Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Perasaan Seorang Anak


__ADS_3

Mendengar berita dari Ayah membuat Kenny begitu panik, sore itu juga kami langsung memesan tiket pesawat dan segera kembali ke Jakarta.


Sepanjang jalan, Kenny lebih banyak diam, wajahnya menyiratkan kekhawatiran.


Di sepanjang jalan pulang, kami mencoba menghubungi teman-teman Icha, bahkan guru-guru sudah kami mintai tolong.


Kami sudah sampai di rumah ketika hari sudah malam.


Namun Icha belum juga di ketemukan.


"Kenapa Icha pergi dari rumah tanpa sepengetahuan kalian??" tanya Kenny pada orang-orang rumah.


"Maaf Mas, tadi Icha hanya bermain di depan, pas di tengok lagi dia sudah tidak ada!" jelas Mbok Sumi.


"Apa mungkin Icha di culik?" tanyaku.


"Tidak mungkin Ken, karena dia pergi dengan membawa tasnya, seperti sudah di rencanakan sebelumnya!" sahut Ayah.


"Aku harus mencari Icha!" ujar Kenny sambil berjalan ke arah depan dan mulai mengeluarkan mobilnya.


"Aku ikut Ken!" kataku sambil mengikutinya dan masuk ke dalam mobil Kenny.


Tanpa membuang waktu, kami segera berangkat untuk mencari Icha.


Kami menyusuri jalan-jalan itu dengan perlahan, sesekali kami menanyakan pada orang-orang di jalan.


Kenny sudah mulai menyebarkan tentang Icha di media sosial, namun belum ada tanggapan yang berarti.


Waktu sudah menunjukan jam 11 malam, kami semakin khawatir karena Icha tidak ada tujuan.


Dulu saat Icha pernah pergi dari rumah, tujuannya adalah untuk mencari Kenny.


Namun sekarang, Icha benar-benar tidak ada tujuan, dan kami semakin khawatir.


Aku jadi merasa bersalah atas sikap Icha yang seperti itu, dia tidak memiliki siapapun, ayah dan ibu kandungnya sudah tiada, hanya Kenny yang menjadi harapan satu-satunya Icha.


Sejak aku menikah dengan Kenny, Icha jadi merasa kalau aku telah merebut Kenny darinya.


Apalagi dengan bulan madu kami berdua, mungkin Icha semakin merasa kerkucil.


Aku kasihan padanya, dia masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya.


Hampir dua jam kami berkeliling kota mencari Icha, namun Icha masih belum di temukan.


Kenny mulai nampak putus asa. Wajahnya nampak lelah dan frustasi.


"Ken, sepertinya aku tau di mana keberadaan Icha!" kataku.


"Di mana Din?" tanya Kenny antusias.

__ADS_1


"Dia tidak punya tujuan kemana di akan pergi, kecuali ... ke makam Felly!" sahutku.


Kenny terkesiap mendengar perkataanmu.


"Ayo kita kesana sekarang Din!" ajak Kenny.


Akhirnya kami memutar arah menuju ke pemakaman umum.


Suasana makam sudah sepi, namun sinar lampu jalan menerangi lokasi itu.


Kenny memarkir mobilnya di pinggir jalan. Setelah itu kami langsung menyusuri jalan setapak menuju ke makam Felly.


Benar saja dugaan ku. Icha nampak duduk di pinggir makam sambil menangis.


Aku dan Kenny langsung bergegas mendekati Icha.


Kenny nampak langsung memeluk Icha dengan erat.


"Maafin Papi Cha! Maafin Papi!" ucap Kenny. Dia langsung mengangkat Icha dalam pangkuannya.


Aku meneteskan air mataku sedih melihat seorang anak kecil menangis di makam ibunya sendirian.


Ku rengkuh Icha yang masih dalam dekapan Kenny.


"Ayo kita pulang Cha! Icha jangan pergi lagi dari rumah! Papi kuatir sama Icha!" ucap Kenny.


Icha mengangkat wajahnya lalu mengusap air matanya.


"Icha, Icha kan punya Papi!" sahut Kenny.


"Papi sudah milik Miss Dini sekarang!" tukas Icha.


"Tidak Cha! Papi tetap milik Icha dan Papinya Icha, sampai kapanpun Papi adalah Papinya Icha!" tambah ku.


Icha mengusap air matanya, tak berapa lama kemudian Icha pun jatuh pingsan.


Kenny langsung menggendong Icha, perlahan Kenny mengusap batu nisan Felly, kulihat dia menitikkan air matanya. Hatiku pilu, bukan karena cemburu, tapi karena hatiku sangat tersentuh melihat Icha, seorang anak yang harus kehilangan sosok ibu.


"Cha, ijinkan Ibu jadi ibu pengganti untuk Icha, Ibu Dini janji akan memberikan kasih sayang seperti Mami Icha, Icha harus tau kalau Ibu sayang sama Icha, jadi Icha jangan merasa tidak punya siapa-siapa!" ucapku sambil menangis.


Kenny merengkuh bahuku, kemudian dia mengecup keningku, juga Icha.


"Sekarang, kita adalah satu keluarga, yang tidak akan pernah berpisah lagi!" bisik Kenny.


Dia lalu menuntun tanganku sambil menggendong Icha.


Kami pun berjalan meninggalkan makam Felly.


Sekilas aku menengok ke belakang, aku seperti sedang melihat sosok Felly berdiri sambil menatap kepergian kami, dia nampak tersenyum.

__ADS_1


"Trimakasih!" ku dengar sosok itu mengucapkan kata itu. Aku hanya menganggukan kepalaku.


Saat aku kembali menoleh, sosok itu telah hilang tanpa jejak.


Setelah kami sampai di tepi jalan tempat mobil Kenny terparkir, Kenny langsung membaringkan Icha di jok tengah mobil, aku pun naik menemani Icha dan menopang kepalanya.


Kemudian Kenny mulai melajukan mobilnya pergi dari pemakaman itu.


Kami langsung menuju arah pulang, Icha nampak kelelahan dan kelaparan, makanya dia sampai pingsan.


Aku usap wajahnya, tiba-tiba timbul belas kasihan terhadapnya, aku memeluknya dengan erat, seolah anak ini adalah bagian dari hidupku, aku akan merawat dan menyayanginya sampai dia dewasa kelak.


Tak berapa lama kami sudah sampai di rumah, Icha langsung di baringkan di dalam kamarnya di tempat tidurnya.


Mbok Sumi langsung membawa baskom berisi air hangat untuk menyeka tubuh Icha.


Sementara Mbak Nur langsung membuatkan minuman hangat untuk Icha juga makanan.


Tak lama kemudian Icha pun sadarkan diri, dia mulai mengerjapkan matanya.


Aku sedari tadi duduk menunggu di sampingnya, juga Kenny yang tak beranjak dari sisinya.


"Cha, kau sudah sadar sayang?" tanya Kenny sambil mengusap wajah Icha.


"Papi? Kenapa aku ada di sini?" tanya Icha.


"Tadi Papi yang bawa Icha pulang, ini rumah Icha, ini keluarga Icha, Icha punya keluarga lengkap di sini, ada Papi, ibu, kakek, Mbak Nur dan Mbok Sumi!" ucap Kenny.


"Tapi, aku kan bukan anak kandung kalian ...!" sergah Icha.


"Icha, kasih sayang itu bukan hanya sekandung atau sedarah, asal kita bisa saling menyayangi, itu sudah lebih dari cukup, Icha tidak sendirian, Ibu juga sangat sayang sama Icha!" ucapku sambil ku genggam tangan mungilnya.


"Benar Cha, Papi Kenny adalah Papinya Icha, Ibu Dini adalah ibunya Icha, Dedek Aldio adalah adiknya Icha, kakek Banu adalah kakeknya Icha! Icha punya keluarga lengkap di sini!" ujar Kenny.


"Benarkah?" tanya Icha tidak percaya.


"Benar Cha, kita adalah satu keluarga, jadi Icha jangan sedih lagi ya, Icha bisa curhat sama Papi juga Ibu!" timpalku.


"Ibu!" Icha memanggilku, tiba-tiba hatiku menghangat.


"Ya sayang!" sahutku. Air mataku mengalir sudah.


"Aku sayang ibu!" ucap Icha.


Aku spontan langsung memeluk anak itu, aku akan memberikan kasih sayang sebanyak yang aku bisa, itu janjiku.


"Ibu juga sayang sama Icha, sayang sekali! Juga sama Dedek Al!" bisikku.


Icha memelukku dengan erat.

__ADS_1


bersambung ...


****


__ADS_2