
Pagi itu, aku sudah siap berangkat, Kenny juga nampak sudah siap.
Kenny menurunkan kopernya dari kamar kami, di bawah, Ayah dan Icha sedang duduk di ruang makan. Baby Al nampak sedang di gendong oleh Mbok Sumi.
"Kalian sudah siap?" tanya Ayah.
"Sudah Ayah, kami sudah siap!" jawab Kenny.
Kami lalu langsung menyantap sarapan yang sudah terhidang di meja makan.
"Papi mau kemana? Kenapa tidak ajak aku dan Dedek?" tanya Icha tiba-tiba.
"Icha, Papi mau pergi sama Ibu Dini beberapa hari, Icha di sini dulu main sama Kakek, sama Mbak Nur, sama Mbok Sumi juga Dedek Al!" jelas Kenny.
Icha nampak cemberut, lalu dia melirik ke arahku, matanya menyiratkan rasa tidak suka.
"Nanti Ibu bawakan oleh-oleh untuk Icha!" ucapku sambil mencoba membelai rambutnya.
"Aku tidak mau oleh-oleh, Miss Dini sudah ambil Papi dari aku!" cetus Icha.
"Icha! Sekarang Ibu Dini itu istrinya Papi Icha, Ibunya Icha, jadi Icha tidak boleh bersikap seperti itu!" ujar Ayah.
"Iya Cha! Papi tidak pernah mengajari Icha bersikap tidak sopan terhadap orang tua!" tambah Kenny.
Icha lalu berdiri dan segera berlari menuju ke kamarnya. Mbak Nur mengikuti Icha di belakangnya.
Aku hendak berdiri untuk menyusul Icha, namun tangan Kenny menahan tanganku, hingga aku pun kembali duduk di tempatku.
"Biarkan saja Icha, dia hanya butuh proses untuk bisa menerima semua perubahan dalam hidupnya!" ucap Kenny.
"Hari sudah semakin siang, berangkatlah kalian atau kalian akan ketinggalan pesawat!" ujar Ayah.
Kenny langsung beranjak dari tempatnya menuju ke garasi mobilnya, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya itu, aku mengikutinya dan langsung masuk dan duduk di samping kemudi.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, kami saling diam dan tidak banyak bicara, paling Kenny hanya bicara seperlunya saja.
Hingga pada saat kami sudah di dalam pesawat, Kenny nampak menyandarkan kepalanya di kursi pesawat.
Ku lihat jakunnya turun naik, entah mengapa dadaku kembali berdesir.
"Kau haus Ken?" tanyaku. Dia Menganggukan kepalanya.
Kusodorkan sebotol air mineral padanya, dia meneguknya sampai habis.
"Trimakasih Din!" ucapnya.
Setelah itu Kenny nampak tertidur, saat dia tertidur ku pandangi wajah tampannya.
__ADS_1
Dia benar-benar mempesona, aku terus memandangnya sepuas-puasnya, mumpung dia lagi tidur.
Rasanya aku ingin mendekati wajah itu dan mengecupnya. Tapi tentu saja aku tidak berani, itu hanya ada di angan-anganku saja.
Akhirnya ketika hari menjelang sore, kami sudah tiba di
tempat tujuan kami.
Sebuah villa mungil di atas laut, dengan pemandangan alam yang sangat indah.
Kami mulai masuk ke dalam Vila, meletakan koper kami, suasana begitu romantis, dengan gaya yang estetik dari vila itu.
Ku lihat Kenny langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur besar yang ada di kamar satu-satunya vila ini.
Aku menyusun pakaian kami di sebuah lemari yang ada di sudut kamar ini dengan pemandangan yang langsung menghadap lautan.
Kenny sudah tertidur beberapa lama, matahari mulai kembali ke tempat peraduannya.
Aku mendekati Kenny, mencoba untuk membangunkannya.
"Ken, bangun Ken, apa kau tidak lapar hampir seharian tidur terus!" ujarku sambil mengguncang lembut dada Kenny.
Kenny mulai mengerjapkan matanya. Dia lalu mulai bangkit dari tidurnya.
"Wah, sudah sore sekali ya Din, maaf ya, aku mengantuk sekali, jadi aku tidur deh!" kata Kenny.
"Iya Ken, tidak apa, sekarang kau mandi dulu, aku sangat ingin melihat sunset," ujarku.
"Din! Tolong handukku! Aku lupa bawa handuk!" teriak Kenny tiba-tiba dari dalam kamar mandi, dia hanya melongokkan kepalanya saja dari balik pintu.
Aku buru-buru membuka lemari dan mengambilkan handuk untuk Kenny.
Setelah itu aku langsung mengetuk pintu kamar mandi.
"Masuk saja Din! letakan di atas gantungan di atas pintu!" teriak Kenny.
Perlahan aku membuka pintu kamar mandi, Kenny nampak sedang membilas rambutnya yang penuh busa shampo.
Tubuh Kenny terlihat polos tanpa apapun, aku berdesir sendiri, aku malu, tapi kenapa aku harus malu? Bukankah dia suamiku sendiri?
Setelah meletakan handuk, aku lalu langsung menutup pintu kembali.
Tak lama kemudian dia sudah selesai mandi, lalu keluar dengan handuk yang di lilitkan di tubuhnya.
Aku sengaja memalingkan wajahku, tidak tahan aku melihat tubuhnya, masalahnya walaupun dia suamiku, tapi aku tidak berhak menyentuhnya.
Setelah Kenny berpakaian, dia lalu menyusulku duduk memandang indahnya laut di senja itu.
__ADS_1
"Aku sudah siap Din, yuk kita makan dulu!" ajak Kenny.
"Baiklah, ayo kita makan!" aku segera berdiri dari tempatku, kami lalu keluar villa dan berjalan menuju ke arah pantai, lalu kami duduk di sebuah bangku di tepi pantai sambil menikmati santap sore kami.
"Kau suka tempat ini Din?" tanya Kenny.
"Suka, apalagi pergi ke tempat seromantis ini dengan orang yang di cintai!" jawabku.
Kenny diam tanpa memberikan respon apapun, mungkin saat ini dia sedang teringat Felly.
Biarlah, untuk apa juga aku cemburu pada orang yang sudah meninggal.
"Nanti sehabis makan, kita duduk di pantai sana ya!" ajak Kenny.
Aku agak terkejut, tumben Kenny mau mengajakku duduk di pasir putih pantai itu.
"Iya Ken, aku ikut kemanapun kau mau!" sahutku.
"Trima kasih Din!" Kenny tiba-tiba menarik tanganku untuk bangkit dari dudukku dan berjalan ke arah pantai pasir putih itu, lalu kami pun duduk di pasir itu sambil menatap langit yang berwarna jingga.
"Langitnya bagus ya Din, dulu Felly sangat menyukai senja, setiap senja tiba dia pasti akan menatap langit, ternyata senja memang indah!" gumam Kenny.
Aku menggigit bibirku, dalam suasana berdua, tetap saja selalu ada Felly diantara kami.
"Ya Ken, indah!" sahutku singkat.
Kenny tersenyum menatap matahari yang mulai tenggelam dan kembali ketempat peraduannya.
"Din, aku melihat Felly tersenyum di sana, dia tersenyum melihat kita Din!" seru Kenny tiba-tiba.
Aku melihat matahari terbenam itu, tidak ada apa-apa di sana, apa Kenny berhalusinasi?
"Ken, hari makin gelap kita pulang yuk ke Vila!" ajakku.
Aku takut Kenny akan melihat hal yang aneh lagi.
"Sebentar lagi Din, Felly tersenyum pada kita, apakah kau melihatnya Din, dia bilang, aku harus tetap tersenyum!" ujar Kenny.
"Ken, tidak ada Mbak Felly di sini! Hanya ada aku dan Kenny!" tegasku.
Dia lalu menoleh ke arahku yang duduk di sampingnya.
"Ya, ada aku dan kamu, juga Felly!" sahut Kenny.
"Ken!!" Aku mulai meninggikan suaraku, menyadarkan dirinya kalau aku juga butuh perhatiannya.
Di dalam pikirannya hanya ada Felly dan Felly, sementara aku yang nyata di sampingnya di abaikannya.
__ADS_1
Tiba-tiba Kenny menatapku dengan tatapan yang aneh dan sulit untuk di artikan.
****