Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Ziarah Ke Makam


__ADS_3

Sejak aku tau Kenny belum bisa sepenuhnya melupakan Felly, bahkan diam-diam dia masih memandang fotonya, mengenangnya, bahkan menyimpan namanya di relung hatinya yang terdalam.


Aku sudah pasrah dan tidak menuntut apapun lagi, mau Kenny masih ingat Felly atau tidak, dia mencintaiku atau tidak, aku sudah tak perduli lagi.


Sekarang aku hanya fokus pada janin yang kini ada di dalam perutku, benih yang berasal dari Kenny, laki-laki yang sangat aku cintai.


Pagi ini seperti biasa, Kenny akan bangun dan langsung mandi, kemudian berkemas hendak ke sekolah.


Sudah beberapa hari lamanya aku tidak ke sekolah, aku lebih memilih di rumah, bisa menjaga baby Al, bisa memasak makanan kesukaan Kenny atau membaca buku, pikiranku juga lebih tenang.


Aku mulai menyiapkan sarapan di meja makan bawah, Mbok Sumi dan Mbak Nur membantuku.


Kenny turun dengan dasi yang belum terpasang tapi, dia memang kurang pintar untuk memasang dasi.


Dengan sigap aku langsung merapikan dasi Kenny, hingga pria di depanku ini terlihat sangat tampan dan menawan.


"Trimakasih Din!" ucap Kenny.


"Ya, sekarang kau makanlah!" kataku sambil mulai membantu Icha mengambilkan sarapannya.


"Ibu tidak ikut ke sekolah?" tanya Icha.


"Tidak Cha, ibu di rumah saja sama dedek Al, nanti kapan-kapan ibu juga pasti akan ke sekolah lagi kok!" jawabku.


"Oke deh Bu, nanti aku pulang bareng Papi ya?" tanya Icha lagi sambil menoleh ke arah Kenny.


"Iya Cha, nanti Icha pulang bareng Papi!" sahut Kenny.


Setelah selesai sarapan, Kenny bergegas menuntun Icha berjalan ke arah garasi mobil, Icha mulai masuk ke dalam mobil.


"Aku pamit ya Din, kau baik-baik di rumah!" ucap Kenny sambil mengecup keningku.


"Iya Ken, hati-hati!" jawabku.


Setelah itu Kenny segera naik ke dalam mobilnya, dan tak lama kemudian mobil itu sudah melaju meninggalkan rumah.


****


Waktu sudah menunjukan jam setengah dua siang, namun Kenny dan Icha belum kunjung datang.


Padahal hari ini aku sudah menyiapkan menu spesial di meja makan, berharap saat mereka datang bisa makan bersama.


Biasanya mereka akan tiba di rumah pukul 12 siang, apalagi jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh.


Aku duduk menunggu di depan teras rumah, baby Al batu saja tidur setelah menghabiskan satu botol susu.

__ADS_1


Tiba-tiba Ayah keluar dari arah dalam dan langsung duduk di sebelahku.


"Sedang menunggu Kenny dan Icha ya Din?" tanya Ayah.


"Iya Ayah, biasanya mereka sudah pulang dan sampai rumah!" jawabku.


"Kenapa kau tidak menelepon Kenny saja Din?" tanya Ayah lagi.


"Ah, masa hanya menunggu harus telepon segala, nanti juga mereka pulang Yah!" sahutku.


"Baiklah, Ayah juga mau keluar, mau kerumah teman Ayah, mungkin pulangnya agak sore, karena ada reuni mantan guru!" kata Ayah.


"Iya Ayah, hati-hati!" ucapku.


Ayah menganggukan kepalanya, lalu dia segera menyalakan mobilnya dan keluar dari gerbang yang sudah di bukakan oleh Mbok Sumi.


Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, Kenny dan Icha belum juga pulang, aku mulai khawatir.


Sebenarnya sudah sejak tadi aku sangat ingin menelepon Kenny, tapi aku gengsi juga, tidak mau terlihat begitu mencemaskan nya.


Sementara Kenny pun, tidak memberikan aku kabar. Kenapa harus aku yang menghubunginya duluan?


Dari teras aku beralih masuk ke dalam dan duduk di sofa, pikiranku mulai gelisah, kemana Kenny dan Icha pergi.


Sementara makanan yang sejak siang tadi terhidang di meja makan mulai menjadi dingin, bahkan aku pun melewatkan makan siang hanya karena menunggu mereka pulang.


"Kenny??" seruku saat melihat Kenny sudah berdiri di hadapanku. Sementara Icha terlihat langsung masuk ke kamarnya di temani oleh Mbak Nur.


"Maaf aku pulang terlambat Din, tadi ada urusan sebentar!" ucap Kenny.


Aku langsung mengangguk-anggukan kepalaku, hatiku sangat lega, setidaknya mereka baik-baik saja.


"Kalian sudah makan belum? Aku sudah menyiapkan di meja makan!" kataku yang berharap mereka akan segera makan.


"Maaf Din, tadi aku sudah makan di jalan, mungkin nanti malam saja! Aku naik dulu ya ke atas!" ucap Kenny.


Aku melongo memandang kepergian Kenny.


Perutku sudah keroncongan menahan lapar, aku ingat di dalam perutku ada janin Kenny, dia butuh nutrisi, aku langsung bergegas ke meja makan, aku makan sendirian di meja makan itu.


"Lho kok makan sendirian Bu?" tanya Mbok Sumi yang sedang mengepel lantai.


"Iya Mbok, Kenny dan Icha sudah makan di jalan tadi!" sahutku.


"Oalaa, kalau tau gitu kan Bu Dini makan duluan saja dari tadi!" ujar Mbok Sumi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mbok, tadi Kenny memang sedang ada urusan!" kataku.


Tak lama kemudian Icha muncul dari dalam kamarnya sudah dengan berganti pakaian.


"Bu, Dedek Al mana?" tanya Icha.


"Lagi main di taman sama Mbak Nur!" jawabku.


"Ibu dari tadi belum makan ya?" tanya Icha lagi. Aku menganggukkan kepalaku.


Icha langsung duduk di sebelahku.


"Icha mau makan?" tanyaku menawarkan.


"Tidak Bu, masih kenyang nanti saja, tadi aku sudah di ajak makan sama Papi waktu pulang dari makam!" ujar Icha. Aku menghentikan aktifitas makanku.


"Pulang dari makam?" tanyaku.


"Iya Bu, waktu pulang sekolah, Papi bilang katanya Papi kangen sama Mami, lalu mengajak aku ziarah ke makam Mami, di sana Papi lama Bu, makanya kami baru pulang sekarang!" ungkap Icha.


Aku terdiam mendengar cerita Icha, tadi Kenny bilang dia sedang ada urusan, kenapa dia tidak jujur saja padaku kalau dia mengunjungi makam Felly?


Seadainya dia jujur, walau aku sedih tapi aku merasa aku di hargai sebagai seorang istri.


Apa Kenny takut aku marah atau cemburu kalau dia jujur padaku, tapi kan aku sudah tau, aku sedih karena Kenny telah membohongiku.


"Ibu kenapa?" tanya Icha membuyarkan lamunanku.


"Oh, tidak Cha! Tidak apa-apa! Icha main sama dedek Al di taman ya!" kataku mengalihkan pembicaraan.


Icha langsung berlari kecil ke arah taman yang berada di samping rumah.


Makananku tidak habis, mendadak aku jadi tidak nafsu makan.


Setelah membereskan meja makan, aku lalu naik ke atas, sekedar untuk merebahkan tubuhku yang lelah karena menunggu beberapa jam.


Pintu kamar kami tidak tertutup rapat. Aku melongok dari pintu, Kenny nampak sedang berdiri di depan lemari sambil memandang bingkai foto Felly lagi, sekarang aku tau Kenny menyimpan bingkai foto itu di balik lipatan bajunya, kenapa dia menyembunyikannya dari aku.


"Kenny!" panggilku.


Prang!!


Tiba-tiba bingkai foto itu terjatuh dari tangan Kenny.


Kenny melotot memandangi bingkai foto yang kini hancur berkeping-keping itu.

__ADS_1


****


__ADS_2