Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Cinta Yang Dalam


__ADS_3

Pagi itu aku terbangun dari tidurku, saat matahari mulai masuk menelusup dari tirai gorden yang belum aku buka.


Aku bangun kesiangan, karena semalam beberapa kali Kenny mengajakku bercinta dengannya, tenaga Kenny seolah tidak ada habis-habisnya.


Akupun sangat kelelahan meladeni Kenny, tapi aku bahagia, Kenny begitu perkasa, aku semakin mencintainya.


Aku beranjak dari tempat tidurku, ku buka tirai dan jendela kamarku, sinar matahari menerobos masuk melalui jendela yang terbuka itu.


Perlahan aku kembali ke tempat tidurku, lalu aku duduk di tepi tempat tidur dan memandangi wajah Kenny.


Wajah yang teramat tampan dan rupawan, yang selalu jadi bahan pandangan kaum hawa, aku pun termasuk di dalamnya.


Sejak remaja sering mencuri pandang terhadapnya, wajahnya yang begitu manis seolah tak bosan-bosan untuk di pandang.


Aku membelai wajah tampan itu, ku telusuri detil bentuk wajahnya, dari dahi, mata, pipi, hidung dan yang terakhir bibirnya, bibir yang selalu merah alami dan mempesona.


Dulu aku selalu bermimpi ingin merasakan hangat bibir itu, sekarang aku sudah menikmatinya bahkan berkali-kali, rasanya begitu manis dan hangat.


Kenny mengerjapkan matanya saat bibirnya di sentuh olehku. Saat baru bangun tidur saja dia kelihatan sangat menawan.


"Kau sudah bangun Din?" tanya Kenny.


"Ya Ken, kau masih mengantuk?" tanyaku balik.


"Yah sedikit, kenapa kau mengusap wajahku dan bibirku? Apa kau menginginkannya lagi?" Kenny mulai membuka matanya, aku tertunduk malu karena terciduk memandangnya.


"Mmm, tidak Ken, aku cuma ... Cuma ... " aku menghentikan ucapanku.


Kenny lalu menangkap tanganku dan menaruhnya di dadanya.


"Kalau kau mau melakukan apapun padaku, lakukanlah Din, aku milikmu sekarang!" ucap Kenny.


Ada gelenyar aneh yang kurasakan, dadaku berdebar seperti baru pertama jatuh cinta, tapi kini aku jatuh cinta pada orang yang sama.


"Aku ... aku boleh menciummu Ken?" tanyaku pelan.


"Hmm, lakukan saja Din, kau tak perlu ijin padaku, wajah ini kan juga milikmu, hanya kau yang berhak untuk menciumnya!" ucap Kenny.


"Sungguh? Bagaimana jika ada wanita lain yang ingin mencium wajah ini?" tanyaku menggoda.


"Aku tak akan mengijinkannya!" sahut Kenny.

__ADS_1


"Masa? Bagaimana kalau Mona yang menciumnya??" tanyaku lagi.


Kenny langsung membuka matanya penuh, lalu di tatapnya mataku dengan dalam.


"Jadi, kau masih cemburu pada Mona? Jadi kau pulang kesini karna kau masih berpikiran negatif tentang aku?" tanya Kenny.


Aku terdiam tanpa memberikan jawaban apapun. Bukan hanya itu, tapi Kenny tidak mau mengajakku reuni juga salah satu alasan ku untuk pergi darinya, dia masih malu mengakui ku sebagai istrinya di depan teman-temannya.


"Kenapa kau diam?" tanya Kenny membuyarkan lamunanku.


"Ya, salah satunya iya!" kataku.


"Jadi masih ada hal yang lain? Katakan apa itu?" desak Kenny.


"Saat kau pergi reuni bersama dengan teman-teman mu, kenapa kau tidak mengajak aku? Oya, aku tak perlu bertanya, karena aku tau jawabannya, kau masih belum siap memperkenalkan aku sebagai istrimu kan?" tuduhku.


Kenny tersenyum, lalu dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


"Din, kau lihatlah ini, baca pesan singkat dari temanku, reuni kemarin itu memang reuni khusus laki-laki, dan mereka semua juga tidak ada yang mengajak keluarganya, kita cuma makan dan ngobrol saja kok!" jelas Kenny sambil menunjukkan ponselnya.


Sekilas aku baca memang reuni itu khusus teman laki-laki Kenny, tidak ada wanita atau keluarganya yang ikut.


"Jadi ... "


Aku tertunduk malu, ternyata dugaanku memang salah, kenapa aku mencurigai suamiku seperti ini?


Padahal aku sendiri belum pernah melihat langsung Kenny berselingkuh atau melakukan hal yang aneh.


Apa karena aku terlalu mencintainya, makanya aku sangat takut kehilangannya.


"Maafkan aku Ken!" ucapku lirih.


"Aku tidak marah padamu Din, aku malah senang kau cemburu, itu artinya kau sangat menyayangi aku!" sahut Kenny sambil tersenyum.


"Ah Kenny, kau buat aku malu saja!" sungut ku cemberut.


"Tadi katanya mau mencium aku, ayo lakukanlah sekarang, aku menunggu lho!" kata Kenny.


Perlahan aku mendekat ke arah Kenny, aku mulai mengecup lembut bibirnya, rasanya begitu manis dan hangat.


"Ken, aku sayang sama Kenny!" ucapku pelan.

__ADS_1


Berharap dia akan mengatakan hal yang sama. Namun dia tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum menatapku. Aku tidak perduli.


Aku kembali mengecup bibir itu, Kenny nampak menikmatinya, setelah itu aku langsung mencium kedua pipinya, lalu matanya, yang terakhir adalah keningnya.


"Terimakasih Din!" ucapnya.


"Kenapa kau berterima kasih padaku?" tanyaku.


"Karena kau sangat mencintai aku!" jawab Kenny. Aku tertunduk malu.


"Ken, kau tak perlu memberikan cintamu sebesar aku memberikan cintaku padamu, cukup kau tidak berpaling padaku dan mengijinkanku untuk terus mencintaimu!" ucapku.


Kenny bangkit dari posisi berbaringnya. Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya sambill menatap wajahku.


"Cintailah aku sebanyak yang kau mampu, aku mengijinkanmu, trimakasih atas cintamu yang teramat besar untukku, kau sangat mencintai aku lebih dari pada dulu Felly mencintaiku, Dini, Dini mencintai Kenny dengan seluruh hatinya!" ucap Kenny.


Perlahan Kenny kembali mencium bibirku dengan lembut, air mataku jatuh perlahan membasahi pipiku, aku sangat bahagia, setidaknya Kenny mengijinkan aku untuk terus mencintainya.


"Trimakasih Ken!" ucapku lirih.


"Din, kau belum mandi kan?" tanya Kenny. Aku menggelengkan kepalaku.


"Kita mandi bareng ya Din, aku lagi ingin!" kata Kenny.


"Ingin apa Ken? Ingin yang semalam? Memangnya Kenny tidak lelah?" tanyaku balik.


"Tidak, aku malah merasa segar bugar, aku sedang butuh pelepasan lagi Din!" ujar Kenny.


"Hmm, Kenny mulai nakal!" ucapku sambil mencubit gemas hidung mancungnya.


Tanpa menunggu lama Kenny segera mengangkat tubuhku ke kamar mandi. Dia kembali membuka pakaianku dan mulai memandikan dan menyabuniku dengan lembut sambil sesekali menciumiku, aku sangat bahagia.


"Kenny ah, nakal tidak malu kau begitu polos di hadapanku!" cetusku saat Kenny melucuti pakaiannya sendiri.


"Kenapa malu di depanmu? Bukankah saat remaja kau juga pernah melihatnya? Saat aku mandi di kali, kau menutup matamu padahal kau sudah terlanjur melihatnya!" goda Kenny.


"Sudah Ken! Hentikan perkataan mu yang memalukan itu! Dasar Kenny tidak tau malu!" dengusku.


"Din, sepertinya kita memang berjodoh, kita sudah lama kenal, kau sayang padaku dari dulu, kini takdir kembali menyatukan kita!" ucap Kenny.


"Iya Ken, aku berharap kita akan selamanya bersama, tidak terpisah lagi oleh hal apapun!" ujarku.

__ADS_1


Kenny tidak menjawab ucapanku, tapi aku merasakan tubuh kami sudah menyatu, dan aku merasakan suatu kenikmatan yang tiada Taranya.


****


__ADS_2