny.
__ADS_1
Tanpa terasa air mataku juga berjatuhan, aku tidak tahan melihat Kenny seperti ini, mau sampai kapan Tuhan!
"Maafkan aku Din, maafkan aku!" ucap Kenny berkali-kali. Aku menganggukan kepalaku.
"Tidak apa-apa Ken, sungguh, aku tidak apa-apa!" ucapku. Ku ciumi rambut hitamnya.
Aku ikhlas Kenny tidak menganggap ku sebagai istrinya, tapi aku tidak ikhlas melihat air mata Kenny, melihat kesedihan Kenny,dan melihat mendung di wajah Kenny, hatiku sakit, sakit sekali.
"Apa yang harus aku lakukan, agar wajah ini selalu tersenyum?" bisik ku pada Kenny. Kenny menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tau Din, aku tidak tau!" jawabnya.
"Mbak Felly sudah tenang di sana Ken, kamu harus bangkit dan kuat, demi Icha dan Aldio!" ucapku sambil menyeka wajah Kenny yang basah.
Aku seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anakku. Ku belai rambutnya, ku usap wajahnya, dan ku kecup keningnya.
Sejauh ini dia terlihat nyaman aku memperlakukannya seperti itu, Kenny mungkin butuh sosok ibu, sosok wanita yang bisa dia sandari, dan aku sudah mempersembahkan diriku untuk menjadi sandaran Kenny.
Kubiarkan dia menumpahkan segenap perasaannya di dadaku, bajuku nyaris basah oleh air matanya.
Setelah di rasa cukup tenang, aku membaringkan Kenny di ranjangnya, mengusap dahinya yang keringetan.
Setelah itu aku memberikan Kenny segelas air putih, aku membantu meminumkannya ke mulutnya.
Kenny meneguknya beberapa kali. Setelah selesai aku mengelap bibir Kenny dengan tissue.
"Sekarang kau istirahatlah Ken, tenangkan pikiranmu!" ucapku sambil menyelimutinya.
Ku letakan bingkai foto Felly di atas meja. Dia tak perlu menyembunyikannya lagi, biar dia bisa mudah untuk memandangnya.
Aku Ikhlas, asal suami yang sangat aku cintai ini bisa tersenyum kembali.
"Trima kasih Din, maafkan aku!" ucap Kenny sambil mulai memejamkan matanya.
Tidurlah Ken, aku cukup bahagia bisa memandang wajahmu, bisa menenangkan mu, bisa terus membantu dalam setiap kesusahan mu, I Love you, Ken.
Bersambung ....
****
__ADS_1