Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Terpaksa Menginap


__ADS_3

Aku menyelimuti tubuh Kenny yang mulai tertidur, tak lama ibu masuk sambil membawa segelas teh hangat dan baju ganti, baju bapakku.


Karena pakaian Kenny nampak basah dan kotor, jadi memang mau tidak mau harus ganti baju.


"Din, kasihan ya si Kenny, kok dia jadi kayak gitu sekarang, padahal sebelumnya dia sangat bahagia!" ujar Ibu. Wajahnya kelihatan prihatin.


"Iya Bu, kasihan dia, juga anak-anaknya!" gumam ku.


"Jadi ini bagaimana, dia tidur bagaimana mau di kasih teh hangat atau mengganti baju?" tanya Ibu bingung.


"Di bangunkan saja sebentar Bu, kasihan nanti dia masuk angin malah!" usul ku. Ibu menganggukan kepala, lalu kami pun mulai membangunkan Kenny.


"Ken, bangun dulu Ken, minum dulu tehnya biar perutmu hangat!" ujar Ibu sambil sedikit mengguncang tubuh Kenny.


Kenny hanya mengerjapkan matanya sesaat, namun kembali memejamkan matanya.


"Tolong di bantu di dudukan saja Din!" kata Ibu.


"Baik Bu!" sahut ku.


Lalu kami berdua berusaha membantu Kenny duduk bersandar, aku menaruh beberapa bantal di punggung Kenny sebagai sandaran.


Kenny mulai membuka matanya, ibu lalu menyodorlan segelas teh hangat itu ke mulut Kenny pelan-pelan.


Kenny pun mulai meminumnya.


Setelah satu gelas itu habis di minum Kenny, tubuhnya mulai keringatan.


Dengan cekatan ibu membuka baju Kenny. Aku yang ada di sampingnya hanya termangu menatapnya.


Ibu dari dulu memang selalu menganggap Kenny sebagai anaknya sendiri, karena ibu dan bapak tidak punya anak laki-laki, jadi wajar saja kalau ibu tidak nampak canggung di depan Kenny.


Dada itu, dada yang bidang yang di tumbuhi bulu-bulu halus, membuat hatiku berdesir menahan rasa.


Ah, ternyata sampai detik ini pun, aku masih mencintai Kenny. Entah sampai kapan.


Setelah selesai menggantikan Kenny baju, ibu lalu menyeka wajah Kenny dengan washlap. Aku hanya melihatnya saja.


Setelah itu ibu memberikan baju kotor Kenny padaku.


"Ini kamu tolong cuci Din, lalu langsung di jemur, siapa tau besok sudah kering!" kata Ibu.


"Iya Bu!" sahutku sambil mengambil baju Kenny yang di berikan ibu tadi.

__ADS_1


"Nah Din, kalau begini kan dia lebih nyaman, tapi celananya gimana ini, masa ibu gantikan juga!" kata ibu.


"Jangan Bu, biarkan saja seperti itu, paling besok pagi kan dia sudah pulang!" sergahku.


Aku tidak ingin melihat yang lebih aneh lagi, bisa-bisa aku yang malah jadi pingsan.


Setelah di rasa nyaman, Kenny kini benar-benar tertidur pulas, suara dengkuran halusnya terdengar.


"Sudah Din, kamu sekarang istirahat di kamarmu, besok pagi-pagi ibu mau ke pasar, mau belanja buat masak!" kata ibu.


Ibu sudah pergi dari kamar itu, sebelum aku beranjak pergi, aku perlahan mendekati Kenny, aku usap pelan rambutnya.


Aku tersenyum melihat wajah itu, wajah yang selalu membayangi hidupku bertahun-tahun lamanya.


Walaupun kini wajah ini kelihatan rapuh dan sedih, aku akan berjuang untuk membuatnya kembali tersenyum.


"Good night Kenny, selamat tidur ya!" ucapku sambil sedikit mengelus pipi Kenny.


Setelah itu aku keluar dari kamar itu dan menutup pintunya, lalu aku beranjak ke belakang, hendak aku cuci baju kotor Kenny.


Sebelum aku mencucinya, aku memeluk dan mencium baju itu, aroma Kenny yang selama ini aku rindukan tercium di Indra penciuman ku.


"Aku tidak akan mengejarmu lagi Ken, tapi ijinkan aku mencintaimu dalam diam ku, hanya seperti saja aku sudah merasa sangat bahagia!" gumam ku dalam hati.


****


Pagi datang menjelang, aku buru-buru terbangun dari tidurku, setelah aku bereskan ranjangku, aku langsung keluar dari kamarku.


Aku melewati kamar tamu, membuka pintunya sedikit, hanya sedang mengecek apakah Kenny masih tidur atau sudah bangun.


Ternyata Kenny masih nampak pulas tertidur, aku menarik nafas lega, lalu aku beranjak ke dapur, ibu tidak ada di sana, mungkin ibu sudah berangkat ke pasar.


Aku lalu membuatkan minuman sereal instan untuk Kenny, Dari jendela dapur, ku lihat Bapak sedang berolah raga pagi di taman belakang rumah.


Tak pama kemudian, ibu nampak baru pulang dari pasar, dia menaruh belanjaannya di dapur, bersiap akan memasaknya.


"Ini sereal buat siapa Din?" tanya ibu saat melihat sereal yang aku buat di meja.


"Buat Kenny Bu!" jawabku.


"Ooh ..." gumam Ibu.


"Bapak sudah tau kalau Kenny semalam menginap di sini Bu?" tanyaku.

__ADS_1


"Sudah, bapakmu juga sudah tau kalau semalam itu Kenny dalam keadaan mabuk, ibu yang cerita!" jelas Ibu.


Aku lalu mengambil nampan, untuk mengantar sereal yang telah ku buat itu ke kamar.


"Nanti kau siapkan air hangat untuk mandi Kenny Din, ibu mau masak dulu!" teriak ibu saat aku sudah jalan meninghalkan dapur.


"Iya Bu!" sahutku.


Aku langsung membuka pintu kamar tamu, Kenny ternyata sudah bangun, dia duduk di tepi tempat tidur, sepertinya dia sudah mulai sadar apa yang terjadi dengan dirinya.


"Sudah bangun Ken? Ini ada sereal hangat, kau minumlah supaya tubuhmu enak dan perutmu hangat!" Kata ku sambil meletakan nampan di atas meja.


"Trimakasih Din!" ucap Kenny.


Aku menganggukan kepalaku. Lalu aku segera pergi ke kamar mandi yang ada di sudut kamar itu, hendak menyiapkan air hangat untuk Kenny.


Setelah selesai, aku kembali keluar dari kamar mandi, Kenny masih dalam posisi semula, duduk di tepi ranjang itu.


"Lho, kok minumannya tidak di minum, minumlah Ken, nanti keburu dingin!" ujar ku, lalu aku mengambil gelas itu dan menyodorkannya pada Kenny.


Kenny meraih gelas yang ku sodorkan dan mulai meminumnya.


"Seharusnya kau tak perlu membawaku pulang ke rumahmu!" ucap Kenny.


"Kenapa? Apa kau mau tetap tinggal dalam klub itu sampai pagi? Kalau bukan karena aku kasihan pada anak-anakmu, aku juga ogah mengurusi mu!" cetusku.


Kenny diam tanpa menjawab ucapan ku.


"Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kau mandi, di lemari itu ada handuk bersih dan kaos juga celana pendek bapakku, kau bisa memakainya, tapi maaf, aku tidak punya stok ****** ***** baru!" jelas ku.


"Trima kasih!" ucap Kenny.


"Ya sudah kau mandi sana, supaya tubuh dan otakmu segar sehabis mandi, ibu lagi masak di dapur, setelah kau selesai baru kita makan sama-sama dengan Bapak dan ibu!" ujar ku sambil melangkah ke arah pintu untuk keluar dari kamar.


"Tunggu!" suara Kenny menahan langkahku.


Aku menoleh kebelakang. Kenny mulai tersenyum padaku.


"Trima kasih ya Din!" ucapnya sekali lagi.


Hati ini menghangat seketika, aku juga tersenyum pada Kenny sambil menganggukan kepalaku.


"Ya, sama-sama Ken, sekarang kau mandilah!" ucapku sambil keluar dari kamar itu dan menutup rapat pintunya.

__ADS_1


****


__ADS_2