Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Kenny Menghilang


__ADS_3

Pagi ini aku sangat terkejut, Ketika aku membuka mataku Kenny sudah tidak ada lagi disampingku.


Padahal semalam itu kami baru saja bercinta, dan aku benar-benar menikmati setiap sentuhan dari Kenny, yang sudah beberapa lama ini tidak aku rasakan.


Tapi kenapa Kenny bangun se pagi ini, dan kenapa aku juga kebablasan tidur dan tidak sadar kalau Kenny sudah menghilang dari sampingku.


Mungkin karena aku kelelahan, sehingga tanpa sadar aku begitu nyenyak tertidur, dan Kenny pun tidak mengucapkan sepatah kata apapun, sikapnya benar-benar aneh, sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Kenny.


Aku langsung bangun dari tempat tidur membereskan ranjang yang terlihat agak berantakan, kemudian aku segera mandi meskipun matahari belum muncul dari tempat peraduannya.


Wetelah selesai mandi, Aku kemudian berpakaian, entah mengapa perasaanku jadi tidak enak, aku cepat-cepat menyisir rambutku, dan setelah rapi berpakaian aku pun keluar dari kamar.


Kini aku sudah pasrah saja, jikalau aku bertemu dengan Icha, dan juga Ayah juga seisi rumah ini, memang kenyataannya Aku sudah kembali, dan keputusanku sudah bulat aku memang harus berpisah dengan Kenny.


Suasana rumah masih terlihat sepi, hanya terdengar suara dari arah dapur, Mbok Sumi sedang sibuk menyiapkan menu masakan untuk sarapan pagi.


Aku pun melangkah ke arah dapur, ingin mengobrol sebentar dengan mbok Sumi, sekedar ingin menanyakan kabar dan keadaan rumah ini setelah aku tinggal pergi waktu itu.


"Selamat pagi Mbok Sumi, sedang membuat apa?" tanyaku


"Eh Bu Dini sudah bangun! Biasa Bu mau bikin nasi goreng spesial kesukaan Icha, juga membuat cemilan pesanan Bapak!" jawab Mbok Sumi.


"Mbok Sumi, ayah sehat-sehat saja kan?" tanyaku.


"Sehat sih Bu, cuma ya belakangan ini Pak Banu jadi agak pendiam, Mungkin dia juga memikirkan Bu Dini, nanti kalau bapak lihat Bu Dini dia pasti senang deh, karena Bu Dini sudah kembali!" jawab Mbok Sumi.


"Anak-anak baik-baik saja kan Mbok?" tanyaku lagi.


"Ya baik-baik saja bu, tapi Icha selalu saja menanyakan ibu, sekarang baby Al juga sudah mulai pulih setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit!" jawab Mbok Sumi.


Aku terdiam, dalam hati aku bersyukur ternyata seisi rumah ini dalam keadaan baik dan sehat, itu berarti saat aku tidak ada nanti, tidak terlalu berpengaruh terhadap seisi rumah ini, apalagi aku masih bisa memperhatikan mereka dari jauh.


"Oh iya Bu, Tadi subuh saya lihat Mas Kenny keluar rumah, Mas Kenny mau ke mana toh bu? dia tidak pernah loh keluar rumah subuh-subuh!" tanya Mbok Sumi.


"Apa? Kenny pergi?" gumamku sedikit terkejut.


"Lho Bu Dini tidak tahu? Saya kira Tahu makanya saya tanya!" kata mbok Sumi.


"Aku tidak tahu Mbok, kini tidak bilang apa-apa padaku, kira-kira dia ke mana ya?" gumamku.


"Ya saya juga tidak tahu Bu, ya barangkali saja Mas Kenny sedang ada keperluan mendadak!" ujar Mbok Sumi.


Aku terdiam, Mbok Sumi memang tidak tahu apa-apa, jangankan dia, aku saja yang saat ini masih sah menjadi istrinya tidak tahu apa-apa, entah ke mana Kenny pergi, sepertinya memang Kenny tidak percaya lagi padaku, dia tidak bilang apapun.


Tapi ya sudahlah, toh sebentar lagi kami juga akan berpisah, kalau memang dia benar-benar tidak mempercayai aku sudah sewajarnya, memang di hatinya mungkin memang tidak pernah ada aku, karena sebagian besar diisi penuh oleh bayangan-bayangan masa lalunya.


Mbok Sumi nampak sudah selesai menyiapkan sarapan pagi, dia kemudian menata meja makan aku pun ikut membantu sekedarnya.


Entah mengapa perasaanku makin tidak enak, kira-kira ke mana Kenny pergi? ini aneh dan tidak seperti biasanya, sejak semalam itu Kenny memang bersikap sangat aneh, dan aku pun sulit untuk menebak-nebak apa yang ada di dalam hatinya.


Dari sejak dia datang ke rumah Bu Ira secara tiba-tiba, lalu memukul Leo dan menuduh Leo ada apa-apa denganku, kemudian mengajak aku makan di restoran dengan tiba-tiba, dan lagi-lagi dia menyindir tentang leo, hingga dia membawaku pulang ke rumah ini, sampai akhirnya pada malam itu dia mengajakku bercinta.


Meskipun tidak dengan ucapan namun dengan sentuhan, dan itupun dia lakukan dalam keadaan aku sedang tidur, meskipun aku hanya pura-pura.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamar ayah terbuka, ayah keluar dari kamarnya dan berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan tongkatnya, dia sudah terlanjur melihatku, aku pun langsung menghampiri ayah dan menuntunnya untuk duduk di sofa ruang keluarga itu.


"Kamu sudah pulang Din? Kamu membuat semua orang khawatir! Aku malu pada orang tuamu, karena Ayah tidak bisa menjagamu dan membuatmu nyaman!" kata ayah.


"Tidak ayah! Aku yang salah, bukan Ayah yang salah, aku yang salah, Aku minta maaf Ayah!" ucapku yang merasa sangat bersalah dan tidak enak terhadap Ayah Mertuaku ini.


Ayah nampak menarik nafas panjang kemudian dia menatap ke arahku, seolah banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan ditujukan kepadaku, namun Ayah terlihat tidak terburu-buru untuk menginterogasiku.


Aku sudah pasrah, pertanyaan Apapun yang Ayah lontarkan padaku, aku akan berusaha menjawabnya, dan mungkin aku akan jujur pada ayah kalau aku akan berniat berpisah dengan Kenny, meskipun Kejujuranku itu akan membuat luka, namun lebih baik luka sekarang daripada luka seumur hidup.


"Dini, setiap rumah tangga pasti akan mengalami badai, mudah-mudahan melalui masalah kalian, kalian akan lebih dewasa dalam menghadapi badai itu!" Lanjut Ayah.


"Iya ayah, sekali lagi aku minta maaf, aku salah!" ucapku lagi.


"Tidak perlu kamu minta maaf nak, sejak kamu pergi ayah banyak mengobrol dengan Kenny, Kenny pun mengakui kesalahannya, dan dia benar-benar menyesal!" kata ayah.


Menyesal? aku terdiam mendengar perkataan Ayah, Kenny menyesal apa? apakah dia menyesal karena sudah berusaha mencintaiku tapi ternyata hatinya Masih Milik Felly? atau dia menyesal sudah mengambil keputusan untuk menikahi ku waktu itu?


Aku tidak berani bertanya pada Ayah, sebenarnya aku ingin mendengar langsung dari mulut Kenny sendiri, tapi sepertinya Kenny juga Mulai enggan bicara padaku, sejak kemarin itu dia melampiaskan emosinya, dia tidak lagi banyak bicara, dan aku pun sungkan untuk bertanya kepadanya.


"Ayah, aku dan juga Kenny sudah lama kenal dan berteman, sepertinya aku merasa aku lebih cocok dan leluasa jika menjadi teman Kenny!" ucapku sedikit bergetar


"Apa maksudmu?" tanya ayah sambil menatapku.


"Ayah, aku merasa pernikahan aku dan Kenny adalah pernikahan buru-buru, karena Kenny butuh sosok ibu untuk menggantikan mendiang istrinya dulu, ibu untuk anak-anaknya!" lanjutku.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Din?" tanya ayah lagi.


"Karena aku merasa, Kenny tidak benar-benar menerimaku sebagai istrinya, dan aku tidak bisa memaksa dia untuk mencintaiku!" jawabku sambil menundukkan wajahku, karena tidak ingin Ayah melihat mataku yang berkaca-kaca.


"Dini, Apakah masalah kalian hanya bisa diakhiri dengan perceraian? Kenapa kamu tidak Coba bicara dari hati ke hati dengan suamimu? sehingga kalian benar-benar saling mengenal dan memahami satu sama lain!" ucap ayah.


Sekarang aku yang terdiam, Jujur aku bingung menanggapi ucapan Ayah, selama ini Aku mengakui memang kami tidak pernah bicara dari hati ke hati, sehingga aku menebak-nebak sendiri, Kenny sepertinya enggan berbicara dari hati ke hati denganku, terbukti saat semalam aku berharap dia akan mengajakku ke suatu tempat untuk berbicara, tapi setelah makan di restoran dia malah mengajakku pulang ke rumah.


"Din Apakah Kenny pernah mengatakan padamu kalau dia tidak bisa mencintaimu?" tanya ayah.


Aku menggelengkan kepalaku, Kenny memang tidak pernah mengatakan padaku kalau dia tidak bisa mencintaiku, tapi aku bisa melihat dari sikapnya saat dia menyimpan foto Felly, memandang dan menulis secarik kertas yang berisi ungkapan hatinya, dan puncaknya Kenny sangat marah saat aku mengagetkannya yang menyebabkan bingkai foto Felly pecah.


Tapi aku tidak pernah menceritakan soal itu pada siapapun, aku menyimpan rapat-rapat dalam hatiku, saat itu Kenny benar-benar marah, dari situlah aku mengambil kesimpulan kalau di hati Kenny memang tidak pernah ada aku.


"Sumi!" Panggil Ayah, Mbok Sumi yang masih terlihat sibuk langsung bergegas menghampiri kami yang masih mengobrol di ruang keluarga.


"Iya Pak!" jawab Mbok Sumi sambil mengelap kedua tangan yang basah dengan bajunya.


"Tolong panggilkan Kenny!" titah ayah.


"Tapi mas Kenny pergi dari subuh Pak, dan saya tidak tahu ke mana Mas Kenny pergi!" jawab Mbok Sumi.


"Apa? Kenny pergi? pergi ke mana dia?" tanya ayah sambil menatap ke arahku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku karena aku memang tidak tahu kemana Kenny pergi.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu!" ujar Ayah. Mbok Sumi kemudian kembali ke belakang.

__ADS_1


Ayah nampak terdiam, sepertinya dia Sedang berpikir, aku tidak tahu Ayah sedang memikirkan apa.


Ayah kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku pakaiannya, dia sepertinya mencoba untuk menelepon Kenny, Tetapi beberapa kali menelpon tidak ada jawaban, Ayah mulai kelihatan gusar.


"Ke mana sih si Kenny, tidak biasanya dia tidak mengangkat telepon orang tua! Dasar sudah punya anak kelakuan persis seperti anak ABG!" sungut ayah.


Ayah kemudian kembali mencoba untuk menelepon Kenny, sebenarnya aku juga penasaran, Apa yang dilakukan Kenny sehingga untuk menjawab telepon ayahnya pun dia tidak sempat.


Perasaan hatiku mulai tidak enak, entah mengapa aku seperti mendapat Firasat, kalau keadaan sedang tidak baik-baik saja.


Tak lama Icha muncul dari kamarnya, sepertinya dia baru bangun dari tidur, hari ini hari Sabtu, Icha libur sekolah.


Icha terlihat kaget saat melihatku sedang duduk di ruang tamu bersama dengan ayah, kemudian dia berlari kecil menghampiriku.


"Bu Dini! kapan Bu Dini pulang? aku pikir sekarang Aku sedang mimpi!" seru Icha sambil mengucek kedua matanya.


"Tidak sayang, Icha tidak sedang bermimpi, ini Ibu, Ibu sudah pulang nak!" sahutku sambil memeluk Icha.


Icha nampak gembira melihat Kehadiranmu, aku pun sangat merindukan anak itu, tak lama kemudian Mbak Nur nampak keluar sambil menggendong baby Aldio, sepertinya baby Aldio baru selesai mandi.


Mereka kemudian melangkah ke arahku dan aku pun langsung menggendong baby Aldio yang kini sudah terlihat mulai sehat dan aktif.


Tanpa sadar, ayah kembali masuk ke dalam kamarnya, sepertinya dia sangat kecewa karena teleponnya tidak diangkat oleh Kenny.


"Wah Bu Dini sudah kembali! syukurlah Bu, di sini kami semua merindukan Bu Dini!" seru Mbak Nur.


"Bu Dini kan sudah pulang, berarti kita harus merayakannya dong, nanti aku akan ajak Papi jalan-jalan ke pantai lagi atau jalan-jalan ke Puncak untuk merayakan kepulangan Bu Dini!" ujar Icha bersemangat.


Aku hanya tersenyum menanggapi celotehan polos gadis kecil yang ada di hadapanku ini.


Icha tidak tahu, kalau Papinya tidak mungkin melakukan apa yang dia inginkan, karena itu tidak akan mungkin pernah terjadi.


"Waktu Bu Dini pergi, aku dengar Papi pernah bilang sama kakek kalau Papi akan mengadakan syukuran!" kata Icha lagi.


"Oya? Memangnya Icha dengar Papi bilang begitu?" tanyaku nyaris tak percaya.


"Iya Bu! masak aku bohong sih, Tanya saja sama Mbak Nur, Iya kan mbak?" sahut Icha sambil menoleh ke arah Mbak Nur yang masih berada di situ.


"Benar Bu, Mr Kenny memang bilang seperti itu pada bapak, katanya kalau Bu Dini kembali, Mister Kenny akan membuat pesta!" kata Mbak Nur.


Drrrt ... Drrrt .... Drrrt


Baru saja aku hendak berpikir, tiba-tiba ponselku bergetar, aku langsung meraih ponselku untuk melihat siapa yang meneleponku, ternyata ada panggilan masuk dari Bu Ira, aku langsung mengusap layar ponselku untuk menjawab panggilan dari Bu Ira.


"Halo, ada apa Bu Ira?" Tanyaku.


"Miss dini, gawat nih! Ada kejadian di sekolah, Mr Kenny memukul Pak Leo membabi buta, hingga Pak Leo saat ini dilarikan ke rumah sakit karena ada beberapa bagian tubuhnya yang patah!" jawab Bu Ira, mataku melotot seketika.


"Apa? Jadi Kenny datang pagi-pagi hanya untuk bertemu dengan Leo dan menghajarnya habis-habisan? tapi untuk apa dia melakukan itu semua?" tanyaku bingung.


"Tidak tahu Miss lebih baik sekarang miss Dini datang saja, kita sama-sama lihat, saat ini Mister Kenny ditahan oleh beberapa warga, karena kalau tidak ditahan, Pak Leo bisa mati!" lanjut Bu Ira.


Aku sangat shock mendengar berita ini, tapi aku harus pergi, aku harus datang ke sana, ada apa ini? Kenapa mereka yang dulunya bersahabat jadi seperti ini?

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2