Menggapai Hati Sang Duda

Menggapai Hati Sang Duda
Mulai Resah


__ADS_3

Sejak aku melihat Kenny dan Mona mengobrol di ruangan Kenny dengan akrab sambil bercanda, hatiku mendadak resah.


Ruangan Kenny adalah ruangan pribadi yang hanya orang-orang tertentu saja yang boleh berlama-lama di sana, biasanya jika ada pembicaraan penting, Kenny pasti akan bicara di ruang yang lain, di ruang guru atau di ruang meeting.


Hari ini aku kembali ikut Kenny ke sekolah dengan membawa Baby Al, Kenny sama sekali tidak keberatan kalau aku ikut bersamanya.


Seperti biasa, di sekolah aku mengajak baby Al jalan-jalan mengitari sekolah, sambil bertegur sapa dengan berbagai macam orang, mulai dari murid, orang tua murid, guru, penjaga sekolah, penjaga kantin dan masih banyak lagi.


Pada jam istirahat, aku sengaja main ke ruang guru, hendak mengobrol dengan Mona, karena diantara semua guru, hanya Mona yang jarang sekali ku ajak ngobrol, karena dia cenderung menarik diri dan tidak suka bergabung dengan guru yang lain.


"Wah, Miss Dini, pinjem donk Dedek Al nya, siapa tau aku cepat ketularan punya anak!" kata Bu Iren yang langsung mengambil Baby Al dari gendongan ku.


"Ya Bu, silahkan, Oya, di mana Miss Mona? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanyaku.


"Tadi Miss Mona di panggil Mr. Ken, katanya mau membicarakan proyek pembangunan perpustakaan yang baru!" jawab Bu Iren sambil fokus menggendong Baby Al.


Deg!


Lagi-lagi mereka pergi bersama, ada apa ini? Kenapa Kenny tidak membicarakan dulu padaku? Bukankah aku juga punya pengalaman mengajar di sekolah internasional? Kenapa harus dengan Mona?


"Bu Iren nitip dedek Al sebentar ya, aku mau keluar sebentar!" kataku pada Bu Iren yang asyik bermain dengan baby Al.


"Oh iya Miss, lama juga tidak apa kok hehe, senang main sama bayi lucu dan menggemaskan ini!" kata Bu Iren.


Tanpa menunggu lagi aku langsung bergegas keluar dari ruang guru.


Aku langsung melangkahkan kakiku ke ruang Kenny. Namun di ruang itu tidak ada seorangpun, kemana Kenny?


Aku kemudian langsung beranjak ke ruang kepala sekolah, siapa tau mereka ada di sana.


Namun lagi-lagi ruang kepala sekolah sepi, bahkan Pak Budi dan Pak Yudi juga tidak ada.


Aku langsung beranjak menuju ke ruang meeting, siapa tau mereka sedang mendiskusikan sesuatu.


Benar dugaanku, di ruang meeting sudah ada Kenny, bersama dengan kepala sekolah dan juga Mona.


Mona adalah guru baru, kenapa dia di ikut sertakan dalam rapat dewan sekolah, sementara guru-guru yang sudah lama malah tidak di ikut sertakan.


Aku ingin masuk ke dalam, namun aku harus bisa berpikir jernih, aku tidak mau kemunculanku malah membuat Kenny tidak bersimpati padaku.

__ADS_1


Aku hanya berdiri di balik pintu ruangan itu, menunggu sampai rapat selesai.


Sudah hampir 30 menit aku berdiri, tiba-tiba aku teringat akan baby Al yang aku titipkan pada Bu Iren.


Aku langsung berbalik ke ruang guru, kini Baby Al ada di gendongan Bu Ana, tumben Bu Ana main ke ruang guru.


Aku langsung datang menghampiri Bu Ana.


"Maaf Bu Ana, aku terlalu lama meninggalkan bayiku!" kataku sambil mengambil Baby Al dari gendongan Bu Ana.


"Tidak apa-apa Miss, aku senang menggendong bayi!" sahut Bu Ana.


"Kemana Bu Iren?" tanyaku.


"Dia ada di kelas Miss, sedang memeriksa tugas murid!" jawab Bu Ana.


Aku menganggukan kepalaku, lalu aku kembali berjalan menuju ke ruangan Kenny, sekedar untuk istirahat.


Aku meletakan baby Al di sofa yang ada di sudut ruangan itu. Aku menyandarkan bahuku di sofa, lalu mulai memejamkan mataku.


Tiba-tiba di sebelahku sudah duduk seseorang, aku dapat merasakannya. Dari parfumnya Kenny yang kini ada di sebelahku, karena aroma Kenny sudah menjadi candu buatku.


"Kau mengantuk rupanya, lanjutkan saja tidurmu, gantian aku yang akan menjaga Dedek Al!" ucap Kenny lembut.


"Oh, tidak, tadi aku hanya mengantuk sedikit, sekarang sudah tidak lagi!" sergahku.


"Kau memang perlu istirahat Din, istirahatlah di sini, sambil menungggu bel berbunyi!" kata Kenny.


Tanpa memperdulikan anjuran Kenny, aku langsung duduk dengan tegak.


Lalu aku mulai menghadap Kenny, aku harus bertanya padanya, tentang apa yang aku lihat tadi.


"Ken, kenapa kau mengajak Miss Mona di rapat yang kau adakan dengan Pak Budi dan Pak Yudi?" tanyaku.


"Lho! Dari mana kau tau??" Kenny balik bertanya.


"Tidak penting aku tau dari mana, kau tinggal jawab saja pertanyaanku!" ucapku.


"Kau jangan salah paham Din, aku mengajak dia karena pengalaman mengajar dia banyak, pengetahuan tentang referensi buku juga baik, jadi tidak ada salahnya kalau aku mengajaknya!" jelas Kenny.

__ADS_1


"Tapi kenapa hanya dia? Sedangkan banyak guru-guru yang lebih senior dan pengalamannya juga banyak!" tukasku.


"Din, kau ini kenapa? Tiba-tiba menanyakan hal yang tidak penting!" ujar Kenny.


"Hal yang tidak penting menurutmu? Apa kau lupa kalau Mona itu guru baru Ken?? Bahkan kau juga lupa kalau aku juga pernah mengajar di sekolah internasional bersamamu!" ucapku dengan suara yang mulai bergetar.


"Maafkan aku Din! Aku rasa kau terlalu cemburu! Aku tidak ada maksud apa-apa mengajak Miss Mona!" ujar Kenny.


"Apa karena Mona itu mirip dengan Mbak Felly?" tanyaku lagi.


Kenny lalu mendekatiku dan mencium keningku lembut.


"Sudahlah Din, lupakan saja kejadian tadi, kalau kau tidak suka, aku tidak akan mengajak Miss Mona lagi!" cetus Kenny.


"Baik. Aku tidak suka kau mengajak Miss Mona Ken, mohon kau hargai perasaanku, walau bagaimana aku ini istrimu sekarang, aku tidak rela lelakiku jalan dengan wanita lain, dengan alasan apapun!" tegasku.


"Baiklah!" jawab Kenny singkat, terlihat jelas ada raut kekecewaan yang terpancar di wajah tampannya.


"Maafkan aku Ken, maafkan aku, apa salah kalau aku cemburu padamu? Aku sangat mencintaimu Ken!" ucapku.


"Ya!" sahut nya singkat.


"Kau marah padaku Ken?" tanya ku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya.


"Tidak!" jawabnya singkat. Kenny terlihat enggan bicara denganku.


Aku terdiam, menyadari bahwa Kenny sebenarnya belum sepenuhnya untuk menerimaku dan mencintaiku, bahkan perlakuannya padaku dengan Felly sangat jauh berbeda.


Aku kembali mengalami seperti dulu, berhubungan dengannya hanya karena sebuah status.


Perlahan air mataku mulai berjatuhan di pipi, hatiku sakit dan perih.


Bukan karena Kenny jalan dengan Mona, tapi karena hati Kenny yang belum bisa benar-benar mencintaiku.


Cinta itu adalah perasaan tulus yang datang dari hati, tidak bisa di paksakan, aku memandang wajah Kenny, apakah aku begitu egois terhadapnya.


Hanya memikirkan perasaanku sendiri, tidak mengindahkan perasaannya. Aku bersalah karena mengekang hatinya, memaksakan hatinya untuk berpaling padaku.


Aku harus mengambil sebuah keputusan.

__ADS_1


****


__ADS_2