
Setelah selesai mandi, kami lalu sarapan bersama Bapak dan Ibu yang sudah menunggu di meja makan.
"Lama sekali kau mandi, pasti berdua ya!" bisik ibu menggoda.
"Iih Ibu!" sahutku malu.
"Pantas wajahmu cerah hari ini, sudah di servis sama Kenny!" bisi ibu lagi.
"Ibu apa sih?" aku tertunduk malu.
"Apa tidak bermalam saja semalam lagi?" tawar Bapak.
"Tidak Pak, kasihan Icha dan Baby Al!" sahut Kenny.
"Iya juga sih, apalagi masih kecil-kecil, masih butuh orang tuanya, ya sudah, kalian pulanglah kerumah!" kata Bapak.
Setelah selesai sarapan, aku pun mengemas barang-barangku dan aku ikut Kenny pulang kerumah.
"Kalian yang akur ya, Dini juga kalau ada sedikit masalah kau jangan mudah untuk lari dari suamimu, lihatlah suamimu sudah begitu baik menjemputmu pulang!" ujar Ibu.
"Iya Bu, maafkan aku Bu!" ucapku sambil menyalami Ibu dan Bapak.
"Kau hati-hati Din!" kata Bapak.
"Iya Pak!" sahutku.
Lalu Kenny gantian pamit pada Bapak dan Ibu, setelah itu kami pun meluncur meninggalkan rumah bapak dan ibuku.
"Ken, maafkan aku ya!" ucapku saat dalam perjalanan.
"Minta maaf kenapa?" tanya Kenny.
"Aku pergi darimu tanpa pamit!" sahutku.
"Sudahlah Din, yang penting kau jangan lagi pergi meninggalkan aku tanpa pamit, saat kemarin aku pulang tanpa menemukanmu, aku begitu khawatir, makanya aku langsung menyusulmu!" ucap Kenny.
Tiba-tiba aku jadi sangat merasa bersalah pada Kenny. Aku cemburu tanpa alasan yang jelas.
"Ken, ada yang aku mau tanyakan padamu!" ujarku.
"Apa itu? Katakanlah!" sahut Kenny.
"Sebenarnya, apakah kau mencintaiku atau tidak? Kau tidak pernah mengatakan itu padaku!" tanyaku.
"Dini, aku berpikir kau sudah cukup dewasa untuk mengartikan rasa itu, kita bukan anak remaja lagi yang butuh pernyataan cinta, seharusnya dari sikapku padamu kau sudah bisa menangkap apakah aku mencintaimu atau tidak!" jelas Kenny.
Aku diam mencoba mencerna setiap perkataannya, Kenny memang selalu bersikap manis padaku, sedikitpun dia tidak pernah bicara kasar atau sesuatu yang menyakitiku kecuali saat dia belum bisa melupakan Felly.
Kini dia sudah menyerahkan seluruh hidupnya padaku, aku lah satu-satunya pemilik nya.
Hingga akhirnya kami tiba di rumah.
__ADS_1
Aku langsung menggendong Baby Al dari gendongan Mbok Sumi, rasanya kangen sekali.
Anaknya Kenny anakku juga, aku menyayangi Baby Al dengan sepenuh hatiku.
Tiba-tiba Icha keluar dari kamarnya dan langsung memeluk aku.
"Ibu kemana saja? Kenapa ibu pergi sendirian tidak mengajakku?" tanya Icha.
"Lho, ibu kan cuma pergi sehari Cha, lagian Papi sudah jemput Ibu kok!" sahutku.
Icha langsung memelukku.
"Jangan tinggalin aku lagi Bu, aku butuh ibu!" ucap Icha.
Aku membelai rambutnya, saat ini dia membutuhkan sosok ibu, aku demi keegoisan hati tega meninggalkannya, aku sungguh merasa bersalah.
"Tidak akan Cha, ibu tidak akan meninggalkan Icha dan Dedek lagi, mulai sekarang kita akan selalu sama-sama!" ucapku.
Kenny merengkuh tubuhku dari belakang, aku merasakan hangatnya tubuhnya yang menempel di tubuhku. Aromanya yang membuat aku terlena.
"Ibu sedang cepek Cha, Icha bermain dulu sama Mbak Nur ya, nanti setelah ibu dan Papi selesai istirahat, Papi mau ajak jalan-jalan Icha dan Dedek ke mall, Icha pasti suka!" ucap Kenny.
"Ke mall Papi? Asyiik! Aku sudah lama lho tidak ke mall!" seru Icha antusias.
"Nah, ibu dan Papi istirahat dulu ya, Icha juga istirahat biar tidak capek!" kata Kenny.
Icha menganggukan kepalanya, lalu dia segera berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.
Setelah sampai di kamar, aku meletakan baby Al di box bayinya, dia nampak senang bermain dengan mainannya.
Kenny sudah nampak merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Aku langsung mengganti baju dan juga ikut merebahkan tubuhku.
Tiba-tiba Kenny memeluk pinggang ku, lalu dia menempelkan kepalanya di leherku.
"Din, tetap di sini ya, jangan pergi lagi dariku, aku sangat membutuhkanmu!" bisik Kenny.
Aku membalikan tubuhku, kini wajah kami saling berhadapan. Ku tatap wajahnya dengan dalam. Ada kesungguhan di manik matanya.
"Iya Ken, aku janji tidak akan pernah sedikitpun beranjak darimu, kau adalah kepalaku, kemana kau akan pergi kesitu juga aku akan pergi!" ucapku sambil membelai sayang rambutnya.
Kemudian perlahan dia kembali mencium bibirku, terasa begitu manis dan hangat.
Kenny nampak tidak bosan-bosannya mengajak bercinta denganku, aku bahagia, dia sudah bisa menyerahkan seluruh tubuh dan hatinya untukku.
"Kenny tidak capek?" tanyaku.
Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak!" sahutnya singkat.
Akhirnya siang itu kembali Kenny menguasai tubuhku, dan akupun menyerah dalam dekapan hangatnya.
__ADS_1
****
Pagi datang menjelang, aku menyiapkan bekal makanan untuk Icha, hari ini aku akan ikut Kenny ke sekolah.
Aku membawa serta Baby Al, Kenny sangat senang kalau aku membawa anaknya, Kenny memang tipe penyayang anak-anak, dia akan sangat bahagia bila anak-anaknya ada di dekatnya.
Setelah pamit dengan Ayah, kami pun berangkat ke sekolah.
Saat kami tiba dan Kenny baru saja memarkirkan mobilnya, tiba-tiba kepalaku pusing, pandanganku mulai berkunang-kunang.
Aku yang sedang menggendong baby Al lantas menarik baju Kenny, lidahku terasa kelu untuk berbicara.
"Ken!" ucapku.
Kenny menoleh, dia terkesiap melihatku yang bersandar lemah di pintu mobil.
Buru-buru dia mengambil baby Al dalam gendonganku.
"Kau kenapa Din, apakah kepalamu pusing?" tanya Kenny yang nampak cemas.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku menarik nafas panjang dan ku hembuskan perlahan.
"Mungkin aku masuk angin Ken, Icha duluan saja masuk nanti terlambat!" ujarku.
"Iya Bu!" sahut Icha yang langsung berlari kecil menuju ke kelasnya.
Kenny langsung memapah aku ke lobby, sambil dia juga menggendong baby Al.
"Ada apa Miss Dini? Apa yang terjadi?" tanya Bu Ana saat dia baru tiba di lobby.
"Bu Ana, tolong temani istriku, berikan dia sesuatu agar tubuhnya nyaman!" ujar Kenny.
"Iya Mr, Miss Dini istirahat saja di ruang Mr. Ken, nanti saya buatkan teh hangat untuk Miss Dini!" tawar Bu Ana.
Aku menganggukan kepalaku. Lalu Bu Ana mulai menuntunku ke ruang Kenny, sementara Kenny yang menggendong Baby Al.
Aku bersandar pada sofa ruangan Kenny, Bu Ana segera keluar untuk membuatkan aku teh hangat.
Kenny lalu duduk di sampingku sambil memangku Baby Al.
"Setelah ini kita periksa ke dokter ya!" tawar Kenny.
"Tidak usah Ken, aku cuma pusing biasa, nanti setelah minum teh hangat juga aku mendingan!" sergahku.
Tak lama Bu Ana masuk sambil membawa satu gelas teh hangat, lalu dia menyodorkan nya padaku.
Aku meneguk teh itu sampai habis tak tersisa, tubuhku mulai berkeringat.
"Miss Dini, coba saja periksa ke dokter, mana tau Miss Dini hamil!" ujar Bu Ana.
Aku dan Kenny terkesiap mendengar ucapan Bu Ana, lalu kami pun saling berpandangan.
__ADS_1
****